
Pagi merekah cerah. Menggantikan suasana malam yang sepanjang malam diguyur hujan. Suara air yang mengalir dari limpahan parit yang melimpah di pinggir jalan terdengar dimana-mana. Persawahan dalam sekejap berubah seperti kolam yang dipenuhi air.
Tuan Guru Izzul Islam yang sedang menikmati pagi sepulangnya dari masjid di teras rumah,masih terlihat malas mengambil ponsel yang terdengar berdering beberapa kali dari dalam rumah. Ia masih sibuk membolak-balikkan kitab tebal di atas meja. Abdul khalik yang saat itu sedang menyiram bunga di depan teras sesekali menoleh. Tuan Guru Izzul Islam tak juga menyuruhnya mengambil ponsel. Abdul khalik melepas slank air di tangannya dan mendekat.
"Mohon Maaf, Tuan Guru. Apa saya harus mengambil hp Tuan Guru?" kata Abdul khalik. Ia berdiri menundukkan kepalanya di bawah teras. Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Ia tersenyum.
"Boleh, kalau kamu gak sibuk," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam rumah. Tak beberapa lama kemudian, ia kembali dengan ponsel masih berdering di tangannya.
"Siapa, Lik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik memperhatikan nama yang muncul di layar ponsel dan membacanya.
"Pak Nurasmin kalau gak salah, Tuan Guru," kata Abdul khalik. Tuan Guru Izzul Islam menutup kitabnya dan segera mengambil ponsel dari tangan Abdul khalik.
"Assalamualaikum, Pak. Maaf, saya baru saja pulang dari masjid. Apa ada yang bisa saya bantu, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam dengan nada sopan sembari tersenyum.
Suara pak Nurasmin terdengar berat dari arah seberang.
"Begini, Nak Izzul. Kalau ada waktu, bapak ingin mengundang Nak Izzul ke rumah hari ini. Itu kalau Nak Izzul punya waktu,"
Tuan Guru Izzul Islam terdiam sejenak. Seperti sedang memikirkan waktu senggangnya beberapa jam ke depan.Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan sembari tersenyum.
"Insya Allah, setelah isya' saya ada waktu, Pak. Memangnya ada apa, Pak,"
"Ada urusan sedikit yang ingin saya diskusikan sama Nak Izzul. Kalau memang Nak Izzul hanya punya waktu setelah isya', saya tetap akan tunggu Nak Izzul di rumah,"
Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya.
"Insya Allah, Pak. Saya akan kesana nanti setelah isya'. Sama Ibu atau saya sendiri, Pak?"
"Kamu sendiri saja. Bila perlu, jangan sampai ibumu tahu," kata pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Insya Allah, Pak." kata Tuan Guru Izzul Islam setelah sejenak terdiam.
"Ok. Kalau begitu, kita lanjutkan pembicaraan kita nanti. Mari Nak. Assalamualaikum,"
"Wa alaiku salam,"
Tuan Guru Izzul Islam meletakkan ponselnya di atas meja setelah pak Nurasmin memutuskan panggilannya. Ia menoleh ke dalam rumah. Dari tadi malam ia belum juga melihat Nyai Mustiani. Dia jadi khawatir. Abdul khalik yang masih menyiram bunga, dipanggilnya lagi.
"Lik, Ibu kok gak keluar-keluar. Apa beliau sudah sarapan?"
"Tadi sudah, tapi cuma sebentar, Tuan Guru. Katanya di luar terlalu dingin. Beliau sekarang sedang ada di kamar bersama santriwati,"
Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Setelah terdiam beberapa saat memperhatikan Abdul khalik yang sedang menyiram bunga, ia menutup kitabnya dan bangkit. Ia merasa permasalahan kemarin jika terus dibiarkan larut, dia tidak akan pernah berani menemui Nyai Mustiani. Ia memutuskan untuk menemui Nyai Mustiani di kamarnya.
tok...tok...tok..
"Assalamualaikum, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika sampai di depan kamar Nyai Mustiani. Tak ada jawaban. Hanya terdengar beberapa suara perempuan dari dalam kamar. Tak beberapa lama kemudian, pintu kamar terbuka. Salah seorang santriwati yang membuka pintu mundur beberapa langkah, memberi jalan masuk untuk Tuan Guru Izzul Islam. Dua santri lainnya berdiri setengah membungkuk di depan tempat tidur Nyai Mustiani. Nyai Mustiani sendiri tampak bersandar dengan kedua kaki diselonjorkannya di atas tempat tidur. Dia tak menoleh saat Tuan Guru Izzul Islam datang menghampirinya.
