
"Ibu dimana, Bi," kata Fahmi ketika melihat bi Aisyah keluar dari kamar. Bi Aisyah tersenyum. Ia merasa tenang karna Fahmi pulang. Sedikit tidak, kekhawatirannya karna meninggalkan Sulastri sendiri di kamarnya tidak terlalu membebani pikirannya.
"Ada di kamar ,Nak. Syukurlah kamu cepat pulang," kata bi Aisyah. Fahmi mengernyitkan dahinya.
"Memangnya ada apa dengan ibu, Bi," kata Fahmi.
Bi Aisyah mendesah. Raut mukanya yang nampak cemas, mengkhawatirkan Fahmi.
"Tadi ada surat dari kepolisian. Ibumu bilang kalau itu surat panggilan untuk kakakmu, Rianti. Bibi khawatir itu akan membebani pikiran ibumu."
Belum sempat bi Aisyah mengakhiri kata-katanya, Fahmi langsung saja melangkah menuju kamar Sulastri. Cerita bi Aisyah membuatnya cemas. Ia segera masuk dan mendapati Sulastri sedang bersandar lemah di tempat tidurnya. Sesekali ia menutup mulutnya saat batuknya tak kunjung juga reda. Sulastri tersenyum saat Fahmi mendekat ke arahnya. Fahmi mengusap punggung Sulastri.
"Bu, kita ke klinik ya. Atau kita panggil dokter Kandar biar dia bisa periksa ibu lagi," kata Fahmi.
"Kan kemarin dokter Kandar sudah periksa ibu. Ibu hanya demam biasa. Sebentar lagi sembuh kok." Fahmi kembali mendesah. Sejenak ia menatap wajah Sulastri yang nampak layu. Fahmi menoleh ke arah meja. Ia baru ingat surat panggilan yang dibicarakan bi Aisyah.
"Kamu cari apa, Nak," tanya Sulastri ketika melihat Fahmi menoleh kesana kemari.
"Suratnya mana, Bu. Kata bi Aisyah, ada surat panggilan dari kepolisian untuk Kakak," kata Fahmi. Sulastri mendesah panjang. Kegelisahan mulai terlihat dari kedua matanya yang menunduk melemah. Tangannya menunjuk lemah ke arah laci meja. Fahmi bangkit dan segera membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop dari dalamnya. Ia lalu kembali ke tempat duduknya di depan Sulastri. Sejenak ia menatap ke arah kop di bagian muka amplop. Setelah itu ia membukanya dan mulai membaca surat di dalam amplop. Sulastri masih menunduk.
Fahmi mendesah panjang ketika telah selesai membaca surat. Ia melipat kembali surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Kedua tangan Sulastri dipegangnya.
"Selama kita hidup di dunia ini, kita tidak akan terlepas dari berbagai macam ujian, Bu. Ingat bagaimana dulu kita mengalami masa-masa sulit kita? Kita telah melewatinya dengan kesabaran walaupun ada sedikit keluhan. Dan lihatlah balasan Allah atas kesabaran kita." Fahmi mencium kedua tangan Sulastri bergantian. Ia mendesah panjang.
"Kak Rianti adalah wanita pilihan Allah. Jika tidak karna itu, ia tidak akan terus di uji seperti ini," sambung Fahmi. Sulastri mengangkat wajahnya.
"Tapi sampai kapan , Nak. Baru saja kakakmu menikmati kebahagiaannya, kini ia akan mengalami hal buruk lagi," kata Sulastri. Air matanya terlihat mengalir. Fahmi tersenyum.
"Fahmi kenal kak Rianti, Bu. Dan tak perlu mengenalnya terlalu lama. Orang yang tinggal tiga hari saja bersama kak Rianti pasti akan segera tahu bagaimana kak Rianti sebenarnya. Kebahagiaan itu tidak mesti harus didapatkan di dunia, Bu. Ini bukan kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan akhiratlah kehidupan penuh kenikmatan yang abadi. Ayolah, Bu. Ibu sudah lama mengajarkan kami cara bertahan hidup. Jangan mematahkannya dengan tangis dan kesedihan ibu," kata Fahmi. Ia kembali mencium tangan Sulastri. Sulastri menatap Fahmi. Apa yang dikatakan Fahmi perlahan mulai menenangkannya. Ia mengangkat kedua tangannya dan memeluk Fahmi. Fahmi tersenyum. Pelukan Sulastri dibalasnya penuh kehangatan.
Fahmi mendesah panjang.
__ADS_1
"Kita berharap, status kak Rianti hanya sebatas sebagai saksi saja. Tapi apapun yang terjadi, kita akan memberikan dukungan kepada kakak," kata Fahmi. Sulastri tersenyum.
Suara klakson mobil dari luar mengalihkan perhatian mereka.
"Ayo, Nak. Itu mungkin pak Sahril. Ibu sudah menelponnya tadi untuk membahas masalah ini. Kita juga akan mencari cara yang tepat untuk menyampaikan surat ini kepada kakakmu. Ibu mau ambil jaket ibu dulu. Ajak pak Sahril ke ruang tamu," kata Sulastri. Fahmi mengangguk dan segera melangkah keluar kamar.
* * * * *
Pak Sahril mengangkat wajahnya ketika mendengar suara pintu di dengar. Melihat Sulastri keluar dari kamarnya, Fahmi segera bangkit dan segera mendekat. Tubuh Sulastri kemudian dipegangnya dan membantunya berjalan menuju sofa ruang tamu.
