
Nyai Indrawati mendudukkan Qurratul Aini di sisi tempat tidur. Ia kemudian segera menutup pintu kamar. Qurratul Aini masih terdiam dengan tatapan hampa menatap lantai kamar. Sebelah pipinya nampak memerah akibat tamparan keras Tuan Guru Faeshal. Tak ada tangis yang keluar. Tubuhnya benar-benar khusyu' dalam diamnya.
Nyai Indrawati mendekat dan duduk di samping Qurratul Aini. Ia mendekatkan tubuh Qurratul Aini dan menyandarkannya di tubuhnya. Kepala Qurratul Aini diciumnya lembut.
"Maafkan ayahmu, Nak. Mungkin dia lagi khilaf." Nyai Indrawati mendesah. Qurratul Aini tersenyum sekedarnya.
"Gak apa-apa, Bu. Anak memang harus mendengar apa kata orang tua. Anak tak boleh membantah sekalipun ia benar," kata Qurratul Aini. Ia tersenyum ketus. Pandangannya kini lemah ke arah dinding kamar. Nyai Indrawati mengusap pelan rambut Qurratul Aini. Sebagai seorang ibu, ia mencoba mendalami apa yang kini sedang dirasakan anaknya. Sejak suaminya menjodohkannya dengan Tuan Guru Izzul Islam, senyum Qurratul Aini yang sebelumnya ceria, kini berubah hambar. Dia tahu, Qurratul Aini berusaha untuk menerima perintah ayahnya. Dan ia tahu saat ini putri semata wayangnya itu sedang tersiksa batinnya.
"Nak, ceritakan ibu apa yang ingin kamu ceritakan."
Qurratul Aini menoleh. Masih dengan menyandarkan kepalanya di tubuh Nyai Indrawati, Ia menatap Nyai Indrawati lemah. Ia tersenyum. Senyum putus asa. Sekalipun ibunya mengerti apa yang ia rasakan saat ini, tapi ia tak punya daya apa-apa seperti dirinya. Selama ini ia berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan, sebab tak ingin bebannya ikut ditanggung ibunya. Tapi perasaan seorang ibu selalu lebih dulu mengerti tanpa harus diberitahu.
"Memangnya ibu bisa membantu?" tanya Qurratul Aini. Ia kembali tersenyum. Nyai Indrawati membalas tatapan Qurratul Aini. Kedua matanya berbinar-binar. Air matanya lebih dahulu keluar ketimbang mengeluarkan kata-kata. Ia mendekap erat tubuh Qurratul Aini. Qurratul Aini benar. Ia juga tak akan bisa berbuat apa-apa. Tapi setidak-tidaknya, ia berharap, dekapannya bisa sedikit menenangkan hati Qurratul Aini.
"Ibu memang tidak bisa membantumu, Nak. Kamu sendiri tahu bagaimana sifat ayahmu. Ibu tahu kamu tak menginginkan perjodohan ini." Nyai Indrawati mengangkat kepala Qurratul Aini. Ia menatap lekat mata Qurratul Aini dengan berlinang air mata. Rambut Qurratul Aini yang terurai acak di rapikannya. Ia mendesah panjang. Pasrah.
"Lakukan apa yang menurutmu terbaik, Nak. Ibu akan menutup mata dan telinga ibu. Lakukan jika itu menurutmu benar dan dapat kamu pertanggung jawabkan. Ibu tidak mau melihatmu tak bahagia," kata Nyai Indrawati. Qurratul Aini terdiam menatap ibunya. Seperti hendak mempertegas kata-kata ibunya. Nyai Indrawati mengangguk kecil dan tersenyum. Qurratul Aini memeluk tubuh Nyai Indrawati. Air matanya yang sedari tadi tak ingin dikeluarkannya akhirnya tumpah. Ia menangis sesenggukan. Keduanya larut dalam tangis.
__ADS_1
Malam telah beranjak larut. Suasana sepi menyelimuti.
Di halaman belakang rumah makan Zamora. Di tempat biasa. Di gazebo paling ujung, nampak pak Efendi, pak Jamal dan Jeri sedang menikmati malam panjang mereka. Dari tempat mereka duduk, beberapa pelayan yang bertugas malam terlihat asik berkaraoke sambil berjoget. Alunan musik dangdut yang mendayu merayu pak Jamal untuk ikut menggoyang-goyangkan kepala dan tubuhnya. Jeri yang dipaksa menemani mereka sejak isya' tadi terlihat menguap ngantuk. Ia belum punya kesempatan untuk meminta ijin pergi. Takut mengganggu keasikan keduanya. Entah, sejak bertemu dengan Rianti selepas jumat tadi, ia mulai tak nyaman duduk berlama-lama dengan keduanya.
