KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#246


__ADS_3

Layla menghempaskan pelan tubuhnya di sisi tempat tidurnya. Beban pikirannya kini bertambah. Setelah sebelumnya ia telah memantapkan hatinya untuk mengeluarkan jawaban "Iya" untuk menerima permintaan Nyai Nurrohmah untuk menikah dengan salah satu putranya, kini hatinya mulai bimbang. Kedatangan bu Salima dengan maksud yang sama, memberi isyarat bahwa Tuhan menginginkannya untuk berpikir matang. Tak boleh tergesa-gesa menentukan pilihan hidup yang akan mendampinginya hingga mati dalam sebuah keluarga yang diridhai Allah. Jika ada dua pilihan atau lebih, secara tidak langsung merupakan isyarat dari Allah untuk meminta petunjuk lewat shalat istiharah. Allah sedang memperlihatkan ada salah satu dari keduanya yang terbaik. Dan itu tidak bisa dinilai dari yang tampak saja. Karna masalah batin hanya Allah yang Maha Mengetahui.


Layla mendesah panjang. Ketika dulu ia begitu menggebu-gebu untuk memiliki Tuan Guru Izzul Islam sebagai suaminya, jalan itu begitu sulit. Dia saat itu begitu tersiksa karna merasa sulit untuk mewujudkan. Dan kini, di saat ia sudah menguburkan untuk sementara waktu keinginannya untuk menikah dan fokus melanjutkan pendidikannya, masalah itu seperti datang mengejarnya. Itu juga mungkin sebuah isyarat bahwa Allah menginginkannya untuk segera menikah.


Layla kembali mendesah dan perlahan mengangkat tubuhnya. Setelah melepas jilbabnya di atas ranjang, ia kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu'.


Di tempat lain, Fahmi yang baru saja selesai melaksanakan shalat tahajjud, memilih keluar dari kamarnya dan memilih duduk di teras rumah. Tuan Guru Alamsyah Hasbi yang berkenan menginap malam ini dan menempati kamar khusus tamu bersama putrinya, sepertinya juga sudah terbangun. Itu ia tahu dari suara kesiar air di kamar mandi. Usai shalat tadi, ia tak langsung membaca wirid seperti biasanya karna takut Tuan Guru Alamsyah Hasbi keluar dan membutuhkan sesuatu.


Fahmi memperhatikan pakaian yang dikenakannya. Rambut panjang yang menutupi telinganya dirapikannya dan memasukkannya ke dalam pecinya. Fahmi mendesah. Setelah itu ia bangkit dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa tak nyaman dengan penampilannya malam ini. Seperti selalu ada yang kurang dan tak menarik sejak kedatangan Tuan Guru Alamsyah Hasbi dan putrinya. Sesampainya di dalam kamarnya, Fahmi langsung menuju ke cermin besar di sudut ruangan. Semua lampu di dalam ruangan dinyalakannya sehingga suasana di dalam kamar menjadi terang benderang. Untuk beberapa saat ia sibuk membolak-balikkan badannya sambil memperhatikan penampilannya.


Fahmi memperhatikan baju yang hijau dengan sarung berwarna hitam yang sedang dipakainya. Setelah itu ia memperhatikan wajah serta peci hitam yang dipakainya. Fahmi mengernyitkan dahinya. Ia merasa warna hijau gak cocok dengan warna kulitnya. Warna itu seperti menyembunyikan cahaya wajahnya. Fahmi mendesah panjang. Keringatnya mulai keluar. Ia kemudian melepas baju yang dipakainya dan melangkah menuju lemari pakaian. Beberapa baju warna putih dikeluarkannya dari dalam lemari. Setelah itu ia kembali lagi ke depan cermin. Satu persatu baju itu dipakainya.


