KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#148


__ADS_3

Mendung kembali menyambangi langit. Alam menjadi sedikit gelap. Angin yang berhembus sesekali, mengabarkan bahwa hujan sebentar lagi akan turun.


Abdul khalik segera membuka pintu gerbang ketika mobil yang dikendarai Tuan Guru Izzul Islam terlihat mendekat. Nyai Mustiani dan pak Nurasmin yang baru saja selesai makan siang terlihat masih duduk di teras rumah.


"Assalamualaikum, Bu, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika sudah turun dari mobilnya. Dia langsung menyalami Nyai Mustiani dan pak Nurasmin.


"Wa alaikum salam," jawab keduanya serempak.


"Kamu sudah makan, Nak," kata Nyai Mustiani ketika Tuan Guru Izzul Islam telah duduk dekat pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Sorban di pundaknya dipegangnya kuat ketika angin menghempas.


"Sudah, Bu. Saya tadi sempat mampir di rumah makannya bu Pratiwi."


Nyai Mustiani menoleh.


"Loh kok makannya sampai kesana? memangnya kamu sudah kemana?"


Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Ia terdiam sejenak. Ia menatap Nyai Mustiani.


"Saya baru dari rumah bu Sulastri, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam dengan suara lirih.


Nyai Mustiani mengernyitkan dahinya.


"Rumah Sulastri?" Nyai Mustiani mendesah kasar dan menggelengkan kepalanya. Dia tampak tak senang dengan jawaban Tuan Guru Izzul Islam.


Melihat Nyai Mustiani diam dan tak merespon, Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan mendekat. Ia lalu duduk di samping Nyai Mustiani.


"Bu, sebelumnya saya minta maaf jika saya kesana tanpa memberitahu ibu. Saya kesana untuk meminta maaf karna kita telah membatalkan secara sepihak, apa yang telah kita sepakati sebelumnya. Kita tidak punya masalah apa-apa dengan keluarga bu Sulastri, Bu. Kita sudah mengenal bu Sulastri cukup lama. Ustadz Fahmi pun sudah kita anggap sebagai keluarga kita sendiri. Jangan sampai hanya karna masalah ini hubungan kita jadi tidak baik."


Nyai Mustiani kembali menggelengkan kepalanya.


"Yang membuat ibu tidak suka, jikapun Rianti punya masa lalu yang buruk, seharusnya mereka sadar diri dan tidak menerima lamaran kita. Mereka tidak pernah berpikir bagaimana nanti jika video itu tersebar dimana-mana,"


Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah. Punggung telapak tangan Nyai Mustiani diusap-usapnya lembut.


"Itu hanya masa lalu, Bu. Rianti sudah bertaubat. Ia juga tidak tahu kalau salah satu temannya saat itu memvideokan kejadian itu. Kalaupun ibu tidak suka, caranya bukan lewat pesan singkat, Bu. Kita memulainya dengan cara baik-baik. Kita harus membicarakannya baik-baik untuk menjaga perasaan mereka." Tatapan mata Nyai Mustiani mulai sedikit tajam. Pembelaan Tuan Guru Izzul Islam membuat dirinya merasa dipojokkan.


"Kamu kok lama-lama menggurui ibu, Izzul. Kamu sepertinya lebih membela mereka daripada ibumu sendiri,"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia segera meraih tangan Nyai Mustiani dan menciumnya.


"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin hubungan kita dengan siapapun tetap terjalin baik. Tak ada yang lain, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia kembali mencium tangan Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam duduk bersimpuh di depan Nyai Mustiani.


"Sebenarnya masalahnya tidak akan panjang jika saja kamu tidak bertindak sebagai pahlawan dengan mendatangi mereka untuk meminta maaf. Mereka sudah memakluminya ketika ibu memberitahukan mereka lewat WA. Makanya, jangan suka bertindak sendiri jika orang tuamu masih hidup. Sehebat dan sepintar apapun kamu," kata Nyai Mustiani. Pegangan tangan Tuan Guru Izzul Islam disingkirkannya. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Mendengar Nyai Mustiani dengan nada kesal seperti itu, ia memilih diam.


"Nak Izzul. Bapak punya tembakau bagus yang bapak bawa dari Desa Sekaroh. Sini, mungkin kamu suka," kata pak Mustarah mencoba mengalihkan pembicaraan yang mengarah tegang. Tuan Guru Izzul Islam mendesah sembari menatap Nyai Mustiani yang seperti enggan menatapnya lagi. Ia bangkit. Beberapa kali pak Nurasmin memberi isyarat dengan kedipan matanya agar Tuan Guru Izzul Islam menyingkir dulu dari hadapan Nyai Mustiani sambil menunggunya tenang kembali.

