KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#236


__ADS_3

Jamila dan Rianti saling pandang. Suasana sejenak hening dan menegangkan. Tuan Guru Izzul Islam menundukkan kepalanya setelah beberapa saat memperhatikan ekspresi wajah keduanya. Apalagi saat tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya untuk beberapa lamanya.


Tuan Guru Izzul Islam mendehem. Ia kembali menuangkan air ke dalam gelas di depannya. Lalu meminumnya perlahan. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.


"Sudahlah, lupakan saja. Jika kalian tidak mengijinkan, gak apa-apa," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil tersenyum. Ia meraih tubuh keduanya dan merangkulnya. Tapi baik Rianti maupun Jamila sama-sama menarik tubuhnya. Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan dahinya. Ekspresi keduanya nampak datar. Ia merasa apa yang diungkapkannya telah membuat suasana hati keduanya menjadi tidak baik. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan keduanya. Lagi-lagi Rianti menarik tangannya dan bangkit. Hal yang sama dilakukan juga oleh Jamila. Rianti menarik tangan Jamila dan mengajaknya keluar. Spontan Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan mengejar mereka. Tubuh keduanya langsung dipeluknya erat.


"Maafkan aku. Aku gak bermaksud apa-apa. Kalian tetap istriku. Ayo, kita kembali duduk. Aku mau mengajak kalian jalan-jalan besok, sekalian membicarakan rencana umrah di bulan puasa ini," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil terus berusaha menarik tubuh keduanya untuk kembali duduk. Rianti dan Jamila tetap diam. Itu membuat Tuan Guru Izzul Islam serba salah. Berkali-kali bergantian ia mencium kepala Rianti dan Jamila.


"Ya, Allah, aku telah berdosa karna menyakiti hati kedua istriku. Aku telah berlaku tidak adil," desah Tuan Guru Izzul Islam resah. Rianti menundukkan wajahnya sambil melirik ke arah Jamila yang sepertinya sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Tiba-tiba saja, suasana yang tadinya nampak menegangkan bagi Tuan Guru Izzul Islam berubah dengan tawa renyah dari keduanya. Rianti dan Jamila yang tadinya terus membelakangi Tuan Guru Izzul Islam, kini berbalik dan memeluk Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia merasa lega melihat keduanya menyembunyikan kepala mereka sembari tertawa dipelukannya. Ia mendongakkan kepalanya lalu mencium kening keduanya. Perlahan ia membalikkan tubuh keduanya dan hendak mengajaknya kembali ke sofa.


Tunggu dulu." tiba-tiba Rianti menarik tangannya.


"Karna Kak Tuan sudah sempat membuat kami bersedih, Kak Tuan harus menggendong kami ke sofa. Kamu setuju kan, Jamila?" kata Rianti sambil melirik ke arah Jamila.


"Aku setuju," kata Jamila sambil mengacungkan jempolnya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Tanpa berkata lagi, Tuan Guru Izzul Islam langsung memegang tubuh Rianti dan membopongnya ke sofa.


Setelah meletakkan Rianti di atas sofa, Tuan Guru Izzul Islam bergegas kembali dan langsung mengangkat tubuh Jamila.


Tuan Guru Izzul Islam menghempaskan tubuhnya di tengah-tengah Rianti dan Jamila.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia terlihat lega.


"Untuk sesaat tadi jantungku hampir copot gara-gara kalian," kata Tuan Guru Islam sambil mendekatkan tubuh keduanya ke tubuhnya. Jamila dan Rianti kembali tak bisa menahan tawanya. Mereka berdua menutup wajah mereka dengan kedua telapak tangan mereka karna tawa mereka tak kunjung juga reda.


"Sudah, sudah. Gak boleh berlebihan seperti itu." Tuan Guru Izzul Islam mengusap kepala keduanya. Setelah tawa keduanya reda, Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki posisi duduknya.


"Aku mau istirahat dulu. Bangunkan aku untuk shalat ashar," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil melepaskan pegangan tangannya di tubuh keduanya. Ia kemudian bangkit. Tapi baru saja ia hendak melangkahkan kakinya, Rianti memegang tangannya.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Rianti memberi isyarat dengan kedipan matanya untuk duduk. Jamila pun ikut melakukan hal yang sama. Memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam yang satunya dan memberi isyarat untuk duduk. Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan keningnya. Tubuhnya terhempas di sofa saat Rianti dan Jamila serempak menarik tangannya.


"Kita belum selesai, Kak Tuan," kata Rianti.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Kak Tuan belum memberitahukan siapa gadis itu,"


"Gadis yang mana?"


"Gadis yang berusaha mendapatkan tempat ketiga di samping Kak Tuan,"


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.


"Sudahlah, lupakan itu. Sekarang itu tidak penting lagi. Kalian berdualah yang paling penting. Anggap tadi itu aku hanya main-main," kata Tuan Guru Izzul Islam. Dari raut wajahnya, ia benar-benar tak ingin Rianti maupun Jamila mengungkit masalah itu lagi. Rianti mendesah pendek.


"Tidak, Kak Tuan. Apa yang kami lakukan tadi hanya untuk menguji Kak Tuan. Kami tak sungguh-sungguh melakukannya," kata Rianti dengan ekspresi muka serius, tapi tetap dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya.


Tuan Guru Izzul Islam menggelengkan kepalanya. Ingin mempertegas bahwa ia memang tak ingin membahas itu lagi.


"Anggap itu tidak pernah terjadi. Jujur, aku merasa malu telah mengatakannya. Aku merasa tak pandai bersyukur," ucap Tuan Guru Izzul Islam.


"Kak Tuan, kami mohon maaf." Jamila menyahut. Ia tersenyum.


