KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#153


__ADS_3

Jam di dinding telah menunjukkan pukul 8 pagi. Gerimis mulai mengguyur sejak subuh tadi. Mendung terlihat rata menelingkupi langit. Aktifitas pagi hanya terlihat pada beberapa petani yang terlihat sibuk di tengah sawah mereka. Ada yang sedang memperbaiki saluran air. Ada juga yang terlihat memperbaiki pematang sawah mereka. Sepanjang mata memandang, sudah terhampar padi-padi yang menghijau menyejukkan mata. Hujan tahun ini terbilang berlimpah. Melihat cuaca hari ini, matahari sudah bisa dipastikan tak akan muncul dalam waktu yang lama, bahkan mungkin sampai malam tiba kembali.


Pak Efendi nampak geram dan berkali-kali menggebrak meja ketika mengetahui nomor yang dipakai pak Jamal sudah tidak bisa dihubungi lagi. Dia sudah mencoba mengutus beberapa orang untuk mencarinya di rumah kontrakan ataupun tempat biasa yang biasa ia singgahi. Namun pak Jamal seperti sudah menghilang di telan bumi. Orang yang ia utus bahkan kembali dengan membawa selebaran pencarian orang. Pak Jamal sudah masuk DPO Polres Lombok Timur.


Ponsel miliknya berdering. Pak Efendi segera mengangkatnya. Setelah memperhatikan sejenak nama di layar ponsel, ia menempelkan ponsel di telinganya.

__ADS_1


"Pak, kami temukan mobil dan sepeda motor pak Jamal di parkiran khusus rumah makan Zamora. Kata petugas parkir, mobil itu sudah tiga hari di tinggalkan pak Jamal," kata seseorang dari seberang. Pak Efendi mendesah.


"Bawa ke rumah," jawab pak Efendi singkat dan langsung menutup panggilannya.


* * * * *

__ADS_1


Berbeda dengan Rianti, Tuan Guru Izzul Islam yang sejak mengetahui Nyai Mustiani menjodohkannya lagi dengan salah satu santriwati yang sering menemaninya menjelang tidurnya, ia terlihat tidak tenang. Bukan karna kali ini mungkin saja pernikahan itu akan terjadi. Tapi lebih kepada memikirkan perasaan santriwati itu yang tak berani menolak keinginan Nyai Mustiani. Mungkin kedua orang tuanya akan senang melihat anaknya menikah dengan salah satu ulama kesohor di wilayah itu. Tapi ia tak ingin hidup dengan seseorang yang tak didasari atas suka sama suka, walaupun itu bisa muncul dengan sendirinya ketika sudah menikah nanti.


"Ya, Allah, sepanjang inikah kesabaran yang harus hamba jalani? Seistimewa inikah perempuan berkerudung biru motif batik itu hingga sampai ibuku, yang tak pernah terpikir sekeras ini menentangnya, kini jadi batu sandungan paling besar? Terlalu banyak yang jadi korban untuk benar-benar bisa meraih mimpi itu. Beri hamba ketabahan Ya, Allah," batin Tuan Guru Izzul Islam penuh harap.


Suara gemuruh terdengar di antara suara hujan dan angin yang menghempas. Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan melangkah menuju rak kitabnya. Setelah memeriksa beberapa kitab besar di depannya, ia mengambil satu kitab dan membawanya menuju sofa.

__ADS_1


* * ** *


__ADS_2