KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#138


__ADS_3

Malam beranjak larut. Suara jangkrik mengerik ramai ditimpali sesekali suara burung hantu yang memecah hening malam. Cristian dan Qurratul Aini baru saja sampai di rumah makan Zamora. Mereka hanya masuk sebentar kedalam kamar yang mereka sewa. Hanya sekedar menyimpan tas dan beberapa pakaian yang akan mereka bawa ke sumbawa. Mereka langsung turun menuju tempat parkir mobil. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan satpam rumah makan, mereka sepakat untuk meninggalkan mobil milik Cristian, dan memakai mobil milik Qurratul Aini. Sebelum berangkat, keduanya saling berpegangan tangan. Mencoba saling menguatkan terhadap resiko apapun yang akan mereka hadapi di rumah Qurratul Aini nanti. Tapi sebelum pulang ke rumah Qurratul Aini, keduanya sepakat meminta bantuan Tuan Guru Izzul Islam untuk melunakkan Tuan Guru Faeshal. Terlebih dengan akan masuk Islamnya Cristian, Qurratul Aini berharap banyak, itu akan jadi kado terbaik buat meredam kemarahan ayahnya.


* * * * *


Sementara itu. Sebuah mobil toyota Avanza warna hitam terlihat berhenti di bawah sebuah pohon mahoni. Tepat di tepi jalan menuju rumah Sulastri. Suasana sekitar terlihat gelap. Cahaya lampu yang berjejer dengan jarak tiga meter di atas tembok rumah, tak mampu menembus lebatnya rerimbunan daun pohon Mahoni. Suara jangkrik terdengar ramai mengerik. Heningnya malam memperdengarkan suara air yang mengalir di sungai tak jauh dari rumah besar itu.


Pak Jamal menurunkan kaca mobilnya sedikit demi sedikit. Matanya awas memperhatikan suasana di depan rumah. Dua orang laki-laki tampak terlihat keluar dan mengobrol di luar gerbang rumah. Asap rokok mereka mengepul memenuhi cahaya lampu pintu gerbang. Sinar senter mereka sesekali di arahkan ke arah ruang gelap di depan mereka. Pak Jamal mendesah pendek. Penjagaan di rumah itu sepertinya sangat ketat sekali. Tembok pembatas yang tinggi dan di penuhi kawat berduri, membuat rumah itu sangat sulit dimasuki.


Pak Jamal mengambil satu batang rokok dan menyulutnya. Merasa jauh dari jangkauan kedua laki-laki itu, perlahan ia turun dari mobilnya. Ia berjalan pelan lebih maju hingga ke tepi parit tepi jalan. Tak ada bangunan apapun di depan rumah itu. Hanya persawahan.


Pak Jamal menghisap rokoknya dalam-dalam. Asapnya di hempaskan perlahan ke arah lengan tangannya yang dikerubuti nyamuk. Di luar mobil, ia merasa tidak nyaman. Suara nyamuk begitu ramai dan mengganggu pendengarannya. Pak Jamal terlihat kesal. Dia seperti berada di sarang nyamuk. Nyamuk-nyamuk itu seperti sedang mendapatkan mangsa empuk dan satu-satunya. Karna kewalahan, Pak Jamal memilih masuk kembali ke dalam mobil.


Pak Jamal tersenyum. Setelah beberapa saat terdiam melihat suasana di depan gerbang rumah, ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah sawah. Ia menganggukkan kepalanya. Dari ekspresi wajahnya yang mengembang, sepertinya ia telah menemukan ide. Pak Jamal meludah sekali dengan keras ke arah luar. Puntung rokoknya ia jentikkan keluar. Kaca mobil dinaikkan kembali. Ia lalu menyalakan mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu.


* * * * *


Tuan Guru Izzul Islam baru saja hendak menutup pintu gerbang sepulangnya dari mengisi pengajian di dalam asrama, ketika sebuah mobil berhenti di depannya. Cahaya lampu yang terang di depan gerbang, membuat Tuan Guru Izzul Islam dengan cepat bisa mengenal mobil di depannya. Tapi ia masih menunggu orang yang akan keluar dari dalam mobil.


Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya ketika melihat Qurratul Aini keluar dari mobil. Tak beberapa lama kemudian, seorang laki-laki menyusul keluar. Tuan Guru Izzul Islam memperhatikannya dengan seksama. Ia seperti pernah mengenal laki-laki itu. Laki-laki itu mirip dengan yang ada di dalam video dan memeluk Qurratul Aini.


