KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#91


__ADS_3

"Berdasarkan Pasal 340 KUHP yang berbunyi;


"Barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun."


Hakim ketua memperbaiki letak kaca matanya dan memperhatikan satu persatu ke arah Rianti, Mohan dan Jeri yang duduk di depanya. Sulastri yang duduk tepat di belakang Rianti bersama pak Sahril dan pak Pratama terlihat cemas. Ia tampak memejamkan mata sambil terus berdoa semoga vonis hakim terhadap Rianti tidak terlalu berat. Apalagi sampai dihukum mati ataupun seumur hidup. Suasana di dalam ruang persidangan tampak tegang.


"Juga berdasarkan atas keterangan saudara Mohan dan saudara Jeri, serta mempertimbangkan masukan-masukan dari para anggota majlis hakim yang terhormat, maka dengan ini saudari Rianti terbukti bersama-sama dengan almarhumah Castella, telah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap korban, Yulian Wibowo dan memberikan vonis kepada para terdakwa sesuai peran masing-masing, sebagai berikut:


Memvonis saudari Rianti Wibowo dengan hukuman dua puluh tahun penjara. Dan masing-masing hukuman penjara 10 tahun kepada saudara Jeri dan saudara Mohan atas keterlibatan keduanya dalam pembunuhan tersebut."


Hakim mengetuk palunya tiga kali.


Rianti tersenyum dan berdiri. Ia membungkukkan badannya memberi hormat kepada hakim. Dia tampak tenang dengan senyum yang terus mengembang. Sulastri berdiri dan melangkah menghampiri Rianti. Sulastri mulai menangis saat memeluk tubuh Rianti.


"Bu, Ibu gak usah menangis. Hukuman ini terlalu ringan jika dibandingkan dengan hilangnya nyawa papa. Seharusnya aku dihukum mati," kata Rianti. Wajahnya terlihat tenang. Tak terlihat ia ketakutan ataupun gelisah dengan vonis yang baru saja di putuskan hakim. Tatap matanya tertumbuk ke arah pak Sahril yang tersenyum di belakang Sulastri. Rianti melepaskan pelukan Sulastri. Perlahan ia mendekat ke arah pak Sahril.


"Pak, maafkan atas kata-kata kasarku kepada Bapak." Rianti memegang tangan kanan pak Sahril dan menciumnya. Pak Sahril mengusap rambut Rianti.


"Gak apa-apa, Non. Saya sudah menganggap non Rianti sebagai anak saya. Jadi tak ada kesalahan yang perlu dimaafkan," kata pak Sahril. Ia lalu meraih tubuh Rianti dan memeluknya.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meringankan hukuman non Rianti, tapi inilah batas kemampuan kami," kata pak Sahril sambil melepas pelukannya.


"Tidak, Pak. Aku juga tidak mau hukuman yang terlalu ringan. Kata pak Ustadz, jika di dunia kita bisa lolos dari hukuman, maka tak seujung kukupun sebuah kesalahan akan luput di pengadilan akhirat. Aku tidak menginginkan itu, Pak. Aku ingin semuanya tuntas di dunia," kata Rianti tersenyum. Pak Sahril melihat ke arah Sulastri. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari Rianti. Perubahan yang begitu besar dan tak disangka-sangka. Kesungguhan Sulastri akhirnya membuahkan hasil.


"Kami akan menunggu non Rianti. Perusahaan sangat membutuhkan Non Rianti," lanjut pak Sahril setelah sejenak terdiam dalam kekagumannya. Rianti tersenyum.


"Tidak, Pak." Rianti menoleh ke arah Sulastri. Sulastri mendekat. Dipegangnya tangan Sulastri erat.

__ADS_1


"Rianti serahkan semuanya kepada ibu. Sekolahkan adik-adikku setinggi mungkin. Aku berharap, kelak mereka bisa meneruskan usaha ini," kata Rianti. Sulastri menggelengkan kepalanya. Ia melepas pegangan tangan Rianti dan mengusap rambut Rianti.


"Tidak, Nak. Kamu tetap pemilik sah perusahaan papamu. Kamu harus tetap optimis. kamu masih muda. Masa depanmu masih panjang. Saat kamu keluar dari penjara nanti, ibu yakin kamu sudah siap memimpin perusahaan," jawab Sulastri. Rianti mendesah sembari tersenyum.


Dua orang petugas menghampiri mereka. Sulastri mendesah. Ia terlihat begitu berat saat petugas hendak membawa Rianti. Ia kembali memeluk tubuh Rianti.