"Sudah, Nak. Ibu bisa kok jalan sendiri. Malu sama pak Sahril. Dikiranya nanti ibu sakit parah," kata Sulastri. Fahmi tersenyum.
"Atau, bagaimana kalau Fahmi gendong ibu," kata Fahmi. Sulastri mencolek lemah pipi Fahmi.
Pak Sahril berdiri ketika Sulastri sudah ada di depannya. Melihat kondisi Sulastri, ia terlihat khawatir.
"Ibu masih sakit?" tanya pak Sahril. Sulastri tersenyum. Ia mempersilahkan dengan tangannya agar pak Sahril duduk kembali.
"Kemarin saya sudah diperiksa dokter Kandar, insya Allah sebentar lagi sembuh,"kata Sulastri. Ia mengeluarkan amplop dari saku jaketnya. Amplop itu kemudian diletakkannya di atas meja, di depan pak Sahril.
Pak Sahril menatap ke arah amplop. Ia mengambilnya. Setelah membaca sejenak kop di bagian muka amplop. Tangannya perlahan merayapke arah saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kaca mata. Setelah memasangnya, ia mulai khusyu' membaca surat. Sulastri dan Fahmi terdiam memperhatikan raut muka pak Sahril.
"Nak, apa kamu sudah kasih tahu bi Aisyah kalau ada tamu," bisik Sulastri. Fahmi mengangguk.
Pak Sahril mendesah panjang usai membaca surat. Ia menatap ke arah Sulastri.
"Apa Non Rianti sudah mengetahui surat ini, Bu?" tanya pak Sahril. Sulastri mendesah.
"Belum, Pak. Syukurlah, petugas itu mengantarnya kesini. Bagaimana ini, Pak Sahril. Apakah menurut Bapak, status Rianti bisa naik jadi tersangka?" tanya Sulastri. Pak Sahril melepas kaca matanya. Ia mendesah.
"Kalau kita bicara pasal 4 ayat 1 Undang-undang pornografi tentang seorang perempuan dan laki-laki yang membuat video sama-sama telah memberi persetujuan dan pembuatan video itu digunakan untuk kepentingan sendiri, maka tidak termasuk dalam pelanggaran.
__ADS_1
Tapi jika seorang suami atau istri melakukan perekaman tanpa sepengetahuan dan ijin dari pasangannya, maka itu melanggar pasal 4 ayat 1 undang-undang pornografi." Pak Sahril menghentikan pembicaraannya. Semuanya menoleh ke arah bi Aisyah yang datang menghidangkan minuman.
"Kira-kira, hukumannya berapa tahun, Pak," tanya Fahmi. Itu juga yang ingin di tanyakan Sulastri.
"Intinya dalam undang-undang pornografi ini, persetujuan adalah hal paling penting dalam menentukan itu termasuk pelanggaran atau tidak," jawab pak Sahril. Fahmi dan Sulastri saling pendang. Jawaban pak Sahril sedikit menenangkan hati Sulastri. Tapi ketika mengingat saat itu Rianti adalah Rianti yang berbeda. Yang brutal dengan pergaulannya yang bebas, ia kembali merasa gelisah.
"Jika dua pasangan membuat video dan salah satunya menyebarkannya, sedangkan yang satunya tidak memberikan pernyataan tegas untuk melarangnya, maka dia juga bisa terjerat pidana penyebarluasan pornografi," kata pak Sahril.
"Jadi, jika non Rianti tidak mengijinkan penyebaran video itu sekalipun ia setuju membuat video, maka dia tidak dipersalahkan atas penyebaran video itu." Pak Sahril menghela nafas panjang. Ia menatap ke arah Sulastri.
"Kita berharap saja, non Rianti tidak pernah mengijinkan penyebaran video itu. Kita juga belum tahu siapa-siapa yang sudah dipanggil pihak kepolisian," lanjut pak Sahril. Ia meminum kopi di depannya setelah Sulastri mempersilahkannya.
"Ya, Allah," desah Sulastri panjang. Fahmi memegang pundaknya.
"Terkait hukumannya, Pak?" tanya Fahmi.
"Paling singkat 6 bulan, dan paling lama 12 tahun," kata pak Sahril. Fahmi menganggukkan kepalanya. Sejenak ketiganya terdiam. Mereka terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Terkait surat itu, tolong pak Sahril antar dan beritahu Rianti. Semuanya saya serahkan kepada pak Sahril terkait bantuan hukum kepada Rianti. Tolong bantu Rianti, Pak," kata Sulastri.
Pak Sahril mengangguk.
"Akan saya usahakan, Bu. Nanti saya akan membahasnya terlebih dahulu dengan pak Pratama terkait apa saja yang harus kita lakukan. Mungkin kami akan terlebih dahulu menemui Tuan Guru Izzul Islam," kata pak Sahril.
"Terimakasih, Pak," kata Sulastri.
Sulastri menatap ke arah jam dinding. Sudah jam dua siang. Ia menoleh ke arah Fahmi.
"Nak,Kamu ke dapur dulu. Suruh bi Aisyah dan Munawarah menyiapkan makanan. Jangan lupa panggil pak Bayan dan pak Mustarah. Kita akan makan sama-sama," kata Sulastri. Fahmi bangkit.
"Saya mau ke kamar dulu. Kebetulan saya belum shalat. Saya kesini langsung dari kantor begitu ibu menelpon saya," kata pak Sahril menyusul Fahmi bangkit. Sulastri mengangguk dan mempersilahkannya.
__ADS_1