
Sulastri akhirnya turun dari mobil. Farida tak juga terlihat keluar dari dalam warung. Begitupun dengan Rahima yang mengikutinya. Melihat Sulastri turun, Fahmi ikut turun dan segera mengikuti Sulastri dari belakang.
Sulastri menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan warung.
"Bagas?" desah Sulastri. Ia mencoba melihat dengan seksama seorang laki-laki yang keluar dari dalam warung dengan menggendong Farida. Fahmi yang ada di belakangnya pun sontak berlari ke arah Bagas dan memeluknya. Farida memang tidak salah lihat. Laki-laki itu memang benar Bagas. Tapi kenapa ia ada di sini? Batin Sulastri.
"Tuh kan Bu. Ini benar ayah," kata Farida kegirangan dalam gendongan Bagas. Sulastri tersenyum dan lebih mendekat. Ia menyalami Bagas dan mencium tangannya.
"Kenapa sampai ada di sini. Apa kamu mencari anak-anak ke kontrakan?" tanya Sulastri. Bagas menurunkan Farida.
"Aku ke lombok memang untuk menemui anak-anak. Aku kangen." Bagas mendesah. Ia agak berat memberitahukan tujuan lainnya kepada Sulastri.
"Aku juga mau cari kontrakan. Saya kira rumah kontrakanmu dulu masih kosong, ternyata sudah ada yang nyewa," sambung Bagas. Sulastri mengerutkan dahinya.
"Cari kontrakan? Untuk apa? Bukankah kamu kerja di Bima? Apa kamu berhenti kwrja?"
"Ayah, ayah ikut kami saja tinggal di rumah besar. Masih banyak kamar yang kosong," kata Fahmi memotong pembicaraan mereka sebelum Bagas sempat menjawab pertanyaan Sulastri. Bagas tersenyum dan mengusap kepala Fahmi. Ia kembali menatap Sulastri.
"Itu juga yang ingin aku bicarakan,"
"Ayo, naik dulu ke mobil," kata Sulastri.
"Fahmi, Farida. Ayo, naik ke mobil sama bi Rahima," suruh Sulastri kepada Fahmi dan Farida. Rahima meraih tangan keduanya dan mengajaknya ke mobil.
"Tidak, Lastri. Aku bersama Nurul,"
"Nurul? Dimana dia. Kenapa kamu tinggalkan dia,"
Bagas menunjuk ke arah trotoar di seberang jalan. Tampak olehnya seorang perempuan sedang duduk di kursi trotoar jalan.
"Naiklah, kita jemput istrimu," ajak Sulastri. Bagas segera bergegas memasuki mobil.
* * * * *
Bagas membuka pintu mobil ketika mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan Nurul duduk. Nurul mengernyitkan dahinya ketika melihat Bagas keluar dari mobil.
__ADS_1
"Ayo naik, Dik," kata Bagas. Ia mengambil tas di dekat Nurul. Nurul masih terdiam. Ia menengok ke dalam mobil. Sulastri melambaikan tangannya dan tersenyum.
"Ayo, untuk sementara kita numpang dulu sama bu Lastri," kata Bagas. Nurul pun naik. Rahima menggeser tubuhnya dan memberikan ruang duduk untuk Nurul. Fahmi dan Farida sendiri langsung naik di pangkuan Bagas begitu Bagas duduk. Nurul menyodorkan tangannya ke arah Sulastri. Sulastri tersenyum ketika Nurul mencium tangannya.
"Kalian sudah salaman gak sama Bi Nurul," kata Sulastri. Fahmi dan Farida menggeleng.
"Ayo sana, salaman," kata Sulastri. Fahmi dan Farida segera menyalami Nurul.
"Bibik Nurul ini siapa?" tanya Farida. Baik Nurul maupun Bagas terdiam. Keduanya nampak bingung menjawab pertanyaan Farida. Mendengar itu, Sulastri tersenyum. Ia menengok ke arah spion mobil.
"Bi Nurul itu saudaranya ibu," jawab Sulastri tanpa menoleh.
"Saudaranya ibu banyak sekali ya. Ada bi Rahima, bi Rahini, bi Wahyu dan bi minang. Sekarang bi Nurul," kata Fahmi. Farida nampak sedang menghitung dengan jari-jari mungilnya.
"Ada lima, Kak," kata Farida setengah berteriak memperlihatkan jari-jari tangannya. Sontak seisi mobil tersenyum.
Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan gerbang rumah. Mobil langsung saja masuk ketika pak Bayan membuka gerbang rumah. Bagas dan Nurul nampak terkesima melihat rumah besar dengan halaman luas di depannya.
"Ayo, Yah. Ini rumahnya ibu. Besarkan Yah," kata Farida. Bagas tersenyum menganggukkan kepalanya. Sulastri mengajak mereka turun. Bagas memegang tangan Nurul dan mengajaknya menyingkir ke pos jaga. Melihat itu Sulastri mendekat.
Bagas menggaruk-garuk kepalanya.