__ADS_1


"Pokoknya ibu tetap tidak menerima dia jadi istrimu terlepas kelakuan buruknya itu adalah masa lalunya. Saat ini mungkin video itu belum tersebar kemana-mana. Tapi ibu yakin, lambat laun semua orang akan tahu. Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana pandangan orang tentang kita." Nyai Mustiani bangkit. Melihat itu, Tuan Guru Izzul Islam kembali berdiri dan hendak membantu Nyai Mustiani ke kamarnya.


"Gak usah. ibu bisa sendiri," kata Nyai Mustiani. Ia pun melangkah pelan. Tuan Guru Izzul Islam hanya bisa terdiam memperhatikan.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Setelah memastikan Nyai Mustiani sudah masuk ke dalam kamarnya, ia kembali duduk di dekat pak Nurasmin.


"Sudah. Untuk saat ini, kamu mengalah dulu. Biarkan ibumu menenangkan diri dulu," kata pak Nurasmin. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk.


Pak Nurasmin menyulut rokoknya. Ia melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Dia tahu saat ini Tuan Guru Izzul Islam sedang kebingungan. Di satu sisi ia dituntut untuk selalu taat kepada ibunya. Tapi di sisi lain, ia bingung bagaimana mempertahankan keyakinannya. Itu juga yang membuat pak Nurasmin ragu untuk menceritakan hasil pembicaraannya dengan Nyai Mustiani kepada Tuan Guru Izzul Islam. Selain itu, ia juga belum pulang dan membicarakannya dengan Layla. Tapi dia sudah bisa memastikan, Layla akan menolak. Pak Nurasmin memutuskan untuk tidak memberitahukan Tuan Guru Izzul Islam.


"Kalau begitu, Bapak mau pulang dulu, Nak Izzul. Kapan-kapan saya main lagi kesini," kata pak Nurasmin.


"Loh kok cepat sekali, Pak,"


"Saya sudah dari tadi sama ibu kamu. Nanti bibimu juga nyari. Soalnya tadi bapak gak sempat kasih tahu mau kemana," kata pak Nurasmin. Ia bangkit diikuti Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mengikuti pak Nurasmin sampai ke tempat parkir.


"Dik Layla kok gak pernah diajak main-main kesini, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah pak Nurasmin sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Kapan-kapan Bapak ajak ke sini. Dia sekarang lagi sibuk latihan pencak silat. Alhamdulillah, dia ikut mewakili NTB untuk PON bulan depan," kata pak Nurasmin sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Hebat,dik Layla. Sudah jadi atlet provinsi," kata Tuan Guru Izzul Islam. Pak Nurasmin tersenyum. Perlahan mobilnya keluar meninggalkan kediaman Tuan Guru Izzul Islam.


* * * * *


Tuan Guru Izzul Islam melangkah pelan menuju kamarnya. Sebelum membuka pintu kamarnya, ia menyempatkan diri menoleh ke arah kamar ibunya. Setelah beberapa saat terdiam di depan kamarnya, ia memutuskan masuk.


* * * * *


Ponsel di atas meja samping ranjang bergetar. Rianti segera meraihnya. Sebuah pesan dari Sulastri.


"Nak, tadi ibu lupa kalau ada titipan surat dari Tuan Guru Izzul Islam. Ibu taruh di dalam laci meja rias".


Rianti bangkit dan melangkah menuju meja rias. Dari dalam laci, ia menemukan amplop berwarna hijau. Rianti mendesah dan sejenak memandang amplop itu. Ia tersenyum. Aroma khas Tuan Guru Izzul Islam terasa sekali menyejukkan hatinya. Ia merasa Tuan Guru Izzul Islam seakan-akan sedang berada dalam ruangan itu.


Rianti kembali melangkah menuju tempat tidur. Dengan pelan ia membuka amplop dan mengeluarkan sebuah surat dari dalamnya.


Bismillahirrahmanirrahim


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Yang terhormat Saudariku Rianti...


Aku memulai surat ini dengan menukil perkataan Imam Syafi'i;


Biarkan hari-hari berbuat semaunya

__ADS_1


kuatkan diri saat takdir telah berbicara. Jangan cemaskan apa yang telah terjadi, karna tidak ada keabadian bagi setiap pristiwa duniawi;


Sampai detik ini aku masih memegang keyakinanku, bahwa kamulah berlian paling berharga yang akan aku miliki. Semakin berharga sebuah berlian, semakin sulit untuk mendapatkannya.


Aku tak pernah berpaling dari keyakinanku untuk bisa memilikimu. Tapi semua butuh proses. Menunggu kehadiranmu sejak kurang lebih lima belas tahun lalu, hingga aku meyakini, inilah proses akhir yang paling berat yang harus aku hadapi. Yaitu penolakan ibuku.


