KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#64


__ADS_3

Tubuh Castella terhempas kesana kemari menyusuri lorong rumahnya. Keringatnya bercucuran. Botol wine di tangan kanannya masih ia genggam erat. Sesekali ia mendongak membuka mulutnya seperti hendak minum, padahal botol sudah kosong. Suasana di dalam rumah terlihat sepi dan terasa lengang. Hanya ada satu lampu yang menyala di sudut ruangan. Selebihnya, ruangan di dalam rumah besar itu nampak gelap dan terasa mencekam. Hanya suara langkah kaki Castella yang terdengar terseok-seok.


"Rianti, kemana kamu. Aku lapar. Aku mau makan?" racau Castella berulang-ulang. Ia terus meraba-raba dalam kegelapan. Ia nampak bingung. Seringkali ia terlihat menengok kembali dan mundur ke belakang.


Rianti, dengan langkah tergesa-gesa melangkah ke dalam rumah. Satu persatu lampu di dalam rumah dinyalakannya. Suasana di dalam rumah seketika berubah terang.


Rianti menghentikan langkahnya. Ia melihat Castella seperti orang kebingungan meraba kesana kemari. Rianti melangkah maju mendekati Castella.


"Kemana saja kamu, Rianti. Mama sudah tunggu kamu dari tadi. Mama lapar," kata Castella ketika menyadari Rianti memegang tubuhnya.


"Gak ada makanan, Ma. Tunggu satpam sedang beli di luar," kata Rianti. Ia segera menyeret tubuh Castella menuju kamarnya. Sesampai di dalam kamarnya, Rianti terpaksa menghempaskan keras tubuh Castella di atas ranjangnya. Tubuh Castella yang lemas akibat mabuk berat, membuatnya tak kuat lagi menahan tubuh Castella.


Castella tertawa saat tubuhnya terhempas di ranjang. Botol minumannya terlepas dan bergulingan hingga jatuh dan pecah di lantai.


"Belikan lagi minuman, Rianti,"


Rianti tertegun menatap Castella. Pergerakan tubuhnya yang kesana kemari membuat rok yang dipakainya tersingkap ke atas. Keadaan biasa yang sering ia lihat saat Castella mabuk dan dirinya sedang mabuk. Bahkan lebih dari itu. Tapi saat ini keadaannya sudah berbeda seratus persen. Masa-masa di depan nampak suram dan gelap. Tidak ada lagi angka-angka mentereng di dalam rekening. Dia baru saja membuka surat dari pimpinan perusahaan baru. Semuanya telah dibatasi. Uang belanja bulanan dan segala kebutuhannya sehari-hari telah dibatasi pada angka terendah. Dia tak bisa lagi berfoya-foya, menggelar pesta bersama teman-temannya di black casino, ataupun semalam suntuk memutar berpuluh-puluh botol wine di atas lantai kamarnya. Teman-temannya akan menjauhinya dan tak ada lagi yang mau membungkuk memberi hormat kepadanya. Sulastri benar-benar telah memiskinkannya, dan Yulian Wibowo lah penyebabnya. Yulian Wibowo adalah ayah keparat yang telah menyengsarakan istri dan anaknya.


"Keparaaat!" teriak Rianti. Ia menjambak rambutnya sambil bersimpuh di lantai. Dadanya terasa sesak. Gemuruh nafasnya seperti hendak mengeluarkan bara api di dalam dadanya.


Rianti memukul-mukul kepalanya. Terbaring di lantai dengan kaki menendang ke sana kemari. Ia berteriak dan mengumpat.

__ADS_1


Ranti perlahan bangkit. Tatapannya yang tajam ke arah tubuh Castella yang tergeletak di atas ranjang, Semakin membuat nafasnya menderu lebih kencang. Ia mulai menoleh kesana kemari. Setiap pandangan yang diarahkannya selalu menampilkan sosok Sulastri dan Yulian Wibowo. Dua sosok yang paling dibencinya saat ini. Amarah yang terkumpul dalam genggaman kedua tangan dan kakinya seperti hendak mencari sesuatu untuk melampiaskannya. Ia menoleh. Beberapa botol minuman sisa pesta kemarin malam diambilnya. Ia mulai melemparnya satu persatu ke arah cermin rias milik Castella. Castella sama sekali terpengaruh dengan suara berisik memekikkan telinga dari kaca yang pecah dan botol yang jatuh menghantam lantai. Ia seperti sedang berada di dunianya sendiri.


Pecahan-pecahan kaca dan botol berserakan di lantai. Tapi dia merasa masih belum puas. Ia berjalan cepat ke arah pintu. Dia terus berjalan hingga masuk ke kamar sebelah, bekas ruang kerja Yulian Wibowo.