Fahmi kembali mendesah dan membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju tempat tidurnya. Ia kemudian duduk dengan posisi duduk sejajar dengan cermin didepannya.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum seperti menertawakan dirinya sendiri. Apalagi ketika menyadari bahwa apa yang ia lakukan sesungguhnya karna Syarifah, putri Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Dia melakukan itu karna ingin besok ia ingin terlihat menarik di mata Syarifah.


Fahmi membaringkan tubuhnya pelan di atas ranjangnya. Bibirnya terus menyunggingkan senyum ketika mulai menghimpun wajah Syarifah dalam pikirannya.


Hanya sekilas saja ia beradu pandang dengan gadis itu sehabis shalat jamaah maghrib tadi. Jika tidak karna pak Makripudin menyentuh tangannya mengajaknya bersalaman, ia seperti tak bisa memalingkan pandangannya dari memandang Syarifah. Ia merasakan ada getaran di dalam hatinya. Syarifah begitu sempurna. Matanya yang bulat bening, hidung yang mancung dengan senyum yang sangat menawan membuatnya kepikiran sepanjang malam. Ia sadar, selama ini ia tak pernah merasakan yang namanya pacaran, ataupun tanpa mengangkat pandangannya saat bicara dengan perempuan-perempuan teman kuliahnya dulu. Dan sesungguhnya, ia tak punya niat sama sekali untuk memandang Syarifah. Kebetulan saja matanya tertuju ke arahnya dan ia seperti sulit memalingkannya.


Fahmi mendesah panjang dan bangun dari berbaringnya. Ia memasang kembali pecinya dan melangkah kembali menuju cermin. Setelah memperbaiki letak pecinya, ia terdiam sejenak menatap wajahnya. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa tak pantas jatuh cinta pada putri seorang yang mulia seperti Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Lagi pula, tak menutup kemungkinan dia sudah dijodohkan dengan putra seorang Tuan Guru juga.

__ADS_1


Fahmi membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar kamar menuju teras rumah.


* * * * *


Layla terjaga dari tidurnya ketika terdengar suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an dari arah masjid desa. Ia mengangkat tubuhnya pelan. Dia kemudian duduk dengan kedua lutut dinaikkannya. Kedua tangannya kemudian dilegakkannya di kedua lututnya dan menyandarkan dagunya. Jantungnya berdegup kencang.


Setelah melaksanakan shalat sunnah istiharah, dia tidak sadar tertidur di atas sajadahnya dan bermimpi melihat dua orang laki-laki berjalan mendekatinya. Semakin dekat, ia mulai mengenali kedua laki-laki dengan wajah penuh dengan cahaya. Fahmi dan Tuan Guru Izzul Islam. Tapi anehnya, Fahmi hanya tersenyum beberapa saat sambil menyalaminya, sebelum ia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Tuan Guru Izzul Islam sendiri. Tuan Guru Izzul Islam sempat mengajaknya duduk dan memegang tangannya untuk beberapa lama sebelum ia pamit pergi.


Layla mendesah panjang. Sebuah mimpi yang mungkin merupakan petunjuk dari doa yang ia panjatkan usai shalat tadi. Tapi ia tak bisa menafsirkannya ketika yang muncul ternyata dua orang laki-laki yang sangat dikenalnya. Seandainya saja Tuan Guru Izzul Islam yang lebih dulu pergi, tentu ia akan bisa meyakinkan hatinya bahwa Fahmi lah jawaban dari doa yang ia panjatkan. Dan jikapun ia harus menyimpulkan bahwa Tuan Guru Izzul Islam lah laki-laki yang akan menyuntingnya, maka hatinyapun menginginkannya. Laki-laki yang tak pernah membuatnya berhenti mengaguminya. Ia pun tak pernah menafikan. Setiap kali melihat ataupun mendengar nama Tuan Guru Izzul Islam disebut, hatinya selalu bergetar hebat. Beberapa tahun berlalu, ia masih menginginkannya. Ia pun sebenarnya berharap, Rianti memanggilnya untuk membicarakan syarat kedua yang sudah ia penuhi. Walaupun ia menghafal Al-qur'an tidak karna itu.


