KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#224


__ADS_3

"Siapa yang datang, Jamila," Tanya Rianti ketika Jamila kembali lagi ke dapur. Melihat Jamila kembali, Azka yang sedang didudukkan Rianti di atas kursi meja dapur segera mengangkat kedua tangannya, minta diangkat Jamila. Ia merengek-rengek minta digendong.


"Ada ibu-ibu tua. Katanya anaknya dulu pernah mondok di sini. Malah dia dulu sering menemani almarhum bu Nyai tidur di kamarnya bersama Suhaini dan Nur Jamila. Kasihan, katanya anaknya sakit. Ia mau bertemu kak Tuan," kata Jamila sambil mengangkat tubuh Azka ke gendongannya.


Rianti mundur beberapa langkah ketika beberapa potong ikan di masukkannya ke dalam minyak goreng yang mendidih. Dia mendorong tubuh Jamila lebih ke belakang karna takut percikan minyak mengenai Jamila dan Azka. Jamila lalu mengambilkannya penutup wajan dan memberikannya kepada Rianti. Dengan sangat hati-hati Rianti menutup wajan.


Rianti kembali menatap Jamila.


"Kalau memang ibunya sangat perlu, gak apa-apa. Kak Tuan dibangunkan saja. Kak Tuan tidur di kamarmu," kata Rianti.


"Tapi gak enak juga. Kasihan kak Tuan tadi malam tidurnya sedikit," kata Jamila. Rianti tersenyum. Ia membalikkan badannya dan membuka perlahan penutup wajan. Ingin memastikan ikan yang digorengnya tidak gosong.


"Gak apa-apa. Malah kak Tuan nanti protes kalau tidak dibangunkan. Ayo, bawa Azka bersamamu. Biar nanti Azka yang bangunkan,"kata Rianti. Ia kemudian mengusap kepala Azka.


"Bangunkan ayah ya, Nak. Bilang ada tamu," kata Rianti setelah mencium kepala Azka. Azka mengangguk.


Jamila memegang pundak Rianti.


"Baiklah, nanti aku panggilkan Suhaini dan Nur Jamila kembali ke dapur," kata Jamila. Ia kemudian bergegas ke kamarnya untuk membangunkan Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


Nur Jamila dan Suhaini bangkit dari duduknya ketika Tuan Guru Izzul Islam muncul dari arah samping. Jamila yang berada di belakang Tuan Guru Izzul Islam, memberi isyarat agar keduanya kembali ke dapur. Azka yang ada dalam gendongannya di serahkannya kepada Suhaini. Tak berselang lama setelah keduanya duduk, Rianti datang. Ia mengambil tempat duduk di samping Jamila. Inak Nurmah memperhatikan Tuan Guru Izzul Islam yang menyalami dan mencium tangannya.


"Diminum, Bu," kata Jamila sambil menunjuk ke arah minuman di depan inak Nurmah. Inak Nurmah tersenyum.


"Ibu mencari saya?" tanya Tuan Guru Izzul Islam setelah inak Nurmah hampir menghabiskan minuman dingin di tangannya. Jus buah segar yang disuguhkan untuknya begitu menyegarkan. Ia yang tadi sangat kehausan begitu menikmati segarnya minuman itu.


"Iya, Mukarom," jawab inak Nurmah. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Jamila tersenyum dan membisikinya sesuatu. Rianti tak lupa juga diberitahukannya. Keduanya tersenyum.


"Kalau boleh tahu, ada apa, Bu," tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Tolong anak saya, Nak. Dia sudah lama sakit. Ia dulu pernah mondok di sini. Tapi saya tidak tahu kenapa tiba-tiba ia berhenti. Sejak saat itu ia jadi pemurung. Sering menangis. Keadaannya semakin parah karna pada saat itu ayahnya juga meninggal. Dia tidak mau makan. Awalnya tidak ada yang salah dengan keadaan anak saya. Tangannya tidak lepas dari memegang Al-qur'an." Inak Nurmah menghentikan pembicaraannya karna secara spontan Rianti dan Jamila mengucap subhanallah.


"Ibu sudah tua, Nak. Ibu tidak kuat lagi mengurus anak saya." Inak Nurmah menghentikan lagi kata-katanya. Tapi kali ini ia mengusap sedikit bulir air mata di ujung matanya.


