
Rianti masih diam mengamati suasana di halaman belakang rumah dari atas tembok rumah. Tangannya erat memegang salah satu dahan pohon ara agar pijakan kakinya tetap seimbang. Suasana di belakang rumah tampak sepi. Hanya sesekali terlihat bi Aisyah dan Munawarah mondar-mandir membuang sampah di tong sampah belakang rumah.
Rianti menatap ke bawahnya. Tembok setinggi tiga meter itu masih terlalu dalam baginya. Terlalu berisiko jika harus terjun. Rianti mendesah kesal. Ia sama sekali tak pernah memikirkan untuk membawa tali dari rumah.
Rianti tersenyum. Ia sepertinya telah mendapatkan ide cemerlang. Ia kembali merangkak dan menyandarkan tubuhnya di batang pohon ara. Perlahan ia membuka resleting celana levisnya dan melepaskan celananya. Ia kemudian mengikat salah satu kaki celananya. Pisau yang ia tancapkan di salah satu dahan ara kemudian dicabutnya dan di jatuhkannya ke bawah. Rianti menganggukkan kepalanya. Walaupun masih terlalu jauh dari jangkauan, tapi ia meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melakukannya.
Dengan sangat hati-hati, Rianti kemudian memegang celana itu dan perlahan turun. Dengan memejamkan mata, ia menjatuhkan tubuhnya dan jatuh di dekat kubur Yulian Wibowo.
Rianti meringis kesakitan memegang tangannya sambil tetap berbaring di atas tanah.
Rianti mengangkat tubuhnya dan merangkak mengambil pisau yang tergeletak tak jauh dari tempatnya terjatuh. Untuk sementara ia masih aman bersembunyi di dekat kubur Yulian Wibowo. Kembang-kembang dan tanaman yang tumbuh tinggi di sekitar kubur Yulian Wibowo membuatnya bisa melihat situasi sekitarnya.
"Ayo kejar aku, Farida," teriak Fahmi kegirangan sambil mengayuh sepedanya hingga ke ujung tembok bagian samping rumah. Tak berapa lama kemudian, terlihat juga Farida mengayuh sepedanya ke arah Fahmi.
Rianti menyela batang-batang tanaman di depannya. Ia tersenyum dan memegang pisau di tangannya kuat. Tangannya bergetar. Melihat keceriaan anak-anak Sulastri membuat amarahnya kembali memuncak. Anak-anak itu sudah merampas kebahagiaannya. Anak-anak yang sama sekali tak punya hubungan darah dengannya, tapi kini akan menggantikannya menikmati kemewahan yang ditinggalkan ayah kandungnya. Rianti menggelengkan kepalanya tak terima. Ia merangkak lebih dekat. Ia harus menangkap salah satu dari keduanya, atau keduanya sekaligus lalu menancapkan pisau itu di leher mereka.
* * *
"Saya kira cukup dulu main-mainnya, Bu. Sudah jam sebelas lebih. Sepertinya kami harus pamit pulang," kata pak Sahril. Sulastri menoleh ke arah jam dinding dan tersenyum.
"Sekali lagi termakasih atas bantuan Bapak berdua. Ibu, terimakasih juga telah ikut menemani pak Sahril dan pak Pratama," kata Sulastri. "Bu Trianti dan Bu Nur, sering-sering main-main kesini. Jangan lupa, bawa anak-anak juga," lanjut Sulastri ke arah bu Trianti dan bu Nur. Keduanya tersenyum menganggukkan kepala.
"Oya, Bu, pak Ahmad mungkin akan menginap juga di sini. Kebetulan pak Bayan ini masih ada hubungan keluarga dengan pak Ahmad. Sudah lama gak kete...,
__ADS_1
"Tolong, tolong!"
Belum selesai pak Sahril berbicara, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakang rumah. "Bi Asiyah," desah Sulastri. Dadanya berdebar-debar. Sejak dalam perjalanan, ia memang sudah merasakan sesuatu yang tidak enak dalam hatinya. Sulastri segera bangkit, begitupun dengan orang-orang yang bersamanya. Mereka segera berhamburan keluar rumah.
"jangan coba-coba mendekat jika tak mau pisau ini menembus leher anak ini," kata Rianti ketika Sulastri dan orang-orang yang bersamanya telah berkumpul di depannya. Pisau di tangannya di arahkannya ke leher Farida yang menangis ketakutan dalam pegangan kuat tangannya. Tatapan penuh ketakutan terpancar dari matanya meminta tolong ke arah Sulastri. Sulastri menangis dan bersimpuh di tanah.
"Mohon, lepaskan anakku, Rianti. Dia tak punya salah. Dia masih anak-anak. Aku mohon, lepaskan dia. "
Rianti tersenyum ketus.
