KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#229


__ADS_3

Hari berganti hari. Tak terasa waktu terus berlalu, menghapus kesadaran sebagian besar manusia untuk menyadari, bahwa usia semakin bertambah. Selalu lalai dan menganggap bahwa maut masih dalam perjalanan panjang untuk mengunjungi mereka.


Waktu menegangkan bagi Zulhiyani telah tiba. Hari ini adalah hari dimana ia harus menjalani operasi pengangkatan tumor di tubuhnya. Tuan Guru Izzul Islam pagi-pagi sekali mengajak Rianti dan Jamila ke Klinik untuk memberi semangat kepada Zulhiyani. Suhaini dan Nur Jamila pun tak diijinkannya pulang agar inak Nurmah tidak merasa sendiri.


Suara jam dinding berdetak menghentak ketegangan di dalam ruangan. Zulhiyani terlihat pasrah menatap wajah-wajah tegang di depannya. Begitupun dengan inak Nurmah. Ia nampak ikhlas dengan apa yang akan terjadi pada Zulhiyani. Rianti telah menjelaskan semuanya tentang penyakit Zulhiyani. Ia sedih namun tidak terkejut. Selama kurang lebih setahun ia merawat Zulhiyani, ia merasa sudah terbiasa. Bahkan ada saat ia pernah meminta kepada Allah agar segera mencabut nyawanya. Ia tak tega melihat kondisi Zulhiyani yang menyedihkan, di saat ia sebagai ibu tak punya daya dan upaya untuk membantunya. Penjelasan Rianti tentang penyakit Zulhiyani serta sedikit nasehat keagamaan dari Tuan Guru Izzul Islam, membuat hatinya menjadi lapang menerima ketentuan Allah swt. Apapun yang terjadi pada Zulhiyani, ia sudah siap menerimanya.


Mereka masih menunggu Tuan Guru Izzul Islam, Rianti dan Jamila. Dua jam lagi Zulhiyani akan masuk ruang operasi. Ada sesuatu yang ia pikirkan sejak dua malam yang lalu ketika Rianti memberitahukannya bahwa ia harus dioperasi untuk mengangkat tumor di tubuhnya. Sesuatu yang menurutnya sangat berat dan sulit untuk diungkapkan. Tapi ia merasa harus mengatakannya. Ia hanya punya waktu hari ini, bahkan hanya beberapa jam saja. Jika rasa malu dan takut terus menghalanginya, ia akan kehilangan segalanya. Ia merasa ada yang mulai hilang dari dirinya. Ia merasa waktunya sudah tak banyak. Tapi sebagai manusia, ia harus menjalani ikhtiar. Dan operasi ini adalah ikhtiar terakhirnya. Beruntung selama ia berada di klinik, Rianti dengan ramah tamahnya membuatnya merasa akrab dengannya. Ia merasa Rianti sudah menjadi bagian dari keluarganya. Walaupun dengan Jamila ia agak merasa sungkan, tapi karna ini ada kaitannya juga dengannya, mau tidak mau ia harus mengikutkannya. Ia tahu, istri-istri Tuan Guru Izzul Islam adalah wanita-wanita baik. Pengetahuan serta ajaran agama yang tertanam kuat di hati keduanya, membuat keduanya terlihat benar-benar sempurna sebagai seorang perempuan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Segenap yang ada di dalam ruangan menoleh dan langsung menundukkan kepala ketika Tuan Guru Izzul Islam, Rianti dan Jamila memasuki ruangan. Setelah menyalami ketiganya satu persatu, Suhaini langsung mengambil Azka dari gendongan Jamila. Ketiganya kemudian langsung mendekat ke brangkar tempat Zulhiyani terbaring. Rianti yang di setiap kunjungannya selalu menyempatkan dirinya menyimak hafalan Zulhiyani, langsung memegang tangan Zulhiyani. Senyumnya mengembang, memberi Zulhiyani semangat.


