
"Kak Tuan, tunggu."
Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke belakang. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat Rianti berjalan cepat ke arahnya. Ia menghentikan langkahnya dan menunggu Rianti.
"Loh, bukankah kamu tadi sudah masuk ke dalam?" tanya Tuan Guru Izzul Islam sambil menunjuk jauh ke ujung lorong di depannya setelah Rianti berada di dekatnya. Rianti tersenyum sambil menggandeng tangan Tuan Guru Izzul Islam.
"Sudah, tapi aku keluar sebentar. Nih, aku beli buah buat ibu dan Zulhiyani," kata Rianti sambil memperlihatkan tas kresek di tangannya. Ia kemudian mengajak Tuan Guru Izzul Islam melanjutkan perjalanan.
"Bagaimana hasil lab nya, Kak Tuan?" tanya Rianti sambil melirik ke arah tangan Tuan Guru Izzul Islam yang memegang hasil lab Zulhiyani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah.
"Perkiraan dokter, harapan hidup Zulhiyani hanya sepuluh persen. Tapi kita tetap akan berusaha mengobatinya sebab kita tidak tahu apa rencana Allah buat Zulhiyani," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mendesah.
"Semoga saja ada keajaiban. Semoga Allah menyembuhkan penyakitnya," kata Rianti penuh harap dan langsung diamini Tuan Guru Izzul Islam.
Beberapa langkah lagi akan sampai di depan kamar Zulhiyani, Rianti menarik tangan Tuan Guru Izzul Islam dan mengajaknya berhenti. Ia meletakkan jari tangannya di bibirnya sembari pelan mendekat ke arah pintu. Lamat-lamat, ia mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an dari arah dalam. Tuan Guru Izzul Islam yang belum mengerti maksud Rianti, ikut memasang pendengarannya. Suara merdu yang masih diselubungi serak itu, jelas bukan suara miliknya Suhaini ataupun Nur Jamila. Jika itu suara Zulhiyani, dia sangsi karna setahunya Zulhiyani masih kesulitan untuk berbicara. Sedangkan suara yang terdengar itu begitu jelas dari luar ruangan.
Rianti perlahan membuka pintu. Hanya sekedar untuk melihat ke dalam ruangan. Tampak olehnya Suhaini dan Jamila yang duduk di samping kiri kanan ranjang Zulhiyani. Masing-masing keduanya memegang mushaf kecil di tangan mereka. Melihat bibir Zulhiyani yang bergerak dengan jelas dengan pandangan menatap ke atas, sepertinya keduanya sedang menyimak bacaan Al-qur'an dari Zulhiyani.
Rianti menatap Tuan Guru Izzul Islam.
"Zulhiyani, Kak Tuan. Dia ternyata penghafal Al-qur'an," bisik Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menaikkan kedua alisnya. Ia menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah belakang saat beberapa petugas klinik lewat di belakangnya.
__ADS_1
"Ayo, kita masuk saja, gak enak dilihat perawat," ajak Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mengangguk. Dengan pelan, ia kembali membuka pintu. Menyadari kedatangan Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti, Suhaini dan Jamila segera bangkit dari duduknya dan berdiri menundukkan kepala memberi hormat. Zulhiyani terlihat berusaha mengangkat tubuhnya, tapi buru-buru Rianti mendekat dan menahannya.
"Sudah, kamu berbaring saja. Gak apa-apa," kata Rianti sembari duduk di kursi. Suhaini segera membawakan kursi di sampingnya dan meletakkannya di samping Rianti duduk. Tuan Guru Izzul Islam dipersilahkannya duduk. Senyum Rianti mengembang.
"Kamu hafal Al-qur'an?" tanya Rianti. Zulhiyani menundukkan pandangannya tersipu malu. Wajahnya memerah. Apalagi ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam duduk begitu dekat dengan tubuhnya.
"Tinggal tiga juz lagi Zulhiyani khatam, Bu Nyai," jawab Suhaini ketika melihat Zulhiyani tak kunjung menjawab pertanyaan Rianti. Wajah Rianti terlihat ceria. Senyumnya tak henti-henti terkulum. Ia terlihat begitu senang.
"Ya, Allah. Subhanallah!" Rianti bangkit dan melangkah ke arah inak Nurmah dengan senyum yang tak henti-henti terkulum. Ia lalu mengajak inak Nurmah duduk di dekat Tuan Guru Izzul Islam.
"Masya Allah, Bu, lihat, anak ibu ternyata seorang penghafal Al-qur'an. Apa ibu tahu kalau dia menghafal Al-qur'an?" tanya Rianti antusias.
"Subhanallah, lihat, Bu. Lihat anak ibu. Dia ini berlian paling berharga buat ibu."
Inak Nurmah mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepala Zulhiyani diusapnya lalu diciumnya.
"Zulhiyani harus cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini. Kita akan buat program tahfidz di pesantren. Cita-cita yang cukup lama dan belum kesampaian. Cukup kita bertiga saja yang mengelolanya. Aku, kamu dan bu Nyai Jamilah," kata Rianti penuh semangat. Zulhiyani tersenyum menganggukkan kepala dengan tatapan mata yang masih ditundukkannya.
"Ayo, biar aku yang simak hafalannya ya. Masih kuat kan?"
