
Baik Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti sama-sama sigap memalingkan pandangan mereka ketika batuk Sulastri menghentak hening dan membuyarkan tatap kekaguman masing-masing.
Tuan Guru Izzul Islam menekan kuat kedua ujung matanya dan mendesah seraya mengucap istighfar. Melihat itu, Sulastri merasa bersalah. Ia urung membuka keheningan dengan kata-kata yang ingin diucapkannya. Ia mendesah panjang. Suasana kembali sepi. Sulastri menatap bergantian ke arah keduanya yang sama-sama menundukkan kepala. Wajah keduanya terlihat memerah menahan malu.
Sulastri memperbaiki posisi duduknya. Ia merasa, inilah saatnya ia harus jadi penengah ketegangan di antara keduanya. Tuan Guru Izzul Islam yang ia lihat saat ini, layaknya pemuda tanggung yang baru mengenal cinta. Tak terlihat lagi ketenangan di wajahnya. Mungkin karna ia sudah terlalu lama menunggu. Menunggu menahan godaan lain dari wanita-wanita cantik yang seharusnya bisa ia pilih sekehendaknya. Sulastri mendehem, mengusir serak di tenggorokannya. Dadanya berdebar. Ia takut, tapi ia merasa harus memberitahukan yang sebenarnya kepada Tuan Guru Izzul Islam.
"Sebelumnya, aku minta maaf, Tuan Guru. Maaf jika aku lancang. Sebenarnya, inilah maksudku mengundang Tuan Guru. Tentu saat ini, ingatan Tuan Guru tertuju kepada mimpi Tuan Guru beberapa tahun yang lalu setelah melihat Rianti. Mimpi tentang perempuan berkerudung biru motif batik." Sulastri menghentikan kata-katanya. Ia melirik ke arah Rianti. Ia mengambil nafas panjang, berusaha bersikap tenang. "Sengaja aku mendandani Rianti seperti ini, untuk menunjukkan kepada Tuan Guru, bahwa dialah yang aku yakini sebagai perempuan berkerudung biru motif batik itu. Tanda-tanda yang Tuan Guru lihat dalam mimpi Tuan Guru, semuanya ada dalam diri Rianti. Aku bersumpah demi Allah, dia memiliki tahi lalat di bawah telinganya."
Rianti menoleh. Ia belum mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Sulastri. Dia mencoba mengingat semuanya. Inikah maksud dia mendandaninya seperti itu? Itukah sebabnya Sulastri menanyakan pertanyaan konyol tentang tahi lalat di bawah telinganya kemarin? batinnya penasaran.
Tuan Guru Izzul Islam mengalihkan pandangannya ke arah Rianti. Getaran yang muncul di hatinya setiap kali menatap wajah Rianti, cukup menguatkan apa yang dikatakan Sulastri. Dia tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta. Selama ini, ia hanya jatuh cinta kepada mimpinya lima belas tahun yang lalu. Dia tetap memegang janji Allah yang telah memperlihatkan perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpinya, sebagai jodoh pilihan untuknya. Allah menurut persangkaan hamba-Nya. Jika seorang hamba berprasangka baik, maka baiklah Dia. Dan sebaliknya. Dan Ia telah istiqomah memegang keyakinannya selama ini. Dan ia yakin, inilah waktunya memetik buah dari kesabarannya itu.
"Rianti, inilah maksud ibu memperlakukanmu seperti ini. Tuan Guru telah bermimpi bertemu perempuan berkerudung biru motif batik dalam istiharah beliau. Awalnya Tuan Guru menganggap ibulah perempuan itu. Tapi ibu hanya punya kerudung biru motif batik. Ibu tidak memiliki tahi lalat sebagai tanda penentu keabsahan perempuan berkerudung biru motif batik itu. Semua tanda itu ada pada dirimu, Nak. Ibu yakin, kamulah perempuan itu." Sulastri mengangguk, berusaha meyakinkan Rianti yang khusyu' mendengar ceritanya.
Mendengar kata-kata panjang Sulastri, entah kenapa tiba-tiba ia menangis. Dua perasaan yang kini bertarung untuk saling mengalahkan, berkecamuk dalam hatinya. Rasa yang teramat bahagia karna keinginan untuk menjadi pendamping hidup Tuan Guru Izzul Islam kini akan jadi kenyataan. Tapi di sisi lain, rasa hina sebab masa lalu yang kelabu dan kotor, membuatnya tak akan pernah pantas bersanding dengan sosok semulia Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang. Setelah terdiam beberapa saat mendengarkan dengan seksama kata-kata Sulastri, wajahnya yang tegang terlihat semakin tenang. Senyum sudah kembali terlihat di bibirnya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia mengangguk-angguk kecil. Senyumnya mengembang penuh syukur.