"Baik-baik di penjara ya, Nak. Tetaplah bersikap baik. Ibu akan sering mengunjungimu," kata Sulastri. Rianti menganggukkan kepalanya.


Kedua petugas lalu membawa Rianti. Sulastri masih berdiri menatap hingga tubuh Rianti hilang di balik pintu.


* * * * *


Pukul 12 siang. Di pelabuhan telong-elong. Bagas dan istrinya akhirnya sampai di lombok setelah melewati perjalanan selama 10 jam lamanya. Tadi malam, setelah bermusyawarah panjang dengan istrinya, mereka berdua akhirnya sepakat untuk kembali ke lombok.


Bagas melambaikan tangannya ke arah seorang laki-laki sopir taksi yang sedang duduk bersandar di badan mobilnya. Laki-laki itu segera berdiri dan masuk ke dalam mobilnya.


"Mau kemana, Pak." kata sopir taksi ketika Bagas dan istrinya telah masuk ke dalam mobil. Bagas terdiam sejenak. Ia memang belum punya tujuan yang jelas saat ini. Hasil mufakatnya tadi malam dengan istrinya, mereka akan cari kos-kosan terlebih dahulu sebelum menemukan rumah sewa.


Mobil taksi itu berhenti di sebuah gang kecil setelah menempuh perjalanan sejauh dua kilo dari perlabuhan.


Rumah bekas kontrakan Sulastri sudah terlihat dari tempat mereka berdiri. Tampak sepi. Pintu rumah itu tertutup. Ia yakin Sulastri sudah tak menempati rumah itu. Tidak mungkin Sulastri yang kini jadi bos besar masih menempati rumah kontrakan itu.


"Dik, kamu tunggu dulu di sini. Jika nanti rumahnya kosong, kita akan tinggal di sini," kata Bagas. Nurul mengangguk. Bagas pun melangkah menuju rumah kontrakan.


* * * * *


"Bu, rumah kontrakan kita yang dulu dimana?" tanya Farida sambil terus melihat ke arah luar kaca mobil.

__ADS_1


"Masih jauh. Nanti pasti kelihatan dari jalan," jawab Sulastri.


"Hore, kita masuk ya, Bu," kata Fahmi.


"Untuk apa. Mungkin sekarang sudah ada orang yang menyewanya." Sulastri menoleh ke arah pak Mustarah.


"Pak, berhenti dulu. Kita beli minuman," kata Sulastri ketika melihat Alfa mart di depannya. Pak Mustarah memelankan laju mobilnya. Sulastri kemudian turun diikuti Fahmi dan Farida.


*;** * *


"Bagaimana, Kak," tanya Nurul ketika Bagas sudah kembali dari rumah kontrakan. Bagas mendesah. Ia mengangkat kedua alisnya. Ia memegang tubuh Nurul dan mengajaknya duduk di kursi panjang di atas trotoar.


"Sudah ada yang menempati, Dik."


"Terus, sekarang kita mau kemana," tanya Nurul. Bagas terdiam. Dia masih mengingat-ingat sekitarnya.


"Jika kita tidak menemukan rumah kontrakan di sekitar sini, kita terpaksa harus cari kos di sekitar kampus Yaqin. Masih jauh sih," kata Bagas.


"Kamu tunggu di sini dulu. Aku mau cari makanan,"kata Bagas. Ia lalu bangkit dan melangkah menuju sebuah warung di seberang jalan.


"Bu, itu ayah," teriak Farida menunjuk ke arah seorang laki-laki yang berlari kecil menyeberang jalan. Sulastri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Farida sudah terlalu rindu dengan ayahnya sehingga merasa seperti melihat Bagas. Sulastri diam dan tak merespon kata-kata Farida.


"Berhenti, berhenti. Itu ayah, Bu." Farida menangis.


"Ayah lagi di Bima, Nak. Gak mungkin ayah kamu di sini," kata Sulastri sambil menoleh ke arah belakang.


"Mungkin mirip ayah kali, Nak," kata Rahima berusaha menenangkan Farida.

__ADS_1


"Enggak, itu memang ayah. Ayo, Pak Mustarah. Mundurkan mobilnya." Farida terus berteriak sehingga Sulastri terpaksa menyuruh pak Mustarah memundurkan mobilnya.


"Stop di sini," kata Farida. Tiba-tiba ia membuka pintu mobil dan berlari ke arah warung pinggir jalan. Sulastri kaget. Rahima segera mengejar Farida. Sulastri mendesah sembari terus melihat cemas dari dalam mobil. Ia melihat Farida masuk ke dalam warung.


__ADS_2