KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#132


__ADS_3

"Stop, Pak, Stop," kata Sulastri kepada pak Mustarah ketika sampai di jalan masuk menuju rumahnya. Dia seperti baru saja melihat Jeri keluar dari jalan kecil itu dengan sepeda motornya. Perasaan Sulastri semakin tidak karuan. Apakah ini ada kaitannya dengan video itu?


"Jalan, Pak," kata Sulastri setelah terdiam beberapa saat memperhatikan arah laju sepeda motor Jeri. Pak Mustarah kembali menyalakan mesin mobil. Mobil perlahan menuruni jalan kecil menuju rumah.


Sesampainya di dalam rumah, Sulastri bergegas turun dari mobil. Langkahnya cepat menuju rumah, seperti tak ingin merasakan berlama-lama debar dadanya. Setibanya di dalam kamar, ia mendapati Rianti sedang melaksanakan shalat. Sulastri mendesah dan duduk pelan di sisi ranjang. Ia memperhatikan Rianti yang sedang khusyu' dalam ruku'nya. Tidak seperti yang ia bayangkan. Anggapannya tentang kedatangan Jeri di rumah itu mungkin juga salah. Jeri tak ada kaitannya dengan video itu. Mungkin saja orang lain. Mohan atau Ferdy barangkali. Tapi ia merasa masih belum tenang. Lambat laun Rianti akan tahu prihal video itu. Dan bisa jadi seluruh indonesia akan mengetahuinya, mengingat kemudahan mengakses media sosial saat ini, jika keinginan pak Jamal tidak dipenuhi.


"Putri dan istri seorang pengusaha terkaya di Nusa Tenggara Barat berbuat mesum".


Agh, Sulastri tidak bisa membayangkan jika judul yang coba ia reka dalam pikirannya itu memenuhi halaman media sosial.


"Ya, Allah," desah Sulastri resah. Ia mengusap keras wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sulastri mendongakkan kepalanya. Alternatif terakhir mungkin yang ditawarkan pak Sahril. Satu-satunya jalan adalah menawarkan perdamaian dengan pak Jamal. Harta tak akan ada gunanya dibandingkan marwah keluarganya. Memberikan satu perusahaan tak akan berpengaruh apa-apa.


"Ibu."


Sulastri terbuyar dari lamunannya. Dilihatnya Rianti menoleh ke arahnya. Sulastri tersenyum. Rianti melepas mukena yang dipakainya kemudian melangkah menuju Sulastri. Setelah mencium tangan Sulastri, ia lalu duduk di samping Sulastri. Rianti mendesah panjang.


"Bu, dulu aku menganggap hidup ini hanya bicara tentang kebahagiaan dan canda tawa saja. Mungkin karna sejak kecil aku hidup bergelimang kemewahan hingga usia remajaku. Aku tak pernah merasa sedih. Apa yang aku mau, apa yang aku tunjuk, semua tersedia di depanku." Rianti menghentikan kata-katanya. Ia mengusap punggung Sulastri dan tersenyum. Ia tahu Sulastri pasti tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu.

__ADS_1


" Seiring waktu, hingga aku mendekam di penjara, Aku mulai merasa bahwa dunia ini hanyalah senda gurau belaka. Dunia ini panggung sandiwara, dimana sutradara telah menyediakan berbagai tantangan dan hambatan di atasnya. Hanya yang lulus dari hambatan itu yang akan mendapatkan tempat terbaiknya," sambung Rianti. Ia menatap wajah Sulastri yang tak berpaling memandangnya. Rianti tersenyum. Ia lalu memegang kedua tangan Sulastri.


"Wajah ibu terlihat lesu. Ibu perlu mandi. Tapi ibu tetap terlihat cantik," kata Rianti sembari mencium bergantian kedua tangan Sulastri. Dia sama sekali belum memberikan penjelasan tentang maksud pembicaraannya tadi. Sulastri tersenyum. Dia seperti berusaha menelisik wajah dan tatapan Rianti. Tapi Rianti melihat senyum itu begitu hambar. Senyum yang membawa aroma kegelisahan. Rianti seperti sudah tahu apa yang sedang membebani pikiran Sulastri saat ini.


"Gak usah dipikirkan, Bu. Serahkan kepada Allah. Aku menerima apa yang telah menjadi bagian hidupku," kata Rianti sembari kembali tersenyum. Wajahnya terlihat begitu tenang. Sulastri mengernyitkan keningnya. Ia masih tidak mengerti dengan ucapan Rianti. Tanda tanya masih memenuhi pikirannya. Melihat Sulastri yang terlihat kebingungan, Rianti mengusap punggungnya.


"Aku tahu kenapa ibu menghilang begitu saja meninggalkanku ke rumah makan. Aku juga tahu kenapa ibu salah membawa hp. Tadi Jeri datang dan meminta maaf. Ia telah menjelaskan semuanya kepadaku, termasuk rencana pak Jamal."


