KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#162


__ADS_3

Shalat berjamaah sudah selesai dilaksanakan. Para tamu undangan yang sudah datang sejak maghrib tadi memilih tetap berdiam di masjid pesantren menunggu acara akad nikah dimulai. Suasana benar-benar terlihat ramai. Para santri terlihat antusias menyaksikan momen yang telah lama mereka tunggu. Setelah sekian lama, akhirnya Tuan Guru Izzul Islam melangsungkan pernikahannya. Di halaman masjid, tempat santriwati yang di sekat dari tempat santri putra duduk, terdengar riuh. Bisik-bisik berjamaah mereka seputar pernikahan Tuan Guru Izzul Islam jadi topik hangat yang sesekali membuat riuh suasana. Beberapa santriwati yang ngefans dengan Tuan Guru Izzul Islam jadi bahan olok-olokan teman-temannya.


"Mohon kepada para hadirin, tamu undangan yang kebetulan sudah berada di pesantren, untuk segera menempati tempat yang telah disediakan di dalam masjid. Insya Allah, acara akan segera kita mulaikan." Terdengar suara MC memanggil lewat pengeras suara. Suasana riuh perlahan mulai tenang. Beberapa orang santri senior terlihat mengarahkan tamu undangan yang masih berkumpul di pintu gerbang untuk segera masuk ke dalam masjid.


Tuan Guru Izzul Islam, di dampingi Fahmi dan Abdul khalik di samping kiri dan kanannya, nampak berwibawa dengan memakai jubah warna hijaunya menaiki masjid. Di belakangnya, Rianti dengan memakai gaun berwarna biru dan jilbab biru motif batiknya memegang erat tangan Sulastri dan Farida yang mendampinginya. Aura kecantikan yang dipancarkan wajahnya, membuat terpana orang-orang yang melihatnya. Kilatan jepretan kamera dari berbagai arah, menyilaukan mata.


Langit di atas pesantren terlihat cerah. Dengan jelas, bintang-bintang di atas sana memperlihatkan kilau indahnya dengan latar belakang langit gelap. Angin bertiup semilir. Seakan-akan tak menginginkan keringat mengotori wajah dan tubuh kedua pengantin.


Baik Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam tak henti-henti melafalkan hamdalah. Apa yang keduanya rasakan kini adalah sesuatu yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Hanya para pecinta yang cintanya telah dipersatukan yang mampu merasakannya. Bukankah hal terindah yang dirasakan pecinta adalah ketika cintanya dapat disatukan?


* * * * *


Tangan Tuan Guru Izzul Islam bergetar saat pak Sahril, yang dulu pernah dititipkan pesan dari Yulian Wibowo untuk mewakilkannya menjadi wali Rianti bila kelak terjadi sesuatu, menggenggam erat tangan Tuan Guru Izzul Islam. Setelah mengambil nafas panjang, Pak Sahril menatap mantap Tuan Guru Izzul Islam.


"Saudara Lalu Izzul Islam bin Tuan Guru Liwaul Hamdi. Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Rianti binti Yulian Wibowo, yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda  dengan mas kawin seperangkat pakaian shalat dan uang satu juta lima ratus ribu rupiah dibayar tunai.” Dengan cepat Tuan Guru Izzul Islam menghentak tangannya.


"Saya terima nikahnya Rianti binti Yulian Wibowo dengan maskawin seperangkat pakaian shalat dan uang satu juta lima ratus ribu rupiah dibayar tunai,"


"Sah! sah ! sah !


Teriak hadirin yang hadir ketika Tuan Guru Izzul Islam menyelesaikan akad qabulnya. Segenap hadirin yang hadir serempak mengucapkan hamdalah. Sontak suasana yang tenang kembali riuh. Suara tepuk tangan terdengar dari arah santriwati duduk. Air mata Rianti menetes. Begitu juga Sulastri yang duduk di belakangnya. Akhirnya, tuntas sudah penantian Tuan Guru Izzul Islam selama lima belas tahun. Kesabarannya kini membuahkan hasil yang setimpal. Allah tak akan mengingkari janji-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang bersabar atas segala ujian yang ditimpakan-Nya. Allah juga tak menimpakan suatu ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Terlalu tergesa-gesa mengeluhlah, yang membuat seorang hamba menyerah dan akhirnya menggugat qada' dan qadar Allah. Dan tak akan ada yang ia dapatkan selain dosa dan akhir yang tak baik.


