
Tuan Guru Izzul Islam masih berdiri di teras rumah memandang tubuh tamu terakhir yang berpamitan pulang malam ini setelah acara tahlilan malam pertama Nyai Mustiani selesai. Hanya Abdul khalik dan beberapa orang santri yang masih terlihat membersihkan sisa-sisa bungkus makanan yang berserakan di halaman rumah. Udara malam ini berhembus dingin. Tuan Guru Izzul Islam seperti sedang berada di tengah padang yang luas, dengan seluruh pakaian yang tertiup angin. Sapuan angin yang membelai lembut wajahnya, menggugah rasa sepi yang perlahan merayap dalam hatinya. Sepi dan hening.
Abdul khalik diam-diam memperhatikannya. Dia merasa kasihan melihat Tuan Guru Izzul Islam berdiri dengan tatapan penuh arti. Zahirnya terlihat menatap ke arah gerbang, tapi ia yakin, itu tatapan hampa, karna yang meraja saat ini dalam batinnya adalah kesedihan yang mendalam. Rumah yang tadinya ramai dengan dua wanita yang dicintainya, kini tiba-tiba senyap begitu saja. Keduanya telah pergi. Dia hanya seorang manusia biasa, yang memang sudah ditakdirkan bersedih jika sudah tiba saatnya.
Abdul khalik bangkit dan mendekat perlahan. Di bawah teras ia berdiri menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling memegang satu sama lainnya dan diletakkannya di pusarnya. Tuan Guru Izzul Islam tak menoleh. Pandangan hampanya jauh ke depan, membuatnya tak menyadari bahwa Abdul khalik kini berdiri di depannya.
Abdul khalik mendehem. Tuan Guru Izzul Islam menggerakkan kepalanya. Ia mendesah panjang dan mengucap istighfar.
"Astaghfirullahal Adzim," desah Tuan Guru Izzul Islam. Air mata yang hendak meleleh di pipinya segera diusapnya. Ia menoleh ke arah Abdul khalik.
"Sudah selesai, Lik," sapa Tuan Guru Izzul Islam.
"Sudah, Tuan Guru," kata Abdul khalik tetap dengan wajah tertunduk. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Kalau begitu, kamu istirahat dulu sana."
Abdul khalik terdiam. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi ia tidak juga bisa mengucapkannya.
__ADS_1
"Ada apa, Lik. Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Abdul khalik hanya diam. Abdul khalik tersenyum.
"Tidak, Tuan Guru. Saya belum ngantuk," kata Abdul khalik. Ia berharap malam ini Tuan Guru Izzul Islam menyuruhnya menemaninya. Ia merasakan kesedihan dan rasa sepi yang kini dialami oleh Tuan Guru Izzul Islam. Ia tak tega jika meninggalkannya sendiri di rumah besar itu. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengerti apa maksud Abdul khalik mengatakan itu.
"Kalau Zaebon belum tidur, tolong ajak dia kesini. Setelah itu, buatkan untuk kita minuman hangat. Dingin-dingin begini kayaknya susu kambing sangat tepat untuk kita minum," kata Tuan Guru Izzul Islam. Wajah Abdul khalik terlihat ceria. Senyumnya mengembang. Ia menganggukkan kepalanya dan segera mencari Zaebon. Tuan Guru Izzul Islam sendiri langsung masuk dan berbaring di sofa panjang ruang tamu.
"Masuk, Bon," kata Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Zaebon dan Abdul khalik berdiri di depan pintu yang terbuka lebar. Keduanya masuk. Abdul Abdul khalik sendiri langsung menuju dapur.
"Duduk di sini, Bon," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari menepuk-nepuk alas sofa di samping kirinya. Zaebon yang terlihat ragu karna akan duduk terlalu dekat dengan Tuan Guru Izzul Islam menoleh kesana kemari melihat sofa lain yang kosong.
Tak berapa lama kemudian, Abdul khalik muncul dengan membawa nampan berisi tiga gelas minuman panas. Setelah meletakkan minuman di depan Tuan Guru Izzul Islam dan Zaebon, Tuan Guru Izzul Islam menyuruhnya duduk di sebelah kanannya. Seperti halnya Zaebon, Abdul khalik terlihat ragu. Ia merasa tak pantas jika duduk terlalu dekat dengan Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon yang melihatnya hanya tersenyum menundukkan kepalanya.