"Assalamualaikum, Tuan Guru," ucap Qurratul Aini ketika sudah berada di depan Tuan Guru Izzul Islam. Wajahnya memerah menahan malu.


"Waalaikum salam," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Ia keluar dari pintu gerbang. Qurratul Aini menundukkan kepalanya malu. Cristian sendiri langsung lebih dekat menyalami Tuan Guru Izzul Islam. Ketika Cristian hendak mencium tangannya, Tuan Guru Izzul Islam segera menarik tangannya. Pandangannya kini tertuju ke arah Qurratul Aini.


"Qurratul Aini?"


Qurratul Aini mengangkat wajahnya. Matanya berair menahan malu.


"Saya, Tuan Guru," katanya lirih.


"Ada apa-apa malam-malam begini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia melirik ke arah jam tangannya. Sudah jam 11 lebih. Qurratul Aini tersenyum. Masih dengan menundukkan kepalanya. Ia mendesah pelan.


"Ada yang ingin saya bicarakan, Tuan Guru. Mohon waktunya sebentar saja, Tuan Guru," kata Qurratul Aini memohon dengan nada bicara bergetar. Tuan Guru Izzul Islam terdiam sejenak memandang keduanya. Setelah itu, ia membalikkan tubuhnya.


Tuan Guru Izzul Islam membuka lebar-lebar pintu gerbang dan mempersilahkan keduanya masuk.


"Silahkan duduk," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah sampai di ruang tamu. Ia menoleh ke arah kamar Abdul Khalik yang terletak di samping ruang tamu.


"Lik, Abdul Khaliq," panggil Tuan Guru Izzul Islam. Abdul Khaliq yang sedang berada di kamarnya, segera keluar begitu mendengar panggilan Tuan Guru Izzul Islam.


"Saya, Tuan Guru."

__ADS_1


"Buatkan minuman untuk tamu kita,"


"Baik, Tuan Guru."


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Maaf, saya mau ke dalam dulu. Mau taruh kitab dan ganti pakaian," kata Tuan Guru Izzul Islam.


keduanya menganggukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam segera masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Tuan Guru Izzul Islam mendapati Nyai Mustiani sedang duduk di kursi ruang makan. Melihat Tuan Guru Izzul Islam datang, ia langsung bangkit. Penutup makanan di atas meja makan di bukanya.


"Ayo, kita makan dulu. Ibu sudah menunggumu sejak tadi," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah dan menatap Nyai Mustiani. Ia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa ibu harus menunggu. Kan ibu sudah tahu kalau malam rabu ngajinya agak lama." Tuan Guru Izzul Islam mendekati Nyai Mustiani. Ia menoleh ke arah luar.


"Bu, di luar ada tamu. Qurratul Aini," kata Tuan Guru Izzul Islam setengah berbisik. Nyai Mustiani mengernyitkan dahinya. Ia ikut menoleh ke arah ruang tamu.


"Qurratul Aini? Mau ngapain dia kesini," kata Nyai Mustiani. Terdengar nada bicaranya tak senang. Tuan Guru Izzul Islam mendesah.


"Gak tahu juga, Bu. Katanya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ia bicarakan,"


Nyai Mustiani tersenyum ketus.


Tuan Guru Izzul Islam meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Isyarat agar Nyai Mustiani memelankan suaranya.


"Bu, Tolong. Anggap itu adalah masa lalu yang sudah kita tidak ingat lagi karna lamanya. Anggap itu tak pernah terjadi. Sekarang dia adalah tamu kita. Sejahat-jahatnya dia, dia harus kita hormati. Kematian Tuan Guru memang telah ditakdirkan hari itu. Bukan karna Qurratul Aini,"


"Agh, sama saja,"


Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki letak kopiahnya. Wajahnya diusap-usapnya.


"Ibu." Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Sepertinya Nyai Mustiani masih tak terima dengan apa yang telah dilakukan Qurratul Aini. Raut mukanya memperlihatkan ketidak senangannya. Ia takut Nyai Mustiani ikut keluar dan memperlihatkan ketidak senangannya kepada Qurratul Aini.


"Ibu makan dulu. Biar aku yang temani mereka. Ingat, fokus ke acara kita yang besok. Perempuan berkerudung motif batik," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari tersenyum. Nyai Mustiani ikut tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam segera masuk ke dalam kamarnya. Setelah mengganti bajunya, ia segera keluar menemui Qurratul Aini dan Cristian.


"Maaf, Nunggunya lama." Tuan Guru Izzul Islam tersenyum sembari duduk.


"Oh ya, ngomong-ngomong, kalian sudah makan?"


