
"Insya Allah. Besok malam kita akan melaksanakan acara syahadahnya. Biar para santri juga ikut menyaksikannya. Dan untuk malam ini, kalian menginap dulu di sini. Sudah malam. Gak elok malam-malam begini keluar. Apalagi dengan yang bukan mahromnya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Cristian mendesah. Ia menoleh ke arah Qurratul Aini. Qurratul Aini mengangguk dan menggerakkan matanya.
"Ee..., Itu juga yang perlu kami bicarakan, Tuan Guru. Terus terang, kami belum berani pulang. Kami kesini juga ingin meminta bantuan Tuan Guru untuk mengantar Aini pulang ke rumahnya. Dia takut ayahnya marah."
Tuan Guru Izzul Islam dan Nyai Mustiani saling pandang. Keduanya sama-sama mengernyitkan dahi.
Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Qurratul Aini. Dia masih menunduk. Walaupun ia sudah tak menangis lagi, sesenggukannya masih terdengar sesekali waktu. Tuan Guru Izzul Islam mengalihkan pandangannya ke arah Nyai Mustiani. Nyai Mustiani memberi isyarat dengan matanya agar Tuan Guru Izzul Islam sendiri yang menjelaskan kepada Qurratul Aini.
Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang.
"Dik Aini." Qurratul Aini mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam menatapnya beberapa saat.
"Seperti yang telah saya katakan tadi di awal pembicaraan. Semua yang kita miliki bahkan nyawa sekalipun adalah kepunyaan Allah. Suka atau tidak suka. Jika sudah waktunya, apa yang dititipkan kepada kita selama hidup di dunia pada akhirnya akan kembali kepada pemiliknya." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan kata-katanya. Qurratul Aini mengangguk. Ia belum mengerti arah pembicaraan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam masih bingung bagaimana melanjutkan kata-katanya. Qurratul Aini tentu akan sangat terpukul begitu mengetahui bahwa ayahnya sudah meninggal dunia. Dia pasti akan merasa bersalah dan menuduh dirinyalah penyebab kematian ayahnya.
"Jadi, jangan pernah beranggapan bahwa ini hilang, ini mati karna perbuatan si ini dan si itu. Penyebabnya adalah perantara. Semua telah ditakdirkan oleh Allah sesuai batas yang telah di tentukan-Nya." Kembali Qurratul Aini menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aini, itu juga yang berlaku pada Ayah kita, Tuan Guru Faeshal." Mata Qurratul Aini sedikit mengembang. Ia mulai merasa ada sesuatu yang berbeda yang mulai ia tangkap dari pembicaraan Tuan Guru Izzul Islam.
"Beliau sudah menjalankan separuh hidup beliau untuk mengabdikan diri menegakkan kalimat Allah." Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia menelan ludahnya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa kering. Teh di depannya diminumnya. Dada Qurratul Aini perlahan mulai berdebar. Ada sesuatu yang hendak menghantam dadanya jika apa yang mulai ada dalam pikirannya kini adalah sesuatu yang akan diucapkan Tuan Guru Izzul Islam. Lebih-lebih ketika Nyai Mustiani tiba-tiba memegang pundaknya erat.
"Aini. Tuan Guru sudah meninggalkan kita. Insya Allah, dia sekarang sedang dalam perlindungan Allah swt," kata Tuan Guru Izzul Islam mengakhiri kata-katanya. Ia kembali mendesah dan berharap kata-katanya tidak akan terlalu tiba-tiba dan mengagetkan Qurratul Aini.
Suasana sekejap menjadi hening. Tak ada suara apapun. Ketika pandangan mereka tertuju ke arah Qurratul Aini, Qurratul Aini hanya terdiam terperangah dengan tatapan kosong ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Air mata seperti mulai memenuhi bola matanya. Mulutnya menganga. Dan, air mata yang tertahan akhirnya tumpah dan mengalir deras di pipinya. Kata-kata terakhir Tuan Guru Izzul Islam benar-benar mengagetkan urat syarafnya. Begitu tiba-tiba. Baru sehari ia meninggalkan rumah. Kondisi ayahnya pun terlihat segar bugar. Dan kini ia mendengar berita tentang kematiannya. Ia menggeleng tak percaya. Itu semua terjadi karna ia meninggalkan rumah. Cristian terlihat mulai panik. Posisi duduknya menjadi tidak tetap. ia terpaksa bangun dari tempat duduknya. Ia mendekat. Karna Qurratul Aini diam tanpa gerakan atau kata sepatah katapun, tubuh Aini diguncangkannya pelan.
