
"Sebagian perempuan-perempuan itu harus tetap ikut kita, dan sebagian lagi harus kita tinggalkan. Kita tidak mungkin membawa semuanya," kata mami Zelayin. Ia terlihat berat mengatakannya.
"Dan Sulastri?" tanya Jamblang.
Mami Zelayin terdiam sejenak. Ia merapikan rambutnya dan mengikatnya dengan karet yang diambil dari pergelangan tangannya.
"Menurutmu bagaimana." Mami Zelayin balik bertanya setelah beberapa saat terdiam.
"Kalau mami ingin meneruskan usaha ini, Sulastri adalah satu-satunya aset mami yang berharga. Dengan tarif satu juta setengah pertamu, lumayan kan, Mi." jawab Jamblang.
Mami Zelayin bangkit dan melangkah ke depan cermin.
"Dia terlalu berisiko jika kita bawa." Mami Zelayin duduk dan menyandarkan tubuhnya di kursi depan cermin.
"Sudahlah, kita akan bahas masalah itu nanti. Sekarang, berkemas-kemaslah. Aku akan mencari rumah kontrakan untuk menyimpan barang-barang penting sebelum kita mendapatkan tempat baru." kata Mami Zelayin sembari mengusap wajahnya dengan beberapa bedak di depan cermin riasnya.
Jamblang mengangguk dan keluar.
"Oh, ya, Jamblang, tempelkan tulisan dipinggir jalan. Orang-orang harus tahu bahwa kita akan menjual tanah ini," kata mami Zelayin. Ia menoleh ke arah Jamblang yang sedang menuruni tangga. Jamblang kembali menganggukkan kepalanya.
* * *
Adzan Dhuhur terdengar. Angin yang berhempas kuat menghalau sedikit sinar matahari yang terik siang itu.
Pak Sahril bangkit ketika melihat mobil sedan Camry warna hitam mendekat ke arah pondok tempatnya duduk bersama pak Suma. Ia menjabat tangan pak Suma ketika mobil telah berhenti di depan pondok.
"Terimakasih, Pak Suma. Lain kali kita akan melanjutkan lagi pembicaraan kita," kata pak Sahril. Pak Suma tersenyum.
__ADS_1
"Insya Allah, saya akan menghubungi Bapak jika saya sudah mendapatkan informasi tentang tanah sebelah."
Pak Sahril mengangguk dan melangkah memasuki mobilnya. Ia melambaikan tangannya ke arah pak Suma ketika mobil yang ditumpanginya berbalik menuju jalan utama.
"Pelan-pelan ya, Hasbi, kita mau lihat-lihat dulu perkebunan di depan kita," colek pak Sahril. Hasbi mengangguk. Perlahan ia mulai mengarahkan mobil keluar menuju jalan utama.
"Sudah deal, Pa," tanya bu Trianti. Pak Sahril memperbaiki posisi duduknya. Ia menaikkan setengah kaca mobilnya. Ia mendesah kasar.
"Hampir, Ma," jawabnya singkat.
"Kita berhenti di mana, Pak," sela Hasbi ketika sampai di ujung jembatan seberang sungai. Pak Sahril mengangkat tubuhnya.
"Ya, di sini saja," perintah pak Sahril. Ia mulai mengamati rerimbunan pohon-pohon pisang di depannya.
"Tanah pak Suma yang 5 hektar ada di belakang perkebunan ini, Ma, jika kita bisa membeli lahan perkebunan ini, maka akan semakin bagus," kata pak Sahril sambil menoleh ke arah bu Trianti. Bu Trianti menganggukkan kepalanya mulai mengerti.
"Ayo, Hasbi, jalankan mobilnya, tapi pelan-pelan saja." Pak Sahril kembali menyandarkan tubuhnya.
Setelah puas melihat-lihat dari balik kaca mobil, pak Sahril memerintahkan Hasbi untuk mempercepat laju mobil.
* * *
Bi Aisyah hanya terdiam ketika Farida terus menarik-narik bajunya sambil menangis. Ia sudah berusaha menenangkannya, tapi gadis kecil itu mungkin sudah teralu lapar. Sudah siang, namun dari pagi mereka belum makan. Sisa beras yang hanya segenggam tangan orang dewasa, hanya cukup untuk membuatkan bubur Rayhan. Tak ada sepeserpun uang yang tersisa. Pikiran bi Aisyah buntu.
