KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#154


__ADS_3

Senja mulai berlabuh. Gelap perlahan mulai menghampar bersamaan dengan dikumandangkannya adzan maghrib. Para santri di pondok pesantren qudwatusshalihin sudah berkumpul di masjid pesantren. Serempak dengan khusyu' membaca wirid sambil menunggu kedatangan Tuan Guru Izzul Islam untuk mengimami shalat berjamaah.


Langit kembali mendung. Angin yang bertiup kencang sesekali datang menyambangi. Suaranya menakutkan ketika menghempas pepohonan di komplek pondok pesantren.


Tuan Guru Izzul Islam nampak berwibawa dengan jubah berwarna hijau menaiki masjid. Para santri serempak bangun dan iqomah segera di kumandangkan. Setelah memastikan shaf para santri di belakangnya telah di luruskan, Tuan Guru Izzul Islam dengan khusyu'nya memulai takbir.


Sementara itu. Di dalam kamar. Setelah selesai melaksanakan shalat maghrib, Nyai Mustiani terlihat sibuk mengeluarkan beberapa gamis dari dalam lemarinya. Beberapa gamis yang ia anggap bagus, ia letakkan di atas tempat tidur. Gamis-gamis itu akan ia berikan nanti sebagai hadiah untuk Zulhiyani. Tapi setelah memperhatikan lagi gamis-gamis di atas tempat tidur, ia merasa ragu untuk memberikannya pada Zulhiyani. Warna dan modelnya mungkin tidak cocok dengan usia Zulhiyani yang masih sangat muda.


Nyai Mustiani mendesah. Ia kembali melipat gamis-gamis itu dan memasukkannya kembali ke dalam lemari.


Nyai Mustiani melangkah pelan ke arah pintu dan keluar dari kamarnya. Setelah itu, ia langsung saja menuju teras rumah. Dipandanginya ke arah langit setibanya di teras. Langit terlihat gelap. Angin lebih sering datang menghempas dengan kencang. Mungkin malam ini hujan akan turun lama seperti tadi malam. Tapi melihat angin yang begitu keras menghempas, mungkin hujan tidak akan turun dalam waktu dekat. Nyai Mustiani tersenyum. Dia berpikir, mungkin sebaiknya ia mengajak Zulhiyani keluar sebentar ke pusat perbelanjaan terdekat. Biar Zulhiyani memilih sendiri pakaian yang ia sukai. Dia juga bisa membelikannya make up dan peralatan kecantikan lainnya untuk menopang penampilannya di depan Tuan Guru Izzul Islam.


Nyai Mustiani melangkah menuruni teras dan menuju ke kamar Abdul khalik. Pintu kamar Abdul khalik diketuknya. Tak menunggu lama, Abdul khalik membuka pintu.


"Saya, Bu Nyai," kata Abdul khalik ketika melihat Nyai Mustiani di depan pintu.


"Kamu panggil Zaebon dan suruh panaskan mobil. Ibu mau keluar sebentar. Setelah itu, panggilkan juga Zulhiyani, Suhaini dan Jamila ke kamar," kata Nyai Mustiani. Abdul khalik mengangguk. Setelah Nyai Mustiani meninggalkannya, ia segera mencari Zaebon.


* ** * *

__ADS_1


"Zaebon, mau kemana kamu. Kenapa mobilnya dihidupkan?" kata Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat mobil terparkir dalam keadaan mesin menyala di depan gerbang. Zaebon yang sedang membersihkan kaca mobil bagian belakang terkejut dan segera mendekati Tuan Guru Izzul Islam.


"Saya di suruh bu Nyai, Tuan Guru," kata Zaebon setelah mencium tangan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia mendongak ke atas. Langit terlihat semakin gelap. Apa lagi yang akan ibu lakukan malam ini? Batin Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di depan kamarnya, ia urung membuka pintu karna di saat bersamaan, Nyai Mustiani keluar dari dalam kamarnya. Tuan Guru Izzul Islam menoleh.


"Ibu mau makan malam duluan. Mau keluar sebentar bersama anak-anak," kata Nyai Mustiani tanpa menunggu pertanyaan Tuan Guru Izzul Islam.


