
Satu minggu kemudian...
Pagi-pagi sekali. Setelah selesai sarapan, Rianti yang sedang menemani Tuan Guru Izzul Islam menikmati secangkir susu kambing hangat di dalam kamar, tiba-tiba bangkit dan berlari ke kamar mandi. Tiba-tiba saja ia merasa perutnya terasa mual dan hendak muntah. Tuan Guru Izzul Islam hanya bisa menatap ke arah kamar mandi. Beberapa kali terdengar Rianti muntah. Karna khawatir, ia segera bangkit menyusul Rianti ke kamar mandi.
Tuan Guru Izzul Islam mengusap-usap tengkuk dan punggung Rianti. Wajah Rianti terlihat pucat.
"Kamu sakit?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Rianti memegang pinggangnya. Dia terlihat meringis ketika menegakkan tubuhnya.
"Gak Kak. tiba-tiba saja saya pingin muntah. Pinggang saya juga terasa sakit," jawab Rianti. Tuan Guru Izzul Islam memijit-mijit pinggang Rianti.
"Kak Tuan tunggu saja di luar. Saya sudah agak baikan. Saya mau sikat gigi dulu," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepala. Ia mengambilkan Rianti sikat giginya dan mengoleskan odol di atasnya. Setelah itu ia memberikannya kepada Rianti. Rianti tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Diperhatikannya Rianti. Ia mengusap punggung Rianti.
"Ya sudah, kalau kamu butuh bantuan, segera panggil saya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menganggukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam melangkah pelan keluar kamar mandi.
Di luar kamar, Nyai Mustiani yang baru saja meninggalkan ruang makan bersama Jamila dan Suhaini menghentikan langkahnya ketika mendengar suara muntah-muntah dari dalam kamar Tuan Guru Izzul Islam. Suhaini dan Jamila yang menunggunya di belakang, disuruhnya untuk kembali ke asrama.
Nyai Mustiani mengetuk pintu kamar sembari memanggil nama Tuan Guru Izzul Islam. Tak berapa lama kemudian, pintu dibuka. Tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Tuan Guru Izzul Islam yang berdiri di balik pintu, Nyai Mustiani langsung masuk ke dalam kamar.
"Rianti ada di kamar mandi, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil menutup pintu ketika melihat Nyai Mustiani menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu. Tuan Guru Izzul Islam melangkah menuju sofa dan duduk. Minuman di depannya diseruputnya.
"Entah kenapa tadi dia tiba-tiba berlari dan muntah-muntah," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani mengernyitkan keningnya. Tak berapa lama kemudian, ia tersenyum. Ia melangkah pelan menuju tempat dimana Tuan Guru Izzul Islam duduk.
"Itu tandanya istri kamu sudah berisi. Rianti hamil," bisik Nyai Mustiani dengan senyum mengembang. Raut wajahnya terlihat mekar penuh bahagia. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia segera bangkit ketika melihat Rianti keluar dari kamar mandi. Tubuh Rianti di rangkulnya menuju sofa.
"Eh, Ibu. Kapan ibu ke sini?" tanya Rianti.
"Barusan saja. Ibu masuk karna mendengar kamu muntah-muntah,"
Rianti meringis memegang pinggangnya.
"Perut saya terasa kembung terus, Bu."
__ADS_1
Kembali Rianti merasakan perutnya mual setiap kali hidungnya lebih dekat dengan tubuh Tuan Guru Izzul Islam.
"Maaf, Kak Tuan. Kayaknya saya gak cocok deh sama bau parfum Kak Tuan. Setiap menciumnya, perut saya langsung mual,"
"Benarkah?"
Rianti mengangguk. Nyai Mustiani hanya tersenyum kecil.
"Kalau parfum yang biasa Kak Tuan pakai, Rianti gak apa-apa," kata Rianti. Nyai Mustiani mendesah panjang. Tuan Guru Izzul Islam segera bangkit dan membuka bajunya. Dia membuka lemari dan mengambil minyak wangi bening dari dalamnya dan membawanya ke hadapan Rianti. Rianti memajukan kepalanya dan mencium minyak wangi itu. Ia terdiam sejenak.
"Kalau ini Rianti gak apa-apa, Kak Tuan. Maaf ya, Kak Tuan,"
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia segera mengoleskan minyak wangi ke tubuhnya. Ia mencium tubuhnya beberapa kali, memastikan wangi parfum yang tak disukai Rianti segera hilang.
"Apa kamu terlambat haid, Nak," kata Nyai Mustiani sambil memegang pundak Rianti.
"Ya, Bu. Lebih dari tujuh hari saya terlambat haid," jawab Rianti. Nyai Mustiani tersenyum. Ia menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam.
"Maksud ibu, saya hamil?"
Nyai Mustiani mengangguk. Kedua tangan Rianti dipegangnya.