* * * * *


Tuan Guru Izzul Islam, Rianti dan Nyai Mustiani melambaikan tangan mereka ke arah mobil Sulastri yang mulai meninggalkan gerbang rumah. Mereka tetap berdiri hingga mobil itu sudah tak terlihat lagi dari pandangan mereka. Suasana seketika menjadi sepi setelah beberapa jam tadi, teras rumah Tuan Guru Izzul Islam begitu ramai oleh jamaah yang ingin mengucapkan selamat. Kado-kado hadiah dari tamu undangan menumpuk rapi di memenuhi meja yang telah dipersiapkan di teras rumah. Angin terasa semilir berhembus membawa aroma hujan. Abdul khalik yang baru saja selesai membereskan gelas-gelas di atas meja teras rumah, segera turun dan berdiri menundukkan kepalanya ketika Nyai Mustiani, Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam berjalan menuju rumah.


"Lik, kamu istirahat ya. Buah-buahan dan kue-kue yang ada di atas meja itu kamu bawa saja ke kamarmu," sapa Nyai Mustiani ketika lewat di depan Abdul khalik. Abdul khalik menganggukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam menyempatkan diri memegang pundak Abdul khalik. Abdul khalik tersenyum. Setelah ketiganya masuk ke dalam rumah, ia kembali ke teras rumah. Setelah memasukkan buah-buahan dan sisa kue di atas meja, ia melangkah menuju kamarnya.


Jam di dinding telah menunjukkan pukul 1 malam. Rianti yang terlebih dahulu mampir di kamarnya Nyai Mustiani keluar di temani Nyai Mustiani menuju kamar Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


Nyai Mustiani mengetuk kamar Tuan Guru Izzul Islam. Tak menunggu lama, Tuan Guru Izzul Islam membuka pintu. Ia tersenyum ketika melihat Nyai Mustiani dan Rianti berdiri di depan pintu.


"Maaf jika ibu menahan istrimu sebentar. Tadi dia ibu suruh untuk menemani ibu makan malam di kamar. Kalau kamu belum makan, biar Rianti yang menyiapkanmu,"kata Nyai Mustiani. Rianti tersenyum tersipu malu.


"Gak usah, Bu. Saya masih kenyang," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Kalau begitu, Rianti saya kembalikan lagi. Ibu mau panggil Jamiladan Suhaini dulu untuk menemani ibu tidur. Ayo, Nak, Kamu masuk sana," kata Nyai Mustiani sembari mendorong pelan tubuh Rianti. Rianti tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam mundur beberapa langkah dan memberi jalan Rianti masuk. Nyai Mustiani tersenyum. Pintu kamar Tuan Guru Izzul Islam ditutupnya.


Aroma wangi parfum khas Tuan Guru Izzul Islam memenuhi ruangan. Wangi parfum pavorit Rianti. Wangi yang selalu ingin ia hirup saat sebelumnya selalu teringat Tuan Guru Izzul Islam. Rianti masih berdiri di depan pintu ketika Nyai Mustiani telah menutupnya satu menit yang lalu. Ia masih malu melangkah dan bingung harus melakukan apa. Tubuhnya nyaris tak bergerak. Ia hanya menundukkan kepala dengan keringat yang mulai berkumpul di keningnya. Dia masih menunggu Tuan Guru Izzul Islam menyapanya. Dia merasa masih menjadi orang asing di tempat itu. Hanya satu patah kata sapaan yang saat ini ia tunggu dari mulut Tuan Guru Izzul Islam.


