KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#86/ Kembalinya Rianti.


__ADS_3

Hujan kembali turun setelah beberapa jam tadi telah reda. Sehabis dari pertemuan di kawasan Segui, Mobil yang ditumpangi Sulastri mengikuti mobil pak Sahril dan pak Pratama berkunjung ke kawasan jalan Doyan medaran. Sekitar satu jam lamanya mereka bebincang-bincang terkait perkembangan pembangunan di kawasan itu. Arsitek dan mandor bangunan memperkirakan, satu bulan kedepan lima puluh persen pembangunan di tempat itu akan rampung. Sulastri lebih menekankan percepatan pembangunan asrama untuk para pelayan rumah makan yang harus bertempat tinggal disana. Sungai juga harus segera dikeruk dan punya ruang khusus untuk menampung sampah-sampah yang datang dari hulu. Pun juga dengan penghijauan di sekitaran bantaran sungai. Ia memerintahkan pak Sahril untuk mempersiapkan pembibitan pohon-pohon peneduh, juga aneka tanaman hias agar tempat itu kembali asri.


Setelah untuk beberapa lamanya mereka mengadakan rapat kecil di dalam area bangunan rumah makan yang telah rampung seratus persen, mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan pulang. Hujan masih deras mengguyur. Melihat langit yang masih gelap, mungkin hujan akan awet hingga malam nanti. Mobil yang disopiri pak Mustarah melaju pelan sebab jarak pandang yang begitu pendek akibat derasnya hujan.


Sulastri memperhatikan layar ponselnya yang menyala. Ia membuka sebuah pesan singkat dari pak Sahril yang memberitahukannya bahwa ia dan pak Pratama akan langsung pulang.


Sulastri menoleh ke arah pak Mustarah.


"Pak, kita ke lapas sebentar," kata Sulastri kepada pak Mustarah ketika melihat mobil pak Sahril berbelok di perempatan jalan ke arah kanan. Pak Mustarah mengangguk dan berbelok menuju arah yang berlawanan. Sulastri memeriksa rantang yang ada di kursi belakang mobil dekat Rahima duduk. Ia tersenyum ke arah Rahima yang raut wajahnya terlihat cemas.


"Gak usah gelisah seperti itu, Rahima. Kamu di mobil saja jika takut melihatku digebuki Rianti," kata Sulastri. Rahima hanya mendesah. Ia tak mau menanggapi Sulastri. Melihat bagaimana ia diperlakukan oleh Rianti, dadanya mulai berdebar.


Perlahan mobil itu memasuki gerbang lapas. Rahima mengambilkannya payung dan memberikannya kepada Sulastri. Sulastri langsung bergegas menuju ruang lapor begitu turun dari mobilnya. Ia berjingkrak-jingkrak menghindari genangan air di depannya. Rahima memperhatikannya dari dalam mobil dengan penuh keresahan. Terlihat Sulastri terlibat pembicaraan panjang dengan salah satu petugas yang menyambutnya.


"Apa gak sebaiknya ibu berbicara di luar saja. Saya takut kejadian kemarin terulang lagi," kata petugas itu. Ia terlihat ragu mengijinkan Sulastri masuk. Sulastri tersenyum.


"Gak apa-apa, Pak. Aku kesini lagi karna sudah siap dengan segala resikonya. Bapak lebih mengerti kapan harus bertindak jika ada tanda-tanda yang membahayakan nyawaku. Tapi aku yakin, selama tidak ada senjata atau benda keras yang dibawa Rianti, aku bisa menghadapinya," kata Sulastri memperlihatkan ketenangannya.


Petugas itu menganggukkan kepalanya. Ia mempersilahkan Sulastri mengikutinya.


Rahima mendesah sambil terus memperhatikan tubuh Sulastri hingga menghilang di balik dinding bangunan.


"Pak Mustarah, tolong ikuti ibu. Mungkin ibu butuh bantuan bapak nanti," kata Rahima dengan nada bergetar penuh cemas. Pak Mustarah mengangguk. Ia mengambil sebungkus rokok dari dashboard mobil kemudian berlarian menghindari hujan menuju ke ruang tunggu.


Rahima menutup semua kaca mobil. Ia lalu membaringkan tubuhnya di kursi mobil. Ia berusaha memejamkan matanya, berharap tak mendengar apapun dari ruang tunggu.