Sesampainya di dalam ruangan itu, Rianti berdiri tegak dan menatap tajam ke arah photo Yulian Wibowo yang tergantung di dinding ruang. Dengan menaiki kursi, ia meraih photo itu dan menghempaskannya di lantai. Tidak hanya itu, Rianti membuka celananya dan duduk mengangkang di atas photo Yulian Wibowo.


Saaar...


Suara kencing Rianti yang berhamburan keluar menimpa photo Yulian Wibowo seperti suara hujan yang jatuh di atas atap seng.


Ha..., ha..., ha...


"Bagaimana, Yulian. Bagaimana rasanya. Pasti tak seenak kopi buatan pelacur itu," tawa Rianti kegirangan.


Tapi tawa Rianti tiba-tiba terhenti. Wajahnya spontan berubah sedih. Mulutnya meringis dan tak berapa lama kemudian, ia menangis dan bersujud di lantai, di depan photo Yulian Wibowo.


"Kenapa kamu tega melakukan ini, Tuan Yulian Wibowo. Kenapa? Kenapa kamu menyerahkan semua kekayaan itu kepada wanita ****** itu. Sampai aku mati, aku tidak akan menerimanya. Tolong, cabut keputusanmu, Yang Mulia Tuan Wibowo. Cabutlah," racau Rianti sambil menangis dalam sujudnya. Air kencing yang menggenang di lantai membasahi wajah dan rambutnya.


* * *


Angin yang berhembus usai maghrib terasa sejuk mengusir hawa pengap di dalam rumah ketika Sulastri membuka pintu. Setelah selesai mempersiapkan hidangan di atas meja di ruang tamu, ia memilih berjalan-jalan di depan rumah kontrakannya sambil menunggu kedatangan pak Sahril bersama rombongannya untuk makan malam bersama di rumahnya.

__ADS_1


Sulastri membalikkan tubuhnya dan menatap lekat ke arah rumah kontrakannya. Malam ini adalah malam terakhirnya di rumah itu. Kenangannya bersama rumah itu sudah terpatri dalam hatinya. Seandainya rumah itu bisa ia bawa serta bersamanya malam ini, niscaya ia akan membawanya serta. Dinding, jendela dan semua yang ada di dalam rumah itu seperti punya mata dan kini menatap pandangan sedihnya.


Sulastri mendesah. Ia menoleh ke arah lorong samping rumah. Perlahan ia melangkahkan kakinya. Pemilik rumah kontrakan belum juga pulang dari rumah anaknya di kota lain. Dia tidak sempat berpamitan. Tapi ia janji, suatu hari nanti ia akan datang menemuinya.


Terdengar suara klakson mobil dari arah samping. Sulastri membalikkan badannya dan kembali ke rumahnya. Ia tersenyum ketika melihat pak Sahril dan bu Trianti keluar dari dalam mobil. Di belakang mereka, tampak juga pak Pratama dan istrinya mengikuti.


* * *


Rianti bangkit. Tatapan sendunya kembali berubah tajam. Ia menarik nafas panjang dan menghempaskannya kuat. Ia kembali mengepalkan kedua tangannya. Giginya menggemeretak kuat. Photo Yulian Wibowo ditendangnya keras. Ia lalu keluar dengan langkah tergesa-gesa. Tetap dengan nafasnya yang bergemuruh.


Sesampainya di dapur, Rianti membuka laci lemari di sudut dapur. Beberapa pisau dengan berbagai ukuran, dipilahnya satu persatu.


Rianti tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Satu pisau berukuran besar dikeluarkannya dan meletakkannya di depan wajahnya. Sulastri harus mati. Dia akan membuatnya mati perlahan sampai kehabisan darah. Hanya dia dan Castella yang berhak atas segala yang ditinggalkan Yulian Wibowo. Ketika semua itu berada di tangan orang yang tidak berhak, maka ia harus mati. Perempuan asing itu telah membuatnya hancur, bahkan untuk menyewa pembunuh bayaran malam ini pun ia tak mampu dibuatnya. Dia harus melakukannya sendiri. Dan memang itu akan lebih memuaskan hatinya jika ia telah bersimbah darah Sulastri.


Rianti mengambil kain lap yang tergantung di rak piring. Ia lalu membungkus pisau itu dan menyelipkannya di pinggangnya. Setelah itu, ia kembali melangkah menuju kamar Castella.


"Kamukah itu, Rianti?" tanya Castella dengan mata terpejam. Masih dengan posisi terlentang di ranjang. Rianti tak menjawab. Ia terdiam menatap tubuh Castella.


"Ayolah, Rianti. Mama mau minum lagi. Mama juga mau Jeri memijitku. Panggilkan Mama."


Rianti mendesah. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan keluar meninggalkan Castella.

__ADS_1


__ADS_2