
Qurratul Aini menggeleng lemah. Ia mendesah panjang sambil memejamkan matanya. Hanya gelengan kepala karna ia tak mampu mengucapkannya dengan kata-kata. Terlalu sakit jika harus didengar Cristian. Cristian tertunduk lesu. Ia memukul sisi ranjang beberapa kali. Kepalanya ditengadahkannya ke atas sembari memejamkan mata. Apa yang ia bayangkan sejak Qurratul Aini mengirimkannya pesan singkat untuk bertemu di rumah makan Zamora ternyata tak sesuai harapannya. Ia tak mengerti, hubungan yang sudah berada di ujung tanduk masih saja dibumbui Qurratul Aini dengan pertemuan yang hanya menambah luka di hati. Entah apa yang Qurratul Aini pikirkan saat ini. Gadis itu seperti sedang menyiksa dirinya sendiri.
Qurratul Aini menggeser tubuhnya perlahan ke tengah ranjang. Ia lalu melepas kaos yang dipakainya dan perlahan berbaring terlentang. Ia menoleh ke arah Cristian. Tangan Cristian dipegangnya dan diletakkannya di atas dadanya. Cristian menoleh. Melihat Qurratul Aini terbaring hanya mengenakan BH, Cristian menggelengkan kepalanya. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Qurratul Aini. Dengan masih berlinang air mata, Qurratul Aini kembali menarik tangan Crisrian keras sehingga tubuh Cristian terjatuh di atas dadanya. Cristian segera menarik tubuhnya. Air mata Qurratul Aini berderai deras.
"Ayo, Cristian. Lakukan apa saja yang kamu inginkan. Aku milikmu lahir dan batin sekalipun aku dijodohkan dengan orang lain," kata Qurratul Aini sembari membuka resleting celananya. Cristian tetap menggeleng. Ia memegang tangan Qurratul Aini dan menahannya untuk membuka celananya.
"Tidak, Aini. Ku mohon, Aku mencintaimu bukan karna tubuhmu. Tidak juga karna kecantikanmu. Dengan cara seperti ini, Kamu sungguh telah menambah luka di hatiku," kata Cristian. Kepalanya di dekatkan ke kepala Qurratul Aini, lalu mencium keningnya. Setelah beberapa saat keduanya larut dalam tangis, Cristian mengangkat kepala Qurratul Aini pelan. Ia lalu membantunya bersandar. Sembari berlinang air mata, ia memasangkan kembali baju kaos di tubuh Qurratul Aini. Cristian kemudian memeluk tubuh Qurratul Aini. Keduanya saling berpelukan erat satu sama lain.
"Dalam terangmu aku belajar bagaimana mencintai. Dalam kecantikanmu, bagaimana membuat puisi. Kau menari di dalam dadaku di mana tidak ada yang melihatmu, tapi terkadang aku melakukannya, dan pemandangan itu menjadi seni ini.” Kata Cristian menukil kata-kata Jalaluddin Rumi dan membisikkannya di telinga Qurratul Aini. Qurratul Aini tersenyum. Ia memegang erat tangan Cristian.
"Aku ikhlas jika nantinya aku akan jadi Qais si Majnun. Asalkan kamu hidup bahagia, sudah cukup bagiku untuk mengobati luka karna tak bisa hidup bersamamu. Pulanglah. Sebagaimana yang kamu pernah katakan, belajarlah untuk saling melupakan. Jangan lagi ada pertemuan seperti ini, jika kamu masih tak berani mengubah keputusan ayahmu. Ini semua hanya akan menambah luka di hati kita." Cristian mengusap rambut Qurratul Aini .
"Pulanglah, Aini. Jangan mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja. Pertemuan ini, sungguh lebih menyakitkan dari pada perpisahan berbulan-bulan. Lebih menyakitkan daripada menyadari bahwa aku tidak bisa memilikimu," kata Cristian seperti menguatkan diri.
Perlahan ia melepaskan pegangan tangan Qurratul Aini.
Cristian bangkit dan melangkah pelan menuju pintu. Mulut Qurratul Aini menganga hendak mengatakan sesuatu tapi tak bisa diucapkannya. Tatapan matanya seperti hendak mencegah Cristian pergi.