"Keluar kemana, Bu. Dan anak-anak siapa?" kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Kemana saja. Ibu pusing di kamar terus. Ibu juga mau membelikan hadiah buat santri yang sering menemani ibu setiap malamnya. Mereka pantas mendapatkannya," jawab Nyai Mustiani sambil berlalu meninggalkan Tuan Guru Izzul Islam menuju meja makan.


"Masih mau, tapi belum. Kita juga di dalam mobil kok. Walaupun hujan, tapi gak akan kebasahan," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang dengan sedikit senyum. Setelah menatap lama ke arah Nyai Mustiani, ia memutuskan masuk ke dalam kamarnya.


* * * * *


Nyai Mustiani menghentikan santapnya ketika Suhaini dan Jamila mengucap salam dari arah belakang. Nyai Mustiani menoleh. Ia tersenyum. Tapi seketika ekspresi wajahnya berubah ketika tidak melihat Zulhiyani bersama mereka.


"Kalian duduk dulu. Tunggu aku menyelesaikan makanku. Kalau kalian belum makan, makanlah. Kita akan keluar sebentar setelah ini," kata Nyai Mustiani. Ia kembali menyantap makanannya. Suhaini dan Jamila saling tarik mempersilahkan untuk duduk terlebih dahulu.

__ADS_1


Nyai Mustiani menghentikan makannya. Sembari membersihkan mulutnya dengan tisu, ia memandang keduanya bergantian. Kedua tertunduk. Tangan keduanya terlihat bergetar.


Nyai Mustiani menoleh ke belakang sebentar lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah keduanya.


"Kalian kok berdua? Zulhiyani mana?" tanya Nyai Mustiani. Suhaini mendesah panjang namun pelan. Ia melirik ke arah Jamila. Paha Jamila dicoleknya pelan, menyuruhnya untuk menjawab. Tapi Jamila juga melakukan hal yang sama. Ia balik mencolek paha Suhaini.


"Loh, kok pertanyaanku gak dijawab?" kata Nyai Mustiani setelah melihat keduanya hanya diam dan seperti masih saling menunggu siapa yang akan menjawab terlebih dahulu.


Suhaini mengusap keringat dingin di keningnya. Tangannya bergetar hebat saat memasukkannya ke saku roknya. Dari balik sakunya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dengan tangan yang bergetar, ia meletakkan kotak itu di atas meja. Ia mendesah pelan dan kembali menundukkan wajahnya. Nyai Mustiani mengernyitkan dahinya. Setelah memandang agak lama ke arah keduanya, perlahan ia mengambil kotak itu dan membukanya.


"Loh, bukankah ini cincin yang telah aku berikan kepada Zulhiyani? Kenapa ada sama kalian? Bukankah aku menyuruhnya memakainya?" kata Nyai Mustiani. Suhaini dan Jamila masih terdiam. Keduanya benar-benar tidak bisa mengangkat suaranya. Melihat Suhaini dan Jamila terdiam lagi dan tak menjawab pertanyaannya, Nyai Mustiani yang penasaran mulai terlihat kesal. Ia menggebrak meja. Keduanya kaget.


"Kalau ditanya, jangan diam kayak patung seperti itu. Kalian ini punya mulut."


"Maaf, bu Nyai. Kami tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba saja, sepulang sekolah tadi, Zulhiyani meletakkan kotak itu di lemari saya. Dia hanya menulis surat agar kotak itu diserahkan pada Bu Nyai," kata Suhaini memberanikan diri memberi penjelasan dengan suara serak bergetar. Nyai Mustiani mengernyitkan keningnya. Nafasnya mulai berhembus lebih cepat.


"Terus apa maksudnya menyerahkan cincin ini. Apa dia menolak setelah tadi malam dia diam saja?" kata Nyai Mustiani. Nada bicaranya terdengar kesal.


Suhaini melirik ke arah Jamila. Kepala Jamila tertunduk lebih dalam. Ia sepertinya tak ingin Suhaini menyuruhnya berbicara. Suhaini memejamkan matanya. Melihat Jamila sepertinya tak bisa diandalkan, ia memberanikan diri mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Bu Nyai. Selain kotak itu, pakaian Zulhiyani juga sudah kosong di lemari. Menurut teman-teman pengurus, Zulhiyani ijin pulang," kata Suhaini. Ia kembali menundukkan wajahnya.


__ADS_2