
Jamila meletakkan strika ditangannya ketika dari balik jendela rumah, ia melihat sosok berwibawa yang tidak asing sedang menuju ke arah rumah. Ia segera bangkit. Ia terlihat panik. Apalagi ketika menyadari dirinya sedang tidak memakai jilbab. Ia segera berlari ke ruang tamu dan menyambar kerudung warna hijau di atas sofa. Ia tahu kerudung itu adalah milik Sulastri dan sangat tidak pantas jika ia memakainya tanpa memberitahukannya dulu kepada Sulastri. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tak mau Tuan Guru Izzul Islam melihatnya dalam keadaan tak memakai jilbab.
"Assalamualaikum,"
Jamila menoleh kesana kemari. Entah kenapa dia malu untuk menjawab salam dari Tuan Guru Izzul Islam. Sosok berwibawa Tuan Guru Izzul Islam benar-benar telah membuatnya seperti orang kebingungan dan serba salah. Tiba-tiba ia merasa malu jika harus menemui Tuan Guru Izzul Islam sendirian. Ia merasa tak pantas menyambut sosok terkenal itu.
Jamila berjingkrak pelan mendekati pintu kamar Sulastri. Ia tidak ingin Tuan Guru Izzul Islam yang sudah duduk di teras rumah mendengar suara kakinya. Ketika hendak mengetuk pintu kamar itu, Sulastri yang berada di dalam keburu membuka pintu. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat Jamila tersenyum dengan wajah memerah di depannya.
"Siapa yang di luar, Jamila. Kenapa kamu tidak menjawab salam," kata Sulastri. Jamila hanya tersenyum. Dia menunjuk ke arah teras rumah dengan sedikit tolehan kepalanya. Saat Sulastri menuju ke luar, buru-buru Jamila mengambil Jilbabnya dan mengganti kerudung yang ia pakai.
"Wa alaikum salam," jawab Sulastri. Ia melangkah pelan menuju teras rumah.
"Astaghfirullah, ibu kira siapa, Nak Izzul. Aduh, Jamila kok gak nengok keluar," kata Sulastri tergopoh-gopoh mendekati Tuan Guru Izzul Islam yang sudah duduk di kursi teras rumah. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan bangkit dari duduknya ketika Sulastri mendekatinya dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Saya kira ibu lagi istirahat. Makanya saya gak mengulangi salam lagi," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Ayo, silahkan duduk lagi, Nak," kata Sulastri mempersilahkan Tuan Guru Izzul Islam duduk kembali.
"Tadi ibu di dalam kamar sedang mengaji," kata Sulastri setelah duduk di samping Tuan Guru Izzul Islam.
Sulastri menoleh ke arah dalam.
"Jamila,"
"Ya, Bu," jawab Jamila pelan dari arah dalam. Sulastri mendesah.
__ADS_1
" Ayo, kamu ke dapur dulu, Nak. Buatkan kita minuman yang segar-segar. Cuacanya panas sekali," Panggil Sulastri.
Tak beberapa lama kemudian, Jamila keluar. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah teras. Dengan setengah membungkukkan badannya, ia langsung bergegas menuju dapur.
"Bagaimana, Nak Izzul. Apa Nak Izzul sudah menjenguk Rianti?" kata Sulastri setelah beberapa saat memperhatikan Jamila. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Tadi sekitar jam 8 saya kesana, Bu. Saya langsung kesini begitu acara di balai kota selesai."
Sulastri mengerutkan dahinya.
"Jadi Nak Izzul belum pulang ke rumah?" Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Ia mendesah dan terdiam agak lama menundukkan wajahnya. Sulastri memperhatikannya dan menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam menoleh.
"Rianti menyuruhku agar secepatnya menikahi Jamila,"
Mendengar kata-kata Tuan Guru Izzul Islam, gantian Sulastri yang terdiam.
Sulastri mendesah panjang. Tatapannya jauh ke arah gerbang rumah.
"Rianti memang menugaskan ibu untuk memberitahukan itu kepada Jamila. Ibu cuma belum menemukan waktu yang pas untuk menyampaikannya." Kembali Sulastri menghela nafas panjang.
"Keinginan Rianti sulit dirubah, Bu. Aku kesini untuk menyerahkan segala urusan ini kepada ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri tersenyum.
