KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#249


__ADS_3

Layla masih duduk di depan jendela kamarnya setelah pak Nurasmin memberitahukannya bahwa Tuan Guru Izzul Islam telah menelponnya bakda subuh tadi. Pagi ini Tuan Guru Izzul Islam akan datang berkunjung ke rumahnya. Entah, dia tidak bisa menafikan rasa bahagia di dalam hatinya. Entah juga, apakah rasa bahagia yang ia rasakan saat ini ada kaitannya dengan mimpinya tadi malam. Yang jelas, keberadaannya kini yang sudah duduk di depan jendela kamarnya sejak selesai sarapan tadi, memberi isyarat bahwa dia sangat menantikan kedatangan Tuan Guru Izzul Islam.


Setelah beberapa jam lamanya menunggu, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sebuah mobil kapsul warna silver membunyikan klaksonnya satu kali sebelum berhenti di depan pintu gerbang. Layla menghempaskan nafas panjangnya, seperti hendak mengeluarkan rasa bahagia yang berlimpah di dalam hatinya. Suara detak jantungnya seperti beradu dengan debar dalam dadanya. Kedua kakinya bergetar. Ia seperti tak mampu mengangkat tubuhnya. Apalagi ketika melihat Fahmi keluar dari mobil, di susul Tuan Guru Izzul Islam yang keluar dari pintu sebelah. Kini mereka berada di posisi seperti yang ia lihat di dalam mimpi pertamanya. Fahmi di depan dan Tuan Guru Izzul Islam di belakannya. Tapi ketika pak Nurasmin membukakannya pintu gerbang, posisi mereka berubah. Fahmi melangkah ke belakang dan berdiri di belakang Tuan Guru Izzul Islam. Itu juga posisi yang ia lihat dalam mimpinya. Di belakang keduanya, menyusul Rianti, Qurratul Aini dan Jamila.


"Ya, Allah, siapakah diantara keduanya yang Engkau tunjuk dalam mimpiku." Batin Layla. Ia mendesah sembari tersenyum. Siapapun di antara keduanya yang dijadikan pendamping hidupnya, ia bersaksi pada dirinya sendiri, kedua laki-aki itu adalah orang yang shaleh. jika tidak, Tuhan tidak akan memperlihatkan keduanya dalam mimpinya.


Tok, Tok, tok!


Layla terkejut. Ia segera bergegas bangkit. Sebelum membuka pintu, ia melangkah menuju cerminnya dan memoleskan sedikit make up di wajahnya.


Di luar pintu kamarnya, bu Sofia tersenyum. Wajah Layla terlihat memerah dan cerah ceria.


"Subhanallah, kamu cantik sekali hari ini, Nak," kata bu Sofia segera memperbaiki jilbab yang dipakai Layla. Layla tersenyum. Ia lalu mengajak bu Sofia ke ruang tamu.


Rianti tersenyum ketika Layla mendekat menyalaminya. Sebelum Layla hendak menyalami yang lainnya, Rianti menahannya sejenak sambil memperhatikan Layla. Layla yang diperhatikan hanya tertunduk tersipu malu.


"Ada apa sih, Kak. Kok kayak orang gak pernah ketemu saja," kata Layla. Rianti tersenyum.


"Kamu itu sekarang beda sekali. Jika bukan karna keluargaku, aku pasti akan sungkan menyapamu," kata Rianti sambil melepaskan pegangan tangannya. Layla hanya tersenyum sambil mendekat menyalami mereka satu persatu.


"Terus terang Bapak dari tadi diskusi sama ibu kalian, tumben Nak Izzul nelpon pagi-pagi sekali," kata pak Nurasmin memulai pembicaraan. Layla sendiri langsung menuju dapur untuk menyiapkan minuman.


"Ada hal yang saaangat penting, Pak. Tapi karna ini ada kaitannya dengan dik Layla, maka kita tunggu dik Laylanya dulu," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Pak Nurasmin menganggukkan kepalanya. Tak beberapa lama kemudian, Layla muncul membawa minuman.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Rianti, Jamila dan Qurratul Aini.


"Bagaimana adik-adik. Apa kita akan memulainya?" tanya Tuan Guru Izzul Islam setelah Layla duduk di samping bu Sofia.


"Lebih cepat lebih baik, Kak Tuan," jawab Rianti. Jamila dan Qurratul Aini mengangguk setuju. Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki posisi duduknya. Sorban yang melilit di lehernya di letakkannya di pangkuan Rianti.


"Saya mulai ya, Pak, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Pak Nurasmin dan bu Sofia menganggukkan kepalanya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Dalam Al-qur'an, surat Adzariyat ayat 49, Allah berfirman. "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. Maha Benar Allah dengan segala Firmannya,”

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang. Ia menatap bergantian ke arah pak Nurasmin, bu Sofia dan Layla. Dada Layla semakin berdebar-debar.


"Bapak, Ibu dan Dik Layla tentu sudah mulai faham dengan ayat yang telah saya bacakan tadi," kata Tuan Guru Izzul Islam. Pak Nurasmin tersenyum. Ia menoleh ke arah bu Sofia.


