KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#210


__ADS_3

Fahmi panik. Darah terlihat keluar dari lubang hidung dan mulut Sulastri. Tanpa berkata-kata lagi, ia segera mengangkat tubuh Sulastri dan membawanya keluar.


"Pak Bayan, Pak Mustarah! Tolong," teriak Fahmi sambil terus berlari membawa tubuh Sulastri ke arah pos jaga. Pak Bayan yang mendengar teriakan Fahmi segera keluar. Ia segera berlari ke arah Fahmi.


"Panggil pak Mustarah, Pak,suruh dia keluarkan mobil," kata Fahmi. Pak Bayan segera berlari ke arah kamar pak Mustarah. Pak Mustarah yang saat itu sedang tidur langsung terbangun. Ia segera menuju parkir mobil ketika pak Bayan memberitahukannya kondisi Sulastri.


"Ya, Allah, ibu! Bangun, Bu," kata Fahmi sambil terus mengusap darah yang keluar dari hidung Sulastri dengan tangannya.


Dari arah halaman samping, Munawarah dan bi Aisyah terlihat berlari. Keduanya menangis histeris melihat keadaan Sulastri dalam bopongan Fahmi. Pak Bayan sigap membuka pintu mobil ketika menghentikannya tepat di samping Fahmi. Dengan pelan, Fahmi menaiki mobil dan membaringkan tubuh Sulastri.


"Bibi ikut, Nak Fahmi," kata bi Aisyah. Fahmi mengangguk. Ia segera menyuruh bi Aisyah masuk ke dalam mobil.


"Bi Munawarah di rumah saja ya, nanti pak Mustarah balik lagi untuk menjemput ibu. Siapkan pakaian bersalin ibu. Ayo, Pak, kita berangkat," kata Fahmi. Munawarah mengangguk. Pintu mobil segera ditutupnya.


* * * * *


Tuan Guru Izzul Islam membuka matanya dan bangkit dari bangku panjang di dalam ruangan tempat Rianti bersalin, saat getar ponsel di sakunya membangunkannya. Setelah untuk beberapa lamanya tadi ia bergantian menggendong bayi yang terus menangis dengan Jamila, ia tidak sadar telah tertidur di bangku panjang itu.


Rianti yang juga terbangun karna mendengar suara bangku karna gerakan tubuh Tuan Guru Izzul Islam, segera memegang pelan tubuh bayinya agar tetap terlelap dalam tidurnya. Ia tersenyum melihat Tuan Guru Izzul Islam yang hanya menggunakan sorbannya sebagai alas kepalanya, menutup mulutnya saat menguap panjang sembari meraih ponsel dengan salah satu tangannya dari dalam saku bajunya.


"Wa alaikum salam. Ada apa, Dik."


Rianti mengerutkan dahinya saat melihat ekspresi wajah Tuan Guru Izzul Islam saat menoleh ke arahnya sambil mendengar seseorang menelpon dari seberang. Rianti tambah penasaran ketika berkali-kali Tuan Guru Izzul Islam mendesah sembari mengucap istighfar.


"Wa alaikum salam," ucap Tuan Guru Izzul Islam seraya bangkit dan menutup panggilan. Ia lalu melangkah mendekati Rianti.


"Ada apa, Kak Tuan. Siapa yang menelpon?" tanya Rianti saat Tuan Guru Izzul Islam duduk di sampingnya.


"Ibu juga ada di sini, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti memincingkan kedua matanya. Ia mengangkat tubuhnya pelan dan menyandarkannya.

__ADS_1


"Maksud Kak Tuan?"


"Ibu ada di ruang ICU. Ibu tiba-tiba pingsan. Kemungkinan pembuluh darah ibu pecah," kata Tuan Guru Izzul Islam lirih sambil memegang tangan Rianti. Ia tahu, mungkin Rianti kaget, tapi Rianti tidak akan breaksi berlebihan ketika mendengar atau mendapatkan musibah. Rianti terdiam beberapa saat. Ia memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri. Tapi saat membuka kembali matanya, air matanya terlihat mengalir.


"Astaghfirullahal adzim...," desah Rianti sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tuan Guru Izzul Islam mendekap kepala Rianti sambil terus mencium kepalanya.


"Ini adalah musibah yang dengannya kita harus bersabar. Doakan saja semoga ibu baik-baik saja dan secepatnya sembuh," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Assalamualaikum."


Tuan Guru Izzul Islam melepaskan dekapannya di kepala Rianti dan menoleh ke arah Jamila yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Ia menatap heran ke arah Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti yang sepertinya sedang menangis. Ia perlahan mendekat. Tas kresek berisi makanan di tangannya di letakkannya di atas meja. Setelah itu ia mendekati keduanya. Tuan Guru Izzul Islam bangkit.


"Dik Jamila, kamu tunggu dik Rianti dulu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia memperbaiki sorban di pundaknya.


"Ada apa. Kak Tuan mau kemana?" tanya Jamila penasaran. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.


