
Suasana di dalam rumah besar bercat hijau itu terlihat ramai. Sehabis isya'. Di dapur, Rahini, Wahyu dan Minang nampak sibuk membantu Munawarah memasak. Bi aisyah masih sibuk mengajak Rayhan bermain-main di halaman rumah sambil mengawasi Fahmi dan Farida bermain sepeda. Di pos jaga, pak Bayan, pak Ahmad dan pak Mustarah, sopir pribadi yang didatangkan pak Sahril juga tampak ikut ngobrol di pos jaga. Suara musik keroncong terdengar mengalun menemani ketiganya yang sedang menikmati kopi hangat di depan mereka.
Di dalam rumah, Sulastri masih duduk di sofa ruang tamu. Sesekali ia ia memeriksa Rahima yang sedang mencatat tugas yang ia berikan di meja kerjanya.
Rahima mendesah dan menutup buku besar tempatnya menulis. Ia kemudian bangkit dan melangkah menuju tempat Sulastri duduk. Ia terlihat menguap beberapa kali. Setelah menggerak-gerakkan tubuhnya, ia duduk di samping Sulastri.
"Rahima, Aku percayakan kamu untuk mengurus rumah makan yang ada di lokasi baru. Kamu harus mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keuangan."
Rahima mendesah. Ia menatap Sulastri.
"Apa saya bisa, Lastri. Saya tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Saya hanya bisa memasak. Saya hanya pantas jadi pelayan," kata Rahima. Sulastri tersenyum. Ia meraba bekas luka di wajahnya.
"Nanti saya carikan asisten. Yang penting saat ini kamu mengerti dan faham, agar tidak mudah tertipu jika ada penyelewengan. Kamu harus banyak-banyak belajar," jawab Sulastri. Ia menyandarkan kepalanya.
"Aku minta tolong besok antar anak-anak masuk sekolah. Besok, aku mau ngantor sekaligus menjenguk Rianti."
Rahima mendesah. Ia lebih mendekatkan posisi duduknya dengan Sulastri. Ia menatap Sulastri lemah.
"Tolong, jangan lagi kesana, Lastri. Dia bisa membunuhmu," harapa Rahima dengan tatapan menghiba. Sulastri memegang tangan Rahima dan tersenyum.
"Tidak, Rahima. Aku harus melakukannya sampai Rianti mau menerimaku. Aku masih punya amanat dari almarhum suamiku. Apa yang saat ini kunikmati tak ada gunanya jika aku belum membawa Rianti tersenyum ke rumah ini." Sulastri mendesah panjang.
"Kamu gak usah khawatir. Aku yakin aku bisa melakukannya. Aku tidak mau kelak, Rianti menjadi pengganggu di perusahaan jika ia masih menyimpan dendam kepadaku." sambung Sulastri. Ia terdiam sejenak dan kembali menatap Rahima.
"Aku tidak mau permusuhan ini terus berlanjut dan tak akan pernah berhenti jika tidak dicoba untuk diperbaiki. Aku sudah lelah, Rahima. Aku ingin menikmati hidup ini dengan damai bersama keluargaku. Aku harus membawa Rianti sebagai bagian dari kebahagiaanku," kata Sulastri. Rahima kembali mendesah. Mendengar kata-kata Sulastri, ia merasa tidak bisa lagi mencegah keinginan Sulastri. Rahima menganggukkan kepalanya.
"Aku hanya berpesan, segeralah minta bantuan penjaga jika kamu merasa Rianti membahayakan nyawamu. Aku tidak sanggup melihat jika kamu di perlakukan seperti kemarin," kata Rahima. Ia terlihat mengusap ujung matanya. Sulastri tersenyum. Ia meraih tubuh Rahima kemudian memeluknya.
"Doakan agar semuanya berjalan baik sesuai keinginan kita," kata Sulastri. Ia mengusap-usap punggung Rahima.
"Aku mau istirahat dulu. Ajak teman-teman makan malam bersama di halaman rumah," kata Sulastri.
"Kamu gak makan?" tanya Rahima. Sulastri berdiri. Ia menggelengkan kepalanya.
"Aku masih kenyang. Aku ngantuk sekali Rahima," kata Sulastri sembari menguap.
"Tolong, letakkan saja makanannya di meja makan. Nanti kalau aku lapar, aku akan makan," kata Sulastri. Ia lalu melangkah menuju ke kamarnya. Rahima terdiam menatap Sulastri hingga tak terlihat lagi di balik pintu kamar yang ditutup. Ia pun segera bangkit dan melangkah keluar.
Sesampainya di dalam kamar, Sulastri langsung mengambil air wudhu. Setelah itu, dengan khusyu' nya ia mulai bertakbir.
