KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#135/ menuju episode akhir


__ADS_3

Malam telah menunjukkan pukul tiga ketika suara ponsel Tuan Guru Izzul Islam berdering. Kurang sepuluh menit dari waktu biasanya ia bangun untuk shalat tahajjud. Tuan Guru Izzul Islam mengusap wajahnya kemudian perlahan bangun. Ponsel yang tergeletak di dekatnya berbaring diambilnya. Ia lalu membuka pesan singkat yang masuk. Tuan Guru Izzul Islam terlihat kaget.


"Inna lillahi wa inna ilayhi roji'un," desahnya melafalkan kalimat istirja'.


Tuan Guru Izzul Islam bangkit. Baju di gantungan diambilnya dan memasangnya, ia lalu bergegas melangkah menuju pintu. Ketika ia membuka pintu, di saat bersamaan, Nyai Mustiani juga terlihat keluar dari kamarnya dengan ponsel di tangannya. Rupanya ia juga hendak menuju kamar Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Faeshal, Nak," kata Nyai Mustiani mendahului Tuan Guru Izzul Islam. Rupanya Nyai Mustiani juga menerima pesan yang sama. Malam ini, Tuan Guru Faeshal telah meninggal dunia.


Tuan Guru Izzul Islam kemudian menghampiri Nyai Mustiani dan mengajaknya ke ruang tamu.


"Gak ditelpon, Bu. Apa penyebab meninggalnya Tuan Guru dan apakah meninggalnya di rumah atau di rumah sakit?" kata Tuan Guru Izzul Islam sesaat setelah duduk di sofa. Nyai Mustiani meletakkan ponselnya di atas sofa. Ia mendesah dan memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam.


"Tadi ibu sudah menghubungi Nyai Indrawati. Jenazah Tuan Guru sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Beliau terkena serangan jantung setelah mengetahui Qurratul Aini kabur dari rumah," kata Nyai Mustiani. Ia memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia mendesah panjang. Dia teringat kejadian di rumah makan zamora siang kemarin. Kemungkinan saja ia kabur dengan laki-laki di dalam video yang direkam Zaebon. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya.


"Ini pembelajaran buat kita, Bu. Zaman sudah berubah. Tidak semua anak ikhlas dengan perjodohan. Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya."


Nyai Mustiani mendesah pendek. Dia menatap Tuan Guru Izzul Islam.


"Tapi kamu gak apa-apa kan?"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Bu, aku sudah menunggu sejak mimpiku sampai saat ini tanpa kecewa dan bersedih sedikitpun. Lantas kenapa aku harus bersedih ditinggal orang yang sama sekali tak kukenal sebelumnya?"


Nyai Mustiani tersenyum. Ia lalu berdiri. Tuan Guru Izzul Islam ikut berdiri. Nyai Mustiani menjulurkan tangannya minta dipegang Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam membantu Nyai Mustiani berjalan menuju kamarnya.


"Sekarang, semuanya ibu serahkan kepadamu. Perempuan berkerudung biru motif batik adalah milikmu. Setelah sembilan hari kematian Tuan Guru Faeshal, kita akan datang melamarnya," kata Nyai Mustiani sembari tersenyum kecil ketika telah sampai di depan kamarnya.


"Atau kamu sudah menentukan hari baiknya?" sambung Nyai Mustiani.

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam mengangguk mantap. Binar-binar kebahagiaan terpancar di matanya.


"Tiada segala sesuatu yang dimulai pada hari Rabu, kecuali akan menjadi sempurna. Itu keterangan dalam kitab taklim. Aku memilih hari rabu, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Tangan Nyai Mustiani diciumnya dan menutupkannya pintu. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya dengan senyum yang tak henti-henti tersungging.


* * * * *


Matahari pagi kembali bersinar di langit timur. Berita kematian Tuan Guru Faeshal telah tersebar dimana-mana. Suasana di rumah duka terlihat ramai oleh orang-orang yang datang melayat. Begitu juga di lokasi pemakaman. Tepatnya di dalam komplek pondok pesantren milik Tuan Guru Faeshal.


