
Adzan isya' terdengar berkumandang dari masjid pesantren. Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki kopiahnya di depan cermin. Sorban hijau yang melingkar rapi di lehernya semakin menambah wibawanya. Wajahnya terlihat berseri-seri walaupun satu dua kerutan terlihat di keningnya. Ia sedang bersiap-siap ke masjid untuk mengimami santri shalat isya'. Tak lupa, kitab tebal berwarna hitam, yang tergeletak di atas meja ia ambil. Selepas shalat isya', ada pengajian rutin khusus untuk santri-santri senior setiap malam ahad.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum mendapati Nyai Mustiani sudah duduk di ruang keluarga begitu ia membuka pintu kamarnya. Ia segera menghampirinya dan mencium tangannya. Nyai Mustiani mengusap kepala Tuan Guru Izzul Islam dan menyuruhnya duduk.
"Duduklah sebentar. Ada yang ingin ibu bicarakan," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Nyai Mustiani.
"Apa gak lebih baik nanti setelah selesai ngaji, Bu," jawab Tuan Guru Izzul Islam.
"Malam ini kamu gak usah ngaji dulu. Habis shalat isya' kamu langsung pulang. Suruh Fahmi yang menggantikanmu," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Fahmi lagi pulang, Bu. Memangnya ada apa, Bu. Kayaknya penting sekali, sampai-sampai tidak bisa ditunda,"kata Tuan Guru Izzul Islam.
Nyai Mustiani tersenyum.
"Penting, sangat penting. Tadi aku sudah telpon Tuan Guru Faeshal. Kita akan datang berkunjung malam ini."
Tuan Guru Izzul Islam terdiam. Wajahnya seketika berubah sedikit murung. Ia menatap wajah Nyai Mustiani. Ia mendesah pelan. Belum ada kata-kata yang keluar dari mulutnya sekalipun nampak bergerak-gerak. Ia masih memikirkan jawaban agar nanti tak membuat Nyai Mustiani marah. Tuan Guru Izzul Islam menundukkan kepalanya. Nyai Mustiani mengusap lembut pundaknya.
"Ayo sana, santrimu telah menunggu. Begitu selesai, kamu segera pulang. Kita tidak mau Tuan Guru Faeshal menunggu kita terlalu lama," kata Nyai Mustiani. Ia tahu Tuan Guru Izzul Islam tidak berkenan dengan rencananya malam ini. Tapi ia harus melakukannya. Ia yakin, calon pendamping Tuan Guru Izzul Islam memang harus dipilihkan olehnya. Dia tidak punya waktu untuk mengurus perempuan, dan masih setia menunggu perempuan dalam mimpinya, bahkan setelah berlalu lima belas tahun tanpa petunjuk apa-apa.
Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya lemah. Senyumnya setengah dipaksakan. Ia lalu meraih tangan Nyai Mustiani dan menciumnya. Kitab yang dibawanya diletakkannya di atas meja. Ia lalu melangkah menuju masjid.
Nyai Mustiani mendesah menatap tubuh Tuan Guru Izzul Islam hingga hilang di balik pintu.
* * * * *
Suasana di depan rumah makan Zamora terlihat sepi, walaupun terlihat banyak mobil yang terparkir. Para pengunjung lebih memilih berkumpul di gazebo-gazebo di belakang rumah makan.
Di dalam kamar, di sisi lain rumah makan.
Qurratul Aini memperhatikan bekas ciuman di lehernya yang nampak menghitam di depan cermin. Sesekali ia melirik ke arah Cristian yang masih bertelanjang dada di belakangnya dari balik cermin. Qurratul Aini mendesah sembari mengusap pelembab di bekas hitam di lehernya.
Cristian terlihat memasang bajunya.
"Apa kamu benar-benar sudah memikirkan matang-matang keputusanmu itu. Tak bisakah kamu ikut denganku? Kalau kamu mau, kita bisa pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui seseorang. Kita akan kembali ketika kita keadaan sudah berubah," kata Cristian. Tatapannya dari balik cermin nampak sedih dan memelas. Qurratul Aini mendesah putus asa. Ia merasa tak sanggup menatap langsung wajah Cristian. Ia mengusap rambut sebahunya dan menutupi bekas hitam di lehernya.