"Hingga suatu malam saya merenung mencari apa gerangan penyebab anak saya seperti itu. Saya yakin itu bukan karna meninggalnya ayahnya. Saya lebih yakin penyebabnya setelah pulang dari sini. Apakah anak saya pernah membuat kesalahan sehingga ia dipecat dari sini? Atau mungkin ada sesuatu yang pernah diperbuatnya sehingga ia merasa bersalah sampai saat ini?" kata inak Nurmah. Duduknya sedikit dimajukan. Tangannya yang hitam dan mengeriput di letakkannya di atas tangan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam yang nampak khusyu' mendengar cerita inak Nurmah, tersenyum. Kini gantian ia memegang kedua tangan inak Nurmah.


"Kalau boleh tahu, anak ibu namanya siapa?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Zulhiyani, Nak," jawab inak Nurmah. Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


"Kata Suhaini, dia juga dulu sering bersama Suhaini dan Nur Jamila menemani almarhumah ibu dan membantu kebutuhan di sini," sahut Jamila. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk-angguk. Ia sepertinya mengingatnya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang dan menatap bergantian ke arah Rianti dan Jamila. Setelah itu, ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah inak Nurmah.


"Ibu tenang saja ya, setelah makan kita akan bersama-sama menjenguk anak ibu. Kita obati dia hingga sehat lagi," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Tapi saya tidak bisa berlama-lama, Nak. Anak saya sendirian di rumah. Saya takut terjadi sesuatu kepadanya," kata inak Nurmah.


"Gak apa-apa. Sebentar saja." Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Rianti dan Jamila.


"Ayo, suruh Suhaini dan Nur Jamila siapkan makanan, kita sarapan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila segera bangkit dan bergegas menuju dapur. Rianti menggeser posisi duduknya hingga dekat di samping inak Nurmah.


"Ibu, kita makan sebentar, nanti kami antar ibu pakai mobil,biar cepat sampai di rumah. Ibu tenang saja ya," kata Rianti sembari mengusap-usap punggung inak Nurmah. Di saat Rianti terlibat pembicaraan dengan inak Nurmah, Tuan Guru Izzul Islam masih mencoba mengingat-ingat sosok Zulhiyani yang merupakan anak dari inak Nurmah. Dia ingat, Zulhiyani adalah salah satu dari tiga gadis yang pernah diajukan almarhum Nyai Mustiani untuk menjadi istrinya. Zulhiyani, walaupun cantik, tapi ia tak pernah mengingatnya sama sekali. Karna Zulhiyani adalah seorang santri yang ia anggap hanyalah pilihan terpaksa Nyai Mustiani, mengingat dua calon yang sebelumnya diajukan almarhum Nyai Mustiani juga memilih kabur. Sudah, sampai disitu, ia tidak pernah mempermasalahkannya lagi. Baik Zulhiyani, Layla maupun Qurratul Aini adalah pilihan terpaksa ibunya karna tak mau melihatnya menikah dengan Rianti. Tapi setelah setahun lebih berlalu, sosok Zulhiyani muncul kembali. Jika inak Nurmah meyakini penyebab anaknya sakit berasal dari pondok pesantren yang dipimpinnya, apakah ini ada hubungannya dengan perjodohan sepihak itu? Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Sepertinya tidak mungkin. Zulhiyani sudah memperlihatkan sikap menolaknya dengan memilih kabur. Keputusan yang sama sekali tak ia permasalahkan atau membuatnya sakit hati karna salah satu santrinya membangkang. Atau jangan-jangan ibunya pernah bersumpah dan mengatakan yang tidak-tidak tentang Zulhiyani? Berbagai pertanyaan memenuhi pikiran Tuan Guru Izzul Islam. Tapi apapun alasannya, dia harus membantu inak Nurmah dan anaknya.


Diam-diam Rianti memperhatikan Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menyentuh tangan Tuan Guru Izzul Islam lembut. Tuan Guru Izzul Islam terbuyar dari lamunannya.


"Eh, makanannya sudah siap?" tanya Tuan Guru Izzul Islam sambil menoleh kesana kemari. Rianti tersenyum.


"Sudah, Kak Tuan. Kami menunggu kak Tuan. Mari, kita ke ruang makan, " kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya dan bangkit. Rianti segera memegang tangan inak Nurmah dan membantunya berdiri. Tuan Guru Izzul Islam berdiri menunggu dan menyuruh Rianti lebih dulu membawa inak Nurmah.


jangan lupa vote nya

__ADS_1


__ADS_2