KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#108/ Lima Belas Tahun Kemudian


__ADS_3

Hari berganti hari. Tak terasa tahun demi tahun telah terlewati. Kenangan demi kenangan yang telah berlalu telah tertelan zaman yang begitu cepat berubah.


Di sebuah rumah besar bercat biru.


Sulastri mengusap rambutnya ke belakang. Agak lama ia memandangi kerutan di keningnya. Bergantian memperhatikan uban yang juga terlihat di rambut bagian depan. Sulastri mendesah. Genap 50 tahun sudah usianya kini. Tak terasa waktu terus berlalu. Hari ke hari semakin terasa begitu pendek. Pun juga malam. Sulastri kini merasa sudah berada di masa, dimana ia mulai merasa lelah. Beban-beban masa lalu dan berbagai aktiftas kesibukan yang telah ia jalani bertahun-tahun, sudah waktunya ia lepaskan. Ia merasa amanah dan segala cita-cita almarhum Yulian Wibowo sudah ia laksanakan semampunya hingga mencapai puncak paripurna. Usianya kini yang sudah masuk kepala lima, membawanya kepada sebuah kerinduan. Kerinduan untuk berjumpa dengan Yulian Wibowo.


Di rumah yang besar itu kini ia merasa kesepian. Rayhan dan Farida, keduanya telah beranjak remaja dan memilih mengikuti jejak Fahmi menuntut ilmu di pondok pesantren Qudwatusshalihin asuhan Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi sendiri sedang menyelesaikan pendidikan S1 nya di Universitas TGH. El-Nuh, yang berada di bawah naungan pondok pesantren qudwatusshalihin. Dia kini jadi orang kepercayaan Tuan Guru Izzul Islam.


Rahima, sahabat karibnya telah meninggal dunia lima tahun yang lalu. Di susul pak Ahmad setahun kemudian. Di pos jaga, kini hanya ada pak Bayan dan sopir pribadinya pak Mustarah serta Masku, keponakan pak Bayan, yang ikut diajak pak Bayan menemaninya di pos jaga. Empat tahun lalu, pak Bayan meminta dinikahkan dengan Munawarah. Lahan di belakang rumah sudah ia bebaskan dan sudah ia bangunkan beberapa rumah dinas untuk para pegawainya yang belum memiliki rumah. Hanya pak mustarah yang sudah menempati rumah dinas itu. Pak Bayan sendiri tetap ia suruh tinggal di rumah utama dan menempati ruang di samping rumah bersama istrinya, Munawarah.


Perusahaan yang kini dipimpinnya telah berkembang dengan pesat. Bahkan beberapa cabang usaha kini sudah merambah ke beberapa wilayah provinsi di indonesia. Pencapaiannya kini bahkan jauh melewati kepemimpinan Yulian Wibowo. Tapi ia merasa sudah waktunya melepas beban yang kini dipikulnya. Selepas wisuda nanti, Fahmi akan ia tarik pulang dan menggantikan posisinya. Dan tentu saja, berita paling menggembirakannya saat ini adalah, besok Rianti akan menghirup udara bebas setelah mendapatkan remisi khusus, karna telah berjasa kepada negara selama ia menjalani masa-masa hukumannya. Ia aktif terlibat dalam segala kegiatan di dalam lapas serta berkelakuan baik sehingga menjadi teladan bagi tahanan lain. Dia mendapatkan potongan tahanan selama lima tahun. Dia mengharapkan, Rianti dan Fahmi kelak bisa bersatu dan melanjutkan apa yang menjadi simbol keluarga mereka.


Sulastri tersenyum. Ia sudah tak sabar menunggu pagi. Ia ingin segera menjemput Rianti. Rianti tidak akan kemana-kemana. Rianti akan tinggal di rumah itu bersamanya.


Malam sepi. Hanya terdengar detak jarum jam yang memecah hening. Sesekali terdengar suara batuk bi Aisyah di kamar samping. Sudah jam 12 malam. Sulastri melangkah pelan menuju tempat tidurnya. Setelah sejenak memandang photo Yulian Wibowo, ia merebahkan tubuhnya dan menyembunyikannya di balik selimut hangatnya.


* * * * *


Rianti berdiri terpaku di dalam sebuah ruangan luas bercat biru. Di dalam ruangan terdapat rak-rak panjang berisi kitab-kitab besar dengan tulisan arab. Di atas rak-rak panjang itu, berjejer kaligrafi indah menghiasi dinding ruangan. Entah, tiba-tiba saja ia mendengar seseorang memanggil namanya hingga langkah kakinya terhenti di dalam ruangan itu. Tapi, tak ada siapapun yang ia jumpai dalam ruangan itu. Sepi dan membuat bulu kuduknya berdiri. Apalagi saat pintu ruangan itu menutup sendiri. Hanya ada satu lampu yang menerangi ruangan itu. Dan lampu itu sepertinya sengaja diletakkan di atas salah satu kaligrafi.


Rianti mendesah. Salah satu kaligrafi yang berjejer di dinding di atas rak buku, menarik perhatiannya. Tak seperti kaligrafi lain yang bertuliskan tinta hitam, kaligfari yang satu itu ditulis dengan tinta warna emas dengan ukuran yang lebih besar. Indah sekali. Ditambah lagi dengan pencahayaan yang fokus menyorot ke arah kaligrafi Itu, membuatnya semakin tertarik dan lebih mendekat. Dia memperhatikannya lama seperti sedang melukisnya kembali dalam pikirannya.

__ADS_1


Treeetetet...teet...