* * * * *
Mendung terlihat berkumpul di ufuk masyrik. Sinar matahari pagi yang biasanya benderang mengeluarkan cahaya kekuningannya, tak terlihat lagi sebab pekatnya awan hitam. Semilir angin pagi seperti membawa aroma hujan dari arah utara. Hanya terdengar burung-burung kecil yang mulai beterbangan kesana kemari. Tak berapa lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai terdengar di atas dedaunan pohon.
Sulastri masih menikmati secangkir kopi buatan Rahima di atas meja di teras rumah. Pot-pot kecil tempat bunga hias beraneka macam yang tergantung di teras rumah nampak bergoyang kesana kemari tertiup angin.
Bau tanah yang keluar diterpa gerimis hujan tercium, mengingatkan Sulastri akan suasana pedesaan yang telah lama ia tinggalkan. Ia rindu Kedua orang tuanya. ia rindu kampung halaman yang bertahun-tahun ia tinggalkan. Dulu, dia tak pernah berpikir untuk pulang sebab keadaannya yang memperihatinkan. Tapi kini,ia sudah meraih semuanya. Ia ingin kedua orang tua bersama kerabatnya ikut menikmati keberhasilan dan kesuksesan yang kini di raihnya. Suatu hari nanti, dia akan pulang membawa anak-anaknya menjenguk kampung halamannya.
__ADS_1
Hujan untuk pertama kalinya turun di awal bulan November. Suasana dingin amat terasa. Langit hitam dengan awan berarak berkumpul di atas langit kota. Tak berapa lama kemudian, hujan deras mulai mengguyur. Seluruh penghuni rumah begitu kegirangan dengan turunnya hujan setelah sekian lama bergulat dengan cuaca panas dan terik matahari yang menyengat. Di halaman rumah terlihat Rahima, Rahini dan Munawarah nampak berlarian berbasah-basahan di bawah guyuran hujan deras. Dari arah teras rumah, Sulastri tersenyum melihat betapa riangnya mereka mendongak menatap rintik-rintik hujan yang berjatuhan. Keceriaan mereka membuat hidupnya semakin bermakna. Cita-citanya untuk mengeluarkan mereka dari penderitaan mereka akhirnya terwujud juga. Puji Syukur kepada Allah yang telah menganugrahkannya karunia yang begitu besar sehingga bisa berbagi bersama mereka. Walaupun terkadang ia menyesali setiap ratap dan rintih putus asa dari setiap penderitaan masa lalunya.
Rahima terlihat berlari-lari kecil ke Sulastri. Sulastri tersenyum.
"Ayo, Lastri. Kita main hujan-hujanan. Ini hujan pertama. Harus kita rayakan," kata Rahima setengah berteriak.
"Lain kali saja. Hujannya masih panjang kok. Ini baru awalnya. Siapkan aku makanan untuk Rianti ya?" kata Sulastri. Rahima mendesah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sulastri benar-benar keras kepala. Setelah apa yang dilakukan Rianti kepadanya kemarin, ia tak kapok juga mengunjungi Rianti.
"Aku ikut, Ya. Anak-anak gak bisa sekolah hari ini," kata Rahima.
Sulastri mengangkat kedua alisnya. Dia bangkit dan berdiri di tepi teras.
"Boleh, tapi janji gak boleh teriak atau nangis," kata Sulastri memberi syarat. Rahima terdiam. Ia kembali mendesah panjang. Ia menggelengkan kepalanya.
"Ayo, jawab. Kalau teriak dan nangis, gak boleh ikut. Ok, nangis boleh, tapi gak boleh teriak," kata Sulastri ketika melihat Rahima yang masih terdiam tak memberikan jawaban.
"Ok, kayaknya aku gak akan melihat. Aku duduk di ruang tunggu saja. Takut, nanti aku yang gantian menghajar gadis itu," jawab Rahima. Sulastri tersenyum dan kembali ke tempat duduknya. Rahima kemudian berbalik dan kembali berlari-lari menghindari genangan air di depannya menuju ke arah dapur. Tak berapa lama kemudian, ia kembali lagi membawa rantang dan meletakkannya di depan Sulastri.
"Bilang sama pak Mustarah. Kita akan segera berangkat. Kalau menunggu hujan reda, kita tidak akan bisa berangkat ke kantor," kata Sulastri setengah berteriak.
"Apa gak bisa menunggu sampai besok, Lastri," kata Rahima. Sulastri menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau menunda-nunda. Aku sudah janji sama pak Sahril akan berkunjung ke Segui hari ini. Kebetulan hari ini akan panen mutiara. Pak Sahril sudah terlanjur memberitahukan pegawai di sana bahwa aku akan datang hari ini. Aku tidak mau mereka menunggu terlalu lama," jawab Sulastri. Rahima mengangguk. Ia segera berlarian ke arah pos jaga dan memberitahukan kepada pak Mustarah agar segera bersiap-siap.
