
Rianti memegang tangan Jamila dan mengajaknya mendekat ke arah Qurratul Aini. Qurratul Aini yang masih asik dengan ketermenungannya, tak menyadari jika keduanya kini telah berdiri di belakangnya. Rianti mendesah pelan memperhatikan Qurratul Aini yang terdiam khusyu' ke arah kegelapan bangunan-bangunan di depannya.
"Emh..., Assalamualaikum," ucap Rianti lembut. Qurratul Aini menoleh. Ia terdiam dan seperti terpaku tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan ketika Rianti dan Jamila melambaikan tangan di depan wajahnya, ia masih tertegun.
"Ini aku Rianti, Dik Aini," kata Rianti sambil tersenyum. Keduanya lalu duduk mengapit Qurratul Aini.
"Ta_tapi..., bagaimana kalian bisa ada di sini," kata Qurratul Aini sambil bergantian menoleh ke arah Rianti dan Jamila.
"Saya sudah di sini satu jam yang lalu. Kamunya saja yang menyendiri di sini," kata Rianti. Qurratul Aini kemudian memeluk keduanya.
"Ya, Allah. Tadi aku benar-benar gak percaya kalian yang datang. Tiba-tiba saja kalian sudah ada di belakangku," kata Qurratul Aini. Rianti dan Jamila tersenyum.
"Jangan bilang kalau kami ini jelmaan penunggu tempat ini," kata Jamila. Quratul Aini tersenyum. Untuk sesaat kedatangan Rianti dan Jamila membuat hatinya sedikit ramai.
"Ngomong-ngomong, kalian kesini sama siapa saja?" tanya Qurratul Aini.
"Kak Tuan sama dik Fahmi,"jawab Rianti.
"Memangnya sudah kemana malam-malam begini. Aduh, terus terang aku bahagia sekali kedatangan kalian. Tumben,"
"Gak kemana-mana.Kami memang sengaja kesini. Yah, selain silaturrahim, mungkin ada yang perlu kita bincang-bincangkan,"
"Kalau begitu, ayo, aku mau salaman sama Tuan Guru," kata Qurratul Aini sambil memegang tangan keduanya mengajak keduanya bangkit dari duduknya. Rianti menarik tangan Qurratul Aini dan mengajaknya tetap duduk.
"Kita di sini saja dulu. Di sini lebih nyaman. Kita gak terburu-buru kok. Kalau diijinkan, mungkin saja kami bisa menginap malam ini di sini,"kata Rianti.
"Beneran?"
"Gak-gak. Becanda kok," kata Rianti sambil mengusap lengan tangan Qurratul Aini.
"Santai saja. Lagi pula, kami juga mau ziarah ke malam Tuan Guru," sambung Rianti. Sejenak ketiganya terdiam memandang ke sekeliling yang nampak sepi. Rianti melirik ke arah Qurratul Aini setelah tak bisa menemukan wajah Jamila karna tertutupi kepala Qurratul Aini. Ia sudah tidak sabar ingin mengatakan maksud sebenarnya kepada Qurratul Aini. Tapi ia butuh pendapat dari Jamila. Rianti mendesah panjang sambil memegang pundak Qurratul Aini.
__ADS_1
"Dik Aini, kata ibu, akhir-akhir ini Dik Aini sering menyendiri di sini. Kangen Cristian?"
Qurratul Aini mengangkat kedua alisnya. Matanya jadi melebar. Ia mendesah panjang. Tatapannya di arahkan ke arah makam. Ia menganggukkan kepalanya.
"Cristian?" Qurratul Aini tersenyum dan menoleh ke arah Rianti. Setelah itu ia kembali berpaling. Ia kembali mendesah panjang.
"Ya, tapi tidak terlalu sering. Aku tak perlu terlalu bersedih sebab dia sudah kembali kepada pemiliknya. Seluruh dosanya sebelum ia masuk islam telah terhapuskan setelah ia masuk Islam. Lagi pula, kita juga tidak pernah tahu kapan akan menyusul." Kembali Qurratul Aini mendesah panjang. Ia menatap ke arah Rianti dan Jamila sejenak.Setelah itu ia berpaling ke arah bangunan-bangunan yang nampak gelap tanpa pencahayaan.
"Aku punya cita-cita sama Cristian untuk menghidupkan kembali tempat ini.Kami akan melakukan segala cara untuk menutupi kekurangan kami dalam bidang agama. Kami hanya ingin, apa yang telah dirintis almarhum Bapak tidak jadi sia-sia. Aku merasa itu adalah tugasku bersama Cristian. Allah memberiku hidup sampai saat ini, tentu karna ingin melihatku menghidupkan kembali tempat ini. Tapi sayang, Cristian dipanggil-Nya dan aku benar-benar merasa tak berguna sebagai anak. Terlebih ketika aku ingat bagaimana masa lalu kami yang penuh dosa, maka kami ingin menebusnya dengan cara ini. Aku berharap Bapak bahagia di alam sana," sambung Qurratul Aini dengan suara bergetar menahan tangis.