Begitu juga dengan Tuan Guru Izzul Islam. Ia masih tetap berdiri di posisinya semula. Dia masih tak bisa mengeluarkan sepatah kata untuk sekedar berbasa-basi menyambut kedatangan Rianti. Rianti benar-benar terlihat anggun dengan gamis dan jilbab warna birunya. Mata Tuan Guru Izzul Islam hanya bisa melirik ke arah wadah berisi air yang berada tepat di samping Rianti berdiri.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia merasa sudah terlalu lama berdiri dengan diam panjangnya. Ia harus memulainya karna tentu saat ini, Rianti merasa malu, canggung dan mungkin saja takut memulai malam pertamanya bersama laki-laki asing yang kini jadi suaminya. Dia sebagai empunya rumah harus bisa membuat Rianti mulai merasa memiliki ruangan itu malam ini.


Tuan Guru Izzul Islam mendekat. Dada Rianti berdebar. Jantungnya berdegup kencang ketika Tuan Guru Izzul Islam membungkukkan tubuhnya. Wadah berisi air yang telah ia persiapkan sebelumnya, diangkatnya. Ia menggeser tubuhnya dan kini ia berhadap-hadapan dengan Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang. Berusaha menghilangkan rasa kikuknya. Ia menatap Rianti.


Tuan Guru Izzul Islam mengambil kembali wadah yang ada di tangan Rianti dan meletakkannya di depan kedua kaki mereka. Tuan Guru Izzul Islam kemudian memasukkan kedua kakinya ke dalam wadah. Setelah itu, ia menyuruh Rianti melakukan hal yang sama. Rianti tersenyum. Suasana yang diciptakan Tuan Guru Izzul Islam perlahan membuatnya mulai merasa terbiasa. Tuan Guru Izzul Islam membalas senyuman Rianti. Setelah membaca Basmalah dan shalawat, wadah air kemudian diangkatnya lagi. Ia lalu melangkah ke setiap sudut kamar dan memercikkannya dengan air di dalam wadah. Setelah selesai, ia lalu mendekati Rianti. Tangan Rianti kemudian dipegangnya dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.


"Apa yang kita lakukan tadi adalah anjuran untuk pengantin baru. Dalam sebuah kitab diterangkan, hal semacam ini dapat menghilangkan kejelekan dan gangguan setan," jelas Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mengangguk setelah mendengarkan penuh khidmat.


"Sekarang, berwudhu'lah. Kamar mandinya ada di sebelah," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari menunjuk ke arah kamar mandi di sudut kamar. Ia seperti sudah menemukan kembali ketenangannya. Rasa gugupnya masih ada, tapi tidak sebesar sebelumnya. Rianti mengangkat tubuhnya pelan dan melangkah menuju kamar mandi.


Setelah keduanya selesai berwudhu', Tuan Guru Izzul Islam mengajak Rianti menuju mushalla kecil di sudut kamar yang lain. Dengan penuh kekhusyuan, Rianti mengikuti Tuan Guru Izzul Islam bertakbir memulai shalat. Air mata syukurnya mengalir pelan di pipinya. Ia merasa, inilah kehidupan bahagia yang sebenarnya. Suasana indah yang membawa jiwanya keluar dari wadak kasarnya menuju ke sebuah ruang tak terjamah. Yang ada hanyalah kebesaran Allah.


"Alhamdulillah," desah Tuan Guru Izzul Islam setelah selesai dari shalatnya. Ia membalikkan badannya perlahan menghadap Rianti. Tapi ketika melihat Rianti sedang khusu' dalam doanya, ia kembali membalikkan badannya.


Tangis Rianti berderai sembari berdoa dalam hati.


..."Ya, Allah. Terimakasih atas karunia yang telah Engkau berikan kepadaku dan keluargaku. Malam ini aku sudah menuntaskan salah satu sunnah nabi-Mu. Dan semoga dengan pernikahan ini aku lebih bisa menjaga mata dan kehormatanku. Tuntunlah hamba untuk menyempurnakan separuh agama hamba....

__ADS_1


...Ya, Allah. Aku mungkin tak bisa seperti Rabiah adawiyah yang memutuskan tak menikah karna tak mau membagi cintanya kepada-Mu dengan selain-Mu. Tapi aku berharap, dengan menjadi seorang istri seorang yang berkhidmat untuk agama-Mu, cintanya akan membawaku kepada cinta-Mu yang seutuhnya....