Rianti membalikkan tubuhnya. Ia masih menunggu siapa gerangan yang sedang membuka pintu. Nafasnya tertahan dan dadanya berdebar. Suara langkah kaki seperti mendekat ke arahnya.


Seorang perempuan terlihat berdiri di ujung rak. Rianti mengernyitkan dahinya. Ia mencoba melihat dengan seksama sosok perempuan berkerudung tak jauh di depannya itu.


Perempuan itu melangkahkan kakinya pelan ke arah Rianti. Rianti masih terdiam menunggu. Hingga ketika perempuan itu sudah ada di depannya, perempuan itu membuka sorban hijau yang ia gunakan untuk menutupi kepala dan wajahnya.


Rianti tersenyum. Wajah yang tadinya tegang seketika berubah ceria ketika ia melihat wajah perempuan di balik sorban hijau.


"Ibu?" kata Rianti. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum. Sorban hijau yang ada di tangannya kemudian ia kalungkan di leher Rianti. Perempuan itu kemudian memegang tangan Rianti dan mengajaknya keluar tanpa berbicara sepatah katapun.


"Rianti, bangun, Rianti. Rianti."


"Astaghfirullah. Ternyata mimpi," Desah Rianti. Ia lalu bangun. Jamila segera mengambilkannya segelas air dan meminumkannya ke mulut Rianti.


"Kamu mimpi apa sih, kok kedengarannya seperti memanggil-manggil Bu Sulastri,"kata Jamila. Rianti Mendesah. Ia mulai mengingat-ingat kembali mimpi yang baru saja di alaminya.


"Aku mimpi ibu, tapi aneh, ibu kok gak ngomong-ngomong." Rianti melihat ke arah kedua pundaknya.


"Ibu juga mengalungkan sorban hijau di leherku,"

__ADS_1


Jamila tersenyum. Setelah meletakkan gelas minuman di atas meja, ia kembali duduk di dekat Rianti. Jamila mengusap-usap punggung Rianti.


"Itu arti dari kebebasanmu besok, Rianti. Bersyukurlah, karna besok kamu akan menghirup udara kebebasanmu. Sekali-kali, datanglah menjengukku. Aku akan sangat merindukanmu, Rianti," kata Jamila sembari tersenyum. Tapi binar-binar kesedihan di matanya tak mampu menyembunyikan betapa beratnya ia berpisah dengan Rianti setelah sekian lama menjalani hidup di penjara. Rianti meraih tubuh Jamila dan memeluknya erat.


"Bersabarlah, Jamila. Tinggal lima tahun lagi kamu juga akan bebas. Aku tak akan pernah melupakanmu, Jamila. Kamu salah satu orang berjasa dalam hidupku. Jika tidak karna kamu, aku mungkin tidak akan pernah bisa membaca Al-qur'an. Aku akan selalu mengunjungimu. Bersabarlah sampai waktu itu tiba," kata Rianti mengusap-usap punggung Jamila. Jamila menganggukkan kepalanya. Dekapannya di tubuh Rianti semakin erat. Tangis keduanya pecah.


* * * * *


Sementara itu. Di sebuah gazebo, di tepi pantai, pak Efendi dan pak Jamal Wobowo nampak sedang bersandar santai sambil menikmati alunan lagu dari musik yang di stel pengelola pantai. Para pengunjung pantai sudah sedari tadi membubarkan diri. Jam kini telah menunjukkan pukul 3 malam. Pak Efendi menuangkan minuman anggur ke dalam gelasnya dan meneguknya. Rokok yang ada di tangannya di buangnya.


Pak Jamal. Kalau memang benar besok adalah hari kebebasan Rianti, maka kamu adalah orang pertama yang harus terlihat oleh Rianti. Pak Jamal harus bisa membujuk dia agar mau ikut pulang bersamamu. Aku punya rumah besar di kawasan Jerowaru. Rianti bisa tinggal di sana sementara waktu sampai perusahaannya bisa kita rebut kembali dari tangan Sulastri," kata pak Efendi. Pak Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya. Rokok yang ada dimulutnya di hisapnya keras.


"Tentu, itu pasti pak Efendi. Itu sebabnya aku masih bertahan di sini. Bila perlu, besok aku akan berangkat dari sini untuk menjemput Rianti," kata pak Jamal. Ia tersenyum. Ia yakin, kali ini akan berhasil membujuk Rianti.


"Ngomong-ngomong, Perusahaan milik pak Yulian semakin besar saja, pak Jamal. Perempuan itu berhasil menjadikan perusahaan itu membuka cabangnya dimana-mana. Ia benar-benar mengikuti jejak pak Yulian. Bahkan dia berhasil mengalahkan pak Yulian sebagai salah satu orang berpengaruh di wilayah ini," kata pak Jamal. Ia menuangkan minuman ke dalam gelas kosong di depan pak Jamal.


"Ya, aku tidak mengingkari itu. Justru itu yang melecutkan semangatku untuk merebut kembali perusahaan itu. Sampai mati aku tidak akan tenang jika perusahaan itu tidak berhasil aku kuasai,"


Pak Efendi tersenyum.


"Intinya, semua itu bisa terlaksana jika pak Jamal berhasil mempengaruhi Rianti. Ingat, Pak Jamal. Dengan cara yang halus," kata pak Efendi penuh penekanan.

__ADS_1


Pak Jamal menganggukkan kepalanya.


Suara musik perlahan mengecil. Lamat-lamat nun jauh di sana, suara tarhim terdengar menggantikan. Suara kokok ayam juga mulai terdengar bersahut-sahutan. Pak Efendi dan pak Jamal sepakat meninggalkan tempat itu.


__ADS_2