* * * * *


Sulastri mendesah resah. Sekalipun ia sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi ia masih saja merasa deg-degan. Rasa sakit akibat pukulan Rianti hari kemarin masih terasa, tapi ia harus melakukannya lagi. Rianti tak mungkin bisa membunuhnya. Masih ada petugas yang stand by mengawasi dalam ruangan. Ia meyakini apa yang ia lakukan saat ini bukanlah hal yang sia-sia. Ini adalah bagian dari tugasnya sebagai seorang istri. Harus ada tindakan. Inilah tindakan yang akan dilakukannya. Terlepas salah dan bodoh dalam pandangan orang-orang.


Suara pintu terdengar berdret. Sulastri menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Seperti hendak mengurangi debar di dadanya.


"Anjing, mau apa lagi kamu kesini. Jangan mengira aku akan bersimpati kepadamu dan memaafkan perbuatanmu," kata Rianti. Tatapannya kembali tajam. Bunyi nafasnya bergemuruh. Ia melepaskan tangannya dari pegangan petugas di belakangnya. Ia mendekat ke arah Sulastri. Petugas itu tetap mengawal dari belakang.


Satu tamparan keras kembali mendarat di wajah Sulastri. Sulastri meringis kesakitan. Walaupun begitu, ia sempat memberi isyarat kepada petugas agar tak menahan Rianti. Petugas itu menggeleng. Masih tak percaya atas apa yang dilakukan Sulastri. Ia hanya bisa berdiri bersedekap seperti hari kemarin melihat kekerasan di depan matanya.


Rianti yang kembali merasa mendapatkan kesempatan menumpahkan sakit hatinya yang masih tersisa, mulai dengan leluasa mendaratkan pukulannya ke arah wajah Sulastri. Sesekali ia meringis. Rasa sakit akibat pukulan bertubi-tubinya ke arah tubuh Sulastri hari kemarin masih terasa sakit. Terutama pergelangan tangannya. Hantaman yang terkadang mengenai tulang wajah dan tangan Sulastri membuat pukulannya tak sekeras hari kemarin.


Sulastri terdengar mengaduh. Pukulan Rianti ke arah perutnya membuatnya mencengkram erat perutnya. Ia membungkuk menahan rasa sakit. Perlahan tubuhnya luruh ke lantai. Rianti tak berhenti sampai di sana. Ia terus menghajar tubuh Sulastri. Merasa kedua tangannya tak mampu lagi memukul, gantian ia menjambak rambut Sulastri. Beberapa helai rambut Sulastri yang terlepas dari kepalanya akibat tarikan kuat tangan Rianti, memenuhi tangannya. Tak hanya menjambak, Wajah Sulastri didongakkannya. Air ludahnya ia tumpahkan habis di wajah Sulastri.


Sulastri masih tak ingin meminta bantuan pada petugas. Ia tahu Rianti sudah mulai kelelahan. Tinggal menunggu waktu saja sehingga ia menyerah dan tak punya tenaga lagi untuk memukulnya.

__ADS_1


"Mati kamu, Sulastri. Mampus." kali ini Rianti kembali menindih tubuh Sulastri. Bergantian kedua tangannya memukul ke arah wajah dan dada Sulastri. Darah segar mengucur dari hidung dan bibirnya. Rianti mulai terlihat lemah. Tapi ia terus memukul wajah Sulastri. Kali ini sambil menangis. Sulastri tersenyum. Ketika melihat tangan Rianti berhenti memukulnya, ia meraih tangan Rianti dan memukulkannya ke wajahnya sendiri.


"Ayo, Rianti. Pukullah sepuasmu. Ayo, lampiaskan dendammu. Aku di sini, Rianti. Ayo, jangan berhenti," kata Sulastri sambil terus memukulkan tangan Rianti ke wajahnya.


"Kenapa, kenapa kamu diam saja Sulastri. Kenapa kamu mau disiksa seperti ini. Kenapa kamu membiarkan aku memukulmu. Kenapa!" teriak Rianti tiba-tiba. Air mata Rianti terlihat mengalir. Sulastri tersenyum. Ia tahu ada yang telah berubah dari Rianti. Ia tahu Rianti mulai lelah dengan dendam dan kebenciannya. Ia tahu, ketika air mata masih bisa keluar dari mata seseorang, itu artinya hatinya masih terbuka untuk menerima kebenaran. Sulastri menatap lekat mata Rianti yang berlinang air mata.


"Aku hanya ingin kamu mengenaliku sebagai ibumu, Rianti. Aku melakukan ini karna aku ingin hidup berdampingan denganmu, seperti seorang ibu dan anaknya," kata Sulastri. Ia mengangkat tangannya dan mengusap air mata di wajah Rianti. Rianti diam saja. Tak berusaha menghalau tangan Sulastri. Entah, tiba-tiba saja ia merasa menginginkan tangan itu mengusap air matanya.


