KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#87


__ADS_3

Petugas jaga telah berdiri di depan pintu. Ia mendehem memotong pembicaraan hangat Sulastri dan Rianti. Sulastri dan Rianti serempak menoleh dan saling pandang dengan tatapan sedih. Beberapa saat tadi mereka berdua terlihat asik berbicara, saling membersihkan wajah masing-masing. Seperti tidak sedang berada di dalam ruang tunggu lapas. Untuk beberapa lamanya, kamar itu terasa seperti rumah mereka sendiri. Damai, tenang dan penuh kehangatan. Sulastri benar-benar memperlakukan Rianti seperti putri kecilnya. Dan sifat manja Rianti tak disadarinya keluar. Dan kini ia merasa berat ditinggalkan Sulastri. Ia benar-benar merasa nyaman dan ingin Sulastri tetap di sana bersamanya.


"Ibu mau pulang?" tanya Rianti lirih. Bola matanya berbinar-binar memancarkan keengganannya berpisah dengan Sulastri. Ia memandang jari-jari kakinya ketika air matanya hendak tumpah.


Sulastri tersenyum. Ia mendekat dan mengangkat wajah Rianti. Ia lalu mencium kening Rianti.


"Besok aku akan datang bersama adik-adikmu," kata Sulastri sembari mengusap pundak Rianti. Rianti mendesah.


"Titip salam buat mereka, sekaligus permintaan maaf saya, Bu. Ceritakan kepada mereka bahwa aku sudah berubah. Aku ingin cepat bebas dan rindu ingin segera bermain bersama mereka," kata Rianti. Dadanya tiba-tiba terasa sesak ketika mengingat malam dimana ia memperlakukan Sulastri dan anak-anaknya seperti binatang. Sulastri memegang dagu Rianti. Tatap mata Sulastri seperti hendak berusaha menyingsingkan rasa bersalah di hatinya.


"Tentu, setiap malam aku akan bercerita tentang kebaikanmu saat ini. Hingga mereka akan selalu bertanya tentangmu. Aku janji, mereka akan aku buat merindukan kepulanganmu," kata Sulastri. Ia lalu memeluk tubuh Rianti dan dibalas Rianti dengan pelukan eratnya. Untuk beberapa lamanya mereka berpelukan diringi dengan isak tangis. Sulastri menepuk-nepuk pundak Rianti, berusaha menguatkan.


"Sudah. Kamu sudah tidak sendiri lagi sekarang. Aku akan sering menjengukmu. Jangan pikirkan yang lain. Fokus ke persidanganmu nanti," kata Sulastri. Ia merapikan pakaian Rianti yang kusut akibat pelukan eratnya.


Sulastri menoleh ke arah jendela ruang dimana Rahima dan pak Mustarah masih berdiri.


"Rahima, ambilkan makanan di mobil," kata Sulastri. Rahima segera bergegas menuju mobil dan tak berapa lama kemudian da sudah kembali membawa rantang ke dalam ruangan.


"Makanlah dan jaga kesehatanmu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, mintalah petugas untuk menghubungiku," kata Sulastri. Ia memberikan rantang berisi makanan kepada Rianti. Rianti mengangguk dan tersenyum. Namun tatapan matanya masih terlihat sedih.

__ADS_1


"Oya, Rianti. Menurut keterangan dari pak Sahril. Hari rabu nanti sidang pertamamu akan dimulai. Kami semua akan datang menemanimu. Kami sudah mempersiapkan pengacara untuk mendampingimu. Yang terpenting saat ini adalah kamu tetap menjaga sikap baikmu selama di penjara," Pesan Sulastri.


"Satu lagi, jika pak Sahril datang berkunjung, minta maaflah. Dia orang kepercayaan papamu yang tetap setia sampai saat ini," sambung Sulastri. Ia kemudian menyodorkan tangannya hendak bersalaman. Rianti meraih tangan Sulastri dan menciumnya. Mereka pun segera keluar ruangan.


"Sering-seringlah datang menjengukku,Bu," kata Rianti melepas kepergian Sulastri. Ia benar-benar terlihat merasa berat Sulastri meninggalkannya. Sulastri yang sudah melangkahkan kakinya menuju mobil terpaksa harus kembali lagi. Ia merasa kasihan dan berat juga meninggalkan Rianti yang seperti enggan berpisah dengannya. Ia kembali mencium kening Rianti dan memeluknya.


"Tentu, Nak. Kamu baik-baik di sini." Sulastri melirik ke arah petugas agar membawa Rianti masuk. Dia tidak mau ketika di dalam mobil, Rianti masih berdiri dengan tatapan sedihnya di sana.


Petugas itu mengangguk dan segera membawa Rianti masuk ke dalam. Beberapa kali terlihat Rianti menoleh saat petugas membawanya masuk. Sulastri mendesah. Ia mendongak ke atas dengan binar-binar mata penuh syukur. Semua yang terjadi tidak ada yang kebetulan. Ada Tangan Sang Pencipta yang telah mengatur setiap kejadian demi kejadian dalam hidup manusia. Dia mulai sadar, kita hanya perlu bersabar ketika menghadapi ujian dari Allah. Di ujung sana, telah dipersiapkan balasan yang setimpal untuk sedikit waktu kita menghadapi ujian itu tanpa keluh kesah. Itu cara Tuhan menaikkan derajat dan kwalitas hamba-Nya. Semua ada hikmah. Jika saja Rianti tidak datang mengacau ke rumahnya malam ini, tentu ia tidak akan menemukan perdamaian dengannya hari ini.