__ADS_1
Cristian masih berdiri di dekat pintu menatap Qurratul Aini beberapa saat. Berat sekali meninggalkan gadis itu sendirian dalam keadaan menangis seperti itu. Tapi ia berpikir, keadaannya akan semakin parah jika ia harus tetap di sana. Cristian mendesah. Ia memutuskan untuk pergi.
Cristian membuka pintu dan melangkah keluar. Qurratul Aini hanya bisa menatap pasrah dengan tangis yang semakin berderai.
Dengan langkah lemah, Cristian menuruni anak tangga. Berkali-kali ia mendesah. Kesal dan sedih bercampur menjadi satu. Kesal karna Qurratul Aini menyuruhnya ke tempat itu hanya untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan saat bahagia. Bukan saat-saat bersedih seperti itu. Dia menggeleng-geleng. Dia merasa tak pernah merasakan beban seberat harus merelakan orang yang ia cintai menjadi milik orang lain. Langkah kakinya terasa lemas untuk dilangkahkan. Tapi ia tak henti-henti menguatkan hatinya. Tuhan tentu maha adil menyandingkan pertemuan dengan perpisahan. Ia harus belajar memahami dan mengambil hikmah.
* * * * *
Rona senja mulai meredup digantikan gelap yang mulai menyelubungi seantero alam. Alunan merdu adzan maghrib menyambut awal malam Jumat. Menggiring penghuni siang yang telah bersibuk panjang dalam urusan duniawi untuk sejenak mengingat Sang Pemberi Kehidupan.
Hawa panas siang tadi masih tersisa ketika malam tiba. Membuat gerah. Memaksa Sulastri dan Rianti menyalakan AC di dalam kamarnya.
* * * * *
Detak demi detak jarum jam terdengar mengarahkan jarum jam menuju angka larut malam. Seluruh penghuni rumah telah terlelap dalam tidur mereka. Menyisakan Rianti yang masih khusyu' berzikir memutar butir demi butir tasbih di tangannya. Hingga suara dering ponsel menghentikan aktifitasnya.
Rianti bangkit dan melangkah pelan menuju meja di samping tempat tidur. Suara dengkur Sulastri terdengar memecah hening kamar. Wajahnya begitu damai menikmati tidur malamnya.
__ADS_1
Rianti meraih hp di atas meja. Sebuah pesan masuk di Whatsup dibukanya. Pesan dari Fahmi. Rianti tersenyum.
"Kak, ini amalan dari Tuan Guru. Diamalkan setiap shalat ya?
Tak perlu kakak menanyakan manfaatnya. Setiap Asma Allah pasti memiliki rahasia masing-masing.
يالطيف (× 100)
tambahan dari Tuan Guru;
فان عزمت فتوكل على الله
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah."
* * * * *
Rianti tersentak kaget ketika melihat tulisan arab penutup pesan dalam whatsup. Tulisan arab yang terasa Familiar di matanya. Lagi-lagi ia melihat tulisan yang sama hari ini dengan yang pernah ia lihat dalam mimpinya, juga di rumah Tuan Guru Izzul Islam. Apakah ini suatu kebetulan. Apakah ada petunjuk Tuhan yang hendak di sampaikan kepadanya? batin Rianti. Rianti mendesah. Ia tersenyum. Ia mencoba membenarkan hatinya. Tak ada yang aneh dengan apa yang dilihat. Apalagi bermimpi melihat ayat Al-quran. Semua itu adalah alamat yang baik untuknya. Sebuah tanda untuk kebulatan tekadnya memperbaiki diri. Ada baiknya ia kembali berzikir hingga subuh menjelang nanti. Rianti melangkah pelan menuju sajadahnya tergelar.
__ADS_1
Rianti kembali duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Tasbih kembali diambilnya dan mulai membaca amalan yang diberikan Tuan Guru Izzul Islam. Dia merasakan kedama7ian dalam hatinya.
Di tempat lain. Tuan Guru Izzul Islam pun terlihat khusyu' bermunajat di mushalla pribadinya. Malam semakin larut. Jiwa-jiwa yang tak lalai menengadahkan tangan di saat penghuni malam terlelap dalam tidur panjang mereka. Hingga tak terasa, fajar shadiq menyingsing di ufuk timur. Suara tarhim menggema dimana-mana. Alunannya membangunkan alam dari tidurnya.