"Ayo, jangan malu begitu. Kalian sudah mondok di sini sudah sepuluh tahun. Kalian berdua itu sudah termasuk keluarga dekat saya. Ayo, sini, Lik" kata Tuan Guru Izzul Islam. Dengan sangat terpaksa, Abdul khalik duduk di sebelah Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia menoleh ke arah Zaebon dan Abdul khalik. Masing-masing telapak tangannya diletakkan di atas telapak tangan keduanya. Baik Abdul khalik dan Zaebon merasa kaget. Apa yang dilakukan Tuan Guru Izzul Islam membuat keduanya merasa sangat dekat dengan Tuan Guru Izzul Islam.
"Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Anak, istri dan semua yang kita cintai adalah ujian dan titipan dari Allah swt. Jika tidak dengan kesadaran penuh, bahwa apa yang dititipkan suatu saat nanti akan diambil kembali, maka kita akan terus meratapi kehilangan itu," kata Tuan Guru Izzul Islam membuyarkan suasana yang sejenak hening. Abdul khalik dan Zaebon menunduk diam mendengarkan khusyu'. Keduanya serempak meminum minumannya setelah Tuan Guru Izzul Islam menyuruhnya. Setelah itu, keduanya kembali terdiam. Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah panjang. Tatapannya kini lekat menatap photo besar Nyai Mustiani dan Rianti yang tergantung bersebelahan di dinding ruang tamu. Ia tersenyum. Seolah-olah ingin membalas senyuman kedua sosok orang yang ia cintai di balik photo itu.
__ADS_1
Setelah puas memandang photo itu, ia menoleh ke arah Abdul khalik dan Zaebon.
"Dalam suatu riwayat, Nabi Muhammad saw bersabda; tidak akan datang atas mayit sebuah malam yang paling menakutkan dari pada malam pertama ia di dalam kuburnya. Malam penentuan selamat dan tidaknya si Mayit. Jika ia selamat, maka setelahnya akan lebih mudah baginya. Tapi sebaliknya, jika ia tidak selamat, maka setelahnya akan sangat lebih sulit baginya. Oleh karnanya, Nabi menyuruh kita untuk mengasihi dan menolong mereka dengan memperbanyak bershadakah. Jika kita tidak punya sesuatu untuk bershadakah buat mereka, maka Nabi menyuruh kita untuk shalat dua rakaat. Shalat hadiah untuk si mayit. Masing-masing rakaat setelah membaca surat Alfatihah, membaca ayat kursi satu kali, surat Attakatsur satu kali dan surat al-ikhlas sebelas kali. Dan setelah salam membaca doa; Ya, Allah, sesungguhnya aku telah mengerjakan shalat ini. Dan Engkau mengetahui apa yang aku inginkan. Ya, Allah, kirimkanlah pahala shalat ini kepada kubur si Fulan bin fulan." Tuan Guru Izzul Islam mengusap lengan tangannya. Bulu kuduknya berdiri. Kengerian terlihat dari wajahnya. Untuk sesaat ia terdiam menundukkan kepalanya.
Tuan Guru Izzul Islam mengangkat kepalanya dan kembali menoleh bergantian ke arah Abdul khalik dan Zaebon sembari menepuk pelan paha keduanya.
"Allah akan langsung mengutus pada saat itu juga ke dalam kubur orang itu seribu malaikat. Bersama setiap malaikat, cahaya dan hadiah, yang akan menghibur si mayit sampai terompet sangkakala ditiup sebagai penanda berakhirnya kehidupan dunia. Demikian keterangan dalam kitab Fawaidul Mukhtarah."
Tuan Guru Izzul Islam mengambil gelas minumannya dan menyeruputnya pelan.
"Sekarang, habiskan minuman kalian. Setelah itu, kita akan mengambil wudhu dan mengerjakan shalat itu. Pahalanya akan kita hadiahkan kepada ibu. Semoga ibu mendapati kuburannya luas dan terang benderang dengan pahala shadakah kita," kata Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya menganggukkan kepala dan segera menghabiskan minumannya.
Kita shalatnya di kamar masing-masing ya." Tuan Guru Izzul Islam terdiam sejenak memandang keduanya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Abdul khalik, Zaebon, Saya pribadi mewakili diri saya sendiri, juga ibu, menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas pengabdian kalian selama ini. Hanya Allah yang bisa membalasnya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia bangkit.
"Lik, jika minumannya sudah habis, tolong tutup pintunya ya," kata Tuan Guru Izzul Islam kepada Abdul khalik. Abdul khalik mengangguk. Tuan Guru Izzul Islam melangkah meninggalkan keduanya.
__ADS_1