"Ibu Lastri ada di ruang ICU, Jamila. Aku mau kesana dulu," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Aku ikut ya. Aku ingin melihat ibu," kata Rianti. Air mata yang berusaha di tahannya akhirnya keluar juga. Bahkan ia sesenggukan keras ketika wajah Sulastri terlihat jelas di kedua matanya. Tuan Guru Izzul Islam menatap sedih. Ia mendesah panjang dan kembali melangkah mendekati Rianti.


"Rianti, kamu belum pulih benar. Biar kak Tuan dulu yang memeriksa. Lagi pula, ruang ICU itu jauh dari sini," ujar Jamila.


" Benar kata Jamila. Biar aku dulu yang kesana sambil menunggu kamu benar-benar pulih," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tak menjawab. Ia masih terisak-isak dalam tangisnya. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia tak pernah menangis seperti itu. Seadanya saja. Tak sampai sesenggukan. Ketika mendengar pembuluh darah Sulastri pecah, nun jauh di kedalaman hatinya, berdetak rasa kaget yang mengeruhkan pikirannya. Baginya,Sulastri adalah permata paling berharga dalam hidupnya, bahkan melebihi kedua orang tuanya. Dan ada rasa tidak menerima jika Sulastri harus meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang dan mengusap kepala Rianti.


"Kita akan mengobati ibu semampu kita sampai Allah memberinya kesembuhan ataupun mencabutnya nyawanya. Apapun yang terjadi antara dua pilihan itu, pilihan kita hanya dua, bersabar dan bersyukur." Tuan Guru Izzul Islam tersenyum ketika melihat Rianti menganggukkan kepalanya. Jamila mengambil tisu dan mengusap air mata Rianti. Setelah melihat Rianti mulai tenang, Tuan Guru Izzul Islam melangkah keluar dari ruangan.


* * * * *

__ADS_1


Sulastri nampak seperti orang yang sedang tertidur pulas di atas brangkar dengan kabel di hidung dan tangannya. Hanya nafas yang terlihat turun naik. Fahmi yang duduk di samping kepala Sulastri sesekali membisikinya sesuatu. Lantunan surat Yasin yang sesekali diringi isak tangis terdengar dari mulut bi Aisyah, yang duduk di sebelah yang lain dari tubuh Sulastri.


Tuan Guru Izzul Islam memegang pundak Fahmi. Fahmi menoleh. Ia segera berdiri dan menyalami Tuan Guru Izzul Islam.


"Teruskan, Bi," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika bi Aisyah hendak mendekat ingin bersalaman. Bi Aisyah mengangguk dan kembali duduk.


"Bagaimana kondisi ibu, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi mendesah. Di tatapnya wajah Sulastri lekat.


"Belum ada perubahan Kak Tuan. Kata Dokter, sembilan puluh delapan persen pembuluh darah ibu sudah pecah. Kalaupun ada keajaiban dan ibu sembuh, mungkin kondisi ibu tidak akan seperti sebelumnya," kata Fahmi. Air matanya terlihat keluar. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menepuk pundak Fahmi.


"Apapun yang terjadi, ketentuan Allah harus kita terima. Ketika nanti ibu ditakdirkan sembuh, apapun kondisinya, itu adalah lahan buat kita untuk merawat dan menjaga ibu sebagaimana beliau merawat dan menjaga kita waktu kecil hingga kita dewasa. Dan kalaupun Allah menakdirkannya meninggal, kita adalah orang yang beriman dan mengerti bahwa setiap yanv bernyawa pasti akan mati," kata Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi mengusap air matanya dan mengangguk.


Tuan Guru Izzul Islam kemudian duduk. Ia tersenyum melihat wajah Sulastri yang tenang, putih dan bersinar. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Sulastri.


"Bu, ini Izzul." Kepala Sulastri terlihat bergerak. Begitupun kaki dan tangannya.


"Aku juga membawa titipan salam dari anak kesayanganmu Rianti. Cucumu juga ingin ibu menggendongnya. Cepatlah sadar, Bu." bisik Tuan Guru Izzul Islam lembut. Kepala Sulastri kembali bergerak. Kali ini lebih sering, seperti hendak melonjak dari berbaringnya.


"Kondisi Rianti masih lemah, Bu. Itu sebabnya aku tidak ikut membawanya ke sini. Insya Allah, besok atau nanti malam jika dokter mengijinkan, aku akan membawa mereka berdua kesini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Kepala Sulastri diusapnya.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Fahmi.


"Kamu jaga ibu dulu. Aku mau kembali ke ruangan kakakmu. Saat ini kakakmu butuh teman. Baru kali aku melihat dia sesedih itu ketika mendengar berita tentang ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Iya, Kak Tuan. Kak Rianti juga masih belum sehat benar. Insya Allah, kalau pak Sahril dan bu Trianti sudah datang, aku akan melihat keadaan Kak Rianti,"


Tuan Guru Izzul Islam bangkit. Ia tersenyum dan merangkul tubuh Fahmi dan mengajaknya keluar.


"Jangan lalai menjaga ibu."

__ADS_1


" Baik, Kak Tuan,"


Tuan Guru Izzul Islam pun pergi meninggalkan Fahmi yang menatapnya di depan pintu, hingga tubuhnya tak terlihat lagi.


__ADS_2