"Aku benar-benar tidak berani melakukannya, Cristian. Aku tidak mau kedua orang tuaku membenciku dan akhirnya memutuskan hubungan denganku jika aku melarikan diri bersamamu,"
__ADS_1
"Kalau begitu, kita menikah saja. Aku akan datang melamarmu," kata Cristian sambil menyingkirkan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia terlihat hanya memakai ****** *****. Dia mengambil celana yang tergantung di dinding dekat pintu.
"Itu jika kamu bersedia masuk agama kami," jawab Qurratul Aini.
"Agh!" Cristian menghempaskan telapak tangannya di tembok kamar. "Aturan macam apa yang dibuat manusia-manusia ini. Kenapa hanya karna masalah agama, cinta tidak bisa disatukan? Bukankah cinta tak memiliki agama?" Cristian menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang. Tatapannya semakin lemah.
" Itu yang dikatakan Kahlil Gibran,"sambungnya datar.
Qurratul Aini tersenyum ketus. Ia menoleh namun kembali berbalik.
"Kahlil sudah meninggal Cristian. Hanya sedikit orang yang menjadikan kata-katanya sebagai pedoman." Qurratul Aini membalikkan badannya.
"Jangankan kamu. Yang se agama dengan kami saja, jika dalam pandangan ayahku mereka melakukan sesuatu yang tidak benar menurut keyakinannya, Ayahku tak segan-segan mengkafirkannya, bahkan menghalalkan darahnya."
Cristian menoleh lemah ke arah Qurratul Aini.
"Ayahmu terlalu ketat dengan keyakinannya. Tapi sayang, ia lalai menjagamu," kata Cristian.
Qurratul Aini mendesah. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi. Tatapanya jauh menembus langit-langit kamar.
"Lantas, kenapa kamu takut membangkang perintahnya, sedangkan berbuat zina denganku, kamu sama sekali tak pernah terlihat menyesalinya?" kata Cristian sinis.
"Murkanya Tuhan karna murkanya orang tua. Apa yang aku lakukan saat ini denganmu, bisa kuhapus kelak dengan bertaubat. Mungkin, ini hanya pendapatku saja," kata Qurratul Aini mencoba sekedar membela diri.
Cristian tersenyum seperti mencemooh.
Sama saja. Tak Ada bedanya. Coba pikirkan, jika ayahmu sampai tahu kita melakukan ini. Tentu ia akan lebih murka,"
"Itu sebabnya jangan sampai ia tahu," jawab Qurratul Aini.
Lagi-lagi Cristian tersenyum ketus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika aku memberitahunya,"
Qurratul Aini tersenyum. Ia mengarahkan pandangannya ke arah Cristian lewat cermin.
"Kamu tidak akan melakukannya. Kamu terlalu mencintaiku," Jawab Qurratul Aini tenang.
__ADS_1
"Aini, Aini, aku benar-benar tidak mengerti denganmu. Kamu bilang kamu mencintaiku. Tapi ketika aku mengajakmu untuk hidup bersama, kamu menolak. Aku tak yakin kamu mencintaiku,"
"Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan menyerahkan milikku yang paling berharga kepadamu. Apalagi kamu tak seiman denganku. Tapi jika kamu beranggapan aku melakukannya karna kamu tampan, kaya ataupun karna nafsu, aku tak akan melakukannya denganmu saja. Terlalu banyak laki-laki yang suka kepadaku, bahkan lebih dari yang kamu miliki. Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh. Cinta pun tak mengambil apa-apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun dimiliki karena cinta telah cukup untuk cinta." Qurratul Aini bangkit dan melangkah ke tempat Cristian duduk.
"Itu juga yang dikatakan Kahlil Gibran," sambungnya lirih menundukkan kepala.
"Agh, aku tak mengerti, dan tak mau mengerti," kata Cristian dengan nada setengah berteriak.
Qurratul Aini mendesah kemudian bangkit. Ia kembali melangkah ke arah cermin. Tas hitam di atas meja rias diambilnya dan diletakkannya di pundak.
Suara ponselnya berdering.
"Sebentar lagi, Yah. Saya mau berangkat pulang," jawab Qurratul Aini setelah beberapa saat mendengarkan pembicaraan dari seberang. Qurratul Aini menutup Ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Sejenak ia menatap Cristian. Cristian membalas menatapnya lemah. Cristian tampak putus asa.