"Aini?"
Qurratul Aini pingsan.
* * * * *
Malam semakin beranjak larut. Angin dingin yang mengalir mengiringi perjalanan malam membuat gesekan di ranting dan dedaunan pohon. Malam hening. Rianti masih bersimpuh di atas sajadahnya. Berzikir dan berdoa panjang agar ia tetap tabah dan tak rapuh menghadapi ujian dalam hidup. Besok, Tuan Guru Izzul Islam akan datang melamarnya. Tak jauh di depan sana, rintangan akan menghalangi jalannya. Itu sudah pasti. Saat ini ia sangat yakin, diamnya pak Jamal dengan tidak menyebarkan video mesum itu sampai saat ini merupakan misteri. Entah apa yang ia rencanakan. Menyimak pembicaraan Jeri tempo hari, pak Jamal seperti srigala yang bersembunyi di semak-semak dan akan menerkam musuhnya jika waktunya tepat. Sebagai manusia biasa, ketakutan dan rasa khawatir sudah pasti menghinggapi hatinya. Tak Ada manusia yang kuat jika ia tidak menyadari bahwa itu semua adalah cara Tuhan menguji hamba-Nya. Dan ia meminta itu malam ini. Kesadaran bahwa, diperlukan ujian yang besar untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Dunia adalah persinggahan. Bersakit-sakit sedikit tidak mengapa, daripada harus bersakit-sakit abadi dalam murka Allah di hari pembalasan kelak.
__ADS_1
* * * * *
Melihat kondisi Qurratul Aini yang terus-terusan menangis dan pingsan, akhirnya Tuan Guru Izzul Islam memutuskan untuk mengantar pulang Qurratul Aini ke rumahnya. Dia juga mengikutkan dua orang santriwati untuk menemani Qurratul Aini di dalam mobil. Nyai Indrawati yang saat itu belum tidur, begitu kaget saat melihat tubuh lunglai Qurratul Aini yang dipapah dua orang santriwati.
Nyai Indrawati yang malam ini tak bisa tidur karna memikirkan Qurratul Aini segera memeluknya. Tangis keduanya pecah. Qurratul Aini yang merasa bersalah, bersimpuh di kaki Nyai Indrawati meminta maaf.
"Maafkan Aini, Bu. Aini tak menyangka akan jadi seperti ini. Ini semua salah Aini. Jika saja Aini tidak pergi, mungkin Aini masih menjumpai ayah di sini," kata Aini sesenggukan. Kepalanya di letakkan di pangkuan Nyai Indrawati sembari tetap bersimpuh. Nyai Indrawati berusaha bersikap tenang. Ia mengusap lembut kepala Qurratul Aini dan menciumnya.
"Tidak, Nak. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Tidak usah menyalahkan dirimu. Jangan meratap. Itu tak boleh. Bersabar dan mintakan ampun pada ayahmu. Itu adalah salah satu cara berbakti seorang anak pada orang tuanya yang sudah meninggal dunia," kata Nyai Indrawati. Kepala Qurratul Aini ditegakkannya. Ia tersenyum. Berusaha menenangkan hati Qurratul Aini.
Tatapan Nyai Indrawati tertuju pada Cristian yang berdiri di samping Tuan Guru Izzul Islam. Cristian tersenyum.
"Cristian malam ini kamu ikut pulang ke Pondok. Untuk sementara waktu kamu tinggal dulu di sana," kata Tuan Guru Izzul Islam. Cristian mengangguk.
Setelah Qurratul Aini sudah mulai tenang. Tuan Guru Izzul Islam mohon pamit kepada Nyai Indrawati. Setelah itu ia mengajak Cristian dan kedua santriwati kembali ke pondok pesantren Qudwatusshalihin.
__ADS_1