"Ayo, habiskan minumannya, Jeri," kata pak Efendi sambil menepuk keras paha Jeri. Jeri yang tak menyadari sebelumnya dibuatnya kaget.
"Cukup, Pak. Ee...," Jeri menatap wajah keduanya bergantian dalam remang malam. Ia masih ragu.
"Pak, jika sudah tidak ada lagi yang akan saya lakukan, saya ijin istirahat. Besok saya harus kerja, Pak," kata Jeri memberanikan diri setelah beberapa lama terdiam ragu.
Kembali pak Efendi menepuk pahanya.
"Kamu masih punya hutang sama saya, Jeri. Delapan puluh juta yang kamu ambil belum sepadan dengan informasi yang kamu berikan. Kapan kamu berhenti, keputusannya ada di tanganku," kata pak Jamal setelah menenggak minuman yang dituangkan Jeri. Jeri mendesah pelan. Rupanya pak Jamal sudah tahu gelagatnya ingin berhenti dari pekerjaannya.
"Tapi, Pak,"
"Gak ada tapi-tapian. Kamu pulangkan dulu uangku yang dua lima juta. Baru kamu boleh pergi," kata pak Jamal. Ia terlihat kesal. Jeri menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi, bapak harus janji, bapak tidak akan melibatkan saya dalam urusan ini," kata Jeri. Pak Jamal tersenyum.
"Jika kamu terus ikuti perintahku, itu jaminan saya untuk tidak melibatkanmu. Kamu boleh pegang janjiku," kata pak Jamal. Ia menoleh ke arah pak Efendi yang masih asik menggoyang-goyangkan kepalanya. Jeri mengusap wajahnya. Ia tak tahu bagaimana meyakinkan dirinya bahwa pak Jamal benar-benar bisa memegang kata-katanya.
"Jam berapa pak Efendi. Apa kita sudah bisa memulai pertunjukannya?" tanya pak Jamal. Pak Efendi mengangkat tangan kirinya dan melirik ke jam tangannya.
"Sudah jam tiga. Saya rasa sudah waktunya, Pak," kata pak Efendi. Pak Efendi segera mengambil ponsenya. Ia lalu memeriksa beberapa video dalam galeri ponselnya. Ia tersenyum.
"Kita buatkan judul apa ini, Pak Efendi," kata pak Jamal. Pak Efendi terdiam beberapa saat. Dia tersenyum.
"Anak seorang pengusaha mesum," kata pak Efendi sambil menjentikkan jarinya. Pak Jamal tertawa terbahak-bahak.
"Ok, kalau begitu mari kita saksikan bersama-sama peluncuran roketnya. Mulai berhitung dari tiga," kata pak Jamal antusias. Ponselnya ia lepas di bawah sehingga Jeri dan pak Efendi bisa melihatnya. Ia lalu menekan tombol berbagi pada layar ponsel. Setelah menemukan nomor whatsup Rianti, ia menatap keduanya.
"Tiga, dua, satu," kata pak Jamal dan pak Efendi serempak. Jeri hanya terdiam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Penyesalannya sudah terlambat. Dia terlalu gegabah memberikan video itu kepada pak Jamal. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Rianti. Dia merasa berdosa. Entah, bagaimana perasaan Rianti nanti ketika melihat video itu. Nasi sudah menjadi bubur. Dia tak punya daya menghentikan pak Jamal dan pak Efendi. Video itu sudah terkirim. Bangsat kamu, Jeri! Umpatnya dalam hati.
"Mampus kamu, Rianti. Begitu kamu terbangun, kamu akan menangis dan bersimpuh meminta tolong," teriak pak Jamal kegirangan penuh kepuasan.
__ADS_1
Pak Efendi menuangkan minuman ke dalam tiga gelas di depan mereka. Pak Jamal dan pak Efendi serempak mengangkatnya. Jeri hanya terdiam. Pak Jamal menendang kaki Jeri.
"Angkat gelasmu, kita bersulang," kata pak Jamal. Dengan sangat terpaksa, Jeri mengangkat gelasnya lemah dan menyatukannya dengan gelas milik pak Jamal dan pak Efendi.