
Terlihat bulan sabit tanggal 5 penanggalan Qomariyah di ufuk maghrib. Terlihat jelas dan indah menyembul di antara gelapnya langit maghrib. Tidak adanya pepohonan di depan gerbang rumah, membuat Sulastri yang duduk di depan teras rumah, nampak leluasa menikmati pemandangan langit di depannya. Angin yang bertiup semilir menerpa lembut rambutnya yang terurai. Di pos jaga, Pak Bayan nampak duduk di kursinya. Sesekali asap rokok mengepul tertimpa cahaya lampu depan gerbang.
Munawarah membungkukkan kepalanya saat melihat Sulastri duduk di kursi depan teras rumah. Di tangannya, sebuah nampan berisi secangkir kopi yang akan ia bawakan untuk pak Bayan di pos jaga.
"Anak-anak di mana, Bi," sapa Sulastri kepada Rahima. Munawarah menghentikan langkahnya.
"Fahmi dan Farida sedang ngaji sama bi Aisyah, Bu. Kalau si Rayhannya tadi lagi main-main sama saya. Tapi saya mau antar kopi dulu untuk pak Bayan," jawab Munawarah.
"Nanti kalau balik, bawakan Rayhan ke sini, ya, Bi,"
Munawarah mengangguk.
"Baik, Bu,"
Munawarah segera bergegas mengantar kopi menuju pos jaga. Setelah itu, ia kembali lagi dan tak berapa lama kemudian, ia kembali lagi dengan menggendong Rayhan. Melihat Rayhan tertawa menjulurkan kedua tangannya ke arah Sulastri. Sulastri bangkit dan segera mengambil Rayhan dari gendongan Munawarah. Setelah puas mengajaknya jalan-jalan di halaman rumah, ia kembali duduk di teras rumah.
"Ayo, Rayhan, ikuti kata ibu, ya?" kata Sulastri sambil mencubit kedua pipi Rayhan.
"Yu...,
"Ayo, Nak," kata Sulastri lagi ketika melihat Rayhan hanya terdiam menatapnya sambil tersenyum.
"Yu,"
"Yu..,
"Bagus, Nak. Pinter," kata Sulastri ketika mendengar Rayhan mengikuti ucapannya.
"Yu li an,"
"Yu li an...,
__ADS_1
Bagus, coba sekali lagi, Nak,"
"Ba pak_Yulian_ Wi bo wo,"
"Ba pak Yu lian Wi bowo."
"Hore..., Rayhan sudah bisa nyebut nama bapak. Anak pinter," kata Sulastri kegirangan. Ia lalu memegang kedua tangan mungil Rayhan lalu mengajarkannya bertepuk tangan. Tak henti-henti ia mencium pipi Rayhan. Sulastri menatap ke arah rembulan. Ia perlahan memejamkan matanya. Bibirnya terlihat bergerak melantunkan Fatehah untuk Yulian Wibowo. Air matanya mengalir.
Fahmi dan Farida terlihat keluar. Melihat Sulastri duduk di teras rumah bersama Rayhan keduanya segera berlarian ke arahnya. Sulastri segera mengusap air matanya. Rayhan yang ada di pangkuannya ia serahkan kepada Fahmi untuk digendong.
"Bawa adikmu ke bi Aisyah ya, adikmu harus tidur. Di luar juga dingin," kata Sulastri sembari menarik tubuh Farida yang berdiri di depannya dan meletakkannya di pangkuannya.
"Bagaimana tangannya, Nak. Sudah baikan?" kata Sulastri sambil memeriksa perban di lengan Farida. Ia mencium kepala Farida.
"Sudah gak sakit, Bu. Di buka saja, Ya," kata Farida sembari mencoba membuka perban di lengannya. Melihat itu, Sulastri segera mencegahnya.
Gak usah, Nak. Kata dokter, tunggu sampai tiga hari. Tinggal dua hari lagi. Kamu yang sabar ya,"cegah Sulastri. Wajah Farida cemberut. Ia menggosok-gosokkan kepalanya di tangan Sulastri. Sulastri tersenyum dan mengacak-acak rambut Farida.
"Ayo, sana. Main sama adiknya. Tuh, bi Munawarah sudah mengeluarkan sepeda. Tapi ingat, setelah itu langsung tidur. " kata Sulastri sambil menunjuk ke arah Munawarah yang sedang mendorong sepeda ke tengah halaman. Farida menganggukkan kepalanya dan segera berlari kecil ke tengah halaman. Tawanya yang renyah semakin membuat ceria suasana sehabis maghrib.