"Tak bersalah, katamu? Dia harus ikut merasakan pembalasanku karna aku merasa mereka tak berhak atas apa yang di tinggalkan papaku. Kamu harus menderita Sulastri," kata Rianti dengan mata tajam menyala.
"Non, kita bisa membicarakan ini baik-baik. Mohon, lepaskan anak itu dan mari kita bicarakan secara kekeluargaan," kata pak Sahril. Ia maju beberapa langkah mendekati Rianti sambil mengangkat tangannya. Melihat itu, Rianti memundurkan langkahnya .
"Sudah aku katakan, jangan coba-coba mendekat," kata Rianti setelah menekan ujung pisau di leher Farida. Pak Sahril menghentikan langkahnya. Sulastri masih menangis. Demikian juga dengan Fahmi yang berada dalam dekapan bi Aisyah. Ia menangis keras melihat adiknya menjerit kesakitan.
"Apa yang harus aku lakukan, Rianti. Katakan, tapi tolong lepaskan anak itu. Dia tidak tahu apa-apa," kata Sulastri menghiba.
Rianti tertawa keras. Ia benar-benar terlihat puas melihat Sulastri memohon-mohon sambil bersimpuh di hadapannya.
"Tidak ada yang bisa mengganti dendam, amarah dan kebencianku ini selain dengan menghilangkan seluruh nyawa keluargamu, Sulastri. Jangan kira aku tidak bisa melakukannya. Kamu tahu? Suamimu tewas bukan karna penyakitnya. Dia tewas karna aku telah meracunnya. Aku ingin dia mati dan seluruh hartanya bisa aku kuasai. Tapi apa yang terjadi. Setelah kematiannya, dia masih saja berbuat ulah membuat kami menderita." Rianti menyeret tubuh Farida ke arah kubur Yulian Wibowo. Dengan senyum sinisnya, Rianti menendang batu nisan kubur Yulian Wibowo hingga miring ke samping. Pak Sahril dan pak Pratama saling pandang.
"Pak tua ini memberikan harta yang seharusnya menjadi hakku kepada pelacur sepertimu. Keputusan macam apa ini." Rianti kembali menyeret tubuh Farida ke tempat semula. Farida masih meronta. Ujung pisau yang meyentuh kulit lehernya membuat lehernya berdarah.
__ADS_1
Sulatri berdiri. Ia lebih mendekat ke arah Rianti. Rianti kembali mengacungkan pisaunya.
"Lepaskan anak itu. Bunuh aku saja. Kumohon, lepaskan dia Rianti,"
"hei,mau kemana kamu," teriak Rianti ketika melihat pak Bayan hendak pergi dari tempatnya. Pak Bayan yang sudah beranjak beberapa meter menghentikan langkahnya.
"Jangan ada yang coba-coba meninggalkan tempat ini." kata Rianti dengan tatapan beringas. "Dan kamu, Sulastri! aku sudah katakan, keluargamu harus musnah. Dengan itu, dendam dan kebencian dalam hatiku bisa terlampiaskan. Jadi jangan harap kamu bisa menggantikan posisi anakmu. Semua kalian akan aku bunuh."
Sulastri menggeleng-geleng. Ia sudah tidak punya cara lagi untuk menyelamatkan Farida. Ia menoleh ke arah pak Sahril. Pak Sahril menatap Sulastri sedih.
"Pak, ku mohon, lakukan sesuatu. Bila perlu, batalkan semua keputusan bapak. Saya lebih memilih hidup miskin daripada harus kehilangan anak-anakku, " kata Sulastri dengan suara parau dan bergetar. Pak Sahril mendesah dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah Rianti.
"Tidak sekali-kali, Sulastri. Aku sudah tidak butuh lagi harta-harta itu.Aku butuh darah dan hatimu," teriak Rianti.
Pak Sahril mendesah cemas. Di belakangnya, pak Pratama dan istrinya, bu Trianti, hanya bisa terdiam menatap sedih ke arah Sulastri yang bersimpuh memohon Rianti melepaskan anaknya.
"Non, masa depan Non Rianti masih panjang. Jangan sampai semua itu akan ternoda dengan tindakan Non ini. Mari kita bicarakan baik-baik, Non," kata pak Sahril mencoba terakhir kali merayu Rianti.
"Puih!
Rianti meludah ke arah pak Sahril.
"Masa depan apa, Pak Sahril! Kamu juga telah ikut terlibat menghancurkan masa depanku. Jadi, jangan coba-coba menasehatiku. Lebih baik kamu pulang dan biarkan aku memotong-motong tubuh perempuan ini beserta anak-anaknya."
__ADS_1
Pak Sahril mendesah. Dia sudah tidak punya cara lagi. Ancaman Rianti membuat mereka tak bisa saling mndekati satu sama lain. Masing-masing mencoba berpikir untuk melepaskan Farida dari sandra Rianti. Tapi dalam keadaan seperti itu, mereka kesulitan untuk melakukan penyelamatan.