
Malam mulai beranjak larut. Bulan terlihat bundar, benderang mengeluarkan cahaya putihnya di ufuk timur. Pancaran sinarnya berkilauan di dedaunan pohon pisang yang berkibar tertiup angin.
Rahima dan Sulastri masih terbaring dengan wajah saling menghadap satu sama lainnya. Kepala mereka bersandar di atas satu bantal guling yang sama. Dalam satu selimut, tubuh keduanya meringkuk, bersembunyi dari dinginnya malam.
Sinar rembulan yang masuk lewat jendela yang terbuka, menerangi sebagian ruangan.
Mereka berdua enggan memejamkan mata. Rembulan almanak 23 qomariyah yang semakin meninggi, seperti hendak mempercepat putusnya kebersamaan antara keduanya. Saat kebebasan yang dinantikan Sulastri, harus dihadapkan pada kenyataan harus meninggalkan sahabatnya tetap menjalani hari-hari kelamnya bersama Rahima. Sahabat yang ia kenal beberapa hari ini, namun ia anggap sudah seperti saudaranya sendiri. Membayangkan ia akan pergi dan meninggalkan Rahima tetap di tempat itu, membuat Sulastri enggan memejamkan matanya. Ia ingin menghabiskan malam ini bersama Rahima hingga waktu kepergiannya subuh nanti.
"Lastri, kamu tahu?, impian terbesarku dalam hidup ini adalah memiliki keluarga yang mencintaiku?. Sejak kecil, aku telah kehilangan orang tuaku. Bibiku yang diberi amanat ibuku untuk merawatku, lebih memilih menitipkanku di pantai asuhan." Rahima menghela nafas panjang dan menghempaskannya pelan. Ia seperti berusaha menahan air mata yang hendak keluar. Sulastri memegang pundaknya, mencoba menguatkan.
Rahima melanjutkan kata-katanya.
"Beranjak remaja, kira-kira umur 13 tahun, aku kabur dari pantai asuhan. Aku gak kuat dengan hafalan pelajaran agama yang diwajibkan pengurus. Bibiku marah dan tak menerimaku pulang ke rumah. Aku diusirnya." Rahima kembali mendesah. Kenangan pahit masa lalunya bermunculan runut, tak bersisa sedikitpun, hadir dalam ingatannya. Seperti baru saja terjadi.
"Hingga di suatu malam, ketika aku nyasar ke sebuah terminal, para preman di sana menculikku dan memperkosaku beramai-ramai. Aku pingsan, dan ketika aku tersadar, aku mendapati diriku berada di sebuah lokalisasi. Mereka menjualku. Dan jadilah aku pelacur yang paling dicari lelaki hidung belang.
lama-lama aku menikmati masa-masa itu. Aku mulai marah jika ada penghuni baru yang mencoba mengambil gelarku sebagai penghuni lokalisasi paling ngetop di tempat itu. Jobku mulai berkurang seiring banyaknya saingan baru. Maka segala cara telah aku lakukan untuk membuat wajah dan tubuhku paling menarik. Termasuk melakukan operasi. Hingga pada suatu hari, aku menyadari telah berhutang banyak tapi tidak punya uang untuk melunasinya. Aku bertemu dengan mami Zelayin. Katanya ia tertarik dengan wajah dan bentuk tubuhku. Mungkin di tempat lokalisasi sebelumnya aku sudah tidak laku, tapi untuk sopir yang haus ****, aku masih layak jadi primadona. Mami Zelayin melunasi semua hutangku, dan aku sudah membayar sebagiannya pada mami Zelayin. Tapi sayang, seiring dengan usia yang semakin bertambah, mami Zelayin menurunkan harga ke harga paling rendah." Rahima tersenyum.
"Bayangkan, dulu aku punya harga 5 juta untuk short time. Sekarang hargaku hanya lima ratus ribu untuk waktu yang tak terbatas. Sepuas pelanggan," Rahima berbalik dan tidurnya berubah terlentang menghadap langit-langit kamar. Sulastri tak berkedip menatap Rahima. Kisah Rahima menyadarkan dirinya, bahwa masih ada yang bernasib lebih buruk darinya. Ia tak mau menyela cerita Rahima. Ia ingin sahabatnya itu mengeluarkan segala isi hatinya sebelum ia pergi meninggalkannya.
Rahima menoleh. Dia tersenyum melihat Sulastri yang masih setia dengan posisi tidurnya.
