
Malam semakin beranjak larut. Suara detak jam dinding terdengar menghentak merajai hening malam. Di dalam kamar pribadi Qurratul Aini.
Masih dengan mengenakan mukenanya, Qurratul Aini membaringkan tubuhnya di atas sajadahnya. Wajahnya yang tadinya kaku penuh dengan pikiran, kini terlihat sedikit melunak. Ada jawaban yang telah ia dapatkan selepas shalat beberapa rakaat tadi. Hatinya yang cendrung lebih tenang, mengisyaratkan bahwa keputusan yang kini dipegangnya, adalah jawaban yang akan mengarahkannya kepada sebuah keputusan tentang masa depannya.
Qurratul Aini menoleh ke arah photo Cristian yang bersandar di meja rias. Ia tersenyum dan bangun. Ia lalu melangkah menuju meja rias. Photo Cristian diambilnya. Setelah menciumnya, photo itu didekapnya erat dalam pelukannya. Ia kemudian kembali berbaring di atas sajadahnya, masih memeluk erat photo itu.
Cristian tidak akan pernah tergantikan di dalam hatinya. Laki-laki yang dulu telah mengenalkannya kepada dosa cinta, bermaksiat panjang hingga ia melupakan larangan-larangan agama. Benar apa yang dikatakan Mawlana Jalaludin Rumi; Setiap agama memiliki cinta, tapi cinta tak memiliki agama. Cinta telah membutakan hatinya sehingga dosa dan maksiat yang ia lakukan bersama Cristian saat itu telah membuatnya malas mengerjakan perintah agama dan menjauhi larangannya. Walaupun sesekali waktu, Cristian menampakkan sedikit toleransinya dengan menegurnya untuk shalat jika adzan terdengar berkumandang.
Tapi ia bersyukur, dengan mengenalnya, Cristian akhirnya mengenal Islam dan memutuskan untuk memeluknya. Ketaatan beragamanya bahkan melebihi ketaatan orang-orang yang telah memeluknya secara turun temurun. Bahkan ia sendiri yang notabenenya adalah putri seorang Tuan Guru besar. Kecintaannya kepada agama barunya telah membuatnya berpikir panjang di setiap harinya, bagaimana agar ia bisa berguna bagi agama yang dipeluknya. Termasuk menghidupkan dan memakmurkan pondok pesantren peninggalan almarhum Tuan Guru Faeshal. Itulah kini yang semakin menambah ketenangan hatinya untuk mengambil keputusan yang tadinya ia anggap sangat berat. Lebih kepada pertimbangan untuk kebaikan.
Qurratul Aini mengarahkan pandangannya menerawang ke langit-langit kamar sembari tersenyum. Seakan-akan kini ia sedang melihat bayangan Cristian tersenyum di atas sana. Seperti memberi semangat bahwa apapun keputusannya, Cristian akan mendukungnya. Photo Cristian semakin didekapnya kuat.
Tak terasa waktu telah membawanya ke permulaan fajar. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar merdu. Menyegarkan kembali matanya yang sempat menutup sebab kantuk.
Qurratul Aini mengangkat tubuhnya pelan. Photo Cristian dipegangnya sambil terus menatapnya. Senyumnya yang terus mengembang, mengiringi langkahnya menuju ke meja rias. Sesampainya di depan meja rias, photo Cristian di ciumnya lama, tepat di keningnya. Setelah puas, ia kemudian meletakkan kembali photo Cristian di tempatnya.
Qurratul Aini mendesah panjang. Diliriknya ponsel yang tergeletak di ujung meja. Setelah menganggukkan kepalanya satu kali, ia meraih ponsel itu. Keputusan sudah dibuatnya. Ponsel pun sudah ada di tangannya. Tinggal kemantapan hatinya untuk memencet tombol huruf demi huruf di layar ponsel dan mengirimkannya kepada Rianti. Sebelum adzan subuh berkumandang, pesan itu sudah harus diterima oleh Rianti. Dia pasti sedang menunggu itu. Dia sendiri tak mau berlarut-larut bimbang memikirkan masalah yang keputusannya murni di tangannya. Dia sudah meminta fatwa kepada hatinya. Dan detak terdalam hatinya telah memberinya kemantapan untuk memilih satu diantara dua pilihan.
Qurratul Aini menarik kursi plastik di depan meja riasnya. Ia kemudian menghempaskan tubuhnya perlahan. Tangannya mulai menekan tombol demi tombol huruf di layar ponselnya. Setelah menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sejenak, Qurratul Aini mantap mengirim pesan yang ia buat kepada Rianti.
Setelah itu, ia meletakkan kembali ponselnya dan bangkit. Mukena yang dipakainya kemudian dilepaskannya dan melangkah keluar dari kamar untuk mengambil air wudhu'.
* ** * *
Rianti segera bergegas memasang mukenanya ketika Tuan Guru Izzul Islam mengumandangkan iqomah untuk memulai shalat subuh berjamaah. Ketika ia bersiap-siap menempati sajadahnya, nada pesan singkat terdengar di atas meja. Itu nada dering ponsel miliknya. Ia lupa mengecilkan volumenya.
