KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#177


__ADS_3

Jamila dan Suhaini bergegas turun dari ranjang ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam memasuki kamar. Nyai Mustiani menoleh lemah. Tatapannya sayu. Tapi ia memaksakan dirinya tersenyum.


"Bagaimana keadaan ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil memegang kening Nyai Mustiani. Nyai Mustiani tersenyum.


"Bagaimana istrimu. Apakah kamu sudah membawakan pakaiannya?" kata Nyai Mustiani balik bertanya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah dan tersenyum.


"Sudah, Bu," jawab Tuan Guru Izzul Islam singkat.


"Sering-seringlah menjenguknya. Dia harus menjaga kesehatannya dan juga kesehatan bayinya. Entah, apakah ibu bisa melihat cucuku atau tidak," kata Nyai Mustiani dengan nada lemah. Tuan Guru Izzul Islam mengusap-usap lembut lengan Nyai Mustiani.


"Ssst..., gak usah ngomong seperti itu, Bu. Jika kita terus berikhtiyar, insya Allah ibu pasti sehat. Ayo, biar Izzul bawa ibu ke rumah sakit ya?" bujuk Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani menggeleng.


"Tidak, Nak. Ibu sudah ikhlas jika Allah memanggiku. Sudah dua kali ini ayahmu menyambangiku." Nyai Mustiani mengambil ujung selimutnya. Ia menciumnya.


"Cobalah, kamu pasti tidak asing lagi bau minyak wangi ini. Ini adalah bau minyak wangi ayahmu." kata Nyai Mustiani. Tangannya yang lemah menyodorkan ujung selimutnya ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam segera menyambutnya. Ujung selimut itu diciumnya.


Tuan Guru Izzul Islam memejamkan matanya beberapa saat. Ia menganggukkan kepalanya.


"Ayah datang bukan karna ingin menjemput ibu. Dia kesini memang ingin melihat keadaan ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Kita ke rumah sakit ya, Bu. Izzul juga akan membawa bu Lastri ke rumah sakit. Nanti kalian bisa satu kamar. Bisa ngobrol bareng," lanjut Tuan Guru Izzul Islam. Ia berharap Nyai Mustiani mau dibawa ke rumah sakit. Nyai Mustiani kembali menggeleng.


"Bawa ibumu saja, Nak. Dia hanya sakit biasa. Sedangkan ibu, bicara terlalu banyak saja ibu sudah ngos-ngosan, apalagi jika dibawa ke rumah sakit," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia terdiam sejenak memandang Nyai Mustiani. Ia memang terlihat lelah setiap kali usai berbicara. Itu yang jadi pertimbangannya untuk tidak meneruskan pembicaraannya.


"Ibu sudah mengikhlaskan semuanya, Nak. Mengikhlaskan istrimu karna ibu berkeyakinan, ada hikmah dia harus tinggal di penjara. Ibu sudah sangat siap menyambut kedatangan kematian ibu."


Tuan Guru Izzul Islam masih terdiam. Wajah Nyai Mustiani terlihat pucat. Nafasnya terlihat turun naik dengan cepatnya. Tuan Guru Izzul Islam mengambil alat pernafasan di samping kepala Nyai Mustiani dan hendak memasangkannya. Tapi Nyai Mustiani menolak.


"Sudah, Nak. Lebih baik kamu bacakan ibu surat Yasin. Hitung-hitung sebagai pengantar ibu tidur. Ibu ngantuk," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Ia memperbaiki posisi duduknya dan bersila. Setelah untuk beberapa saat ia terdiam memejamkan matanya, ia mulai membaca surat Yasin.


* * * * *


"Shodaqollahul adzim." Air mata Tuan Guru Izzul Islam menetes ketika melihat Nyai Mustiani perlahan memejamkan matanya. Nafasnya yang tadi naik turun dengan cepatnya kini terlihat sepi. Wajah Nyai Mustiani yang tadinya pucat, tiba-tiba terlihat cerah. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang dan menundukkan kepalanya. Sejenak ia larut dalam tangisnya.


Tuan Guru Izzul Islam memegang pangkal telapak tangan Nyai Mustiani.


"Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun,"

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang. Untuk beberapa saat ia termangu menatap wajah tenang Nyai Mustiani. Seperti benar-benar sedang tidur. Tuan Guru Izzul Islam memajukan tubuhnya. Kening Nyai Mustiani diciumnya lama.


Setelah puas mencium kening Nyai Mustiani, Tuan Guru Izzul Islam memegang kedua tangan Nyai Mustiani yang mulai dingin. Kedua tangan Nyai Mustiani diciumnya bergantian.


Tuan Guru Izzul Islam mengusap air matanya dengan ujung sorbannya. Ia menoleh ke arah Jamila dan Suhaini yang duduk di belakangnya.


"Jamila, Suhaini, kemarilah," kata Tuan Guru Izzul Islam memerintahkan untuk mendekat. Jamila dan Suhaini yang ikut membaca Yasin di bawah tempat tidur segera bangkit dan mendekat. Keduanya berdiri menundukkan kepala di depan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia tersenyum ke arah keduanya.


"Ibu sudah meninggalkan kita." Air mata keduanya mengalir begitu Tuan Guru Izzul Islam memberitahu mereka. Keduanya melirik ke arah tubuh Nyai Mustiani.


"Saya mewakili ibu mengucapkan terimakasih kepada kalian berdua karna telah menjaga dan mengurus ibu, baik ketika beliau masih sehat dan sesudah sakit. Saya juga mewakili ibu, memintakan maaf kepada kalian jika selama kalian menjaga ibu, ada kata-kata atau perbuatan ibu yang menyakiti hati kalian."