Keduanya tersenyum.

__ADS_1


"Sudah, Tuan Guru. Terimakasih."


"Silahkan diminum dulu tehnya," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat tiga gelas minuman sudah tersaji di atas meja. Keduanya mengangguk.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Bergantian ia memandang keduanya.


"Maaf, Kalau boleh tahu, ada apa gerangan malam-malam begini kalian menemui saya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Dia merasa, jika tidak memulai membuka topik pembicaraan, keduanya terlihat sungkan memulai terlebih dahulu.


Qurratul Aini yang masih menundukkan kepalanya mengangkat wajahnya. Tapi tatapannya lebih di arahkannya ke arah cangkir di depannya. Dia masih belum bisa menatap wajah Tuan Guru Izzul Islam. Agak lama menunggu, yang terdengar malah isak tangis dari Qurratul Aini. Cristian yang ada di sampingnya mengusap punggung Qurratul Aini. Melihat Qurratul Aini sepertinya belum bisa berbicara karna sesenggukan tangisnya, Cristian mengambil inisiatif untuk mewakilinya. Di dalam rumah. Di balik kelambu yang tersibak, Nyai Mustiani mencuri dengar.


"Begini Tuan Guru. Kami kesini, yang pertama adalah untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kaburnya Aini dari rumah. Dalam hal ini, kami telah merugikan Tuan Guru. Kami mengaku bersalah dan sekali lagi memohon maaf yang sebesar-besarnya. Aini tidak salah. Sayalah yang telah membawanya kabur dari rumah."


Tangis Qurratul Aini terdengar semakin keras. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia mengangkat cangkir minumannya dan menyeruputnya sekali. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Tidak apa-apa. Allah telah memberitahu kita di dalam Al-Qur-an bahwa apa yang kita miliki adalah milik Allah. Termasuk nyawa kita. Semuanya pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Jika kita tidak pernah menganggap apa yang ada pada diri kita adalah milik kita, maka ketika kita kehilangannya, kita tak akan pernah bersedih. Karna itu bukan milik kita. Kalian saling mencintai. Sudah seharusnya kalian mempertahankan cinta kalian,"


"Yang kedua, saya ingin Tuan Guru membimbing saya membaca syahadat. Saya ingin masuk Islam."


Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia tak menyangka, laki-laki yang ada di hadapannya adalah seorang kristen.


"Agama saya kristen, Tuan Guru," sambung Cristian ketika menatapnya heran. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Masya Allah. Malam yang indah. Allah telah mengutus saudara ke rumah ini dan mempercayakanku untuk bersaksi atas keesaan Allah. Alhamdulillah. Suatu kehormatan buatku, saudaraku," kata Tuan Guru Izzul Islam. Wajahnya berbinar-binar bahagia. Ia bangkit dan mendekat ke arah Cristian. Tubuh Cristian diraihnya kemudian memeluknya. Cristian menangis haru.


"Selamat saudaraku. Semoga Allah menyempurnakan ke islamanmu. Amin."


Tuan Guru Izzul Islam melepas pelukannya. Nyai Mustiani yang mengintip di dalam rumah terlihat keluar. Menyadari itu, Qurratul Aini yang tangisnya belum reda, segera bangkit dan menghampiri Nyai Mustiani. Tak henti-henti ia mencium tangan Nyai Mustiani bolak-balik.


"Maafkan kesalahan saya, Bu Nyai. Maafkan saya. Saya telah menyakiti dan mengecewakan hati bu Nyai sekeluarga,"


Nyai Mustiani tersenyum. Kepala Qurratul Aini diusapnya lembut. Tuan Guru Izzul Islam merasa lega.


"Sudah. Seperti yang dikatakan Tuan Guru tadi, kita harus saling memaafkan. Kamu dan Tuan Guru sekarang adalah saudara," kata Nyai Mustiani. Kepala Qurratul Aini diciumnya. Qurratul Aini semakin tak bisa menahan tangisnya. Bayangannya tentang kemarahan Nyai Mustiani terhapus sudah. Ia merasa berada di tengah-tengah keluarga yang telah lama menantikan kehadirannya. Nyai Mustiani mengajak Qurratul Aini duduk di sampingnya.


"Apakah saudara, ee...,"


"Cristian, Tuan Guru,"


"Maaf. Apakah saudara Cristian benar-benar ingin memeluk agama islam?"


Cristian mengangguk mantap.

__ADS_1


"Benar, Tuan Guru. Saya sudah yakin, Islamlah agama terakhir saya,"


__ADS_2