
Adzan dhuhur terdengar berkumandang. Pak Nurasmin nampak tergesa-gesa keluar dari mobilnya. Keadaan Layla yang diceritakan bu Sofia membuatnya tak tenang mengajar di sekolah. Ia ingin cepat-cepat pulang. Dia membayangkan bagaimana dulu ia merasakan perasaan yang sama ketika ia berada dalam masa remajanya. Ia takut Layla berbuat yang tidak-tidak yang merugikan dirinya sendiri. Sudah banyak remaja yang mengakhiri hidupnya hanya karna persoalan cinta. Dan ia tidak mau itu terjadi pada Layla. Semuanya bisa saja terjadi. Ia pun tak pernah menyangka, Layla yang periang tiba-tiba bisa berubah seperti itu. Awalnya ia mengira Layla sudah melupakan penyesalannya menolak menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam. Dia pun tak pernah memikirkannya terlalu serius walaupun setiap malamnya Bu Sofia selalu menceritakan sikap dan perubahan Layla. Menurutnya itu adalah hal lumrah yang biasa terjadi pada remaja seumuran Layla. Tapi nyatanya, Layla masih memikirkan Tuan Guru Izzul Islam. Bahkan ternyata sudah berada dalam tahap paling mengkhawatirkan. Hal itulah yang membuatnya pulang lebih awal dari biasanya. Kali ini ia benar-benar merasa khawatir. Dan tadi, sebelum ia pulang ke rumah, ia menyempatkan dirinya mampir ke rumah salah satu Tuan Guru ternama untuk mendoakan air buat kesembuhan Layla.
"Bu," panggil pak Nurasmin sebelum duduk di sofa ruang tamu.
"Sebentar, Pak. Ibu lagi di dapur," jawab bu Sofia dari arah dalam. Pak Nurasmin mengeluarkan air botol kemasan dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. Tiga buah kancing baju kemejanya di bukanya sehingga memperlihatkan keringat yang mengalir di dadanya. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Langsung makan, Pak?" tanya bu Sofia tiba-tiba dari arah belakang, masih dengan memegang sutil di tangannya. Karna datangnya yang tiba-tiba, pak Nurasmin sedikit terkejut. Pak Nurasmin menoleh.
"Sini, Bu," panggil pak Nurasmin.
"Tapi, Pak. Ibu masih goreng ikan di dapur," kata bu Sofia.
"Sini sebentar," kata pak Nurasmin sambil menghentakkan telapak tangannya. Ia menoleh ke arah kamar Layla. Bu Sofia bergegas mendekat.
"Bawa air ini masuk dan berikan pada anakmu," kata pak Nurasmin. Botol minuman itu digenggamkan di tangan bu Sofia. Bu Sofia tersenyum.
"Gak usah pake disembunyikan, Pak. Anakmu malah yang minta dicarikan obat." kata bu Sofia menatap pak Nurasmin lemah.
"Ntar saja ngomongnya, Pak. Ikan ibu di dapur gosong," Sambung bu Sofia segera melonjak bangun dari duduknya dan berlarian kembali ke dapur. Pak Nurasmin menggeleng-gelengkan kepalanya.
* ** * *
Usai berzikir setelah selesai shalat dhuhur, Tuan Guru Izzul Islam langsung mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa. Permintaan Rianti untuk menikahi Jamila adalah topik penting dalam doanya kali ini. Dalam hatinya sendiri ia masih menolak jika harus menduakan Rianti, apalagi dalam posisi Rianti masih di dalam penjara. Bukan karna Jamila tidak cantik, bukan pula karna khawatir omongan orang tentangnya. Tapi lebih dari itu, ia tak ingin membagi cintanya untuk orang lain selain Rianti. Ketika segala godaan nafsu bisa ia tangkal dengan berpuasa, ia merasa tak perlu punya istri lebih dari satu, walaupun dalam pandangan orang ia mampu melakukannya. Tuan Guru Izzul Islam Memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya perlahan.
"Ya, Allah. Aku tidak tahu apakah ini ujian atau anugrah buatku. Engkau telah menganugrahiku istri yang shalehah lewat istiharah dan penantian yang sangat panjang. Kini setelah aku berhasil mendapatkannya, justru dia juga yang menawarkanku untuk menikahi wanita pilihannya. Aku tahu hatinya lebih suci dariku, Ya, Allah. Dia setawakkal-tawakkalnya wanita yang pernah aku jumpai. Tak pernah ia mengeluh ataupun bersedih dengan segala musibah yang menimpanya. Dia telah mengajarkanku bagaimana seharusnya senyum tetap berfungsi saat sebesar apapun musibah menimpa. Maka saksikanlah Ya, Allah. Aku menikahinya bukan karna nafsuku semata. Semoga keputusan istriku adalah keputusan-Mu yang Engkau titipkan lewat hati dan lisannya yang bersih. Lindungi aku dan keluargaku dari tipu daya setan. Kuatkan aku dengan beban tanggung jawab yang bertambah ini. Amin." Tuan Guru Izzul Islam menutup doanya dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Setelah itu ia bangkit dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
* * * * *
Makanan sudah selesai dihidangkan bu Sofia di atas meja makan. Pak Nurasmin yang terlihat segar karna baru selesai mandi sudah berdiri memperhatikan bu Sofia sedang mengelap kursi. Pak Nurasmin melangkah pelan dan memijit kedua pundak bu Sofia. Bu Sofia tersenyum.