Rianti serempak mengusap punggung Qurratul Aini.
"Aku benar-benar merasa tak berguna. Bahkan Allahpun sepertinya enggan memberiku seorang anak sebagai penerus cita-cita almarhum bapak." Qurratul Aini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ketus. Seperti sedang mencemooh dirinya sendiri.
"Ini memang karma yang pantas aku dapatkan," kata Qurratul Aini sedih menundukkan kepalanya. Rianti mendesah panjang dan memegang pundak Qurratul Aini.
"Gak boleh berkata seperti itu, Dik Aini. Allah menguji kita tentu untuk mengetahui kadar iman kita. Apakah kita bersabar dan menerima ketentuan itu atau tidak. Pasti ada imbalan yang setimpal untuk sikap kita menghadapinya. Entah itu imbalan untuk kesabaran kita ataupun keluh kesah kita.Semua kita yang tentukan. Dik Aini sendiri pernah bilang, kita semua pasti akan menyusul orang-orang yang telah mendahului kita ke hadirat Sang Pencipta. Itu artinya Dik Aini sadar, bahwa kita mati bukan berarti kita akan tidur nyenyak. Akan ada akibat yang akan kita dapatkan atas apa yang kita telah lakukan semasa hidup. Bukankah itu yang dikatakan Allah dalam firman-Nya? Bersabar dan shalat jika kita tertimpa musibah. Semoga kesabaran dan shalat yang tetap kita jalankan ketika mendapatkan musibah, akan membantu kita di alam kubur kita. Allah tidak akan menimpakan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Dan selama seorang hamba tak mau merubah dirinya sendiri, maka Allah tak akan pernah merubahnya, sepanjang apapun doa kita," kata Rianti.
Qurratul Aini mengangguk dan mengusap air matanya dengan ujung jilbabnya. Apa yang dikatakan Rianti, serta bagaimana cara keduanya menghiburnya, membuatnya sedikit tenang.
"Dik Aini, kata orang, bermadu itu bukan perkara yang mudah. Butuh keadilan dari suami untuk berbagi waktu dan nafkah untuk istri-istrinya. Alhamdulillah, aku bersyukur punya madu seperti Jamila. Kami seperti sahabat masa kecil yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Segala masalah dan kesedihan akan kami tanggung dan hadapi bersama. Pandangan orang tentang kehidupan rumah tangga poligami yang sebagian besarnya buruk, bagi kami adalah kebalikannya. Kami berdua merasa damai dalam naungan dan keadilan Tuan Guru. Kami benar-benar merasa terhormat sebagai seorang wanita. Bayangkan dengan perempuan-perempuan yang hanya jadi simpanan semata. Selain tidak sah di mata agama dan hukum, kehormatannya sebagai wanita juga sudah direndahkan," Kata Rianti mencoba mengawali pembicaraannya menuju inti masalah.
Qurratul Aini tersenyum menatap keduanya. Tampak jelas binar-binar kekaguman dari kedua matanya. Ia mengangguk setuju. Kenapa meributkan poligami jika ada keridhaan dari istri, juga perlakuan adil dari suami. Alqur'an sudah jelas mengatur itu. Jika takut tidak bisa berlaku adil, maka cukup satu saja. Ia mengacungkan kedua jempolnya ke arah Jamila dan Rianti. Keduanya tersenyum.
"Kalian memang benar-benar wanita hebat. Tak ada kepura-puraan dari senyum bahagia kalian. Kalian adalah cermin dari prilaku adil Tuan Guru,"kata Qurratul Aini dengan menampakkan pandangan kagumnya kepada keduanya.
"Aini, seperti yang kamu katakan tadi, Kami juga sangat bersedih melihat peninggalan almarhum Tuan Guru Faeshal yang terbengkalai seperti ini.Kami merasakan apa yang dik Aini rasakan sebagai anak. Dik Aini telah membuktikan bahwa bukan hanya anak laki-laki yang harus jadi penerus. Perempuan pun punya kemampuan yang sama sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Bukankah salah satu cara kita berbakti kepada orang tua kita setelah mereka meninggal adalah dengan merawat peninggalannya? Meneruskan cita-cita beliau yang kandas? Sedihmu ini bukan sedih yang dilarang. Asalkan kamu tidak hanya terpaku, tapi harus bertindak,"kata Rianti.
"Tapi aku tidak mampu. Aku tidak punya daya untuk itu,"
"Kami akan membantumu. Bergabunglah dengan kami sebagai bagian dari keluarga kami,"
__ADS_1
"Maksudnya?"
Rianti mengajak Qurratul Aini berdiri. Ia lalu mengajak Qurratul Aini melangkah menuju makam Cristian dan Tuan Guru Faeshal.
