KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
Marah


__ADS_3

"Kamu sudah dapat dua kali peringatan. Sisa yang kamu miliki hanya tiga lagi." Tegas Pak Adnant, melempar map ke Mahesa


Mahesa terlihat cekatan menangkap map itu. Ia membuka map itu. Membaca dengan malas, point yang sudah di ceklis sang ayah.


"Ya, gak gini juga kali ya? masak gara gara aku mabuk kena tandai. Ini juga, gara gara bicara kasar dengan," Mahesa nampak berfikir, ia lupa sudah namanya Freya. "Ciihh... Huu... Siapa sih namanya?" ujarnya dengan muka bingungnya.


"Dasar anak gak tahu diri kamu. Nama istri sendiri gak tahu kamu!" Cerocos Pak Adnan geram menatap Mahesa.


Mahesa terdiam, ia simpan map itu kembali di atas meja kerja sang ayah.


"Kalau kelima point kamu langgar, ayah tak akan pikir dua kali untuk cabut kamu dari daftar keluarga."


Hahhahaa..


Mahesa tertawa kuat.


"Sebelum nya aku akan buat Kartu keluargaku sendiri..!" ujar Mahesa tertawa puas, meledek sang ayah.


"Oouuw... Ku pecat kamu jadi direktur di perusahaan ayah. Ku bekukan semua fasilitas untukmu. Biar kamu tahu, gimana capeknya cari uang." Tegas Pak Adnant geram menatap sang putra yang selalu terlihat sepele itu.


"Iya.. Gak harus nunggu point itu penuh. Mulai hari ini, aku akan pergi dari rumah ini. Dari aku remaja, ayah selalu memandangku remeh. Yang ayah banggakan hanya Alex dan Alex. Dan sekarang, ayah nikahkan aku dengan pela cur. Apa ayah gak pikirkan perasaanku?" teriak Mahesa menantang sang ayah dengan tubuh yang bergetar.


"Oouuww.. Merasa sudah hebat. Kalau tidak karena abangmu Alex dan ayah. Kamu gak bisa hidup enak seperti sekarang. Tahumu habiskan uang. Bersuka ria dengan kekasihmu yang juga lebih rendah dari pela cur. Apa kamu gak tahu, si Cindy itu juga wanita panggilan?"


"Ayah... Stop...! jangan pernah hina dia. Hanya dia orang yang mengerti aku." Sergah Mahesa dengan mata yang berkaca kaca.


"Dia gak ngertiin kamu. Tapi, dia mau hancurkan keluarga kita. Sadar kamu!" Ujar sang ayah geram. "Otakmu sudah dicuci habis olehnya nak!" kini Pak Adnan menurunkan nada bicaranya. Karena ia melihat sang putra lepas kontrol.


"Cindy lebih hina dari istrimu!" Seru Pak Adnant tegas.

__ADS_1


Mahesa berbalik badan. Ia tak mau berdebat panjang dengan sang ayah. Ya, ucapan sang ayah memang benar. Kekasihnya Cindy pernah ketahuan selingkuh dengan pengusaha sukses asal singapore. Pengusaha tua bangka. Bahkan video me sum sang kekasih sampai kepadanya.


Kejadiannya masih baru sekitar dua bulan lalu.


karena masalah itu Mahesa kembali menggila. Ia tak konsentrasi lagi bekerja mengurus perusahaan mereka yang di kota Medan. Ia defresi karena itu. Waktunya habis untuk dugem dan mabuk mabukan.


Dan semua kehidupannya terasa berubah. Saat oknum yang ingin hancurkan nya salah masukkan ia ke sebuah kamar hotel. Mahesa masuk ke kamar tempat Freya berada. Mahesa yang mabuk, tentu saja tak bisa kendalikan diri saat melihat Freya yang dalam keadaan polos. Saat itu Mahesa mengira lawan mainnya adalah sang kekasih Windy. Windy yang selingkuh dengan kakek kakek.


Mahesa berjalan dengan penuh emosi menuju kamarnya.


"Nak.. Mahe..." Teriak sang ibu menyusul sang anak ke kamar.


Sesampainya di kamar. Mahesa meraih dompetnya dari atas meja.