__ADS_1
"Kamu mendengarkanku?" tanya Rahima. Sulastri menganggukkan kepalanya.
"Lanjutkan, aku ingin mendengarnya lagi," bisik Sulastri sambil mengusap rambut Rahima.
"Tidak ada lagi, Lastri. Kisahku berakhir di tempat ini dan di tempat kemana saja mami Zelayin membawaku." kata Rahima putus asa. Tak terasa air mata Sulastri mengalir.
"Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Sejak mengenalmu, aku kembali punya cita-cita, walaupun itu sangat mustahil," Sulastri menghentikan kata-katanya dan mengganti posisi berbaringnya. Seperti Rahima, ia kini terlentang menghadap ke langit-langit kamar.
"Kalau boleh tahu, apa cita-citamu?" tanya Rahima. Ia telah lama menunggu Sulastri melanjutkan kata-katanya.
Sulastri menoleh dan meraba tangan Rahima. Ia lalu memegangnya erat.
"Jika aku memiliki uang lima puluh juta, maka aku akan menghabiskannya untuk melunasi hutangmu. Itu saja. Setelah itu aku tak punya keinginan apa-apa lagi. Bisa makan dua kali saja bersama anak-anakku, bagiku sudah cukup,"
"Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan mengatakan seperti itu, Lastri. Seolah-olah itu benar-benar terjadi. Saat kamu mengatakan itu, aku merasa benar-benar telah terbebas dari semua masalahku. Ya, Allah, Lastri, bagaimana caranya agar aku bisa ikut denganmu. Sejujurnya aku ingin ikut, tapi aku tak bisa."
Isak tangis keduanya terdengar menyayat malam. Mendiamkan riuh jangkrik dan suara binatang malam lainnya.
"Tak bisakah kamu kabur dari tempat ini?" jawab Sulastri di sela-sela isak tangisnya. Rahima menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Lastri. Mereka akan memburuku dan aku akan melibatkanmu. Aku sudah menanda tangani perjanjian dengan mami Zelayin terkait hutangku. Aku tak bisa kemana-mana, Lastri." Rahima melepaskan pelukannya. Ia mengusap air matanya. Setelah itu bergantian mengusap air mata Sulastri.
__ADS_1
"Sudah, aku seharusnya tidak bersedih berlebihan seperti ini. Kita harus kuat. Sudah menjadi hukum alam, kita semua pada akhirnya akan berpisah," kata Rahima mencoba menguatkan dirinya dan juga Sulastri.
Suara tarhim terdengar lamat-lamat dari kejauhan. Rahima mengajak Sulastri berdiri. Dia merapikan rambut dan pakaian Sulastri. Setelah itu, ia melangkah menuju almari kecil di dekatnya. Dia seperti mengeluarkan sesuatu dari balik lipatan pakaian di rak lemari.
"Ini, bawalah, ada sisa belanja yang aku sisihkan untuk perjalananmu nanti. Tidak banyak, hanya sekedar untuk makanmu," kata Rahima. Ia membuka telapak tangan Sulastri dan memasukkan beberapa lembar uang kertas kusut.
"Tidak, Rahima, tabunglah dan gunakan untuk keperluanmu," kata Sulastri menolak.
"Aku masih bisa makan walaupun tetap ikut mami Zelayin. Uang itupun tidak cukup membayar hutangku sekalipun aku menabungnya selama tiga tahun. Pakailah,kamu akan membutuhkannya nanti," paksa Rahima.
"Sekarang, ayo, aku antar kamu ke kamarmu."
Sulastri hanya bisa mendesah. Keduanya pun turun dan melangkah menuju pondok Sulastri.
Satu kilatan sinar senter mengenai wajah keduanya ketika hendak menaiki tangga pondok Sulastri. Mami Zelayin terlihat berdiri di keremangan malam.
"Ayo, cepatlah berbenah," tegurnya dari kejauhan.
"Rahima, bangunkan yang lain. Selain yang ku sebut namanya tadi malam, harus meninggalkan tempat ini." Perintah mami Zelayin pada Rahima. Rahima urung masuk menemani Sulastri. Ia berbalik dan mulai membangunkan penghuni pondok yang masuk daftar pergi hari itu.
* * *
__ADS_1
Dengan langkah berat, Sulastri berjalan menuju gerbang. Rahima masih mengikutinya dari belakang. Sebuah pisau dapur yang ia sembunyikan di salah satu tangannya, di pegangnya erat. Ia melangkah cepat menyusul Sulastri.
"Lastri!"...