...Ya, Allah. Pemilik Jiwaku. Ampunilah semua dosa dan kesalahanku di masa lalu. Jika masih ada hukuman dari kesalahanku di dunia yang belum aku jalani, berlakukanlah ketentuan-Mu untukku. Aku tak mau kelak tersandera menuju cinta-Mu Hanya karna kesalahan yang belum tuntas hukumannya. Tak ada tempatku memohon selain kepada-Mu. Dan tidak ada Tuhan Selain-Mu."...


Rianti menutup doanya dengan mengusap kedua telapak tangannya di wajahnya. Isak tangisnya terdengar oleh Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Rianti tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam membalikkan badannya dan menghadap Rianti.


"Kamu menangis? Kamu merindukan ibumu?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menggeleng dan tersenyum. Ia memberanikan diri menatap Tuan Guru Izzul Islam.


"Aku menangis karna rasa syukurku telah menyempurnakan separuh agamaku," jawab Rianti mantap. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang sembari tersenyum.


"Alhamdulillah," desahnya.


"Bismillahi wassalamu ala rasulillah. Assalamualaikum," ucap Tuan Guru Izzul Islam lagi setelah sejenak beradu pandang dengan Rianti.


"Wa alaikum salam," jawab Rianti. Tuan Guru Izzul Islam lalu mengangkat kedua telapak tangannya.


"Aminkan doaku," ujarnya. Rianti mengangguk dan mengangkat kedua tangannya.


"Ya, Allah, limpahkanlah berkah-Mu kepada kami di dalam keluarga kami, dan berkahnya kepada keluarga kami di dalam kami. Ya, Allah, limpahkanlah rizki-Mu kepada mereka dari kami dan Rizki-Mu kepada kami dari mereka. Limpahkanlah pula rizki-Mu kepada kami atas kerukunan serta cinta mereka. Dan limpahkanlah rizki-Mu kepada mereka atas kerukunan serta kecintaan kami, dan berilah saling mencinta kepada sebagian kami dengan sebagian yang lain. Amin."


Tuan Guru Izzul Islam mengakhiri doanya. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat hingga kedua lututnya beradu dengan kedua lutut Rianti. Dia mengucapkan salam lagi. Setelah itu, ia meletakkan tangan kanannya diatas kening Rianti sambil membaca doa.


Dada Rianti bergemuruh ketika Tuan Guru Izzul Islam mengarahkan bibirnya ke arah lehernya. Tubuhnya bergetar hebat. Ia menahan nafasnya seraya mendongak memejamkan matanya ketika Tuan Guru Izzul Islam menyibak mukena yang menutupi lehernya. Terdengar lafadz Ya Raqibu di ucapkan Tuan Guru Izzul Islam tujuh kali sembari meniupkan nafasnya ke leher Rianti.


"Fallohu khairun hafidzon wahuwa arhamur rahimiyn,"


Tuan Guru Izzul Islam menutup kembali mukena Rianti. Ia menatap ke arah Rianti yang masih terdiam memejamkan matanya. Kepala Rianti dipegangnya lembut dan perlahan mencium keningnya. Rianti perlahan membuka matanya. Ia langsung saja menundukkan pandangannya ketika melihat wajah Tuan Guru Izzul Islam benar-benar dekat dengan wajahnya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia memegang kedua tangan Rianti dan mengajaknya menuju tempat tidur.


Suasana di dalam kamar seketika menjadi gelap ketika Tuan Guru Izzul Islam mematikan lampu. Suasana di dalam kamar tampak hening. Semua seperti membisu memberi ruang kepada dua insan yang sedang memadu kasih. Rintik-rintik hujan terdengar di atas atap rumah. Tak beberapa lama kemudian, hujan terdengar kembali turun dengan derasnya. Derasnya hujan seperti sedang memalingkan perhatian malam dari penyatuan cinta Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti.

__ADS_1


__ADS_2