Pak Bayan terlihat berlari-lari kecil ke arah Sulastri setelah beberapa saat terlibat perbincangan dengan pengendara motor itu.
"Siapa, Pak," tanya Sulastri ketika pak Bayan sudah berdiri di dekatnya.
"Katanya, dia seorang pelukis, Bu. Dia mau ketemu sama Ibu," kata pak Bayan. Sulastri mengernyitkan dahinya.
"Pelukis?" desah Sulastri. Ia terdiam sejenak memperhatikan laki-laki yang sedang bersandar di badan motornya.
Ia tiba-tiba ingat sesuatu.
"Oh ya, Pak. Cepat, suruh dia masuk," kata Sulastri ketika ingat tadi siang pernah membicarakannya dengan pak Sahril. Pak Bayan segera beranjak pergi memanggilnya.
__ADS_1
Sulastri berdiri dan tersenyum ketika pengendara motor itu sudah berada di depannya. Ia pun segera mempersilahkannya masuk.
"Perkenalkan, nama saya Faeshal, Bu. Saya seorang pelukis sketsa wajah. Kata pak Sahril, saya di suruh ke alamat ini," kata laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama Faeshal itu sembari melepaskan tas besar di punggungnya. Sulastri mengangguk.
Faeshal mengeluarkan beberapa gulungan kertas dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. Beberapa pensil juga ia keluarkan dan ia gelar satu persatu di atas meja.
"Bagaimana, bisa kita mulai, Bu," kata Faeshal. Ia sudah siap dengan pensil dan kertas ditangannya. Sulastri mengangguk.
"Kita mulai dengan wajahnya."
Sulastri mendesah. Ia mengarahkan matanya jauh ke depan. Mulai mengingat-ingat rupa wajah Rahima. Setelah beberapa saat terdiam, ia mantap mulai menyebut satu persatu yang ia ingat dari wajah Rahima.
* * *
Setelah setengah jam lamanya Faeshal memperlihatkan bagaimana cekatan tangannya mencoret-coretkan pensil di atas kertas, ia memperlihatkan hasil lukisan sketsanya kepada Supastri. Sulastri tersenyum menggelengkan kepalanya kagum.
"Luar biasa Pak Faeshal. Benar-benar mirip dengan aslinya." Sulastri mengambil lukisan itu dari tangan pak Faeshal dan mengamatinya dengan seksama sambil terus tersenyum. Nyaris seperti aslinya. Ia yakin, orang yang mengenal Rahima pasti akan segera mengingat Rahima ketika diperlihatkan lukisan itu.
"Terimakasih banyak, Lukisannya sempurna, Pak. Emh..., maaf, berapa, Pak," tanya Sulastri.
"Sudah dibayar pak Sahril, Bu. Sudah malam. Saya pamit pulang saja, Bu," kata pak Faeshal. Ia mengemasi barang-barang yang ia keluarkan di atas meja dan memasukkannya ke dalam tasnya. Setelah bersalaman dengan Sulastri, ia segera keluar di ikuti Sulastri.
"Pulangnya kemana, Pak," tanya Sulastri ketika telah sampai di teras rumah.
"Aslinya saya Kediri, Bu, tapi sekarang saya ikut istri saya tinggal di Jerowaru" kata pak Faeshal.
"Owh," kata Sulastri menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, mari, Bu," sambung pak Faeshal. Ia segera beranjak menuju sepeda motornya.
"Mari, Pak. Hati-hati di jalan."
__ADS_1
* * * * *
Waktu terus berlalu. Malam perlahan beranjak larut. Di tempat lain, di balik jeruji besi tahanan polres Jerowaru, Rianti masih duduk menekur di sudut ruangan berukuran 2x4 yang terletak di samping kantor polres. Sesekali ia terdengar berteriak ketika nyamuk-nyamuk menggigit tubuhnya. Ia tak pernah lupa menyelipkan nama Sulastri saat ia mengumpat. Belum ada pemberitahuan untuknya tentang kematian Castella. Pak Sahril memutuskan tidak memberitahukannya terlebih dahulu sambil melihat perkembangan kejiwaan Rianti.