Tangis keduanya pecah sebelum Tuan Guru Izzul Islam menyelesaikan kata-katanya. Keduanya yang tadinya hanya berdiri menunduk, kini rebah di sisi tubuh Nyai Mustiani. Kedua tangan Nyai Mustiani bergantian diciumnya.


Tuan Guru Izzul Islam bangkit. Hp di sakunya diraihnya. Dan ia mulai menelpon satu persatu nomor-nomor penting di dalam ponselnya. Mengabarkan tentang kematian Nyai Mustiani.


* * * * *


"Inna lillahi wainna ilayhi Roji'un," kata Sulastri lirih sambil menatap ke arah Fahmi yang duduk di depannya.


"Bu Nyai,"


"Innalilahi wainna ilayhi rojiun, Kapan, Bu," kata Fahmi.


"Barusan saja. Kak Tuanmu mengundangmu datang untuk musyawarah mengenai pemakaman bu Nyai,"


"Yang namanya ajal. Tak ada yang bisa menentukan kapan datang menjemput," kata Fahmi setelah beberapa kali mengucap istighfar sembari mengusap dadanya.


"Ayo, Nak. Kita harus siap-siap," kata Sulastri.


"Ibu mau ikut?" kata Fahmi. Sulastri mengangguk dan bangkit.


"Tapi ibu masih sakit. Biar Fahmi saja yang kesana,"


"Ibu sudah baikan, Nak. Ibu ingin melihat wajah bu Nyai sebelum di kuburkan. Kak Tuanmu juga butuh kita saat ini. Setelah dapat musibah Rianti masuk penjara, tentu kesedihannya akan bertambah dengan meninggalnya Ibu Nyai. Ayo, gak usah pikirkan ibu. Ibu sudah sehat," kata Sulastri. Ia langsung saja melangkah meninggalkan Fahmi menuju kamarnya.


* * * * *

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam bergegas menyambut pak Nurasmin dan bu Sofia yang tiba paling awal setelah berita kematian Nyai Mustiani. Di belakangnya pak Nurasmin dan bu Sofia, Layla menunduk malu saat menyalami Tuan Guru Izzul Islam. Ketiganya langsung menuju kamar Nyai Mustiani.


Para santri juga sudah berkumpul di halaman rumah. Di antara mereka banyak yang terlihat menangis karna merasa kehilangan Nyai Mustiani.


Suara hp berdering. Tuan Guru Izzul Islam segera mengangkatnya.


"Waalaikum salam. Bagaimana, Pak Sahril. Apakah Rianti bisa diijinkan pulang sebentar?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Alhamdulillah bisa, Tuan Guru. Saya sendiri yang jadi penjaminnya. Tapi maaf, Tuan Guru, Non Rianti hanya diijinkan melihat bu Nyai saja, setelah itu saya disuruh mengembalikannya kembali," kata pak Sahril dari arah seberang. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia menganggukkan kepalanya.


"Gak apa-apa, Pak. Sekarang pak Sahril dimana,"


"Ini saya mau berangkat kesana bersama Non Rianti, Tuan Guru,"


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak, Pak Sahril,"


"Sama-sama, Tuan Guru. Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam."


Setelah menutup panggilannya, Tuan Guru Izzul Islam langsung melangkah menuju kamar Nyai Mustiani. Layla segera menundukkan kepalanya malu ketika Tuan Guru Izzul Islam mendekat. Setiap melihat Tuan Guru Izzul Islam, ia selalu merasa benci dengan dirinya sendiri. Benci karna begitu sombongnya menolak dengan keras saat dijodohkan dengannya. Dunia penuh misteri. Tak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Dan ia merasa kini penyesalannya tak akan pernah berujung sebelum menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam. Dipenjaranya Rianti merupakan kesempatannya untuk bisa dimiliki Tuan Guru Izzul Islam. Tapi masalahnya, Tuan Guru Izzul Islam bukan orang sembarangan. Kalaupun ia harus menggunakan cara yang tak lazim dalam keluarganya. Memelet Tuan Guru Izzul Islam, barangkali. Tapi sekali lagi ia tahu, orang seperti Tuan Guru Izzul Islam tak akan mempan dipelet.


"Pak, kita bicara di luar sebentar sambil menuggu keluarga yang lain datang," kata Tuan Guru Izzul Islam. Pak Nurasmin mengangguk. Ia lalu bangkit. Tuan Guru Izzul Islam lalu mengajak pak Nurasmin keluar dan menuju ke ruang tamu.


"Kita tunggu bu Lastri dan dik Fahmi dulu, Pak, untuk membahas waktu pemakaman ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah beberapa lamanya mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.


"Apa kamu sudah menyuruh orang menggali kuburan?" tanya Pak Nurasmin.


"Sudah, Pak. Kuburannya sudah siap. Kita sedang menunggu Nyai Bashirah untuk memandikan dan mengkafani ibu," jawab Tuan Guru Izzul Islam.


"Dan Nak Rianti?"


"Dia sedang dalam perjalanan bersama pak Sahril. Alhamdulillah, pihak lapas memberikan ijin kepada Rianti walaupun hanya sekedar melihat wajah ibu,"


"Alhamdulillah." Pak Nurasmin menghela nafas panjang. Agak lama ia memandang wajah Tuan Guru Izzul Islam. Musibah beruntun telah dialami Tuan Guru Izzul Islam setelah baru saja menikmati masa-masa bahagianya sebagai pengantin baru. Pundak Tuan Guru Izzul Islam ditepuk-tepuknya.


"Sabar, Nak. Di balik musibah pasti ada hikmahnya," kata pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2