Sulastri menatap lekat wajah Rianti. Lagi-lagi Rianti tersenyum. Tak ada sama sekali kerisauan dan kesedihan yang terpancar di wajahnya. Setenang air danau tanpa hembusan angin. Rupanya Rianti sudah tahu semuanya sebelum ia sempat memberitahunya.


"Kurang ajar. Ibu sudah yakin kalau Jeri lah orang yang membantu pak Jamal. Seharusnya kamu berteriak dan meminta pak Bayan menahannya, bukan malah membiarkannya pergi begitu saja," kata Sulastri kesal. Kedua telapak tangannya tergenggam kuat.


"Setiap perbuatan, pasti akan menerima akibatnya. Terlepas itu baik atau buruk," sambungnya tenang. Sulastri menggeleng. Dia tak mengerti kenapa Rianti sama sekali tak terbebani.


"Bagaimana kamu bisa setenang ini, Nak. Masalah ini seperti hendak mencabut nyawa ibu, dan kamu masih bisa tersenyum seperti ini? Tidak, Nak. Ini tidak harus terjadi. Ibu tidak tega pak Jamal menyakitimu,"


"Sudahlah, Bu. Tak ada yang bisa kita lakukan. Kita biarkan semuanya mengalir sesuai dengan kehendak Allah. Biarkan saja dia berbuat apapun yang dia mau. Aku tidak apa-apa, Bu. Biarkan ini semua terjadi agar setimpal dengan masa laluku." Sulastri kembali menggelengkan kepalanya. Tak terima dengan sikap Rianti.


"Tidak, Nak. Kita masih bisa menghentikannya. Dia hanya minta satu perusahaan saja. Gak apa-apa. Kita bisa memberikan apa yang dia minta. Kebahagiaanmu lebih penting bagi ibu dari pada perusahaan itu. Kita masih punya perusahaan. Kita masih punya harta yang tak akan habis hingga tujuh turunan,"

__ADS_1


Rianti tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ia bangkit dan melangkah menuju lemari. Jilbab biru motif batik dikeluarkannya dan memasangnya di depan cermin rias. Sulastri hanya bisa memperhatikannya.


"Ibu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Pak Jamal tidak akan terpengaruh dan terikat dengan sumpah ataupun janji apapun. Dia akan terus meminta sampai kita tidak punya apa-apa lagi. Jeri sudah menceritakan semuanya. Pak Jamal telah bertekad membuat keluarga kita semenderita mungkin. Jadi, percuma bekerjasama dengan dia,"


"Tapi minimal dia tidak akan menyebarkan video itu, Nak,"


Rianti membalikkan tubuhnya. Lagi-lagi senyumnya mengembang.


"Gak apa-apa, Bu. Rianti sudah siap menerima segala akibat dari penyebaran video itu. Biarlah aib ku di dunia diungkap sampai tak bersisa. Itu lebih baik dari pada aku harus menanggung malu di hadapan Allah kelak di hari pengadilan akbar," jawab Rianti mantap. Dia melangkah pelan menuju Sulastri. Sulastri yang masih duduk dibangunkannya. Rianti mendesah panjang.


"Dan biarkan aku tetap jadi perempuan berkerudung biru motif batik itu. Itu adalah karunia terbesar bagiku. Aku telah masuk dalam mimpi seorang ulama besar, yang dihasilkan lewat istiharah panjangnya. Ini lebih dari cukup untuk membuatku tak mengurusi masalah pak Jamal,"


Air mata Sulastri mengalir. Ia hanya bisa menatap penuh haru Rianti. Tatapan Rianti bening penuh rasa syukur. Dia benar-benar seperti sudah terlepas dari segala masalah yang kini ada di depan mata. Rianti memegang kedua pundak Sulastri, lalu memeluknya erat.


"Tolong jangan menangis, Bu. Buat aku kuat seperti dulu ibu berhasil keluar dari kesedihan ibu. Jangan hiraukan apa kata orang tentangku, juga tentang keluarga kita. Itu tak penting. Yang paling penting adalah apa kata Allah tentang kita." Rianti akhirnya menangis. Bukan karna masalah yang sedang dihadapinya kini, Tapi karna kekagumannya kepada sosok Sulastri yang dulu pernah lebih menderita dari padanya. Menangis atas apa yang pernah dilakukannya. Itu lebih menyakitkan ketika ia mengingatnya kembali.


"Tapi Tuan Guru akan meninggalkanmu, Nak," kata Sulastri terbata-bata karna sesenggukan tangisnya.


"Gak apa-apa, Bu. Menjadi perempuan berkerudung biru motif batik sudah cukup bagiku. Ada di samping ibu membuatku telah memiliki surgaku. Jadi jangan lagi memikirkan itu," kata Rianti. Sulastri kembali memeluknya erat. Ketabahan Rianti membuatnya ikut tegar. Dan memang benar apa yang dikatakan Rianti. Di dunia ini, kita hanya perlu berpura-pura buta dan tuli terhadap omongan dunia yang menyakitkan. Jika terus memaksa mendengar dan melihatnya, bahkan membalasnya, itu akan memberikan kita kematian sebelum kematian yang sesungguhnya.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2