Zulhiyani mengangguk pelan. Rianti melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Melihat Zulhiyani yang tak kunjung juga mengangkat pandangannya sebab malu dengan keberadaan Tuan Guru Izzul Islam, ia menyentuh lengan tangan Tuan Guru Izzul Islam dengan sikunya. Tuan Guru Izzul Islam yang mengerti isyarat mata Rianti segera bangkit.
__ADS_1
"Ok, kalau begitu aku mau cari kopi dulu," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari bangkit dari duduknya. Setelah itu ia melangkah keluar ruangan.
"Ayo, Aku bantu kamu menyelesaikan hafalanmu. Ayat-ayat dalam surat-surat terakhir mudah-mudah kok. Pendek-pendek lagi. Aku yakin, begitu kamu keluar dari rumah sakit, kamu pasti sudah khatam. Senengnya ketemu pengafal Al-qur'an," kata Rianti sambil memperbaiki posisi duduknya di dekat Zulhiyani. Dia benar-benar terlihat bersemangat.
"Suhaini, Nur Jamila, ajak ibu makan kue dan buah dulu sana. Biar Zulhiyaninya juga konsentrasi," kata Rianti kepada Suhaini dan Nur Jamila yang masih berdiri di sisi lain ranjang Zulhiyani. Keduanya mengangguk dan mendekati inak Nurmah yang duduk bersandar di sofa di sudut ruang.
Perlahan Zulhiyani mulai terbiasa dengan keramahan dan keakraban yang diperlihatkan Rianti. Yang awalnya dia masih malu memulai bacaannya, perlahan ia sudah mulai lancar mengingat ayat demi ayat Al-qur'an yang dibacanya.
* * * * *
Sementara itu. Suasana di pondok pesantren Al-aziziyah tampak ramai. Di teras masjid maupun sudut-sudut teduh maupun di bawah pohon yang tumbuh di depan asrama, santri-santri terlihat sedang menikmati istirahat siang mereka selepas pulang sekolah dan shalat dhuhur. Di dalam masjid terlihat halaqoh-halaqoh kecil dimana beberapa santri sedang saling menyimak hafalan Al-qur'an mereka.
Di sudut masjid asrama putri, Layla nampak khusyu' bersandar. Di tangannya mushaf kecil yang sesekali ia tengok ketika ada ayat-ayat yang tak diingatnya. Sore nanti, akan ada setoran hafalan. Sejauh ini ia merasa sudah yakin dengan hafalan tiga juz yang telah dihafalnya. Ia menggunakan waktunya untuk mengulang kembali hafalannya sebelum penyetoran sore nanti. Tapi ada yang sedikit berbeda dari raut wajah Layla. Itu terlihat ketika seringkali ia menengok ke arah mushaf di tangannya. Ia terlihat sedikit kesal. Ternyata banyak hafalannya yang telah hilang. Terkadang urutannya, terkadang hafal di awal, lupa di tengah-tengah surat. Dia bertambah kesal karna banyak dari ayat-ayat dari surah-surah yang lebih dulu dihafalnya hilang begitu saja. Kata seniornya, hal itu adalah sesuatu yang wajar. Terkadang karna keasikan menghafal, kita jadi lupa mengulang-ulang kembali hafalan yang telah lewat. Keinginan untuk cepat-cepat mengkhatamkan secepatnya seringkali jadi penyebabnya. Tapi situasi seperti itu membuat Layla gerah. Sudut Masjid yang sejuk dengan angin yang tak henti-henti bertiup, tak mampu mengusir keringat yang mulai menyambangi tubuhnya. Diulangnya lagi dan ia tetap mendapatkan keadaan yang sama. Terlalu banyak hafalan yang hilang. Karna kesal, Layla tak sadar tiba-tiba melempar Mushaf di tangannya hingga membentur dinding masjid.
"Astahfirullah!
Spontan Layla melonjak kaget. Ia segera bangkit dan mengambil mushaf. Tak henti-henti ia mencium mushaf sambil terus mengucap istighfar.
Layla kembali menyandarkan tubuhnya. Ia mendesah panjang seraya memejamkan matanya. Sejenak ia terdiam merenungi apa yang baru saja telah dilakukannya. Rasa putus asa mulai memenuhi pikirannya. Menghafal Al-qur'an tak semudah yang ia bayangkan. Ia tipe yang mudah menghafal tapi mudah lupa. Obsesinya untuk secepat mungkin mengkhatamkan Al-qur'an hingga tiga puluh juz membuatnya lalai mengulang-ulang kembali hafalan sebelumnya. Dia mulai berpikir untuk mundur. Pesantren itu sudah pasti tidak cocok untuknya. Jika harus mengulangi lagi menghafal dari awal tentu akan sangat menyakitkan. Bagaimana jika nanti ia benar-benar sudah hafal tiga puluh juz? Tentu semakin banyak hafalan yang akan ia pertahankan. Segala pertanyaan dan pikiran-pikiran menggoyahkan mulai menjadi pertimbangan Layla. Memutuskan bertahan atau mencari tempat lain yang sesuai kemampuannya.
Layla mendesah panjang dan mengangkat tubuhnya perlahan. Sejenak ia menatap beberapa santri yang terlihat menikmati mendengarkan bacaan Al-qur'an dari temannya yang lain. Kembali Layla mendesah dan membalikkan tubuhnya. Ia memutuskan kembali ke asramanya.
__ADS_1