"Tapi usahamu ini sia-sia. Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibuku. Kamu adalah orang yang telah merebut kebahagiaan keluagaku,"


Sulastri menggeleng. Senyumnya tetap terkulum lembut.


"Aku tidak pernah merencanakannya, Rianti. Ini memang sudah kehendak Tuhan," kata Sulastri. Tangannya terus mengusap setiap kali air mata Rianti mengalir di pipinya.


"Tapi kamu bisa menolaknya. Kamu bisa menolak ketika papa ingin menikahimu."


"Aku mencintai papamu bukan karna hartanya. Aku mencintainya karna dia juga tulus mencintaiku. Kamu tidak akan pernah mengerti itu, Rianti. Kamu akan mengerti jika kamu sudah menemukan cinta sejatimu,"


Rianti menarik tangannya ketika Sulastri terus menerus memukulkannya ke wajahnya. Tangannya berlumuran darah yang terus mengalir dari hidung Sulastri.


"Hentikan, hentikan!" Teriak Rianti. Tapi pegangan Sulastri sangat kuat. Ia terus memukulkannya ke wajahnya.


"Hentikan!" teriak Rianti. Air matanya mengalir deras. Ia menarik tangannya keras. Saking kerasnya, tubuhnya terhempas dan tergeletak lemah di samping Sulastri.


Rianti menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang berlumuran darah. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Aku sudah lelah. Aku sudah lelah dengan hidup ini. Aku lelah dengan dendam ini. Aku tidak pernah tenang karna setiap detik dalam hidupku selalu diisi dengan kebencian kepadamu. Lebih baik kamu yang membunuh aku Sulastri. Aku ingin mati. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku juga sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua telah kamu rampas,"


"Tidak, Rianti. Aku tidak merampasnya. Aku hanya menjaganya hingga suatu hari nanti kamu sudah siap menerimanya kembali,"


Rianti menoleh. Dengan sesenggukan, Ia menatap sayu ke arah Sulastri yang tampak tersenyum bahagia memandangnya. Ia kembali diam ketika tangan Sulastri menyibakkan rambutnya yang menutupi matanya. Tak hanya itu, darah yang menempel di rambutnya, dibersihkan pelan oleh Sulastri. Seketika Rianti merasakan damai dalam hatinya. Ada sesuatu yang mengganjal, yang sepertinya keluar dari sesak dadanya. Tatap mata lembut Sulastri menenangkan perasaannya.


"Kenapa kamu lakukan ini, Sulastri. Untuk apa?"


"Anai-anai tidak akan membahayakan dirinya terbakar dalam api, jika tidak karna ia menyukai cahaya api itu sendiri. Jika tidak karna cinta, hanya orang bodoh yang mau menyiksa dirinya seperti ini. Aku melakukannya karna aku menyayangimu, Rianti. Tentu, tentu sekali aku ingin kamu juga menyayangiku seperti ibumu sendiri. Dengan begitu, tuntaslah amanat yang diberikan almarhum papamu kepadaku. Dia ingin aku menjaga dan menyayangimu semampuku. Itulah yang seharusnya dilakukan istri sesudah suaminya meninggal,"


"Tapi kenapa harus dengan cara ini."


Sulastri tersenyum. Rianti masih belum mengerti dan butuh penjelasannya.


"Terkadang kita harus melewati banyak bahaya dan rintangan untuk mendapatkan cinta yang hakiki. Pembuktian cinta sejati seseorang, tak cukup hanya dengan kata-kata. Kamu tak akan pernah mengerti ini, Rianti,"

__ADS_1


Rianti semakin menangis sesenggukan. Sulastri mengusap lembut rambut Rianti dengan sisa tenaga di tangannya. Ia membiarkan saja Rianti larut dalam tangisnya sembari terus berdoa, semoga Allah membukakan pintu hati Rianti agar benar-benar berubah.


Petugas jaga yang hanya berdiri melihat keduanya berbaring bersimbah darah, membalikkan badannya dan duduk di atas kursi. Ia menggeleng kagum atas perjuangan Sulastri melunakkan hati Rianti. Pak Mustarah yang masih terbengong melihat apa yang terjadi di depannya kaget ketika Rahima menyentuh pundaknya dari belakang. Ia meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, memberi isyarat agar Rahima diam. Rahima tampak kaget melihat Sulastri dan Rianti terbaring lemah dengan darah memenuhi wajah keduanya. Ia menggeleng-geleng. Wajahnya terlihat semakin cemas.