"Jangan pernah putus asa, Dik Zulhiyani. Tetaplah berbaik sangka dan mengharapkan kesembuhan dari Allah swt," kata Rianti. Zulhiyani tersenyum. Untuk beberapa lama, Zulhiyani terdiam menatap Rianti.


"Bu Nyai, ada yang ingin aku bicarakan dengan bu Nyai dan Bu Nyai Jamila, tapi...,"


Zulhiyani menoleh ke arah orang-orang di sekelilingnya. Rianti langsung mengerti. Begitupun yang lainnya. Rupanya Zulhiyani ingin berbicara sesuatu yang rahasia dengannya dan Jamila. Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Suhaini dan Nur Jamila. Ia memberi isyarat untuk membawa inak Nurmah keluar ruangan.

__ADS_1


Suasana di dalam ruangan kembali sepi. Hanya ada Rianti, Jamila dan Zulhiyani. Keduanya kini berdiri di samping kiri dan kanan Zulhiyani. Senyum keduanya tak henti-henti terkulum, memberi tanda kepada Zulhiyani agar tidak takut dan malu mengungkapkan semua apa yang ingin disampaikannya.


Rianti melirik ke arah jam dinding. Ia mendesah panjang.


"Ayo, sekarang hanya ada kita berdua," kata Rianti setelah merasa sudah waktunya Zulhiyani memulai pembicaraannya. Zulhiyani memegang tangan Rianti dan tangan Jamila. Rianti dan Jamila sama-sama tersenyum.


"Bu Nyai, sebelumnya aku minta maaf jika apa yang akan aku bicarakan ini akan membuat marah bu Nyai. Aku sudah terlalu banyak merepotkan Bu Nyai dan Tuan Guru. Sangat tidak sopan jika aku harus menyampaikan sesuatu yang mungkin akan menyakiti perasaan Bu Nyai Jamila maupun Bu Nyai Rianti." Zulhiyani menghentikan kata-katanya. Air matanya tak mampu ditahannya. Rianti dan Jamila terdiam memberikan waktu kepada Zulhiyani untuk mengeluarkan tangisnya sembari terus memegang erat tangan Zulhiyani.


"Terlalu banyak kebaikan dan bantuan yang telah keluarga bu Nyai memberikan kepadaku. Seharusnya aku merasa malu meminta yang lebih. Tapi keadaanku yang ditakdirkan terlahir dalam keadaan tak berdaya, membuat aku harus mengemis kepada Bu Nyai," lanjut Zulhiyani. Rianti dan Jamila sama-sama tersenyum menganggukkan kepala. Mereka tak mau menyela. Mereka hanya memberi isyarat dengan senyuman dan anggukan kepala bahwa mereka sedang khidmat mendengarkan pembicaraannya.


"Bu Nyai." Zulhiyani bergantian menoleh ke arah Rianti dan Jamila.


"Jangan berkata seperti itu, Dik. Optimislah dan tetap yakin dengan doa dan ikhtiar kita. Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada Dik Zulhiyani dan operasinya berjalan lancar," potong Jamila.


"Terimakasih, Bu Nyai. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini." Zulhiyani mendesah panjang.


"Aku punya dua permintaan, Bu Nyai. Berjanjilah untuk mengabulkannya meskipun itu mungkin menyakitkan perasaan Bu Nyai berdua," Lanjut Zulhiyani. Jamila melempar pandangannya ke arah Rianti. Setelah beberapa saat keduanya saling pandang seperti sedang meminta pendapat satu sama lainnya, keduanya menganggukkan kepalanya.


"Katakanlah, Insya Allah, jika permintaanmu tidak menyalahi aturan Allah dan sesuai dengan kemampuan kami, kami akan mengabulkannya," kata Rianti. Zulhiyani tersenyum. Ia mendesah panjang. Berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan inti pembicaraannya hari ini.