"Sudah, ayo panggil anakmu. Kita akan makan sama-sama," kata pak Nurasmin. Bu Sofia mengangguk. Ia meletakkan kain lap di atas meja dan segera bergegas menuju kamar Layla.
Bu Sofia melihat Layla sedang berbaring dengan posisi telungkup dan kepala dibenamkan di atas bantal. Bu Sofia mendesah. Sejak tadi pagi Layla tidak pernah sekalipun keluar kamar. Sepiring nasi yang ia siapkan di atas meja untuk sarapan Layla juga sepertinya belum disentuhnya sama sekali. Posisinya tak ada yang berubah. Seperti keadaan waktu ia membawanya pagi tadi.
__ADS_1
Bu Sofia melangkah pelan mendekati Layla. Ia mendehem sekali agar tidak mengagetkan Layla. Layla menoleh namun kembali berpaling. Bu Sofia mengusap lembut punggung Layla.
"Nak, bapakmu memanggilmu. Ayo, kita temani dia makan," kata Bu Sofia. Layla tak merespon. Ia terus terdiam.
"Nak, kamu makan dulu. Permasalahan yang sedang kamu hadapi akan kita bicarakan sama-sama dengan ayahmu. Tapi kamu harus makan dulu, setelah itu shalat, agar hatimu tenang," Kata bu Sofia lembut. Layla menggerakkan kepalanya dan menoleh malas ke arah bu Sofia.
"Bagaimana Layla mau shalat jika hati Layla tak tenang seperti itu. Tuhan tentu tak ingin aku shalat dengan pikiran tertuju kepada selain-Nya." Layla kembali membenamkan kepalanya. Mendengar jawaban yang tak disangka-sangka dari Layla, bu Sofia Kaget. Apalagi saat mengatakannya terdengar enteng. Bu Sofia mengelus dadanya.
"Istighfar, Nak. Tidak boleh mengatakan seperti itu. Shalat itu kewajiban yang harus kita lakukan bagaimanapun keadaan kita. Ya, Allah, Nak. Kamu kok jadi seperti ini," kata bu Sofia.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Layla. Ia terlihat seperti tak peduli dengan kata-kata bu Sofia. Bu Sofia kembali mendesah panjang. Melihat tubuh Layla yang semakin kurus, dia tak tega memarahinya. Ia memilih bangkit dan melangkah meninggalkan Layla.
Pak Nurasmin menghentikan suapannya ketika melihat bu Sofia melangkah lemah.
Bu Sofia kemudian menghempaskan tubuhnya lemah di atas kursi.
"Ada apa, Bu. Kenapa anakmu gak ikut keluar?" kata pak Nurasmin. Bu Sofia menghela nafas panjang.
* ** * *
Bu Sofia mengetuk pelan pintu kamar Layla. Di belakangnya, pak Nurasmin terlihat tak sabar ingin bertemu Layla.
"Nak, bapakmu ingin bicara sebentar," panggil bu Sofia.
"Masuk saja, Bu," kata Layla dari dalam kamar. Bu Sofia menganggukkan kepalanya mengajak pak Nurasmin masuk. Layla dengan rambut panjang berantakan yang menutupi seluruh wajahnya, nampak duduk lesu di sisi ranjangnya menghadap ke arah cermin. Pak Nurasmin menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka sama sekali melihat keadaan Layla yang seperti itu. Sosok Layla yang selalu ceria sebelumnya, kini tiba-tiba saja berubah.
Pak Nurasmin mendekat dan duduk di samping Layla. Tubuh Layla dirangkulnya. Layla hanya terdiam. Bu Sofia memperhatikan tatapan lesu Layla di balik cermin.
"Ayo, berceritalah pada bapak, Nak," kata pak Nurasmin memulai kata-katanya setelah lama mencium kepala Layla. Layla tersenyum sinis, namun ia membiarkan saja kepalanya bersandar di pundak pak Nurasmin. Sudah lama sekali ia tak menyandarkan kepalanya sejak ia mulai beranjak dewasa. Sedikit tidak ia mulai merasa nyaman.
"Menceritakan cerita yang sama tentu membosankan, Pak. Layla hanya ingin mendengar kesimpulan dari Bapak," kata Layla. Jawaban yang membuat pak Nurasmin terbengong. Ia mendesah panjang.