Bi Aisyah muncul dari arah samping dengan membawa dua gelas minuman di tangannya. Sulastri mengerutkan dahinya.
"Loh, kok bibi yang mengantar minuman? Jamilanya mana?" tanya Sulastri ketika bi Aisyah sudah meletakkan minuman di atas meja.
__ADS_1
"Malu katanya, Bu. Dia sekarang saya suruh memasak di dapur," kata bi Aisyah dengan suara pelan. Sulastri melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam dan langsung disambut senyum Tuan Guru Izzul Islam.
"Ayo, diminum minumannya, Nak," kata Sulastri setelah bi Aisyah pergi. Karna haus, Tuan Guru Izzul Islam langsung meminum minuman dingin di depannya.
"Kalau ibu perhatikan Jamila, keputusan istrimu untuk menyuruhmu menikahi Jamila memang beralasan. Imej buruknya karna pernah dipenjara seketika hilang ketika melihat kesehariannya. Anak yang dua itu memang luar biasa. Mereka benar-benar bisa memanfaatkan waktu panjang mereka di penjara dengan hal-hal baik. Luar biasa, mereka bisa menghafal Al-Qur'an sampai khatam." Sulastri mengambil gelas minumannya dan meminumnya.
"Ibu pun, walaupun hanya sehari mengenal Jamila, tapi melihat bagaimana sikapnya, ibu yang awalnya tidak setuju, terus terang mengiyakan keputusan Rianti. Ini semua demi kebaikan kita. Pondok pesantren Nak Izzul adalah pondok pesantren yang sangat besar. Nak Izzul butuh pendamping-pendamping yang akan membantu Nak Izzul dalam segala hal menyangkut pondok pesantren. Biar Rianti fokus mengelola perusahaan, agar apa yang dicita-citakan almarhum papanya tetap bisa dijalankan. Kita tentu yakin ini semua adalah petunjuk Allah lewat keinginan istrimu," sambung Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang dan sedikit tersenyum. Ia kembali meminum minumannya.
"Semua aku serahkan sama ibu. Semoga apa yang kita lakukan ini di ridhai Allah," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Amin,"
Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki letak kopiah dan sorbannya. Ia menoleh ke arah Sulastri.
"Baiklah, Bu. Aku harus pulang dulu. Ashar nanti ada jadwal santri-santri senior di pondok," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Gak makan dulu, Nak Izzul,"
"Sudah, Bu. Tadi habis acara langsung makan di balai kota. Insya Allah, lain kali kita ngobrolnya lebih lama dengan ibu dan dik Fahmi terkait pesantren," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil bangkit berdiri.
"Peresmiannya kapan, Bu," sambung Tuan Guru Izzul Islam.
"Ibu belum tahu, tapi adikmu pasti akan meminta pendapatmu mengenai hari dan tanggal peresmiannya," jawab Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam hanya tersenyum. Ia kemudian menyalami Sulastri dan pamit pulang.
* ** * *
__ADS_1
Tak terasa waktu terus bergulir. Malam kembali datang mengganti siang, memenuhi ketentuan sang Pencipta. Suasana hening terlihat di kediaman Sulastri. Fahmi, setelah shalat isya langsung masuk kamarnya untuk istirahat. Kesibukannya mengurus perijinan pondok pesantren membuatnya tak pulang seharian. Sulastri sendiri masih mondar-mandir di kamarnya menunggu waktu yang tepat untuk memanggil Jamila. Jam sudah menunjukkan pukul 22. 12. Suara bacaan Al-Qur'an dari arah kamar Jamila masih samar-samar terdengar. Suara bacaan itu kadang terdengar kadang juga hilang dari pendengarannya. Dia masih menunggu hingga Jamila benar-benar selesai mengaji. Tapi dia merasa sudah terlalu lama menunggu. Dia takut Jamila mengantuk dan langsung tidur. Ada baiknya ia segera menemuinya dan mengajaknya ke kamarnya. Beban yang diserahkan Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam harus ia selesaikan malam ini juga.
Sulastri melangkah menuju lemari pakaian dan mengambil sweeter. Setelah memasangnya, ia lalu bergegas keluar dari kamarnya menuju kemar Jamila.