
Pagi-pagi sekali, Julia sudah berada di depan rumah Layla. Sekitar jam 10 tadi malam, Layla mengiriminya sms untuk menjemputnya. Dia belum tahu pasti kemana Layla akan mengajaknya. Layla hanya berpesan, jika pak Nurasmin dan bu Sofia menanyakan kemana mereka akan pergi, ia akan menjawab, mereka akan menyelesaikan beberapa tugas di sekolah sebagai syarat menerima ijazah.
Setelah melakukan perjalanan selama satu jam,tepat jam 7 pagi mereka sampai di pondok pesantren Qudwatusshalihin Pemondah. Karna suasana di depan gerbang masih sepi, Layla menyuruh Julia memarkir motornya agak tersembunyi di balik pohon Jati yang tumbuh berjejer di sepanjang jalan menuju pondok pesantren. Julia yang sepanjang perjalanan mengikuti petunjuk dari Layla, masih terlihat bingung.
"Saya masih bingung kenapa kita bisa sampai kesini. Kita mau ngapain sih kesini," kata Julia. Layla yang belum turun dari sepeda motor dan masih duduk di belakang Julia hanya tersenyum. Bukannya menjawab pertanyaan Julia, dia malah mengeluarkan amplop warna biru dari balik jaketnya. Di dalam amplop warna biru itu, ia mengeluarkan amplop pengumuman yang ia dapatkan dari sekolah. Ia sengaja melapisi amplop itu dengan amplop lain sebagai kejutan untuk Tuan Guru Izzul Islam. Ia segera memasukkan itu kembali amplop itu ketika Julia menoleh ke belakang.
"Ada deh. Tidak semua harus aku beritahu hari ini. Nanti, ada waktunya. Kamu orang pertama yang akan aku kasih tahu," jawab Layla. Julia mengerutkan dahinya. Ia tersenyum. Ia menggerak-gerakkan jarinya.
"Emmh..., aku tahu, jangan-jangan ini ada kaitannya dengan nikah kan?"
Layla tersenyum. Dia tak menjawab. Ia turun dari sepeda motor. Tiga orang santri terlihat keluar membawa sapu menuju gerbang. Layla mengeluarkan masker berwarna hitam dari dalam saku jaketnya. Ia kemudian memasangnya. Julia hanya bisa melihat dengan penuh tanda tanya apa yang dilakukan Layla.
"Kamu tunggu dulu di sini. Aku mau kesana sebentar," kata Layla. Ia lalu melangkah ke arah gerbang. Meninggalkan Julia yang hanya bisa termangu menatapnya.
"Assalamualaikum," ucap Layla ketika sudah berada di depan gerbang. Santri yang baru saja mulai menyapu serempak menoleh. Salah satu santri mendekat.
"Waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya salah satu santriwati dari balik gerbang.
"Ee..., yang punya kamar depan rumahnya Tuan Guru itu namanya siapa ya,"kata Layla sambil menunjuk ke arah kediaman Tuan Guru Izzul Islam.
"Owh, Kak Khaliq. Memangnya ada apa, Kak," kata santriwati itu.
"Eee...adik bisa bantu gak. Kira-kira kak Khaliqnya bisa di panggil kesini gak," kata Layla.
Santriwati itu memeriksa gembok gerbang. Masih terkunci. Ia menoleh ke arah temannya.
__ADS_1
"Ely, kunci gerbang siapa yang pegang?"
"Eh, Sebentar." Santriwati yang dipanggil Ely itu seperti mengingat sesuatu. Ia tiba-tiba melepas sapu lidinya dan berlari masuk. Tak beberapa lama kemudian, ia terlihat kembali. Kunci yang ia bawa di berikan kepada temannya.
"Mari saya antar Kak," kata Santriwati itu mempersilahkan Layla jalan lebih dahulu. Layla segera mendekat. Ia merangkul santriwati itu.
"Tunggu, Dik. Kakak minta tolong sekali ini saja. Panggilkan saja Kak Kholiqnya kesini. Bilang ada teman yang membawa sesuatu yang penting. Saya malu, nanti ada Tuan Guru di sana," kata Layla setengah berbisik.
Santriwati itu tersenyum.
"Baik, Kak. Kalau begitu, tunggu sebentar ya,"
Layla tersenyum.
"Terimakasih."
"Akhir-akhir ini kamu kok semakin aneh, Layla. Terlalu banyak rahasia yang kamu simpan dari sahabatmu ini. Ini ada apa sih?"
Lagi-lagi Layla tidak sempat menjawab pertanyaannya karna santriwati yang ia suruh untuk memanggilkan Abdul khalik memanggilnya. Layla menaikkan kembali maskernya. Dia tidak melihat Abdul khalik bersama santriwati itu. Apa dia tidak mau dipanggil? Batin Layla.
