
Sementara itu. Sulastri yang sempat tertidur setelah selesai melaksanakan shalat maghrib, terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa lapar karna ia belum sempat makan malam. Rasa lelah setelah seharian melakukan perjalanan panjang menuju kawasan segui, ditambah lagi dengan apa yang terjadi di lapas, membuatnya terpaksa tidur lebih awal.
Sulastri merapikan rambutnya dan bangkit melangkah ke kamar mandi. Setelah mencuci mukanya, ia keluar menuju ruang tamu.
Sulastri membuka makanan yang dihidangkan di atas meja oleh Rahima. Aroma khas pelecing kangkung menggugah selera makannya. Ia pun langsung duduk dan mulai menyantap makanannya.
"Farida, ibu lagi istirahat. Jangan diganggu dulu. Kasihan, ibu tadi bekerja seharian." Sulastri menoleh. Terdengar suara Rahima di teras rumah. Ia seperti sedang menenangkan Farida.
"Gak mau. Farida mau ketemu ibu. Ayo bangunkan ibu." Tangis Farida terdengar di antara hening malam. Sulastri menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul 10 malam. Ia mendesah. Tumben Farida belum tidur dan mencarinya. Biasanya, kalau sudah bersama bi Aisyah, ia sama sekali tidak tertarik mencarinya.
Terdengar suara pintu digedor dengan keras beberapa kali, disertai panggilan setengah berteriak dari Farida. Sulastri segera mencuci tangannya dan membersihkan mulutnya dengan tisu. Setelah itu ia melangkah menuju pintu.
Sulastri segera meraih tubuh Farida ketika Farida dilihatnya berdiri di depan pintu dalam keadaan menangis. Sulastri menatap ke arah Rahima, ingin tahu apa yang terjadi. Tapi Rahima mengangkat kedua bahunya isyarat tidak tahu. Dia berusaha menenangkan Farida. Ia takut tangisnya yang keras membangunkan saudara-saudaranya.
"Sudah, Nak. Sudah. Gak boleh nangis malam-malam begini. Nanti adikmu bangun," kata Sulastri. Ia menggendong tubuh Farida ke dalam. Sementara Rahima mengikuti dari belakang.
"Dia tiba-tiba saja bangun dan menangis. Dia memaksa bertemu kamu," kata Rahima. Ia ikut duduk di sofa.
"Kenapa, Nak. Ayo ceritakan ibu. Apa yang terjadi," kata Sulastri.
__ADS_1
"Farida ingin ketemu ayah," isak Farida. Sulastri menoleh ke arah Rahima. Rahima tersenyum. Sulastri mendesah dan mencium rambut Farida.
"Tapi ayahmu sedang bekerja,Nak. Tempatnya juga jauh sekali. Gak mungkin ayahmu bisa datang malam-malam begini."
Farida menggeleng-gelengkan kepala sembari memukul-mukul tangan Sulastri.
"Telpon ayah. Farida mau ngomong,"
Sulastri kembali mendesah. Ia menggelengkan kepalanya ketika Farida bersikeras ingin bicara dengan ayahnya.
"Tapi ibu gak punya nomornya ayah. Ini juga sudah malam, Nak. Ayahmu pasti sudah tidur."
"Gak mau. Farida mau ngomong sama ayah. Farida mau ketemu sama ayah," teriak Farida. Suaranya menggema dalam ruangan.
"Jangan teriak dong, Nak. Adikmu nanti bangun," kata Sulastri mengusap-usap wajah Farida.
"Ya sudah, sekarang diam. Besok kita cari tahu nomor telpon ayah, ya. Tapi farida harus janji, sekarang kamu kembali tidur bersama bibi Rahima. Kalau gak, ibu tidak akan menelpon ayahmu,"kata Sulastri setengah mengancam. Farida terdiam. Sulastri masih menatapnya.
Farida mengangguk. Ia segera turun dari pangkuan Sulastri. Rahima segera meraih tubuh Farida dan mengajaknya keluar.
__ADS_1
Sulastri mendesah dan membaringkan tubuhnya di atas sofa. Sudah lama sekali Bagas tak mengunjungi anak-anaknya. Ia baru ingat kalau Bagas bekerja di salah satu cabang perusahaan mutiaranya yang ada Bima. Dia tentu sudah melihatnya berpidato pagi tadi. Waktu itu ia tak sempat kepikiran kalau Bagas bekerja di sana. Dia jadi ingat penjelasan dari pak Pratama terkait roling antar pegawai di perusahan mutiara, baik yang ada di lombok maupun bima. Mungkin ia bisa merekomendasikan Bagas untuk pindah lagi dan bekerja di Segui. Ini demi anak-anaknya.