Sulastri membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan menuju mobil.


* * * * *


"Rahima, aku mau tidur dulu. Aku lelah sekali hari ini," kata Sulastri. Ia membaringkan tubuhnya. Rahima meraih kepala Sulastri dan meletakkannya di atas pangkuannya. Ia mulai memeriksa beberapa luka di wajah dan kepala Suastri. Rahima tak mau membahas lagi apa yang telah terjadi sejam yang lalu. Semuanya sudah berakhir sesuai keinginan Sulastri. Ia akhirnya bisa meluluhkan dendam dan kebencian Rianti kepadanya. Sulastri memejamkan matanya setelah beberapa kali menutup mulutnya karna menguap. Rahima hanya menatapnya kagum.


"Kita pulang, Bu?" tanya pak Mustarah.


"Ya, Pak. Kita istirahat dan makan di rumah saja," kata Sulastri masih dengan mata terpejam. Pak Mustarah segera menyalakan mesin mobilnya. Hujan masih mengguyur walaupun tak sederas beberapa jam lalu. Sulastri memegang tangan Rahima.

__ADS_1


"Jangan lupa besok antar anak-anak sekolah. Sudah lama sekali mereka tidak sekolah. Aku mau istirahat dulu besok," kata Sulastri. Rahima mengangguk sembari tersenyum.


Mobil itu melaju pelan menembus hujan yang masih mengguyur. Jalanan terlihat sepi. Para pedagang di emperan toko terlihat mulai menggelar dagangan mereka di bawah guyuran hujan. Suara Tarhim terdengar menyeruak di antara suara berisik hujan. Siang telah berganti malam. Seperti baru saja berkedip dan waktu terasa cepat berlalu. Esok hari, siang akan datang menggantikan malam dengan begitu cepatnya. Dan malam akan datang ketika waktunya telah tiba. Begitu seterusnya. Perjalanan hidup manusia mengikuti waktu. Dan waktu seperti pedang yang tajam. Jika tak digunakan sebaik mungkin, ia akan memotongmu.


Tepat saat adzan magrib berkumandang. Mobil Lycan Hiypersport itu telah sampai di gerbang rumah.


Suara nyaring Farida yang sedang mengaji di ruang sebelah terdengar di antara suara rintik hujan. Sulastri meminta Rahima membawakannya Rayhan ke kamarnya. Setelah puas bermain-main dengan Rayhan, Sulastri kemudian menidurkannya di sisinya berbaring.


* * * * *


Asap rokok terlihat mengepul dari arah sebuah pohon jambu yang tumbuh di halaman samping sebuah rumah kecil berpagar bambu. Bagas baru saja hendak mengetuk pintu ketika terdengar pembicaraan antara istri dan ibu mertuanya. Dia memutuskan untuk berhenti mendengar pembicaraan mereka, karna ia sempat mendengar namanya disebut oleh ibu mertuanya. Ternyata mereka sedang membicarakan dirinya yang sampai saat ini belum bisa membangun rumah sendiri. Rumah kecil milik mertuanya, tempat ia dan istrinya menumpang sementara waktu memang sangat sempit. Hanya ada dua kamar kecil, tempatnya dan tempat adik iparnya tidur. Terkadang, ayah mertuanya harus mengalah tidur di pondok sawah, jika Bagas pulang selama seminggu dari libur kerjanya. Apalagi saat ini istrinya sedang hamil tua.


Dia memilih untuk tidak masuk dan menunggu mereka tertidur di bawah pohon jambu samping rumah. Suara nyamuk yang beterbangan di dekat telinganya tak membuatnya menyerah dan masuk ke dalam rumah. Ia merasa malu dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia memang sudah memikirkan masalah itu jauh-jauh hari. Tidak mungkin ia terus menerus numpang hidup di rumah mertuanya. Tapi ia belum punya banyak uang untuk membeli tanah dan membangun sebuah rumah. Tabungannya saat ini belum cukup untuk itu. Walaupun kini Sulastri sudah jadi orang kaya, ia juga masih memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dari tiga anak yang didapatkannya dari Sulastri. Mungkin saat ini Sulastri tidak butuh lagi uang pemberiannya, tapi ia ingin anak-anaknya tetap merindukannya lewat sesuatu yang akan ia berikan. Sudah lama sekali ia tidak menemui mereka. Jarak antara lombok dan bima yang jauh. Juga kesibukannya bekerja, membuatnya belum punya waktu untuk berlayar pulang menemui mereka.


Bagas mendesah. Puntung rokok di tangannya dibuangnya. Angin malam yaag berhembus mulai terasa dingin. Ia juga mulai merasa mengantuk dan lelah.


Ia menoleh ke arah rumah. Setelah terdiam sejenak menundukkan kepalanya, ia bangkit dan berjalan ke arah pintu rumah.


Terlihat seorang perempuan muda tersenyum ketika melihat Bagas berdiri di balik pintu. Ia mencium tangan Bagas dan mengajaknya masuk.

__ADS_1


__ADS_2