"Kami di sini saja, Bu," kata Bagas sungkan. Sulastri mendesah. Ia meraih tangan Nurul dan mengajaknya masuk. Fahmi dan Farida menarik-narik tangan Bagas mengajaknya ikut masuk.
"Rahima, siapkan makanan ya. Kita makan sama-sama," kata Sulastri. Rahima mengangguk dan mempercepat langkahnya menuju dapur.
"Pak Bayan dan Pak Ahmad, Kalau belum makan saya tunggu di rumah ya," kata Sulastri ke arah pak Bayan dan pak Ahmad yang berdiri di samping pos jaga.
Bagas menatap Sulastri yang nampak begitu akrab memperlakukan Nurul. Ia jadi malu. Sikap yang ditunjukkan Sulastri benar-benar membuatnya malu.
"Baik, Bu," kata pak Bayan.
* * * * *
Setelah makan bersama selesai. Sulastri mengajak Bagas dan Nurul duduk di teras rumah. Fahmi dan Farida yang dari tadi tak mau lepas dari Bagas menempel di pangkuan Bagas.
__ADS_1
"Bagas, kasih ayahnya istirahat dulu. Ada yang ingin ibu bicarakan juga sama ayah. Nanti kalau ibu sudah selesai bicara, kalian boleh kesini lagi," kata Sulastri ketika keduanya berebut duduk di pangkuan Bagas. Fahmi dan Farida mengangguk dan segera turun dari pangkuan Bagas. Bagas mengusap rambut keduanya.
"Loh, Dik Nurul mau kemana?" kata Sulastri saat Nurul hendak pergi bersama Fahmi dan Farida. Nurul tersenyum. Sulastri memegang tangannya dan menariknya kembali untuk duduk.
"Dik Nurul tetap di sini saja. Jika ada yang ingin dibicarakan Bagas sama saya, Dik Nurul juga harus dengar," kata Sulastri. Nurul tersenyum.
Sulastri mendesah.
"Sekaeang, ceritakan saya. Kenapa tiba-tiba mau cari kontrakan. Apa kamu mau berhenti kerja?"kata Sulastri beberapa saat kemudian. Nurul menoleh ke arah Bagas.
"Saya sebenarnya mau mengajukan diri untuk pindah jika memang tahun ini ada roling di perusahaan," kata Bagas. Ia menundukkan kepalanya. Ia malu. Roling perusahaan adalah wewenang perusahaan. Baik karyawan maupun pegawai tidak berhak menentukan kepindahannya.
"Boleh. Nanti saya bicarakan dengan pak Sahril." Bagas dan Nurul tersenyum. Keduanya nampak begitu senang.
"Mungkin sudah saatnya kami harus pamit. Sebentar lagi malam. Kami takut tidak menemukan rumah kos," kata Bagas.
"Kalian di sini saja dulu. Rumah ini masih muat untuk menampung kalian. Sudah hampir maghrib. Kalian menginap dulu di sini sampai menunggu esok hari.Kasihan istrimu," kata Sulastri. Nurul menatap Bagas. Bagas balas menatap seperti hendak meminta pendapat Nurul. Nurul menganggukkan kepalanya.
"Kalian nanti bisa tidur di kamar belakang. Nanti saya suruh Rahima membersihkannya,"
"Gak usah, Kak. Biar saya yang membersihkannya," sahut Nurul.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Rahini muncul dengan membawa tiga gelas minuman. Sulastri mempersilahkan Nurul dan Bagas minum.
"Atau? Aku punya tawaran untuk kalian. Itu kalau kalian mau,"
"Apa itu, Kak," jawab Nurul.
"Saya punya satu rumah lagi di jalan Cempaka. Rencananya rumah itu akan saya gunakan untuk tempat penampungan anak-anak yatim dan terlantar. Kalian bisa tinggal di sana sambil mengurusi mereka. Jadi kalian tidak perlu repot-repot cari rumah kontrakan. Rumah itu lebih besar dari rumah ini," kata Sulastri. Lagi-lagi Bagas dan Nurul saling pandang, meminta pendapat satu sama lain. Bagas yang merasa tak enak atas kebaikan Sulastri hanya diam. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada Nurul.
"Kami siap, Kak. Terimakasih telah menerima kami di sini, juga atas kebaikan Kak Lastri," kata Nurul. Sulastri tersenyum sembari mengusap pundak Nurul.
"Biasa saja. Ini amanat dari almarhum suami saya. Beliau berpesan agar perusahaan yang beliau tinggalkan tidak hanya terkenal dengan kemajuannya dan cabang dimana-dimana. Tapi terkenal juga dengan kebaikan kepada sesama." kata Sulastri mantap membuat Bagas menundukkan kepalanya.
"Baiklah, jangan sungkan-sungkan. Anggap ini rumah sendiri. Saya mau ke kamar dulu." Sulastri berdiri. Ia memanggil Rahini dan menyuruhnya mengantar Bagas dan Nurul menuju kamar belakang.
__ADS_1