"Alhamdulillah. Sebelum bu Sulastri menjelaskannya, detak jantungku sudah terlebih dahulu memberitahukanku, bahwa hari ini aku akan dipertemukan dengan perempuan berkerudung biru motif batik itu." Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah Rianti. Ia kemudian bangkit. Sejenak ia berdiri memandang Rianti.
__ADS_1
"Aku rasa, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Insya Allah, aku akan memberitahukan bu Sulastri waktu yang tepat untuk melamar anak ibu." kata Tuan Guru Izzul Islam mantap. Sulastri tersenyum. Wajahnya berbinar-binar ceria. Ia mengusap punggung Rianti. Rianti masih menundukkan wajahnya sembari menghapus air matanya.
"Kalau begitu, aku mohon pamit. Assalamualaikum," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil melangkah tenang meninggalkan ruang tamu.
Sulastri berdiri dan membungkukkan badannya. Rianti sendiri masih tetap diam di tempat duduknya.
"Waalaikum salam," jawab Sulastri. Ia lalu mengikuti Tuan Guru Izzul Islam dari belakang hingga ke teras rumah. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum ketika meninggalkan Sulastri menuju mobilnya.
Sulastri kembali menuju ke ruang tamu dengan riangnya ketika mobil Tuan Guru Izzul Islam tidak terlihat lagi. Ia segera menghampiri Rianti yang masih duduk menundukkan wajahnya. Sulastri memeluk Rianti erat. Ia begitu bahagia, bahwa apa yang ia cita-citakan hari ini sesuai dengan harapannya. Dia telah berhasil membuat jalan singkat untuk mempertemukan Rianti dengan Tuan Guru Izzul Islam.
"Sekarang, kamu sudah mengerti kan maksud ibu?" tanya Sulastri berbisik di telinga Rianti. Rianti mengangguk sesenggukan.
"Bu, Apa Tuan Guru sudah pergi?" tanya Rianti. Sulastri tersenyum. Wajah Rianti sudah terlihat mulai melunak.
"Sudah, Nak. Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" tanya Sulastri. Rianti menggeleng. Ia menunjuk ke arah sorban warna hijau yang tergeletak di ujung sofa. Sorban itu tadi sempat digunakan Tuan Guru Izzul Islam untuk menyeka keringat dingin di lehernya. Sepertinya ia lupa membawanya.
Sulastri kembali berdiri dan mengambil Sorban itu. Ia lalu mendekat ke arah Rianti dan mengajaknya berdiri. Sorban hijau ditangannya kemudian ia gantungkan di leher Rianti.
Mulut Rianti menganga dan tatapannya lekat memandang wajah Sulastri. Sulastri mengernyitkan dahinya. Dia menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Rianti. Pandangan Rianti tetap tak berpaling. Dia saat ini sedang tidak melihat Sulastri. Tapi melihat ulangan mimpi saat Sulastri mengalungkannya sorban hijau seperti yang kini terkalung di lehernya saat ia masih di penjara. Air mata Rianti kembali mengalir. Sulastri terlihat sedikit panik. Ia mengguncang tubuh Rianti.
__ADS_1
"Rianti? kamu tidak apa-apa, Nak?"
Rianti tak menjawab. Air matanya semakin deras mengalir.
Rianti membalikkan tubuhnya ke arah barat setelah beberapa lama mematung dalam kebisuannya. Sulastri masih memperhatikannya cemas. Tubuh Rianti luluh ke lantai. Ia bersimpuh kemudian bersujud.
"Ya, Allah. Ketaatanku kepada-Mu tak lebih besar dari kotoran yang menempel di ujung kukuku. Tapi karunia yang Engkau berikan kepadaku amatlah besar, sampai-sampai aku tak mampu memikulnya.
Ya, Allah. Engkau telah mengganti kehinaanku dengan kemulian ini. Jadikan dia yang Engkau tunjukkan dalam mimpiku, sebagai perantaraku lebih mendekatkan diri kepada-Mu."
Rianti larut dalam tangisnya. Sulastri yang hanya berdiri menyaksikannya bersujud, mendekat dan membangunkannya. Ia mencium kening Rianti dan memeluknya erat.
"Bangunlah, Nak. Jangan kamu biarkan tangismu seperti tangis Zulaikha. Tangis yang membuat Nabi Yusuf menunggu terlalu lama."
Sulastri menoleh ke arah photo Yulian Wibowo yang tergantung jauh di sudut ruangan. Terlalu jauh, namun senyumnya masih bisa ia lihat. Sulastri tersenyum.
"Tuntas sudah amanah yang telah di bebankan papamu kepadaku. Ini adalah puncak kebahagiaan dan pengabdianku. Aku berharap, aku juga layak menemui papamu di surga." Sulastri mendesah dan menundukkan wajahnya. Ia mengusap air matanya.
Adzan Dhuhur terdengar berkumandang. Alunan merdunya menembus setiap rongga dalam hati. Mengisi setiap ruang, dan mengusir setiap kegundahan dalam hati.
__ADS_1