"Mungkin cinta tak butuh untuk dimengerti." Qurratul Aini membalikkan badannya hendak membuka pintu.
"Apa kamu benar-benar akan menikahi Tuan Guru itu?" kata Cristian. Qurratul Aini urung membuka pintu. Ia menoleh.
"Yah, mungkin. Jika memang aku pantas untuknya, tentu Tuhan akan tetap membiarkanku bersamanya, dan aku..., aku tentu akan berubah. Tapi sebaliknya, jika memang aku tidak pantas untuknya, Tuhan pasti punya banyak cara untuk melindungi orang-orang yang tulus takut kepada-Nya. Seperti Tuan Guru." Qurratul Aini tersenyum manis.
"Tapi tenanglah, kita masih punya waktu untuk bersama. Setidaknya satu atau dua minggu. Tapi jika kamu ingin melanjutkan S2 mu ke Amerika, silahkan. Berusahalah untuk saling melupakan," sambung Qurratul Aini tenang. Ia lalu membuka pintu dan segera keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Cristian mendesah panjang. Qurratul Aini, wanita yang sudah dipacarinya selama lima tahun itu begitu pasrah meninggalkannya sendirian di dalam kamar. Hubungan yang sudah terjalin begitu lama, seperti tak berbekas sama sekali di hatinya. Cristian menjambak rambutnya keras. Ia lalu menghempaskan tubuhnya dan terbaring di ranjang. Air mata perlahan mengalir di pipinya. Dadanya seketika terasa sesak oleh rasa menyakitkan yang ia rasakan saat ini. Ia sudah menyadari sejak dulu, jika hubungan beda agama antara dirinya dengan Qurratul Aini sembilan puluh persen akan berakhir buruk. Apalagi Qurratul Aini adalah putri dari salah satu tokoh agama terkenal di tempat itu. Ia menyesal telah jatuh cinta padahal Qurratul Aini telah memperingatkannya tentang akhir yang buruk dari hubungan itu. Pindah agama memang satu-satunya cara untuk menyatukan cinta mereka. Tapi itu sangat mustahil. Ayahnya yang seorang pengusaha taat beragama, tidak akan mengijinkannya menikahi Qurratul Aini. Bahkan ia sudah dijodohkan dengan seorang anak pendeta.
* * * * *
Qurratul Aini menoleh ke sana kemari ketika hendak memasuki mobilnya. Sebelum menghidupkan mobilnya, terlebih dulu ia mengganti kaos oblong yang dikenakannya dengan gamis berwarna merah yang ia sembunyikan di kursi belakang mobil. Setelah gamis dan jilbabnya telah terpasang dengan rapi, ia sempatkan menoleh sejenak ke arah kamar dimana dia dan Cristian bercengkrama beberapa jam yang lalu. Bulir air matanya menetes.
"Maafkan aku, Cristian," desahnya. Ia lalu menyalakan mobilnya dan perlahan keluar dari area rumah makan.
* * * * *
Sementara itu. Di halaman rumah Sulastri tampak ramai oleh anak yatim dengan pakaian serba putih. Surah Yasin yang dibaca serempak dan berirama menambah bahagia hati Sulastri yang duduk mendengar dengan khusu' di kursi teras rumah.
Senyum tak henti-henti terkulum dari bibirnya ketika melihat Rianti dan ketiga anaknya duduk sejajar di depan anak-anak panti asuhan. Dia merasa saat ini menjadi seorang ibu yang paling bahagia di dunia ini. Tak ada yang lebih dibutuhkan orang tua saat menuanya, selain kehadiran anak-anak mereka di sisi mereka. Tak ada yang paling membahagiakan, selain bisa berbagi kebahagiaan itu sendiri. Harta dan kekayaan tak ada artinya ketika anak-anak tidak ada di sisi.
Sulastri tersenyum dan menoleh ke arah kursi kosong di sampingnya. Ia tersenyum. Ia merasa ada seseorang yang kini sedang duduk menemaninya. Sulastri tersenyum dan memejamkan matanya. Ia mencoba merasakan, bahwa saat ini Yulian Wibowo merasakan hal yang sama dengan apa yang kini ia rasakan. Melihat anak-anak mereka tumbuh seperti yang diharapkan. Anak-anak yang shaleh dan shalehah.
__ADS_1