KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#226


__ADS_3

Tuan Guru Izzul Islam menghentikan mobil yang dikendarainya tepat di depan sebuah bendungan yang di kiri kanannya tampak persawahan tak berujung. Hanya ada jalan setapak yang mengarah ke sebuah perkebunan sekitar tiga ratus meter dari tempat mobilnya berhenti. Baik Tuan Guru Izzul Islam, Jamila maupun Rianti sama-sama tertuju pandangannya ke arah rumah kecil di depan perkebunan itu. Tidak ada rumah lagi setelah sekitar dua kilo masuk melewati gang di jalan besar tadi. Mereka semua yakin, rumah yang ada di perkebunan itu adalah rumah inak Nurmah.


"Ayo, Nak, itu rumah ibu. Kita harus jalan kaki,"kata inak Nurmah. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Ia memberi isyarat agar Rianti dan Jamila turun. Keduanya pun turun dari mobil dan membukakan pintu untuk inak Nurmah.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia mulai merasa risih. Memandang rumah itu dari tempatnya berdiri kini, sudah cukup membuat miris perasaannya. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya ketika langkah kakinya semakin dekat dengan rumah itu. Air matanya terasa seperti berkumpul di kelopak matanya.


Dengan sangat hati-hati mereka mulai menuruni jalan setapak itu. Hingga ketika mereka sudah sampai di depan rumah, baik Tuan Guru Izzul Islam, Rianti maupun Jamila sama-sama menitikkan air mata. Perempuan setua inak Nurmah, dengan anak yang sedang sakit, tinggal di rumah berdinding batu bata mentah yang sudah miring. Atap-atap rumah itu pun terlihat banyak yang jatuh dan berserakan di halaman rumah. Pemandangan lebih memiriskan terlihat saat inak Nurmah membuka pintu rumah. Hanya seutas tali yang dililitkan di daun pintu dan diikatkan di paku yang menancap di kusen pintu. Melihat ke bagian atas rumah yang sudah kehilangan banyak gentengnya, tak bisa dibayangkan bagaimana jika hujan turun.


Inak Nurmah kemudian mengajak mereka ke sudut kamar. Ia kemudian menyibak kelambu di depannya dan memperlihatkan seorang perempuan yang berbaring di atas tempat tidur. Yang terlihat jelas hanya bagian kepalanya. Tubuhnya ke bawah terlihat rata karna kurusnya. Ketiganya terdengar beristighfar melihat keadaan Zulhiyani yang mengenaskan. Tuan Guru Izzul Islam merasa malu dengan apa yang menempel di tubuhnya. Merasa malu dengan kecukupan-kecukupan dan nikmat yang diterimanya, sedangkan di depannya kini, perbedaan mencolok itu seperti menampar wajahnya.


Zulhiyani terlihat membuka matanya perlahan ketika inak Nurmah memegang tangannya. Rianti yang berada tepat dalam pandangan Zulhiyani menarik tangan Tuan Guru Izzul Islam ke sampingnya. Mata Zulhiyani terlihat semakin melebar ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam berdiri sembari tersenyum di depannya. Terlihat jelas ada yang berbeda dari air mukanya, bibirnya yang bergerak dan pancaran kebahagiaan dari cahaya matanya yang tertimpa cahaya yang masuk dari luar. Rianti mendekat. Kepala Zulhiyani di usapnya lembut. Zulhiyani menoleh. Rianti tersenyum.


"Kita ke rumah sakit ya? Suhaini dan Nur Jamila titip salam buat kamu. Kami ingin kamu balik lagi ke pesantren, mengabdi seperti dulu lagi," kata Rianti. Zulhiyani menatap Rianti lekat. Seperti ada yang hendak dikatakannya. Rianti kembali tersenyum.


"Aku Rianti, istrinya Tuan Guru. Kita ke rumah sakit ya?" kata Rianti. Zulhiyani terus menatapnya. Air matanya terlihat keluar. Kedua bibirnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Rianti mendesah dan mengeluarkan tisu dari dalam tasnya. Ia kemudian mengusapkannya ke wajah Zulhiyani. Di samping Jamila, inak Nurmah terlihat terisak-isak. Jamila berusaha menghiburnya.


Rianti menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam dan mendekat.


"Mau atau tidak mau, kita harus segera membawanya ke rumah sakit, Kak Tuan. Ibu sudah tua. Kasihan jika harus merawat anaknya sendirian, " bisik Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk.


"Itu yang memang aku pikirkan. Ini kewajiban kita untuk merawatnya. Aku akan menghubungi Zaebon untuk membawa mobil kesehatan pesantren kesini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan melangkah keluar. Karna Azka mulai tak nyaman di dalam rumah, Jamila mengikuti Tuan Guru Izzul Islam keluar.


Rianti menoleh ke arah inak Nurmah. Setelah menatap beberapa wajah tua yang masih lekat memandang wajah anaknya. Rianti mendekatinya.

