KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#242


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama Tuan Guru Izzul Islam di rumah Nyai Indrawati. Karna Qurratul Aini adalah seorang janda, maka untuk tiga hari ke depannya, ia akan berada bersama Qurratul Aini sebelum menggilir kedua istrinya yang lain.


Setelah selesai makan malam bersama Qurratul Aini dan Nyai Indrawati, Tuan Guru Izzul Islam mengajak Qurratul Aini keluar sebentar untuk mengunjungi makam Tuan Guru Faeshal dan Cristian. Usai berdoa, ia mengajak Qurratul Aini berjalan-jalan melihat keadaan asrama santri yang kosong. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang ketika sinar senter ponselnya memperlihatkan keadaan bekas asrama yang hampir seluruh dindingnya menghitam akibat lumut. Sebagian lagi, dindingnya sudah tertutup oleh tanaman liar merambat. Beberapa lembaran kitab menumpuk bersama pecahan-pecahan genteng yang jatuh dari atas bangunan.


"Besok pagi-pagi, kita harus menyuruh beberapa orang untuk membersihkan asrama ini. Kita juga akan memasangkan lampu-lampu agar keadaan di sini tidak terlalu gelap," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah kembali dari memeriksa keadaan asrama di depannya. Qurratul Aini menganggukkan kepalanya.


Tuan Guru Izzul Islam kemudian mengajak Qurratul Aini mendekat ke mushalla yang terletak di tengah-tengah Asrama.


"Bagaimana pendapatmu jika tempat ini kita hidupkan lagi untuk orang tua-orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seorang hafiz dan hafizah?" kata Tuan Guru Izzul Islam sambil membalikkan badannya menghadap Qurratul Aini. Qurratul Aini tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.


"Semua aku serahkan kepada Kak Tuan,"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Kita tidak melakukannya karna tuntutan jamaah yang tidak ingin pondok pesantren yang berfaham sunnah di rubah ke faham yang menurut mereka tidak sunnah karna kamu menikah denganku. Kita hanya ingin meminimalkan konflik di antara kita sesama Muslim. Jangan sampai hanya karna perbedaan yang bersifat Furu', kita harus bermusuhan satu sama lain," kata Tuan Guru Izzul Islam. Qurratul Aini mendesah panjang.


"Aku tidak memikirkan apa kata mereka, Kak Tuan. Aku hanya ingin suasana keagamaan di tempat ini hidup kembali. Ini adalah kebahagiaanku yang paling besar,"


Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Pundak Qurratul Aini dipegangnya lembut.


"Untuk sementara, Rianti dan Jamila bisa bergilir membantumu sampai kami menemukan penghafal-penghafal Al-qur'an untuk menetap dan mengajar di sini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Pandangannya di arahkan ke arah asrama-asrama yang gelap dan mulai ditumbuhi semak-semak dan tanaman liar.


Qurratul Aini menatap Tuan Guru Izzul Islam dari belakang.


"Kak Tuan," kata Qurratul Aini. Nada bicaranya terdengar ragu. Tuan Guru Izzul Islam kembali membalikkan badannya.

__ADS_1


"Ada apa, Dik Aini,"


Qurratul Aini mendesah panjang. Ia ragu mengatakan sesuatu yang tiba-tiba muncul di benaknya ketika Tuan Guru Izzul Islam langsung mengajaknya melihat-lihat suasana di dalam asrama.


"Ee..., Tidak ada apa-apa, Kak Tuan. Lupakan saja," kata Qurratul Aini. Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan keningnya. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Qurratul Aini.


"Jangan malu untuk mengatakan apapun kepadaku, Dik Aini." Tuan Guru Izzul Islam memegang kedua pundak Qurratul Aini.


"Sebagai suami istri, tak baik saling menyembunyikan aatu sama lainnya. Katakanlah," lanjut Tuan Guru Izzul Islam sembari tersenyum meyakinkan Qurratul Aini.


Qurratul Aini tersenyum sambil menggeleng kecil.


"Ini bukan sesuatu yanv penting, Kak Tuan. Hanya sebuah pertanyaan konyol yang tak seharusnya di tanyakan orang dewasa," kata Qurratul Aini. Ia menundukkan kepalanya. Tatapan Tuan Guru Izzul Islam membuatnya malu.


Qurratul Aini menghela nafas panjang. Dia merasa sudah tidak bisa mengelak lagi. Dia harus mengatakan walaupun apa yang akan dikatakannya benar-benar tidak penting.


"Apakah karna ini, eee...Kak Tuan menikahiku?"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia menatap mata Qurratul Aini lekat. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah asrama.


"Itu pertanyaan remaja yang baru saja menikah. Pertanyaan itu sudah tidak berlaku bagi kita yang sudah berumur. Terlepas aku mencintaimu karna apa, itu tidak masalah. Yang jelas aku dan kamu sama-sama punya tujuan yang jelas. Menegakkan kalimat Allah di muka bumi semampu kita. Itulah yang akan membuat kita akan abadi sebagai pasangan suami istri hingga akhirat kelak. Ketika niat kita sudah baik, maka niat itu akan mengantar rumah tangga kita menuju rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah. Terlepas pada awalnya di dasari cinta atau tidak." Tuan Guru Izzul Islam berhenti sejenak.