"Itu kak, sudah ditunggu sama kak Kholik," kata santriwati itu sambil menunjuk ke arah Abdul khalik yang berdiri di samping tembok menuju kediaman Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik memperhatikan Layla yang mendekat ke arahnya. Layla tersenyum. Seandainya saja ia tidak memakai masker, tentu dia akan mengenalnya. Dari tatapannya yang penuh selidik saja, dia yakin Abdul khalik mengenalnya. Tapi dia berharap Abdul khalik tidak mengenalnya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Layla mengeluarkan amplop dari balik jaketnya. Ia lalu memberikannya kepada Abdul khalik.
__ADS_1
"Tolong titip buat Tuan Guru ya, Kak.
"Dari siapa, kalau boleh tahu?
"Kasih saja, Kak. Terimakasih," kata Layla. Ia langsung berbalik dan melangkah meninggalkan Abdul khalik. Abdul khalik menatapnya, mencoba mengenali bentuk tubuh dan cara jalannya. Sepertinya ia mengenalnya, tapi belum berani memastikannya. Dia menyempatkan melambaikan tangannya ke arah santriwati yang masih menyapu di dalam gerbang. Ketiga santri itu balas melambaikan tangannya sembari tersenyum ke arah Layla.
* * * * *
Cuaca menjelang siang terasa begitu terik. Angin yang sesekali menghempas, menghamburkan debu-debu jalanan dan sampah-sampah kering yang berserakan ke segala arah. Di gerbang asrama putri, beberapa santriwati yang giliran piket jaga, terlihat asik menikmati minuman dingin di atas meja di depan mereka.
Avanza Velos warna putih yang dikendarai Rianti terlihat memasuki lorong menuju rumah utama. Satu kali klakson yang dibunyikan Rianti cukup membuat Abdul khalik yang sedang berada di dalam kamarnya, segera bergegas keluar dan membuka gerbang . Ia tersenyum setengah membungkuk ketika Rianti yang berada di dalam mobil tersenyum kepadanya.
"Biar saya yang bawa tasnya, Bu Nyai," kata Abdul khalik ketika Rianti keluar dari mobilnya. Rianti tersenyum.
"Gak usah, Lik. Tasnya ringan kok. Ibu masih bisa bawa sendiri," kata Rianti. Ia menoleh ke arah samping. Mobil Tuan Guru Izzul Islam belum berada di parkiran. Itu artinya ia dan Jamila belum pulang dari undangan pernikahan di kampung sebelah. Ia kemudian berjalan menuju teras rumah. Abdul khalik mengikutinya pelan dari belakang.
Rianti tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia memilih duduk di teras rumah.Suara burung tekukur yang tergantung di depan teras rumah langsung menyambutnya. Rianti tersenyum. Ia mengacungkan jempolnya ke arah burung tekukur.
"O ya, Lik, minta tolong panggilkan Suhaini dan Nur Jamila ya?" kata Rianti. Abdul khalik menganggukkan kepala dan segera bergegas menuju asrama pengurus putri.
* * * * *
Adzan dhuhur terdengar berkumandang. Meninabobokan Layla yang resah membolak balikkan tubuhnya di atas ranjang. Ia masih memikirkan amplop yang dititipkannya untuk Tuan Guru Izzul Islam. Ia sejak kepulangannya dari pondok pesantren Qudwatusshalihin resah menerka apa reaksi Tuan Guru Izzul Islam begitu melihat surat pengumuman itu. Resah karna degup jantungnya benar-benar membuatnya tak nyaman. Tapi ia yakin, Tuan Guru Izzul Islam pasti ingat janjinya begitu melihat surat itu. Tapi pertanyaannya, bagaimana ia akan bisa tahu respon Tuan Guru Izzul Islam jika bukan dia yang memberitahunya? Menyesal juga ia tidak menuliskan sebaris atau dua baris kalimat untuk mempertegasnya. Dia akan terus menunggu dengan keresahan dalam waktu yang belum pasti.
Layla mengangkat tubuhnya berat. Alternatif terakhir agar ia bisa segera mengetahui respon Tuan Guru Izzul Islam adalah dengan menelponnya. Layla bangkit dan turun dari ranjang. Ponsel yang sedang charg nya di sudut kamar diambilnya. Tapi ketika ia telah menemukan nomor ponsel Tuan Guru Izzul Islam, ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Layla kembali melangkah menuju tempat tidurnya dan menghempaskan tubuhnya keras. Menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan. Apalagi untuk sesuatu yang hanya dirinya yang tahu.