Jam 10 pagi, prosesi pemakaman Tuan Guru Faeshal telah usai. Beberapa orang masih terlihat menemani Nyai Indrawati. Termasuk Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam. Setelah beberapa tamu lain satu persatu berpamitan pulang, Nyai Indrawati meminta Tuan Guru Izzul Islam dan Nyai Mustiani diam sejenak. Walaupun dia merasa masih malu untuk menceritakan apa yang telah terjadi, tapi dia harus menceritakan yang sebenarnya kepada Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam.


"Saya mewakili almarhum, juga anak saya, ingin meminta maaf kepada Bu Nyai dan Tuan Guru karna kami tidak bisa memenuhi janji kami menikahkan Tuan Guru dengan anak saya. Sekali lagi, kami minta maaf," kata Nyai Indrawati. Ia menudukkan kepalanya. Malu memandang keduanya.


Nyai Mustiani bangkit dan mendekat. Ia lalu duduk di samping Nyai Indrawati. Tubuh Nyai Indrawati dirangkulnya.


"Tidak apa-apa, Nyai. Ini sudah kehendak dari Allah. Kami turut berbela sungkawa atas meninggalnya Tuan Guru. Semoga amal ibadah beliau di terima di sisi Allah Swt,"


"Amin," jawab Nyai Indrawati. Ia melihat ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Seperti ada yang masih ingin disampaikannya. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Amin. Semuanya sudah diatur Allah, Bu Nyai. Jadi hal itu jangan sampai membebani pikiran Bu Nyai," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani mengangguk mengiyakan.


"Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Jangan sampai sesuatu yang sudah kita rencanakan dan gagal itu akan ikut memutuskan hubungan silaturrahim kita," lanjut Nyai Mustiani. Nyai Indrawati tersenyum.


"Kalau begitu, kami pamit dulu, Nyai. Tuan Guru Izzul masih ada tugas di pesantren. Kapan-kapan kami akan berkunjung lagi," kata Nyai Mustiani. Ia mengajak Tuan Guru Izzul Islam bangun.


Tuan Guru, jika berkenan, mohon Tuan Guru meluangkan waktu untuk memimpin tahlilan pada malam kesembilan nanti. Kami sangat membutuhkan doa dari Tuan Guru," kata Nyai Indrawati ketika mengantar Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam sampai ke pintu rumah. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia merasa ada yang aneh. Tuan Guru Faeshal adalah salah satu tokoh yang membid'ahkan tahlilan. Sangat janggal ketika mendengar Nyai Indrawati mengatakannya. Ia membalikkan badannya. Nyai Indrawati tersenyum.


"Saya sudah mufakat dengan keluarga besar kami. Kami akan mengadakan tahlilan hingga malam ke sembilan. Tidak ada yang mempermasalahkannya," kata Nyai Indrawati. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepala.


"Insya Allah, jika tidak ada halangan, saya akan datang bersama santri setiap malamnya," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari melangkah menuju mobil.

__ADS_1


Mereka keduapun segera memasuki mobil dan berangkat pulang.


* * * * *


Terik matahari yang menyengat perlahan hilang ketika berada di bawah rimbunnya pepohonan kelapa. Siang ini. Di sebuah pelabuhan. Suara gedebur ombak terdengar tak henti-henti menghempas bibir pantai. Angin yang berhembus sejuk membelai wajah Qurratul Aini dan Cristian yang sedang menunggu kedatangan speed boat, yang akan membawa mereka menuju pelabuhan Maluk Sumbawa Besar. Hari ini mereka sepakat meninggalkan pulau seribu masjid untuk memulai hidup baru di pulau sumbawa. Mereka merasa sudah tidak aman lagi jika tetap bertahan di Lombok. Baik keluarga Cristian maupun Qurratul Aini pasti sedang mencari keduanya saat ini. Mereka sepakat tidak mau dipisahkan walau apapun resikonya. Tapi sudah tiga jam mereka menunggu. Boat khusus milik salah satu teman Cristian tak kunjung juga datang. Mereka khawatir jika ada orang yang mengenal mereka, mengetahui keberadaan mereka. Terutama Tuan Guru Faeshal. Jika sampai Qurratul Aini ditemukan, ayahnya pasti tak segan-segan membunuhnya. Ditambah dengan Signal di tempat itu yang buruk, sehingga Cristian kesulitan menghubunginya. Qurratul Aini sudah terlihat bosan menunggu. Tatapannya dilemparkannya jauh ke tengah birunya laut. Cristian menghampiri Qurratul Aini. Dia lalu mengajaknya duduk di salah satu lesehan kecil yang menyediakan beberapa buah kelapa muda.