"Kalau perutmu terasa begah, sensitif terhadap bau, merasa lelah, sering mual dan muntah ketika pagi dan terlambat haid lebih dari tujuh hari. Biasanya itu tanda-tanda seorang perempuan sudah berisi. Biasanya, tanda-tanda itu muncul setelah empat hari suami istri berhubungan." Nyai Mustiani menghentikan kata-katanya. Ia tersenyum dan mengusap lembut rambut Rianti.
"Untuk lebih jelasnya, kamu nanti ajak suamimu periksa ke dokter," kata Nyai Mustiani. Ia mencium kening Rianti kemudian bangkit.
"Zul, mulai hari ini jangan kasih istrimu bekerja atau melakukan kegiatan-kegitan berat. Ibu gak mau cucu ibu kenapa-kenapa," kata Nyai Mustiani. Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan saling pandang penuh bahagia.
"Kok khawatirnya sama calon cucunya saja, Bu," kata Rianti sambil melirik ke arah Nyai Mustiani. Nyai Mustiani yang sudah membalikkan tubuhnya, kembali menoleh. Ia berbalik lagi dan melangkah mendekati Rianti. Kepala Rianti dipegangnya dan dikecupnya lama.
"Mmmuach..., Ibu gak mau kamu kenapa-kenapa. Kalau terjadi sesuatu, suamimu yang akan ibu marahi terlebih dahulu," kata Nyai Mustiani. Rianti melirik Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam hanya tersenyum.
__ADS_1
Nyai Mustiani kemudian melangkah keluar kamar.
Tuan Guru Izzul Islam mendekat. Tubuh Rianti dipeluknya. Berkali-kali diciumnya kening Rianti. Rianti mendekap erat tangan Tuan Guru Izzul Islam di dadanya.
"Kak Tuan senang?" tanya Rianti. Tuan Guru Izzul Islam memegang kepala Rianti lembut. Dia menatapnya sejenak. Satu buah kecupan mendarat lembut di bibir Rianti. Rianti tersipu malu.
"Apalagi yang diharapkan suami istri kalau bukan kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka. Aku ingin mendapatkan banyak anak dari adik. Tapi itu kalau adik mampu dan sehat," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nada bicaranya bergetar mengisyaratkan kebahagiaan penuh. Rianti menyandarkan pipinya manja di lingkaran tangan Tuan Guru Izzul Islam di dadanya.
"Memangnya Kak Tuan mau anak berapa dari Rianti,"
Tuan Guru Izzul Islam menatap ke atas. Ia tersenyum.
"Enam saja. Sesuai rukun iman. Tapi kalau adik kuat, boleh tambah tiga lagi. Biar jadi sembilan,"kata Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya tersenyum. Keduanya tambah mengeratkan dekapan masing-masing.
"Ya sudah, mulai hari ini, segala keperluan adik biar saya yang urus. Adik cukup ngaji, shalat dan baca Al-Qur'an saja. Mudah-mudahan anak-anak kita kelak semuanya jadi anak-anak yang shaleh shalehah," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Amin." Rianti mencium tangan Tuan Guru Izzul Islam.
"Sekarang saya mau mandi dulu. Habis ini kita ke dokter. Saya ingin mendengar dan melihat sendiri anak kita saat USG nanti," kata Tuan Guru Izzul Islam. Perlahan ia melepaskan pelukannya. Tubuh Rianti kemudian dibaringkannya di atas sofa. Setelah mengecup kening dan bibir Rianti, Tuan Guru Izzul Islam melangkah menuju kamar mandi.
* * * * *
"Berhenti dan angkat tangan!" teriak seorang laki-laki berjaket hitam kepada seorang laki-laki yang baru saja keluar dari dalam mobilnya. Satu orang temannya segera mendekat dan segera memborgol kedua tangan laki-laki itu.
"Kami dari kepolisian. Pak Jamal kami tangkap," kata salah seorang laki-laki yang mengaku dari kepolisian itu. Laki-laki yang ternyata adalah pak Jamal itu mendengus kesal. Ia menggeleng-geleng.
"Bangsat!" dengusnya geram. Berminggu-minggu ia bersembunyi tanpa ada yang mengenalinya. Tapi kali ini hari sialnya. Ia menyalahkan dirinya kenapa harus datang ke rumah makan Zamora untuk mengambil mobilnya yang lama terparkir di sana. Pak Graham, pemilik rumah makan Zamora terlihat mendekat.
"Pak Graham, saya titip mobil dan sepeda motor saya. Jika kesalah fahaman ini sudah selesai, saya akan datang lagi ke sini mengambilnya," kata pak Jamal. Pak Graham mendesah.
"Maaf, Pak Jamal. Mobil dan sepeda motor pak Jamal sudah disita anak buah pak Efendi. Saya tidak bisa mencegahnya, Pak Jamal," kata Graham.
__ADS_1
"Aaah! Kurang ajar kamu Efendi," teriak pak Jamal geram. Kedua petugas kepolisian segera membawanya menuju mobil yang terparkir di luar rumah makan.