Dan terkait permintaan Farida yang merindukan ayahnya, dia masih belum menemukan cara menghubungi Bagas. Dia merasa enggan kalau harus menelpon Bagas dan menyuruhnya pulang menemui anak-anaknya. Status Bagas yang sudah beristri, membuatnya tak enak jika harus menghubunginya. Walaupun saat ini status Bagas sebagai bawahannya, yang bisa saja ia perintah kapanpun ia mau, tapi ia masih memikirkan perasaan istrinya. Dia tidak mau istrinya salah faham dan akhirnya bisa merusak hubungan rumah tangga mereka.
Sulastri bangkit dan melangkah menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamarnya, ia kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Berbagai bayangan dan kenangan masa lalu mulai menghiasi pikirannya sebelum akhirnya ia kembali terlelap dalam tidurnya.
Malam telah beranjak larut. Suasana hening selepas hujan panjang sejak pagi tadi membuat alam seperti terdiam dalam dinginnya malam. Suara gemericik air di belakang rumah akibat limpahan air dari parit tepi jalan utama, terdengar mengisi hening malam.
Di sebuah ruangan kecil. Di balik jeruji besi, Rianti memasang mukena yang baru saja diantar petugas untuknya. Entah kenapa ia tiba-tiba ingin shalat ketika melihat petugas jaga shalat selepas isya' tadi. Walaupun ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara berwudhu', bagaimana bacaan shalat dan apa saja yang harus ia lakukan, tapi dorongan perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di hatinya, membuatnya ingin bersujud dan berdoa. Shalat yang sebelumnya ia anggap hanya membuang waktu, kini amat ia rindukan untuk melakukan gerakannya. Sepertinya damai sekali melihat mereka bersujud dengan bibir yang komat-kamit seperti sedang berbicara dengan Tuhannya. Waktu memasang mukena saja, ia merasakan damai dan seperti hendak masuk ke alam lain, yang jelas tak lagi akan merisaukan hatinya. Dia rindu sesuatu yang tak mampu ia ungkapkan wujudnya. Sesuatu yang ketika ia mengingat-Nya, membuatnya menangis sebab kesalahan yang pernah ia lakukan. Kepada-Nya, kepada Almarhum papanya, maupun kepada orang-orang yang telah ia zalimi.
Rianti mengangkat tubuhnya pelan dan berdiri tegak menghadap kiblat. Ia memejamkan matanya sembari menghela nafas panjang. Air matanya mengalir ketika ia mulai mengangkat kedua tangannya mengucap takbir. Seketika rasa damai menyelubungi jiwanya. Tak ada yang ia ucapkan. Ia hanya ingat bahwa ia lahir ke dunia ini karna Dzat Maha Besar, pencipta alam semesta. Dzat yang telah memberikannya petunjuk dan melunakkan hatinya, sehingga hatinya terbuka menerima kebenaran. Walaupun gerakan shalatnya mungkin tidak benar, tapi saat ini ia hanya ingin Tuhan tahu bahwa ia benar-benar ingin berubah.
Malam semakin larut. Istighfar Rianti menggetarkan ruang tempatnya berada. Isak tangisnya membuat terpaku petugas jaga yang memperhatikannya.
Rianti menengadahkan kedua tangannya. Tatapannya di hadapkan ke atas seperti hendak menembus langit-langit ruang menuju ujung lapis langit.
"Ya, Tuhan. Rasa apa gerangan ini yang sedang mendiami hatiku. Rasa yang tak pernah aku alami ketika aku bergelimang harta dan kesenangan. Rasa ini, tak diragukan lagi timbul dari kerinduanku pada-Mu. Terimalah aku dengan segala kehinaan dan kesalahanku, Ya, Allah. Aku menerima hukumanku di dunia dengan ikhlas. Biarkan aku tetap dalam penjara ini jika aku tetap memiliki rasa indah yang kini mendiami hatiku. Rasa ini lebih berharga dari dunia dan isinya, dan aku tidak ingin menukarnya lagi. Aku ingin menyerahkan segenap hidupku untuk mengabdi kepadamu. Jangan biarkan aku terlena dengan harta yang selama ini membutakan hatiku dari melihat-Mu. Ya, Allah...,"
Rianti tak mampu melanjutkan kata-katanya. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya luruh dan akhirnya terbaring di atas sajadah.
__ADS_1
Malam seperti membisu mendengar isak tangis Rianti. Jika tidak ada gelap, tentu tak ada terang. Terang tak akan berguna jika tidak ada gelap. Semua berawal dari gelap. Tak ada yang benar-benar suci ketika mencapai puncak kesuciannya. Orang besar lahir dari pergulatan batin dalam gelap dan dosa. Sebab pengakuan atas segala dosa, lebih berarti di sisi Tuhan, dari beribu pujian kepada-Nya.