* ** * *
Tiga bangku panjang di bawah pohon bidara terlihat kosong. Biasanya, teman-teman sekerjanya dibagian operasional selalu rehat di sana sambil menikmati secangkir kopi siang hari. Tapi sekarang, tak ada satupun yang terlihat di sana. Bagas menghempaskan tubuhnya di atas bangku. Angin yang semilir membuat panas tubuhnya mulai mendingin. Suara ombak yang menghempas bibir pantai terdengar mengisi hening siang, membuatnya merasa ngantuk. Bagas menoleh saat mendengar suara berteriak kegirangan dari arah belakang. Karna penasaran, ia bangkit. Dilihatnya teman-temannya sedang berkumpul di bawah pohon singon. Rupanya ada info baru terkait perusahaan yang sedang dibaca teman-temannya. Karna penasaran, Ia pun mendekat.
"Mahsar, Ada berita apa sih," tanya Bagas sambil memegang salah satu pundak laki-laki bertubuh pendek yang disapanya Mahsar itu. Ia belum bisa melihat ke arah pengumuman. Tubuh-tubuh teman-temannya yang ada di depannya, menghalangi pandangannya. Mahsar menoleh. Ia tersenyum. Wajahnya tampak ceria. Dia menjabat tangan Bagas kuat.
"Harapan kita akhirnya menjadi kenyataan. Pemimpin baru kita punya kebijakan yang sangat meguntungkan kita. Tunjangan pendidikan dan kesehatan untuk istri dan anak-anak kita akan ditambah dan segera berlaku mulai bulan ini," kata Mahsar. Mendengar itu, senyum bagas mengembang.
"Benarkah? Alhamdulillah," kata Bagas. Ia mendongak ke atas dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kita juga gak perlu ke puskesmas lagi. Rumah sakit Islam Namira Bima adalah yang ditunjuk perusahaan sebagai tempat kita berobat dan cek kesehatan,"
Tak cukup mendengar cerita dari Mahsar, Bagas segera menyeruak menyingkirkan tubuh-tubuh di depannya.
"Ayo gantian. Kita juga mau baca nih," kata Bagas sambil terus berjalan ke depan hingga berada tepat di depan papan pengumuman. Bagas mulai membacanya. Ia hampir saja berteriak kegirangan ketika membaca nama Sulastri yang bertanda tangan di ujung bawah pengumuman. Tapi ia segera ingat bahwa dia bukan lagi suami Sulastri. Tiba-tiba ia merasa malu. Dia tak menyangka nasib baik berpihak kepada Sulastri. Kini nasibnya bergantung di tangan Sulastri.
Bagas membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah menuju bangku di bawah pohon bidara. Ia menunduk lesu dan membaringkan tubuhnya.
Sebenarnya ia masih mencintai Sulastri. Dia berharap bisa kembali bersama lagi. Memperbaiki semuanya dari awal dan tak akan pernah ada lagi sikap tidak baiknya yang akan melukai hati Sulastri. Tapi mendengar berita ia telah menikah dengan Yulian Wibowo, ia merasa sudah tidak punya harapan lagi. Dia akhirnya memutuskan menikah dengan seorang janda dari bima yang dulu bekerja sebagai tukang masak di perusahaan itu. Dia sudah terlanjur menikah saat tahu Yulian Wibowo telah meninggal dunia. Jika harus menceraikan istrinya, ia takut Sulastri tidak akan menerimanya lagi.
Saat berkunjung ke rumah kontrakan Sulastri, ia melihat ada binar-binar harapan dari mata Sulastri ketika melihatnya. Ia bisa melihat raut kekecewaan di wajah Sulastri saat ia memperkenalkan istri barunya.
Bagas mendesah pasrah. Sulastri sudah menjadi masa lalunya. Saat ini ia hanya merindukan anak-anaknya. Tapi entah, ia merasa malu jika harus menemui mereka, sedangkan Sulastri ada bersama mereka. Statusnya sebagai bawahan Sulastri membuatnya sungkan bertemu Sulastri.
__ADS_1
"Pengumuman. Kepada segenap karyawan PT Aulia pearl agar berkumpul di balai pertemuan. Patroli laut diharapkan tetap di tempat masing -masing menjaga keamanan.Terimakasih"
Terdengar pengumuman dari pengeras suara di pos utama perusahaan. Bagas bangkit. Setelah melihat tak ada satupun di sekelilingnya, ia segera melangkah menuju sumber suara.