Bi Aisyah mengangkat tubuh Farida dan meletakkannya di pangkuannya. Dia meletakkan kepala Farida di dadanya dan menciumnya beberapa kali. Dia sudah tidak ingin membohongi anak itu dengan harapan-harapan yang hanya membuatnya tenang sejenak. Lagi pula, kedua anak itu sudah tahu kalau selama ini dia membohongi mereka. Tak ada gunanya.
Angin sesekali menghempas keras. Beberapa sampah botol kemasan plastik terhempas dan berserakan di depan rumah. Fahmi yang sedang menjaga Rayhan tak jauh dari tempat duduk bi Aisyah dan Farida, terlihat berlarian mengambil botol-botol plastik itu. Ia kemudian memasukkannya ke dalam karung di sudut rumah.
__ADS_1
Bi Aisyah tersenyum. Karung itu hampir penuh. Setiap pagi, Fahmi dan Farida mengumpulkan sisa-sisa plastik di depan gang. Mereka bergantian menunggu pengumpul rongsokan yang sesekali datang.
Bi Aisyah mempermainkan wadah gelas kemasan plastik di depannya dengan salah satu kakinya. Ia kemudian menjepitnya di sela-sela jari kakinya dan mengangkatnya. Setelah terdiam beberapa saat memandang gelas plastik di tangannya, ia mendesah dan menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengangkat tubuh Farida dan bangkit. Rayhan yang masih duduk di pangkuan Fahmi di raihnya dan menggendongnya.
"Ayo, kita jalan-jalan," ajak bi Aisyah kepada Fahmi dan Farida. Fahmi dan Farida terlihat senang. Berdiam terus di rumah dengan perut lapar membuat mereka jenuh. Mereka segera mengikuti langkah bi Aisyah menyusuri gang.
"Kalian duduklah, jangan berlari kesana kemari," kata bi Aisyah. Ia meletakkan gelas plastik kemasan kosong di tangannya di depannya. Ia lalu meletakkan batu kecil di dalamnya untuk menahan hempasan angin dari kendaraan yang melintas. Fahmi dan Farida duduk di samping kiri kanannya.
"Bu, ibu itu terlihat masih sehat. Ibu, carilah pekerjaan. Jangan mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Mereka seharusnya sekolah."
Bi Aisyah menatap dua wanita muda yang melintas dan berhenti di depannya.
"Ya, Allah," desah bi Aisyah. Ia menundukkan kepalanya. Gelas plastik di depannya ia tarik pelan dengan salah satu kakinya dan menyembunyikannya di balik ujung londresnya yang terhampar di lantai trotoar. Kata-kata wanita itu betul-betul menohok.
"Adek, Sini, Dik," kata salah satu wanita kepada Farida. Dia memperlihatkan selembar uang. Farida menoleh ke arah bi Aisyah, namun bi Aisyah masih menundukkan kepala.
Wanita itu tersenyum. Melihat Farida hanya terdiam malu menatapnya, ia mendekat dan memegang tangan Farida. Ia lalu memberikannya kepada Farida. Farida terlihat menolak, tapi wanita itu segera membuka telapak tangan Farida dan menggenggamkan uang itu.
"Adik berdua belajar yang rajin ya," kata wanita itu. Ia kemudian mengajak temannya pergi.
* * *
"Stop, stop, stop, berhenti Hasbi." Pak Sahril menepuk-nepuk pundak Hasbi. Hasbi memelankan laju mobil dan berhenti di tepi trotoar. Ia menoleh ke arah pak Sahril.
"Mundurkan mobilnya," perintah pak Sahril.
"Ya, terus, terus," kata pak Sahril mengarahkan sambil terus melihat ke arah belakang. Bu Trianti yang masih belum mengerti apa maksud suaminya , ikutan-ikutan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Ok, berhenti di sini," kata pak Sahril.
"Ada apa sih, Pa, kok tiba-tiba berhenti di sini," kata bu Trianti penasaran.