Suara Adzan dhuhur terdengar berkumandang. Alunannya yang merdu terbawa angin, menerobos dan seperti menetap di hati Cristian. Dia berusaha menolak, namun entah, air matanya seperti sudah tak mampu tertahan di ujung matanya.


Qurratul Aini yang sedang menikmati minuman es kelapanya, diam-diam memperhatikannya. Qurratul Aini memegang tangannya. Cristian tersenyum namun terlihat sedikit hambar.


"Ada apa? Apa kamu menyesal?" tanya Qurratul Aini. Cristian kembali tersenyum. Dia meletakkan kedua tangannya di atas kedua tangan Qurratul Aini. Ia memandang wajah Qurratul Aini, tapi telinganya tak teralihkan dari mendengar alunan suara adzan yang benar-benar menyejukkan telinganya. Suara Adzan yang sebelumnya selalu ia tutup telinganya ketika mendengarnya. Di rumahnya, dia selalu bersiap-siap menutup telinganya ketika waktu adzan hampir tiba. Dia tidak pernah mau benar-benar mendengarnya dengan sempurna.


Tapi kali ini, entah. Ia tiba-tiba tidak bisa menghalangi suara itu masuk di telinganya. Seperti ada benda yang sangat tajam yang menembus sekat-sekat tebal di lubang telinganya. Tak ada batasan. Huruf demi huruf dari Adzan itu, seperti sedang bertawaf di titik kecil yang berdenyut di pusat hatinya. Suara apa ini? batinnya. Untuk sesaat, jiwa Cristian seperti sudah terlepas dari wadak kasarnya.


Qurratul Aini mengernyitkan dahinya. Senyumannya tak dibalas Cristian. Dia baru sadar saat ini Cristian tak sedang menatapnya. Dan ada butiran bening yang muncul di kedua sudut matanya. Cristian menangis. Qurratul Aini menarik kedua tangan Cristian. Cristian terbuyar dari diamnya. Ia seperti orang kebingungan.


"Kamu menangis?" tanya Qurratul Aini ketika telah memastikan Cristian telah tersadar.


"Aku menangis?" kata Cristian balik bertanya. Ia meraba kedua matanya. Ada cairan yang membasahi muka ujung jarinya. Cristian tersenyum.


"Hei, kenapa denganmu, Cristian. Kamu gak apa-apa?" tanya Qurratul Aini sambil tersenyum keheranan.


"Aku gak tahu Aini, mungkin...," Cristian menghentikan kata-katanya. Dia tidak mendengar lagi suara azan itu. Sudah berakhir. Dia berdiri. Tangan Qurratul Aini ditariknya agar ikut berdiri. Qurratul Aini menatapnya heran.


"Bukankah waktunya kamu shalat?"


"What?" kata Qurratul Aini keheranan. Sejak kapan Cristian tertarik mengurusi hal semacam itu? Belum habis rasa herannya, Cristian kembali menarik tangannya.


"Kita mau kemana, Cristian,"

__ADS_1


"Kita harus mencari masjid. Kamu harus shalat dulu. Biar aku temani kamu," kata Cristian. Qurratul Aini benar-benar penasaran. Sikap Cristian hari ini tiba-tiba beruah aneh dan membingungkannya. Tapi mau tidak mau, ia menurut saja kemana Cristian membawanya.


__ADS_2