* * * * *
Sulastri terlihat anggun dengan jas berwarna biru ketika duduk di atas sofa di sebuah ruangan besar dengan latar belakang laut yang biru. Rambut sepundaknya sesekali menari diterpa angin yang yang berhembus. Wajah cantiknya, membuat orang-orang yang melihatnya terkesima. Hari ini, ia melakukan pertemuan dengan semua pegawai di perusahaan mutiara. Baik yang ada di perusahaan cabangnya di Bima maupun di Kantor pusat yang ada di kawasan Segui Lombok Timur. Khusus pegawai dan karyawan yang ada di Bima, mereka bisa melihat Sulastri dari layar besar yang disiapkan di aula perusahaan. Di sampingnya mengapit pak Sahril dan pak Pratama.
Bagas tersenyum melihat Sulastri memperbaiki mikropon di depannya. Sulastri yang kini dilihatnya dilayar, amat berbeda dengan Sulastri yang dulu ia kenal. Ia terlihat begitu elit dengan penampilannya. Ia benar-benar terlihat pantas menjadi pemilik sebuah perusahaan besar.
Bagas menarik kursi plastik di depannya dan meletakkannya di belakang temannya. Ia memilih duduk di bagian paling belakang. Ia merasa malu meskipun hanya melihat Sulastri dari balik layar. Ia menyembunyikan wajahnya di pundak temannya yang duduk di depannya, setiap kali ia merasa pandangan mata Sulastri di dalam layar seperti melihat kepadanya. Ia masih merasa malu. Sulastri yang dulu pernah ia sengsarakan kini telah menjadi atasannya.
"Assalamualaikum warah matullahi wabarakatuh," kata Sulastri memulai pembicaraan.
"Waalaikum salam warah matullahi wabarokatuh," jawab mereka serempak. Sulastri terlihat menghela nafas panjang. Bola matanya bening menatap satu persatu wajah pegawai di depannya.
"Alhamdulillah. Hari ini saya bisa bertemu dengan bapak-bapak sekalian. Saya mewakili Almarhum suami saya, pak Yulian Wibowo beserta segenap pimpinan perusahaan mengucapkan banyak terimakasih atas keinerja bapak-bapak sekalian. Tanpa kalian, perusahaan ini tidak ada apa-apanya. Perusahaan ini maju berkat usaha dan rasa memiliki dari bapak-bapak sekalian. Oleh karnanya, kami para pimpinan sepakat untuk membuat kebijakan baru terkait kesejahteraan bapak-bapak. Tunjangan kesehatan bapak-bapak beserta keluarga, serta tunjangan pendidikan untuk anak-anak, akan kami tambah mulai bulan ini." Terdengar tepuk tangan riuh dari semua pegawai. Beberapa orang terdengar berteriak penuh semangat.
"Hidup, Bu Sulastri. We love you, Bu,"
Sontak suasana menjadi riuh dengan suara tepuk tangan dan yel-yel hidup Sulastri. Sulastri tersenyum dan terdiam menunggu suasana menjadi tenang kembali.
"Kami sudah menunjuk Rumah sakit ternama sebagai mitra kami untuk berobat bapak-bapak sekalian bersama keluarga." terdengar lagi suara gemuruh tepuk tangan.
"Kami akan berikan yang terbaik menurut hasil dari kerja bapak-bapak. Jika bapak-bapak amanah dan hasil dari mutiara kita semakin bertambah, maka kami juga akan amanah menjaga kesejahteraan bapak-bapak," lanjut Sulastri.
"Siap, Bu, "teriak salah seorang penuh semangat. Sulastri menoleh ke arah pak Sahril. Pak Sahril tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Saya kira hanya ini yang bisa saya sampaikan. Saya ucapkan selamat bekerja untuk bapak-bapak. Jangan lupa tetap menjaga keselamatan dalam bekerja. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan oleh Allah Swt. Amin. Sekian, assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka serempak mengakhiri pertemuan siang itu. Mereka membubarkan diri dan kembali ke tempat kerja masing-masing.
* * * * *
Sulastri menoleh ke arah Rahima yang berjalan di belakangnya. Ia menarik tangan Rahima hingga sejajar dengan dirinya. Ia mendekatkan kepalanya ke telinga Rahima.
"Bagaimana pidatoku, Rahima," bisik Sulastri. Rahima tersenyum dan mengangkat jempolnya.
"Luar biasa. Lihat saja bagaimana mereka bertepuk tangan, Bu," kata Rahima. Wajah Sulastri tiba-tiba terlihat cemberut.
"Sekali lagi panggil aku ibu, kamu saya pecat," kata Sulastri. Rahima tersenyum.
"Ok, maaf. Kamu hebat Sulastri," kata Rahima. Ia kembali mengangkat jempolnya.
"Pak Sahril, kita makan siang dimana," kata Sulastri. Ia menoleh ke belakang.
"Kita akan makan siang bersama seluruh karyawan, Bu. Mereka sudah menunggu kita di ruang makan," kata pak Sahril. Ia mempercepat langkahnya hingga berada di samping Sulatri. Sulastri mengangguk dan menuju ke tempat yang ditunjukkan pak Sahril.
__ADS_1