__ADS_1


"Aku titip ibu, Bu Nyai. Sedih rasanya mengingat bila aku nyatanya tak bisa membuatnya bahagia. Aku tidak bisa meringankan sedikit bebannya. Bahkan sampai detik ini, aku masih membebani perasaannya. Perempuan setua itu seharusnya duduk manis di rumah menikmati masa tuanya. Menikmati apa yang bisa diberikan oleh anaknya. Sudah saatnya ia menikmati hidup yang tenang, tapi aku tak punya daya untuk itu, " kata Zulhiyani dengan suara terbata-bata. Rianti tersenyum. Tangannyatak henti-henti menepuk pelan telapak tangan Zulhiyani.


"Jangan khawatirkan ibu. Itu sudah kewajiban kami sesama muslim. Ibu adalah orang tua kami. Apapun haknya sebagai seorang ibu akan kami penuhi. Ibu sudah pasti akan tinggal bersama kami," kata Rianti.


"Terimakasih," kata Zulhiyani lirih. Ia menghela nafas panjang.


"Yang kedua, Ingatkan aku kalau salah, Bu Nyai," lanjut Zulhiyani. Kembali ia menatap bergantian ke arah Rianti dan Jamila. Kembali keduanya tersenyum.


"Kalau tidak salah, Baginda Nabi saw pernah bersabda; miskin, miskin, miskin, bagi seorang perempuan yang tidak menikah sekalipun ia kaya. Dengan menikah, seorang muslim telah menyempurnakan separuh agamanya. Aku tidak mampu melakukan itu karna keadaanku, Bu Nyai. Tapi aku berharap aku bisa menikah sebelum aku meninggalkan dunia ini." Zulhiyani menghentikan kembali kata-katanya. Ia terdiam agak lama. Kata-kata terakhir yang hendak dikatakannya sangat sulit untuk diucapkannya. Ia pun memutuskan diam sampai salah satu dari keduanya menanyakannya atau menyuruhnya melanjutkan kata-katanya.


Rianti dan Jamila saling pandang. Melihat Zulhiyani hanya terdiam dan tak ada tanda-tanda ia akan melanjutkan pembicaraannya, Rianti mengusap rambutnya.


"Lanjutkan Dik, tak ada yang salah dari apa yang kamu katakan. Niatmu sungguh baik. Katakanlah apa yang kamu inginkan," kata Rianti.


"Bu Nyai berdua janji tidak akan marah?" tanya Zulhiyani. Kembali Jamila dan Rianti saling pandang. Keduanya mulai mengerti arah pembicaraan Zulhiyani.


"Kalian berdua sungguh beruntung menjadi istri-istri Yang mulia Tuan Guru. Alim, shaleh, dunia dan akhirat ada dalam diri Yang Mulia Tuan Guru. Sebagai santri, akupun pernah bercita-cita ingin menjadi istri Tuan Guru. Walaupun dulu aku diberi kesempatan oleh Allah melalui perantara almarhumah Bu Nyai Mustiani, tapi rasa hina dan tidak pantasku, membuatku terpaksa menolaknya." Zulhiyani terdiam sejenak. Ia mengambil nafas panjang.


"Kini sudah saatnya aku mengatakan apa yang selama ini aku sembunyikan. Aku meminta ijin Bu Nyai berdua. Dengan segala kemurahan dan kebaikan hati Bu Nyai, ijinkan aku menikah dengan Tuan Guru. Ijinkan aku yang hina ini menjadi bagian dari keluarga kalian. Setidaknya kelak di akhirat, aku mendapat barokah dari keshalehan dan baik budi kalian. Jikapun nanti Allah memanjangkan umurku dan diberi kesembuhan, aku ikhlas Tuan Guru menceraikanku. Aku hanya takut meninggalkan dunia ini dalam keadaan tidak berstatus istri Tuan Guru. Oh, beruntung dan bahagianya aku jika aku mati sebagai istri Tuan Guru. Inilah kebahagiaan terbesarku," kata Zulhiyani. Sisa air mata yang terlihat di ujung matanya mengawali isak tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2