"Bu Nyai, kami mohon pamit," kata salah satu santri dengan suara serak. Nyai Mustiani menoleh.
"Kalian tetap di sini menemaniku. Hanya kalian yang mau mendengarku. Anakku lebih memperhatikan orang lain dari pada memperhatikan ibunya," kata Nyai Mustiani. Ia tetap memalingkan wajahnya. Tuan Guru Izzul Islam hanya bisa tersenyum. Ketiga santriwati kembali bersimpuh di lantai. Di samping tempat tidur Nyai Mustiani.
Tuan Guru Izzul Islam mengusap-usap lembut kedua telapak tangan Nyai Mustiani.
"Ibu, Aku minta maaf kalau ibu masih marah atas kejadian kemarin. Aku tidak bermaksud melangkahi ibu. Lagi pula, tak ada siapapun yang bisa menggantikan posisi ibu di hati anak-anaknya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani tersenyum ketus.
"Buktinya, kamu itu lebih membela perempuan itu,"
"Bukan membela, Bu. Aku hanya ingin hubungan kita tetap baik. Tidak ada yang lain,"
__ADS_1
Nyai Mustiani menoleh.
"Jika memang kamu masih mengutamakan ibu, pasti kamu akan mentaati apapun yang ibu perintahkan,"
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Kapan aku pernah membantah ibu. Apapun yang ibu perintahkan, tak pernah aku tolak,"
"Tapi kayaknya kamu mulai melawan jika kamu dihadapkan dengan perempuan yang kamu anggap perempuan berkerudung biru motif batik itu. Ibu merasakan betul kalau kamu itu tidak berdaya,"
"Tidak seperti itu, Bu. Kalaupun aku ditakdirkan menikah dengannya, bagi seorang suami, bakti utamanya tak akan pernah berubah kepada ibunya,"
"Kamu tidak akan pernah menikah dengannya. Dia bukan perempuan di dalam mimpimu itu. Masanya sudah terlalu lama untuk mencarinya saat ini."
Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah ketiga santriwati yang masih terdiam bersimpuh di bawah tempat tidur.
"Kalian bertiga, Kalian boleh kembali ke asrama," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ketiganya berdiri. Perlahan mereka mundur dan keluar dari kamar.
Nyai Mustiani memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam. Ia tersenyum.
"Ibu sudah membicarakan pernikahanmu dengan pamanmu. Kami sudah sepakat menjodohkanmu dengan adikmu, Si Layla."
Tuan Guru Izzul Islam terkejut demi mendengarkan kata-kata Nyai Mustiani itu. Dia tak menyangka Nyai Mustiani telah merencanakan sesuatu yang diluar dugaannya. Itu juga mungkin maksud pak Nurasmin menghubunginya tadi, memintanya datang ke rumahnya. Tuan Guru Izzul Islam menatap wajah Nyai Mustiani agak lama. Akhir-akhir ini, ketakutan Nyai Mustiani dia menikah dengan Rianti, membuatnya selalu memutuskan sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
"Ya, Allah, Bu. Layla masih kecil, Bu. Dia masih sekolah. Masih di bawah umur. Bagaimana mungkin ibu ingin menikahkanku dengan dia," kata Tuan Guru Izzul Islam berusaha protes.
"Itu tidak jadi masalah. Ibu saja dulu nikah sama ayah kamu baru lulus tsanawiyah. Apa yang ditunjukkan orang tua adalah berkah. Dengan sendirinya nanti Layla akan berpikir dewasa. Jadi masalah itu tak perlu dipikirkan,"
"Tapi hukum tidak membolehkan kita menikahi anak di bawah umur, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam mencoba menegaskan. Ia berharap, dengan alasan itu, Nyai Mustiani berubah pikiran.
__ADS_1
"Itu bisa diatur. Kamu gunakan wibawamu untuk mempengaruhi pejabat-pejabat terkait. Banyak kok yang berhasil. Sudah. Kalau kamu benar-benar masih menghormatiku sebagai ibumu, maka ikuti perintah ibu," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Tatapan tegas Nyai Mustiani membuatnya benar-benar tak berkutik. Dia merasa sudah tidak bisa lagi membela diri untuk memberi sedikit pencerahan kepada Nyai Mustiani. Nyai Mustiani sudah pasti tidak akan mendengarkannya. Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah. Ia pasrah dan mengangguk pelan.
"Sudah. Sekarang, panggilkan lagi anak-anak itu kemari. Terkait pernikahanmu dengan Layla, biar ibu yang atur," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Nyai Mustiani dan menciumnya. Setelah memperbaiki sorbannya, ia bangkit dan melangkah keluar kamar.