
Pak Jamal masih bersembunyi di balik batang pohon tepi sungai. Ia tetap bertahan hingga adzan Dhuhur berkumandang, karna ia tidak mau pulang dengan tangan hampa. Lebih-lebih ketika melihat dua buah mobil yang datang sekitar 9 pagi tadi, sudah keluar dari gerbang rumah. Dia berpikir, inilah waktunya ia keluar dan menjalankan rencana yang telah ia susun tadi malam.
Pak Jamal mengeluarkan sebuah topi hitam yang ia selipkan di saku bagian belakang celana levisnya. Dengan penampilan yang biasa-biasa saja seperti itu, ia yakin, baik Sulastri maupun Rianti tak akan mengenalnya jika mereka tidak melihat wajah nya dalam jarak dekat.
Pak Jamal membuang puntung rokok yang hampir hanya tersisa kanvasnya itu. Puntung-puntung rokok terlihat berserakan di bawah kakinya. Selama menunggu sejak tadi pagi, dia sudah menghabiskan dua bungkus rokok. Puntung rokok yang dibuangnya tadi adalah rokok terakhirnya.
Pak Jamal segera keluar dari persembunyiannya. Masih dengan tetap menoleh ke arah gerbang rumah, ia terus berjalan menyusuri pematang sawah hingga sampai di jalan kecil menuju rumah itu.
Ketika hampir sampai di depan pintu gerbang, ia mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura sedang berbicara dengan seseorang, sembari melangkah pelan ke arah pintu gerbang.
"Ya, Bu. Saya kan tidak tahu siapa pemilik sawah-sawah ini. Tapi jika kita tawar dengan harga yang besar, saya yakin pemiliknya akan mau melepaskan tanahnya. Lagi pula, lokasinya ini sangat strategis untuk berbisnis," kata pak Jamal. Pak Bayan yang duduk di pos jaga memperhatikannya. Pak Jamal melirik. Melihat pak Bayan sedang memperhatikannya, ia menundukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Baik, Bu. Saya akan periksa-periksa dulu. Nanti saya hubungi lagi," kata pak Jamal. Ia lalu berpura-pura mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku celananya. Setelah itu, ia mulai mondar-mandir membelakangi gerbang. Seperti orang yang sedang memeriksa sawah.
Melihat pak Jamal mondar-mandir di depannya, pak Bayan bangkit dan menghampiri pak Jamal.
"Maaf, kalau boleh tahu, mau cari siapa, Pak?" sapa pak Bayan. Pak Jamal tersenyum sebelum membalikkan badannya. Rupanya pak Bayan sudah termakan aksinya. Pak Jamal memperhatikan pak Bayan dengan seksama. Dia yakin pak Bayan tidak tahu siapa dirinya.
"Ini, Pak. Saya ini mau periksa lahan persawahan ini. Bos saya minta dicarikan lahan yang dekat dengan jalan raya. Saya tertarik dengan tanah yang ada di sekitar sini." Pak Jamal menatap pak Bayan.
"Apakah pemilik rumah ini yang punya sawah-sawah di depan ini?" sambung pak Jamal.
"Bukan, Pak. Pemilik sawah-sawah ini dari kampung sebelah. Biasanya mereka jarang datang kalau tembakau sudah panen. Nunggu musim hujan datang," jawab pak Bayan. Pak Jamal mengarahkan pandangannya ke dalam rumah. Ia menggeser tubuhnya agar tertutup tembok gerbang.
"Kalau ini rumah siapa, Pak. Besar sekali. Satu-satunya lagi," kata pak Jamal sambil menggeleng pura-pura kagum.
Pak Bayan Tersenyum.
"Owh, Ini rumahnya pak Yulian Wibowo. Sekarang ditempati istri dan anaknya," jawab pak Bayan. Lagi-lagi Pak Jamal pura-pura memperlihatkan kekagetannya.
__ADS_1
"Ooo..., Orang paling kaya itu?"
Pak Bayan mengangguk.
"Lagi ada acara?" sambung pak Jamal setelah jeda beberapa saat.
"Acara lamaran non Rianti. Putri pertama pak Yulian Wibowo,"
"Owh, yang tadi saya lihat di jalan masuk itu? Ada dua mobil yang keluar menuju jalan utama?"
Lagi-lagi pak Bayan mengangguk tanpa curiga sedikitpun dengan pertanyaan beruntun pak Jamal. Malah, ia menawarkan sebatang rokok kepada pak Jamal. Perlahan, pak Jamal berhasil menggeret pak Bayan agar ikut berdiri di balik tembok.
"Kita patut bangga provinsi ini memiliki sosok seperti pak Yulian. Saya memang tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Tapi beliau sering saya lihat di televisi dan media massa," kata pak Jamal setelah menyulut rokoknya. Sejenak mereka terdiam.
"Oh ya, Pak. Saya baru ingat. Kalau gak salah, sawah-sawah di depan ini akan dibeli oleh bu Sulastri. Rencananya, persawahan ini nanti akan dibangunkan pondok pesantren untuk anaknya bu Sulastri," kata pak Bayan. Pak Jamal mengangguk-angguk. Ia mendesah kasar.
"Sialan, Sulastri benar-benar memanfaatkan harta warisan pak Yulian. Malah dia bisa membangunkan anaknya pondok pesantren. Kurang ajar. Dia yang saudara kandung pak Yulian saja tak mendapat apa-apa." batin pak Jamal. Kembali pak Jamal mendesah panjang. Ia mengarahkan pandangannya ke tengah persawahan.