__ADS_1
"Sebentar, Kak Tuan. Aku matikan ponsel dulu. Takut nanti ada yang manggil dan mengganggu shalat kita," kata Rianti sambil melangkah ke arah meja. Ada pesan singkat dengan nama Qurratul Aini sebagai pengirimnya. Rianti menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila yang masih berdiri menunggunya. Karna penasaran, Rianti membuka pesan dan membacanya. Rianti tersenyum lalu meletakkan kembali ponselnya setelah mengecilkan volumenya. Ia pun segera bergegas menuju tempat shalatnya dengan senyum yang terus terkulum.
* * * * *
"Jamila, duduk dulu. Ada berita bagus dan menggembirakan yang akan aku sampaikan," kata Rianti setengah berbisik, setelah bersalaman usai wirid. Tuan Guru Izzul Islam yang langsung mengambil kitabnya, mulai membuka lembar demi lembar kitabnya. Keduanya lalu duduk mengapit Tuan Guru Izzul Islam.
Rianti membuka ponsel yang ia ambil dari atas meja. Setelah membacanya sejenak untuk memastikan bahwa yang ia baca tadi sebelum shalat subuh memang benar, ia mendesah panjang sambil mengangkat ponselnya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum wr wb.
Yang terhormat Nyai Rianti." Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Jamila mendengarkan dengan seksama sambil menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Guru Izzul Islam. Ia tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Tuan Guru Izzul Islam memperhatikan Rianti.
"Setelah meminta pendapat kepada ibu, juga meminta petunjuk kepada Allah dengan hasil yang menenangkan di dalam hatiku, maka dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha penyayang, aku meminta kebaikan dari keputusanku menerima lamaran Tuan Guru.Semoga dengan niat kita yang tulus untuk mencari ridha Allah melalui pernikahan, Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita. Amin."
Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan keningnya. Ponsel di tangan Rianti diambilnya. Ia lalu membacanya. Ia kembali menoleh. Rianti tersenyum.
"Kenapa aku harus mendesaknya, Kak Tuan. Tadi malam, kami hanya menyuruhnya untuk memikirkannya. Lihat saja pesannya, semua adalah karna petunjuk Allah. Walaupun terkesan terlalu cepat, tapi aku yakin Qurratul Aini cukup memikirkannya setengah malam saja," kata Rianti.
" Bagaimanapun kami menolak, jika Qurratul Aini telah ditentukan Allah sebagai jodoh Kak Tuan, Qurratul Aini tetap akan menjadi istri Kak Tuan. Semuanya telah direncanakan Allah. Tak ada yang bisa membantah atau menghalanginya," kata Jamila. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang seraya menganggukkan kepalanya.
"Lantas, apa yang harus aku lakukan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mencolek manja dagu Tuan Guru Izzul Islam. Ia mengangkat kepalanya. Ia melirik ke arah Jamila.
"Pura-pura tidak tahu, atau saking senangnya," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Jamila menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan senyum gelinya melihat ekspresi Tuan Guru Izzul Islam saat melihat Rianti.
"Ini tugas Kak Tuan untuk mencari hari baik. Selanjutnya serahkan kepada kami," kata Rianti.
__ADS_1
"Berarti, besok kita akan bersih-bersih kamar yang ada di sebelahnya kamar Inak Nurmah untuk kamar dik Aini," kata Jamila.
"Bukan seperti itu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti dan Jamila menatap ke arahnya.
"Jika Allah menjodohkanku dengan Qurratul Aini, maka Qurratul Aini akan tinggal bersama Nyai Indrawati. Kita akan membantunya menghidupkan kembali pesantren itu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti dan Jamila mengangguk.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia merangkul tubuh Jamila dan Rianti. Kening keduanya dicium bergantian.
"Terimakasih. Terimakasih. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kalian berdua."
"Amin," kata keduanya serempak.
"Aku mau buat minuman hangat dulu untuk kalian sambil menunggu waktu shalat duha," kata Jamila sembari bangkit dari tempat duduknya. Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti tersenyum.
"Jangan lupa tengok Azka. Mungkin sudah bangun," kata Rianti ketika Jamila sudah berada di depan pintu.
"Kalau gak ada yang mengetuk pintu, pasti ia sedang diajak jalan-jalan sama inak Nurmah," jawab Jamila. Ia pun keluar dari kamar.
Rianti menoleh dan tersenyum ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Kedua telapak tangan Tuan Guru Izzul Islam digenggamnya.
"Kak Tuan, sudah lama sekali aku tidak menziarahi kuburnya mama. Setelah acara, aku ingin mengajak Azka kesana," kata Rianti.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Kita akan kesana bersama-sama. Kita juga akan melaksanakan santunan anak yatim sekitar untuk almarhumah mama," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum.
__ADS_1
* * * * *
Matahari bersinar cerah. Suara kicau burung pipit dan burung gereja terdengar ramai mengisi suasana pagi. Lantunan shalawat yang dinyanyikan bersama-sama oleh Rianti dan Jamila di sela-sela aktifitas pagi mereka di dapur.