Sulastri berusaha bangkit ketika ia merasa tenaganya perlahan mulai pulih. Ia lalu memegang punggung leher Rianti dan mengangkat tubuh Rianti perlahan. Sulastri menatap wajah Rianti dengan tersenyum. Seperti tak merasakan sakit apa-apa. Rianti yang dipandang, menundukkan wajahnya. Sulastri memegang dagu Rianti dan mengangkat pelan wajahnya. Setelah itu ia memeluk tubuh Rianti erat. Awalnya Rianti hanya terdiam memejamkan mata sambil menahan tangisnya yang hendak kembali pecah. Tapi tak beberapa lama kemudian, ia membalas pelukan Sulastri lebih erat. Tangis kerasnya kembali pecah. Petugas yang tampak ikut terharu, memilih meninggalkan mereka.


Sulastri meraih tasnya yang tegeletak di belakangnya. Ia lalu mengeluarkan sebotol minuman dan tissu dari dalamnya. Setelah membuka tutupnya, ia meminumkannya ke mulut Rianti. Setelah itu, ia dengan pelan mulai membersihkan wajah Rianti dengan tissu. Rahima ikut menangis. Perjuangan Sulastri ternyata tak sia-sia. Ia benar-benar wanita hebat. Sulastri memang pantas mendapatkan semua kebaikan karna keyakinan dan perjuangannya yang tak kenal menyerah.


"Ayo, Aku bantu kamu duduk di kursi. Aku harus membersihkan rambutmu," kata Sulastri sembari berusaha mengangkat tubuh Rianti. Rianti menggeleng dan hendak menolak. Tapi Sulastri bersikeras.


"Sudah, kamu gak boleh membantah ibumu," kata Sulastri. Rianti akhirnya berusaha berdiri. Tubuhnya saling menguatkan dengan tubuh Sulastri agar bisa berdiri. Ia lalu duduk di atas kursi.


Sulastri mengeluarkan sisir, cermin kecil dan beberapa ikat rambut dari dalam tasnya. Ia kemudian mulai menyisir rambut Rianti.


"Lihat, betapa cantiknya kamu. Aku bangga punya anak gadis secantik kamu," kata Sulastri sembari mulai memasangkan ikat rambut di rambut Rianti.


Rianti meraih tangan tangan Sulastri dan melingkarkannya di lehernya. Ia lalu mengambil cermin di atas meja dan mengarahkannya ke wajah Sulastri.


"Ibu juga cantik. Aku juga bangga punya ibu sepertimu," kata Rianti lirih. Air matanya kembali meleleh. Sulastri buru-buru mengambil tissu dan mengusap air mata Rianti.


"Sudah, Nak. Jangan menangis lagi. Saatnya kita tersenyum,"


Rianti mengangguk. Ia meletakkan kembali cermin di atas meja. Keduanya terdiam. Sulastri nampak sibuk mendandani Rianti. Make up yang ada di dalam tasnya dikeluarkannya semua. Rianti benar-benar terlihat cantik dibuatnya.


"Bu." Rianti menoleh ke arah Sulastri. Sulastri menundukkan kepalanya dan kini menempel di wajah Rianti.


"Apa, sayang," bisik Sulastri lembut. Rianti tersenyum.


"Berapa tahun aku akan dipenjara," kata Rianti. Rianti terdiam. Ia mendesah panjang namun pelan.


"Serahkan pada ibu. Ibu akan membicarakannya dengan pak Sahril. Ibu akan berusaha agar hukumanmu di ringankan. Ibu tak ingin terlalu lama menunggumu pulang. Ibu ingin setiap malamnya tidur bersama kamu," kata Sulastri berusaha menegarkan hati Rianti.


"Yang penting saat ini adalah, kamu tetap bersikap baik selama di penjara. Mudah-mudahan dengan itu, pengadilan bisa meringankan hukumanmu,"


"Bu, setiap malam jumat, aku selalu mendengar pengajian dari seorang ustadz yang ditugaskan berceramah di sini. Aku senang mendengarnya."


"Itu adalah awal yang baik, Rianti. Tuhan masih menyayangimu,"


"Awalnya aku mengira Tuhan tidak akan mengampuni kesalahan yang pernah aku lakukan. Tapi ceramah ustadz itu memberiku harapan untuk memperbaiki diri,"


"Ya, Allah. Kamu akan jadi orang yang lebih baik, Nak. Bahkan lebih baik dariku," kata Sulastri. Ia kembali memeluk erat tubuh Rianti dari belakang. Tak henti-henti ia mencium wajah Rianti.

__ADS_1


__ADS_2