"Nabi menikahi sembilan orang perempuan bukan semata-mata karna nafsu. Diantara istri-istri Nabi itu hanya Aisyah yang berstatus gadis, yang lainnya adalah janda. kata Tuan Guru Izzul Islam.


Qurratul Aini menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa malu dengan jawaban Tuan Guru Izzul Islam. Jawaban Tuan Guru Izzul Islam seperti telah menampar wajahnya dengan sangat keras.

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam lebih mendekat. Kata-katanya membuat Qurratul Aini menjadi malu dan terus menundukkan kepalanya. Tak mau melihat Qurratul Aini jadi serba salah, Tuan Guru Izzul Islam memeluknya erat. Jantung Qurratul Aini berdegup kencang. Kehangatan tubuh Tuan Guru Izzul Islam menyingsingkan rasa malu di hatinya. Ia saat ini merasa dalam perlindungan dan keamanan penuh. Tak perlu lagi malu. Tuan Guru Izzul Islam kini adalah suaminya.


"Ayo, udara di sini terlalu dingin. Sudah waktunya kita masuk," bisik Tuan Guru Izzul Islam di telinga Qurratul Aini. Qurratul Aini mengangguk. Dia membalas erat pegangan tangan Tuan Guru Izzul Islam ketika Tuan Guru Izzul Islam merangkulnya. Keduanya kemudian melangkah keluar dari asrama.


* * * * *


Di tempat lain, Fahmi masih terlihat tertegun menatap ke arah bunga tabebuya yang bermekaran di halaman rumah. Allah telah menjawab doa istikharahnya dengan diterimanya lamaran Tuan Guru Izzul Islam oleh Qurratul Aini. Dan dia merasa senang dengan itu. Walaupun ia sendiri, dengan prinsipnya yang tak mengenal pacaran, mungkin tak akan bisa menemukan gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Dia hanya bisa berharap dan tak punya keberanian untuk mencari sendiri. Biarlah ia akan menunggu seperti halnya Tuan Guru Izzul Islam yang telah menunggu selama lima belas tahun hingga dipertemukan dengan Rianti. Dia berharap, harapannya itu kelak akan jadi kenyataan dengan terkabulnya doanya untuk mendapatkan istri yang shalehah.


Malam beranjak larut. Kesiar angin sesekali terdengar menyapu dedaunan pohon. Langit terlihat gelap. Awan hitam yang menelingkupi permukaan langit, menutupi bintang gemintang. Rintik-rintik hujan terdengar turun. Tak beberapa lama kemudian, hujan turun dengan derasnya.


Jamila dan Rianti masih duduk saling pandang di ruang tamu sambil mendengarkan suara hujan yang begitu deras di luar rumah. Sudah jam 11 malam dan mereka sama-sama tak bisa tidur. Ada sesuatu yang sepertinya tidak ada di rumah itu. Sejak makan malam tadi, suasana rumah terasa begitu sepi.


Ada canda dari Tuan Guru Izzul Islam yang hilang malam ini. Waktu-waktu dimana Tuan Guru Izzul Islam meluangkan waktu panjangnya bersama keduanya. Mendongengkan keduanya kisah-kisah sasak kuno yang penuh hikmah, ataupun membacakan keduanya beberapa kisah dalam kitab usfuriyah. Dalam sifat kalem dan diamnya, sesekali Tuan Guru Izzul Islam mengeluarkan joke-joke yang membuat keduanya tertawa. Padahal baik Rianti dan Jamila sudah terbiasa di tinggal sampai larut malam. Tapi kali ini, agak begitu berbeda. Mungkin karna jaraknya yang jauh dan baru tiga hari kemudian Tuan Guru Izzul Islam akan pulang.


Jamila mendesah dan menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Rianti.


"Kayaknya lebih enak kalau Aini tinggalnya di sini. Aku kok kangen Kak Tuan," kata Jamila. Rianti tersenyum. Ia menepuk paha Jamila. Rianti mendesah panjang.


"Sama. Tapi kayaknya kita harus membiasakan diri. Kita tak mungkin menyuruh dik Aini tinggal di sini. Dia punya pondok pesantren yang harus ia bangkitkan dan awasi. Sabar, dua hari lagi, kak Tuan pasti pulang. Dia harus adil menggilir semua istrinya," kata Rianti. Jamila mengangguk.


"Atau begini saja. Kalau mau ramai, kita ke kamarnya Inak saja. Sekalian tengok Azka," kata Jamila.


"Memangnya Inak masih bangun?" tanya Rianti. Jamila tak menjawab. Ia langsung bangkit dan menarik tangan Rianti.


"Kalau gak salah, tadi Suhaini di suruh inak untuk menggoreng biji jagung muda. Mereka pasti belum tidur," kata Jamila sambil terus menarik tangan Rianti mengajaknya menuju kamar belakang.

__ADS_1


__ADS_2