"Terus terang, Bapak belum mengerti, Nak," kata pak Nurasmin. Orang-orang yang hadir serempak tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam meminum kopinya. Fahmi yang duduk di sampingnya dan hanya menundukkan kepalanya, dicoleknya agar menyeruput minumannya.


"Gak apa-apa, Pak. Tapi saya yakin Dik Layla nya pasti sudah faham," kata Tuan Guru Izzul Islam. Layla tersenyum.


"Ayo, Kak Tuan. Langsung saja," sahut Rianti tak sabaran. Jamila mencolek pahanya dan menyandarkan kepalanya di pundak Rianti


"Sabar," bisik Jamila. Rianti tersenyum.


"Habis, Kak Tuannya terlalu berputar-putar," balas Rianti berbisik.


"Baiklah, Pak, Bu. Karna jamaahnya sudah tidak tahan, saya langsung saja. Kedatangan kami ke sini untuk melamar Dik Layla," kata Tuan Guru Izzul Islam. Pak Nurasmin dan bu Sofia saling pandang. Setelah itu mereka sama-sama menoleh ke arah Layla yang masih menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat memerah menahan malu sebab pandangan kini semua mengarah kepadanya.


"Mohon maaf, Nak Izzul. Kalau boleh Bapak tahu, kira-kira siapa yang akan melamar Layla?" tanya pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Memangnya ada perubahan rencana?" bisik Jamila. Rianti mengangkat kedua bahunya.


Tuan Guru Izzul Islam mendehem. Ia tersenyum sembari memperbaiki posisi duduknya.


"Saya ingin melamar Dik Layla untuk Dik Fahmi, Pak, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti, Jamila dan Qurratul Aini serempak mendesah pendek dan saling pandang.


"Kak Tuan memang jagonya ngeprank," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum tanpa menoleh.


Pak Nurasmin menoleh ke arah Layla.


"Mumpung Adik Kalian ada di sini, segala keputusannya Bapak dan Ibu serahkan kepada dia," kata pak Nurasmin yang langsung disambut anggukan kepala bu Sofia.


Tuan Guru Izzul Islam memberi isyarat kepada Rianti untuk mengambil alih pembicaraan. Rianti mengangguk.


"Bagaimana, Dik Layla. Seperti kata Bapak, keputusannya ada di tangan Dik Layla. Walau sebesar apapun kebahagiaan kami jika Dik Layla mau menerima lamaran kami, tentu petunjuk dari Allah lah yang paling utama," kata Rianti.

__ADS_1


Layla mengangkat wajahnya perlahan. Ia mendesah pelan. Setelah itu ia menganggukkan kepalanya satu kali. Pak Nurasmin dan bu Sofia saling pandang. Mereka heran, kali ini Layla langsung menganggukkan kepalanya.


"Kami kurang begitu jelas, apakah tadi Layla menganggukkan kepala tanda setuju atau bagaimana?" tanya Rianti. Layla tersenyum. Ia menganggukkan kembali kepalanya.


"Saya menerimanya, Kak," Jawab Layla tegas. Serempak mereka mendesah lega.


"Apa kamu sudah memikirkannya, Nak?" tanya bu Sofia sambil mengusap kepala Layla. Layla mengangguk.


"Itu sudah petunjuk dari Allah, Pak, Bu," jawab Layla.


"Alhamdulillah," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia menoleh ke arah Fahmi. Seperti halnya Layla, dia masih tertunduk. Keringat terlihat mengalir dari kepalanya.


"Bagaimana, Dik Izzul? Apa Dik Izzul mendengarnya?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah. Kita semua sudah mendengarkan jawaban Dik Layla. Sekarang, kita serahkan kembali kepada Bapak dan Ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam.


Pak Nurasmin mendesah panjang. Senyum tipis tersungging dari bibirnya.


"Alhamdulillah, Nak. jika Adik kamu sudah memutuskan, perkaranya pun Bapak anggap selesai." kata pak Nurasmin. Ia menoleh ke arah Layla.


"Nak, tugas kita saat ini adalah memberitahukan baik-baik bu Salima dan Tuan Guru Nur Asikin tentang masalah ini," kata pak Nurasmin.


"Kita akan mengunjungi mereka secepat mungkin, Pak. Kita akan membicarakannya baik-baik. Semoga tidak ada ketersinggunggan di hati mereka," jawab Layla.


"Maksud Bapak, Tuan Guru Nur Asikin ketua MUI?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Benar, Nak. Bu Salima, istri kepala kemenag dan Tuan Guru Nur Asikin pernah berkunjung kesini untuk melamar adik Kamu," kata pak Nurasmin.


"Hebat, orang-orang besar antri ingin menjadikan Dik Layla menantu," sahut Qurratul Aini. Layla tersenyum.


Pembicaraan di antara mereka berlanjut sampai penentuan waktu dan hari pelaksanaan akad nikah. Tiga hari kemudian, tepatnya pada malam jumat, akad nikah antara Layla dan Fahmi disepakati akan dilaksanakan.


Setelah selesai makan siang dan shalat berjamaah di rumah pak Nurasmin, Tuan Guru Izzul Islam dan rombongan berpamitan pulang.

__ADS_1


__ADS_2