Bersabarlah menungguku menjalani proses akhir itu. Semua memang serba sulit, karna tutur kata selembut apapun bisa melukai hati seorang ibu, jika ia belum mau menerima kenyataan.


Aku tak merisaukan penolakan ibuku, karna mimpiku itu insya Allah akan menjadi kenyataan. Yang merisaukanku hanya bagaimana perlawananku tak membuat murka hatinya. Sebab hati seorang ibu terkadang merasa cemburu, ketika ada wanita lain yang dianggapnya lebih diperhatikan anaknya. Kita akan menghadapinya dengan sabar hingga akhirnya kita bisa mendapatkan ridhanya yang purna.


Aku mencintaimu karna Allah. Karna kamu adalah petunjuk Allah. Akupun telah menunggumu dalam waktu yang cukup lama, juga karna Allah. Semoga Allah tetap memberikan kita petunjuk-Nya. Memberikan kita kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi semua cobaan dan ujian dalam hidup. Amin.


* * * * *


Rianti melipat perlahan surat yang telah dibacanya dan mendekatkannya ke dadanya. Ia menghela nafas panjang sembari memejamkan matanya perlahan. Kepalanya di dongakkan ke atas dengan senyum yang mengembang manis dari bibirnya. Masa-masa bersama Tuan Guru Izzul Islam terasa semakin dekat saja. Ia merindukan saat-saat itu. Merindukan saat pahalanya akan semakin bertambah dengan baktinya kepada suami yang shaleh. Hanya dengan menikahlah, Tuhan akan menyematkannya gelar istri yang shalehah serta menyempurnakan separuh agamanya.


* * * * *


Malam selepas isya'. Di kediaman pak Nurasmin.


Pak Nurasmin dan istrinya, Bu Sofia, masih terdiam. Layla yang memilih duduk memalingkan wajah dari keduanya, seperti tak ingin pak Nurasmin melanjutkan kembali kata-katanya.


"Layla sudah menganggap kak Tuan Guru Izzul sebagai kakak kandungku sendiri. Bagaimana bisa bapak mau menikahkanku dengannya. Layla juga masih ingin sekolah setinggi mungkin, Pak. Jika bapak memaksa saya seperti ini, Layla lebih baik pergi dari rumah ini," kata Layla dengan nada tinggi.


Pak Nurasmin mendesah. Melihat Layla terlihat tidak senang dengan pembicaraan malam ini, ia urung untuk berpindah tempat duduk di samping Layla.


"Tidak, Nak. Bapak tidak memaksamu. Bapak cuma menyampaikan keinginan bibimu. Menurut bibimu, alangkah lebih bagusnya jika kalian berdua menikah," kata pak Nurasmin mencoba menenangkan Layla. Layla menggelengkan kepalanya.


"Apapun alasannya, Layla gak mau, Pak." Layla tiba-tiba bangkit. Tanpa pamit terlebih dahulu, dia meninggalkan keduanya menuju kamarnya. Bu Sofia menatap pak Nurasmin. Pak Nurasmin mendesah pendek dan mengurut-urut keningnya.


"Bagaimana ini, Bu. Mau bilang apa bapak kalau kak Nyai menanyakanku tentang Layla. Bapak tak mungkin memaksa Layla. Bapak benar-benar pusing," kata pak Nurasmin.


Bu Sofia mendesah panjang.


"Apa Bapak gak berani, untuk sekali ini saja menolak permintaan kak Nyai Mustiani," kata bu Sofia. Pak Nurasmin menoleh sejenak.


"Aku belum berani, Bu. Kak Nyai sudah terlalu banyak berkorban buat kita. Jika tidak karna dia, kita tidak akan punya rumah dan toko," kata pak Nurasmin.


"Ya, tapi itu kan wajar, Pak. Seorang kakak memberikan sesuatu kepada adiknya,"


Pak Nurasmin menggelengkan kepalanya.


Untuk beberapa saat mereka terdiam.


"Atau? Apa gak sebaiknya kita panggil saja nak Izzul kesini, Pak. Kita bicarakan baik-baik. Mungkin saja akan ada jalan keluar lain," kata bu Sofia beberapa saat kemudian. Pak Nurasmin mengerutkan dahinya. Bola matanya bergerak pelan kesana kemari. Ia mengangguk-angguk beberapa kali.

__ADS_1


"Saya setuju dengan saran ibu. Besok bapak akan menghubunginya. Sekarang, kamu cari anakmu sana. Tenangkan dia," kata pak Nurasmin. Bu Sofia mengangguk dan bangkit. Ia kemudian bergegas menuju kamar Layla.


__ADS_2