__ADS_1


"Bu, ibu juga ikut kami ya. Ibu tinggal dulu di rumah kami. Selama dik Zulhiyani dirawat di rumah sakit, kami akan memperbaiki rumah ibu agar lebih layak ditempati," kata Rianti.


"Gak usah, Nak. Disini ibu cuma numpang sama mantan kepala desa sini. Ini bukan rumah saya,Nak. Suami saya dulu disuruh jaga kebun ini,sekaligus diijinkan untuk menempati rumah ini," kata inak Nurmah.


Rianti terdiam. Air matanya terlihat mengalir. Di saat ia bersama keluarga besarnya hidup serba berkecukupan, di saat fakir miskin dan anak yatim ia kumpulkan untuk disantuni, sosok inak Nurmah luput dari perhatian mereka. Tim yang telah dibentuk oleh almarhum Sulastri untuk mencari keberadaan fakir miskin dan warga yang hidup melarat, tak mendeteksi keberadaan Inak Nurmah.


Rianti mendesah panjang dan mengusap air matanya. Ia kemudian mengusap punggung inak Nurmah sembari tersenyum.


"Kalau begitu, ibu gak boleh nolak. Dik Zulhiyani akan kami bawa berobat dan ibu akan tinggal bersama kami,"


"Jangan, Nak. Ibu malu,"kata inak Nurmah. Pandangannya diarahkan ke wajah Zulhiyani.


"Gak usah malu,Bu. Percuma kami bangun panti asuhan dimana-mana kalau ternyata masih ada orang seperti ibu yang keadaannya memprihatinkan. Kami tidak mau berdosa di sisi Tuhan karna tak bisa membantu ibu padahal kami mampu."


"Bagaimana, Kak Tuan,"


"Aku sudah menghubungi Zaebon. Aku juga sudah menyuruhnya membawa beberapa orang santri untuk membantunya mengangkat Zulhiyani.


"Apa kamu sudah mengajak ngomong ibu?"


Rianti mengangguk sambil tersenyum.


Setelah beberapa jam menunggu, mobil yang dikendarai Zaebon terlihat berhenti di ujung jalan. Tuan Guru Izzul Islam segera keluar dan memberi isyarat agar Zaebon memutar mobilnya. Suhaini, Nur Jamila terlihat keluar dari mobil bersama tiga orang santri putra, termasuk Abdul khalik. Mereka segera bergegas menuju rumah itu setelah Tuan Guru Izzul Islam melambaikan tangannya.

__ADS_1


Suhaini dan Nur Jamila spontan menangis histeris ketika melihat keadaan Zulhiyani. Keduanya tak pernah menyangka, Zulhiyani yang dulunya cantik dan memiliki bentuk tubuh paling bagus di asrama, tiba-tiba mereka lihat telah berubah begitu mengenaskan. Nyaris tak bisa mereka kenali jika saja mereka tak mengenali inak Nurmah sebelumnya. Dengan pelan keduanya mencium wajah Zulhiyani.


"Suhaini, Nur Jamila, Ayo, kita segera membawa Zulhiyani ke mobil. Kita akan membawanya ke rumah sakit. Nanti kalian akan punya banyak waktu bersama Zulhiyani, karna kalian berdualah yang akan menjaganya, " kata Rianti. Suhaini dan Nur Jamila mengangguk. Keduanya kemudian memberikan ruang untuk Abdul khalik, Zaebon dan dua orang santri lain untuk mengangkat tubuh Zulhiyani dan membawanya menuju mobil.


* * * * *


Tuan Guru Izzul Islam urung menyalakan mesin mobilnya ketika suara ponsel di saku baju kokonya berdering. Zaebon yang sepertinya masih menunggunya, disuruhnya untuk jalan lebih dulu.


"Kamu langsung ke klinik ya, Bon. Sebentar lagi kami menyusul," kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk dan langsung memutar mobil. Mobil itu kemudian bergerak meninggalkan tempat itu.


"Inna lillahi wa inna ilayhi roji'un," ucap Tuan Guru Izzul Islam ketika usai membaca pesan masuk di ponselnya. Rianti dan Jamila saling pandang.


"Siapa yang meninggal, Kak Tuan?" tanya Rianti.


"Cristian, suaminya Qurratul Aini. Menantunya Tuan Guru Faeshal yang muallaf itu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Baik Rianti maupun Jamila sama-sama mengucap kalimat istirja'.


"Kapan meninggalnya?" tanya Jamila.


"Barusan saja. Sekitar jam 11. Penyakit sama kayak almarhum ibu. Pecah pembuluh darah," jawab Tuan Guru Izzul Islam.


"Terus bagaimana ini, Kak Tuan." Tanya Rianti.


"Kita ke Klinik dulu menyelesaikan urusan Zulhiyani. Setelah itu kita bisa langsung kesana. Kita shalat dhuhur di klinik saja,"kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia lalu memasukkan ponselnya dan menyalakan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2