Pak Jamal tersenyum.
"Ngomong-ngomong, anaknya pak Yulian mau dilamar siapa?"
"Bapak pasti kenal Tuan Guru Izzul Islam. Pimpinan pondok pesantren Qudwatushhalihin pemondah," kata pak Bayan. Pak Jamal mengernyitkan keningnya. Kali ini ia tak sedang berpura-pura. Ia benar-benar tertarik. Dia mendesah. Dia tidak mengenal nama itu. Tapi mungkin dia adalah pimpinan baru di pondok tersebut.
"Tapi, Setahu saya, pondok pesantren itu di pimpin oleh Tuan Guru Liwaul Hamdi. Koreksi saya kalau saya salah, Pak," kata pak Jamal. Pak Bayan tersenyum.
"Beliau itu adalah ayahnya. Beliau sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," kata pak Bayan.
"Cocok sekali. Perpaduan antara dunia dan akhirat. Yang satunya pengusaha, yang satunya lagi Tuan Guru." Pak Jamal mengacungkan kedua jempolnya. Pak Bayan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Pak Jamal mendesah. Dua orang perempuan terlihat berjalan menuju ke pos jaga. Dia mulai khawatir. Topinya agak diturukan ke bawah sembari melirik ke arah dua perempuan itu. Jangan sampai ada yang mengenalinya. Dia harus segera meninggalkan tempat itu. Dia baru sadar, informasi yang baru saja ia dengar dari pak Bayan melebihi pentingnya menyebarkan video itu di media. Dia harus segera pergi sebelum penghuni lain yang mengenalinya memergokinya. Tapi ia harus terlihat biasa-biasa saja. Pak Jamal menepuk pundak pak Bayan sembari tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, Pak. Terimakasih atas informasinya. Terimakasih juga telah menemani saya. Saya terpaksa harus mencari lahan baru. Bos saya ini galak sekali, Pak. Gak boleh ditunda-tunda," kata pak Jamal. Pak Bayan tersenyum. Ia lalu menyambut tangan pak Jamal yang hendak menyalaminya. Dia pun kemudian masuk kembali ke dalam rumah.
Pak Jamal tak henti-henti tersenyum ketika melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Raut wajahnya penuh kepuasan. Sesekali ia kepalkan kedua tangannya. Seperti telah menggenggam sebuah kemenangan besar di depan matanya. Satu persatu aset milik Yulian Wibowo akan di rebutnya, termasuk rumah besar itu. Ia ingin semua pemiliknya menggelandang di jalanan. Dengan itu, dendamnya pada Yulian Wibowo juga bisa terbalaskan.
Pak Jamal mengeluarkan ponselnya ketika sampai di tempat dimana ia menyembunyikan sepeda motornya. Setelah sibuk mencari nama-nama di dalam contact ponselnya, ia meletakkan ponselnya di telinganya. Ia tampak tersenyum puas.
"Halo, selamat siang, Pak Efendi. Bagaimana kabarnya," kata pak Jamal ketika ponsel di seberang diangkat.
"Saya harap pak Jamal memberikan saya informasi penting. Pak Jamal telah mengganggu jam istirahat saya," kata pak Efendi dengan suara berat dari arah seberang. Pak Jamal tersenyum. Tangan kirinya ia naikkan di pinggangnya.
"Santai, Pak Efendi. Mana mungkin saya berani mengganggu istirahat pak Efendi jika berita yang saya bawa ini tidak penting," kata pak Jamal.
"To the point, Pak Jamal. Saya masih ngantuk." Nada bicara pak Efendi terdengar tak tertarik.
"Saya tadi baru saja pulang dari mengawasi rumah Sulastri. Dan berita pentingnya, Rianti mau nikah dengan pimpinan pondok pesantren Qudwatusshalihin Pemondah. Kalau enggak salah namanya, ee..., Tuan Guru Izzul Islam,"
"Agh, terlalu panjang, Pak Jamal. Jangan bertele-tele. Langsung saja,"
"Kita akan membatalkan rencana itu jika Rianti tidak mengabulkan permintaanku. Saya akan buat dia rusak di depan calon mertuanya," kata pak Jamal sembari tersenyum.
"Saya tunggu eksekusi dan hasilnya, Pak Jamal. Sudah, saya mau istirahat,"
"Sebentar dulu, Pak Efendi,"
"Apa lagi, Pak Jamal. Selesaikan dulu urusan pak Jamal. Jika sudah berhasil, kita akan bertemu di tempat biasa,"
"Tapi..., anu, Pak Efendi, Ee..., saya pinjam uang dulu untuk operasi. Sepuluh juta saja, Pak Efendi, hehe...,"
__ADS_1
"Agh, ujung-ujungnya uang. Sekarang lagi gak ada,pak Jamal. Pak Jamal pinjam dulu sama orang lain." Pak Efendi memutuskan sambungannya.
"Kurang ajar. Awas nanti kamu pak Efendi. Kalau aku sudah berhasil menguasai aset-aset itu, perusahaanmu akan aku beli juga. Kamu akan bersimpuh di kakiku," kata pak Jamal. Ia kemudian naik ke atas sepeda motor itu dan segera meninggalkan tempat itu.