"Ini, ibu berikan pada ayah!" ujar Mahesa sedih, menyodorkan dompetnya kepada sang ibu. Di dompet itu berisi kartu debet nya yang banyak.


"Nak..!"


"Sayang.. Sabar... Freya tak seburuk itu!"


Mahesa menepis tangan sang ibu saat wanita tua itu, berusaha merangkul anaknya yang sedang emosi Itu.


"Sudah jelas ia seorang pela cur bu!" Caci Alex.


"I, iya. Tapi, ia tak seburuk penilaianmu. Freya hanya tidur denganmu nak!" Jelas Bu Jasmin penuh kehati hatian.


Hahhahaa..


Mahesa tertawa lebar.

__ADS_1


"Ibu percaya itu? kalian semuanya telah diperdaya oleh sikapnya yang sok polos bu." Sergah Mahesa kesal


Ia mengambil ponselnya. Dan juga kunci motor kesayangannya di gantungan kunci khusus.


"Nak.. Jangan pergi... Kamu gak mau lihat ibu matikan nak?" Sang ibu menahan tubuh putranya itu. Kalau Mahesa sudah mengambil kunci motor kesayangannya. Itu artinya, anaknya itu akan pergi dari rumah megah itu dan meninggalkan semuanya.


"Aku bisa hidup, bisa cari makan. Tanpa bantuan dari ayah dan ibu!" Ujar Mahesa tegas.


"Nak, ingat kamu sudah menikah. Jangan bersikap seperti ini. Dewasalah nak, terima kenyataan hidup. Ibu akan bicara sama ayah. Kamu jangan ambil hati ucapan ayahmu yang sedang marah." Ujar sang ibu dengan muka memelasnya.


Mahesa nampak tak tega. "Ibu tak usah merasa kehilangan seperti itu. Ibu kan masih punya anak baik budi, rajin kerja dan selalu buat bangga orang tua. Lah aku ini, anak yang tahunya nyusahi orang tua. Dan hari ini, aku tak akan nyusahi kalian bu!" Tegas Mahesa, mulai menyeret kakinya keluar dari kamar. Tapi, sang ibu tetap menahan tangan Mahesa dengan kuat. Mahesa yang terus berjalan menuju pintu kamar, masih tetap di tahan tangan sang ibu. Akhirnya kepala sang ibu kejedot ke kusen pintu.


Orang orang yang menyaksikan adegan itu berlari untuk menolong Bu Jasmin.


"Aauuww......" Keluh Bu Jasmin.


Mendengar sang ibu meringis kesakitan Mahesa memutar tubuhnya, menatap sang ibu yang meringis kesakitan dengan bingungnya. Ingin membantu sang ibu, tapi sudah didahului oleh Alex dan Freya. Bahkan Bu Jasmine telah dirangkul oleh Alex sedangkan Freya terlihat memeriksa jidat Bu Jasmine, yang sudah bengkak dan memerah karena kejedot kusen pintu.


Dengan kejadian ini Mahesa kembali merasa bersalah dan terlihat frustasi. "Sudah kubilang, aku lebih baik pergi dari rumah ini. Dari pada aku di sini selalu menyusahkan kalian, selalu merugikan kalian." Cetus Mahesa dengan sedih.


Ia pun berniat melanjutkan langkahnya. Baru melangkah dua langkah. Bahunya dirangkul cepat oleh Mahesa.


"Apaan sih loe!" Mahesa mengangkat kuat kedua bahunya, tak suka Alex merangkulnya


"kita perlu bicara ya Dek? semuanya harus dibicarakan dengan tenang." Ujar Alex lemah dan penuh kasih sayang.


Mahesa dengan terpaksa mengikuti langkahnya Alex ke kamarnya. Sedangkan Bu Jasmine yang masih meringis kesakitan dipapah oleh Hana dan Freya ke kamarnya, yang diikuti oleh Pak Adnant.


Saat ini Freya merasa sangat was-was dan ketakutan sekali. Dia tak menyangka konflik yang ada di dalam keluarganya begitu kompleks dan mengerikan. Dari penilaian dia sementara melihat kemarahan sang suami, bisa disimpulkan kalau suaminya itu merasa cemburu kepada Alex. Tatapan mata suaminya Mahesa terlihat penuh dengan keputus asaan.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2