"Kamu itu masih terlalu muda untuk membicarakan itu, Nak. Pikiranmu masih labil. Jika kamu memaksakan diri dan tidak terus larut memikirkan kak Tuanmu, bapak dan ibu yakin kamu bisa terlepas dari bebanmu. Lihatlah, tubuhmu semakin kurus. Kamu jarang makan dan tidur. Masa depanmu masih panjang, Nak. Sadarlah," kata pak Nurasmin dengan nada datar. Layla tersenyum. Tatapannya semakin lemah.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Apa Bapak tidak bosan mengulangi hal yang sama ketika Layla mengharapkan bantuan yang akan meringankan beban Layla? Jika memang Layla labil, Layla tak akan selama ini menikmati beban ini. Kak Tuan lah masa depan Layla. Jika Bapak dan Ibu menghalanginya, itu sama saja Bapak dan Ibu menghancurkan masa depan Layla," kata Layla. Dia tetap tak menggerakkan tubuhnya. Pak Nurasmin dan Bu Sofia saling pandang. Pak Nurasmin mendesah panjang. Sekali lagi, ia benar-benar tidak menyangka mendapat jawaban seperti itu dari Layla. Dengan dua jawaban tak terduga-duga dari Layla, ia berkesimpulan bahwa Layla benar-benar sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini.
"Tapi, Nak...," Pak Nurasmin mengelus rambut Layla lembut.
"Bagaimana bapak bisa membantu kamu, Nak. Andai saja kak Tuanmu belum menikah, itu tentu jadi perkara yang mudah bagi Bapak." Pak Nurasmin kembali mendesah panjang. Ia menatap lemah ke arah bu Sofia.
Bu Sofia yang duduk di belakang keduanya bangkit dan duduk di samping Layla. Air mata bu Sofia mengalir. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Layla yang masih menyandarkan kepalanya di pundak pak Nurasmin. Isak tangisnya terdengar.
"Ibu sama sekali tak pernah menyangka jika kamu akan menjadi seperti ini, Nak. Ibu sedih karna tidak tahu harus bagaimana membantumu. Ibu sedih karna telah kehilangan keceriaanmu. Setiap malam ibu selalu menunggumu seperti malam-malam sebelumnya di ruang keluarga. Menonton sinetron kesukaan kita, Kupu-kupu malam. Ibu mohon, kembalilah jadi anak ibu yang dulu. Sadarlah, Nak,"
Layla mengangkat kepalanya. Tubuh bu Sofia di pegangnya. Air mata bu Sofia diusapnya.
"Pertemukan aku dengan kak Tuan, Bu. Apa yang aku rasakan saat ini bukanlah karna kehendakku. Aku sudah terlalu kasar dengan mencaci dan mengumpat kak Tuan dan almarhumah bu Nyai Mustiani. Coba ibu ingat baik-baik bagaimana kerasnya aku menolak perjodohan itu. Jika tidak karna karmaku, mustahil aku seperti ini." jelas Layla panjang lebar. Pak Nurasmin mendesah panjang.
"Itu sebabnya kita tak boleh tergesa-gesa mengambil keputusan, Nak. Apa yang kita benci saat ini bisa jadi akan jadi sesuatu yang paling kita cintai suatu hari nanti,"
"Itu sebabnya aku harus menikah dengan kak Tuan, Pak, Bu," kata Layla. Pak Nurasmin menggelengkan kepalanya. Ia menatap Layla.
"Tapi, Nak...,"
"Tidak, Pak. Kita hanya belum mencobanya saja. Antarkan aku ke rumahnya kak Tuan. Aku ingin minta maaf. Atau jikapun Bapak tak mengijinkanku, bapak bisa menceritakan keadaanku ini pada kak Tuan," kata Layla cepat memotong pembicaraan pak Nurasmin.
Pak Nurasmin terdiam sejenak menundukkan kepalanya. Layla masih menatapnya. Kali ini ia menunggu jawaban baik dari pak Nurasmin. Ia yakin itu. Diamnya pak Nurasmin sebagai pertanda ia sedang memikirkan jalan keluarnya. Pak Nurasmin menoleh ke arah bu Sofia. Seperti halnya Layla, bu Sofia pun sedang menunggu apa yang akan dikatakan pak Nurasmin.
Pak Nurasmin mendesah panjang. Kepala Layla dipegangnya dan mengusapnya.
"Bapak mau membicarakannya terlebih dulu dengan ibumu. Ayah janji, apapun keputusan yang diambil bapak, kamu akan mengetahuinya nanti malam. Sekarang makanlah, setelah itu shalatlah. Keburukan akan menumpuk jika kita terus melalaikan shalat. Kak tuanmu adalah orang yang shaleh. Dia menemukan kak Riantimu atas petunjuk Allah. Jadi jangan berburuk sangka kepada seseorang karna kita tidak tahu rahasia Allah pada masing-masing orang," kata pak Nurasmin. Layla tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pak Nurasmin menatap bu Sofia.
"Bu, siapkan makan untuk anakmu," kata pak Nurasmin. Layla memegang tangan pak Nurasmin.
"Gak usah, Pak. Biar Layla sendiri yang ke dapur," kata Layla. Pak Nurasmin dan bu Sofia tersenyum. Wajahnya terlihat mulai ceria. Bu Sofia segera bangkit dan mengangkat tubuh Layla. Ia kemudian menggandeng tangan Layla menuju dapur. Di belakangnya, pak Nurasmin mengikuti pelan.
jangan lupa vote nya ya?
__ADS_1