"Ada saat kita harus setia dengan suami kita, walaupun dia sudah meninggal dunia. Tapi ada saat kita membutuhkan penamping untuk menutupi kekurangan kita. Menghidupkan kembali pesantren ini bukan perkara yang kecil. Dik Aini tentu akan kesulitan, apalagi kita hanya perempuan yang langkah kita terbatas." Rianti merangkul tubuh Qurratul Aini. Ia menoleh dan menatap lekat ke arah Rianti. Ia mulai mengerti arah pembicaraan Rianti. Rianti mendesah dan tersenyum.
"Jika kamu setiap malam hanya duduk di sini menatap gundukan tanah dan sisa-sisa asrama ini, kamu akan mati tanpa bisa berbuat apa-apa," lanjut Rianti.
Rianti membalikkan tubuh Qurratul Aini dan memegang kedua tangannya. Rianti menatap lekat mata Qurratul Aini sembari tersenyum.
"Kami ingin kamu bergabung dengan kami menjadi istri Tuan Guru."
Spontan Qurratul Aini melepaskan pegangan tangan Rianti. Keningnya mengernyit dengan mata memincing menatap ke arah Rianti. Ia mundur beberapa langkah. Apa yang dikatakan Rianti amat mengejutkannya. Dia mengerti Rianti menyuruhnya untuk menikah lagi, tapi diia tidak pernah menyangka Rianti akan mengatakan itu. Rianti tetap mempertahankan senyumnya.
Qurratul Aini berpaling dan melangkah lebih dekat ke kubur Cristian. Jamila yang sedari tadi masih duduk sembari memperhatikan mereka, segera bangkit ketika melihat suasana seketika berubah. Rianti telah mengatakan maksud kedatangan mereka kepada Qurratul Aini terlalu cepat sehingga mengagetkan Qurratul Aini. Ia tahu, Rianti selalu tergesa-gesa mengatakan sesuatu bila terlalu bersemangat, sehingga mungkin saja Qurratul Aini dibuatnya kaget. Jamila segera mendekat ke arah mereka. Ia langsung menghampiri Qurratul Aini yang kini bersimpuh di depan kubur Cristian. Punggung Qurratul Aini di usapnya lembut.
"Maafkan Rianti, Dik. Dia tidak bermaksud apa-apa. Bukannya dia tidak menghargai perasaan atas kehilangan suamimu. Dia mungkin sedikit tergesa-gesa menyampaikannya. Tapi yakinlah, niat Rianti baik. Dia ingin memikul tanggung jawabmu bersama-sama," kata Jamila. Isak tangis Qurratul Aini terdengar. Jamila menoleh ke arah Rianti yang masih berdiri. Ia merasa menyesal telah membuat Qurratul Aini menangis.
Rianti mendesah panjang. Ia merasa perkataan Jamila benar. Saking bersemangatnya, ia tidak sabar mengatakannya kepada Qurratul Aini. Dia pun mendekat dan duduk. Dia langsung memeluk tubuh Qurratul Aini.
"Maafkan aku, Dik Aini. Maafkan aku. Mohon jangan diambil hati apa yang aku katakan tadi, jika Dik Aini tidak berkenan. Dik Aini punya hak untuk menolaknya. Hanya saja kami sangat berharap sekali Dik Aini menerima lamaran Tuan Guru," kata Rianti.
Jamila kembali menoleh ke arah Rianti, memberi isyarat agar tak mengungkit-ungkit lagi masalah lamaran kepada Qurratul Aini . Ia ingin memberi kesempatan kepada Qurratul Aini untuk berpikir.
Untuk beberapa lama suasana menjadi sepi. Keduanya terdiam menunggu Qurratul Aini yang tak berpaling memandang ke pusara Cristian. Lamanya Qurratul Aini terdiam, membuat Rianti merasa bersalah. Beberapa kali terdengar istighfar dari mulutnya.
Qurratul Aini menoleh ke arah belakangnya. Keduanya tersenyum. Jamila mengusapkan air mata di wajah Qurratul Aini.
"Aku minta maaf, Kak, aku belum bisa memikirkan masalah itu. Aku harap kalian tidak kecewa," kata Qurratul Aini sambil terus menundukkan kepalanya. Rianti dan Jamila tersenyum. Keduanya memegang tubuh Qurratul Aini dan mengajaknya berdiri.
Rianti memegang wajah Qurratul Aini dan mengusapnya lembut. Ia menatap mata Qurratul Aini lekat.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Dik. Kami tidak memaksa. Dan maafkan aku yang tergesa-gesa mengatakannya tanpa memikirkan perasaan dik Aini," kata Rianti. Qurratul Aini menganggukkan kepalanya. Jamila tersenyum dan merangkul tubuh keduanya.
"Sudah terlalu malam. Kak Tuan dan Dik Fahmi juga sudah terlalu lama menunggu kita. Sebaiknya kita kembali dan menemui mereka," kata Jamila setelah melihat jam di ponselnya. Ketiganya kemudian melangkah keluar dari asrama.