" Kami sama sekali tak terkejut jika mendengar Kak Tuan akan menikah lagi. Pernah suatu malam kami berdua berdiskusi panjang tentang jika seandainya nanti Kak Tuan menikah lagi," lanjut Jamila.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan kembali menggelengkan kepalanya.


"Aku merasa, ijin kalian adalah petunjuk dari Allah. Jika kalian tidak ridha, maka itu petunjuk bahwa aku tidak boleh menikah lagi," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Kalau begitu, ceritakan kami siapa gadis itu," kata Rianti.


Tuan Guru Izzul Islam kembali tersenyum menggelengkan kepalanya. Ia merangkul keduanya.


"Rianti, Jamila, aku sudah bilang, ini tak perlu diperpanjang lagi. Anggap ini semua tidak pernah kalian dengar,"


"Tapi kami sudah terlanjur mendengarnya, Kak Tuan. Bagaimana mungkin kami bisa menganggapnya tidak pernah ada. Ayo, ceritakan kami siapa gadis itu," kata Rianti sambil menggesek-gesek kepalanya di lengan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam menghempaskan nafasnya sembari memijat-mijat keningnya. Rianti dan Jamila terus mendesak. Permasalahan yang tadi dianggapnya sudah selesai, ternyata menjadi panjang.


Tuan Guru Izzul Islam menggaruk-garuk kepalanya dan mendesah panjang. Ia terdiam sejenak dan kembali memandang keduanya bergantian.

__ADS_1


"Qurratul Aini, istri almarhum Cristian,"


Rianti mengangkat tubuhnya. Ia menoleh ke arah Jamila. Keduanya saling pandang.


Rianti mengalihkan pandangannya kepada Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya.


"Kenapa Kak Tuan gak mencari yang gadis saja. Kenapa tertarik dengan janda?"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Aku tidak tahu, Dik. Aku hanya perlu melakukannya. Aku ingin menghidupkan kembali pesantren yang telah ditinggalkan oleh Almarhum Tuan Guru Faeshal. Selain itu, ia juga seorang janda. Alangkah baiknya jika aku menjadikannya istri untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Memang tak seperti keinginan kalian. Dia bukan seorang penghafal Al-qur'an. Tapi dia seorang sarjana yang ilmunya bisa kita manfaatkan." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan kata-katanya. Ia melepaskan kopiahnya di atas meja. Keringat terlihat membasahi dadanya. Jamila bangkit dan menghidupkan AC di dalam ruangan.


"Dan seperti yang aku katakan tadi, ini memang petunjuk dari Allah agar aku tidak menikahinya," lanjut Tuan Guru Izzul Islam setelah Jamila duduk kembali di dekatnya. Rianti tersenyum. Telapak tangan Tuan Guru Izzul Islam dipegangnya kuat.


"Aku pribadi tak meragukan niat baik Kak Tuan. Tanpa memberitahu dan meminta ijin kepada kami pun, Kak Tuan boleh menikah lagi." Rianti berhenti sejenak dan tersenyum ke arah Jamila. Jamila mengangkat telapak tangannya mempersilahkan Rianti melanjutkan kata-katanya.


"Aku pribadi mengijinkan Kak Tuan menikahi Qurratul Aini. Sekarang, keputusan akhirnya ada pada Jamila. Kalau dia mengijinkan, Kak Tuan tidak perlu lagi ragu-ragu. Kami akan mengurusnya untuk Kak Tuan," kata Rianti sambil tersenyum kepada Tuan Guru Izzul Islam.


"Sudahlah, Rianti. Kita tidak perlu mem...,"


"Aku juga mengijinkan Kak Tuan menikahinya," sahut Jamila sebelum Tuan Guru Izzul Islam memotong pembicaraan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Sudah, Kak Tuan diam saja, seperti yang aku bilang tadi, jika Jamila juga sudah setuju, kamilah yang akan melamar Qurratul Aini untuk Kak Tuan,"


Tuan Guru Izzul Islam terdiam menatap keduanya bergantian. Setelah itu ia menundukkan wajahnya. Air matanya terlihat jatuh di pangkuannya.


"Kenapa Kak Tuan menangis,"


"Aku takut kalian melakukannya karna tak mau menyakiti hatiku. Padahal aku tidak apa-apa jika tidak menikah dengan Qurratul Aini,"


"Kita sudah lama berumah tangga, Kak Tuan. Kenapa Kak Tuan masih belum bisa membedakan mana ekspresi wajah ikhlas dan tidak ikhlasnya kami? Aku yakin Kak Tuan bisa merasakannya. Hanya saja Kak Tuan merasa tidak tega kepada kami. Kami sama sekali tidak masalah dengan itu. Lagi pula, apa yang Kak Tuan niatkan, sesuai dengan harapan kami," kata Rianti. Ia terlihat begitu kecewa Tuan Guru Izzul Islam tak mempercayainya. Melihat itu, buru-buru Tuan Guru Izzul Islam memeluk Rianti. Begitu pun juga dengan Jamila.


Untuk sesaat Tuan Guru Izzul Islam larut dalam tangis syukurnya. Syukur karna telah dianugrahi Allah dua istri cantik dan shalehah. Dua orang istri yang tak pernah mempedulikan komentar dan kata-kata menyakitkan di luar sana. Wanita bodoh dan sok alim, yang selalu mengatas namakan agama dalam setiap keputusannya. Keduanya benar-benar menjaga agar suara-suara itu tak mempengaruhi pikiran masing-masing. Keduanya sadar, komentar negatif itu selalu datang dari orang-orang yang hatinya bermasalah.

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam semakin mempererat pelukannya ketika Rianti dan Jamila bergantian mencium pipinya.


__ADS_2