Layla kembali mendesah panjang sambil melepaskan mukena yang dipakainya. Tak perlu ia berharap terlalu berlebih kepada manusia. Ada baiknya ia menunggu apa yang akan terjadi ke depannya. Masih ada tiga malam lagi ia akan melaksanakan shalat sunnah istikharah. Semoga tiga malam terakhir, Allah memberikannya petunjuk yang nyata baginya.


* * * * *


Pagi merekah cerah. Pak Mas'ud dan pak Makripudin sudah terlihat duduk di teras rumah menikmati secangkir kopi yang disuguhkan bi Aisyah. Mereka masih menunggu Tuan Guru Alamsyah keluar dari dalam rumah.


Dari arah dapur, Farida dan Munawarah serta beberapa santri terlihat membawa nampan berisi makanan ke dalam rumah untuk sarapan Tuan Guru Alamsyah Hasbi .


"Pak Makripudin, Pak Mas'ud, disuruh ke dalam sama Tuan Guru," kata Fahmi sambil mempersilahkan keduanya masuk. Keduanya pun bangkit dan mengikuti Fahmi ke dalam rumah.


"Bagaimana, Pak Mas'ud. Apa kamu sudah memanaskan mobilmu?" tanya Tuan Guru Alamsyah Hasbi ketika keduanya telah duduk di kursi meja makan. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sudah, Tuan Guru," jawab pak Mas'ud.


"Ayo, Nak Farida. Ikut makan sama kita. Temani Kak Syarifahnya," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi ketika Farida selesai mengatur makanan di meja makan. Syarifah tersenyum dan memberi isyarat agar Farida duduk di dekatnya. Farida pun mendekat dan duduk di dekat Syarifah.


"Ikutlah ke pondok dan nginep beberapa hari, Nak Farida. Nanti biar Pak Mas'ud yang ngantar Nak Farida pulang," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi mengarahkan pandangannya ke arah Farida. Farida tersenyum menundukkan wajahnya.


"Insya Allah, kapan-kapan Tuan Guru. Mudah-mudahan Kak Fahmi mau ngajak jalan-jalan kesana," jawab Farida.


"Ustadz Fahmi, sekali-kali ajak adiknya main-main kesana. Sekalian melihat keadaan di kawasan selatan," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Fahmi tersenyum.


"Insya Allah, Tuan Guru. Rencananya, Kak Tuan Guru Izzul Islam juga mau berkunjung kesana. Mudah-mudahan kami diberi kesehatan agar bisa ikut berkunjung," jawab Fahmi.


"Kami tentu akan sangat senang menerima kedatangan kalian. Semakin sering kita bersilaturrahmi, semakin banyak yang bisa kita diskusikan terkait kebutuhan ummat," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Fahmi menganggukkan kepalanya.


"Silahkan, Tuan Guru. Maaf, Cuma ini yang bisa kami hidangkan untuk Tuan Guru," kata Fahmi mempersilahkan Tuan Guru Alamsyah Hasbi memulai sarapannya.


"Sudah cukup, Ustadz. Ayo, Pak Mas'ud, pak Makripudin," kata Tuan Guru Izzul Islam menyuruh keduanya memulai sarapannya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Tuan Guru Izzul Islam akhirnya berpamitan pulang.


"Bi, kayaknya ada yang lagi sedih ditinggal Nyai Syarifah," kata Farida sambil menyenggol lengan bi Aisyah. Matanya melirik ke arah Fahmi yang belum berpaling menatap mobil Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Fahmi menoleh. Dipandangnya Farida beberapa lama dengan kening mengkerut dan mata memincing. Rupanya Farida sudah mengerti gerak-gerik tubuhnya walaupun tak pernah sekalipun berbicara dengan Syarifah. Fahmi tersenyum saat Farida menunjuk ke arah mukanya dengan jarinya, seperti sedang menuduh. Fahmi mendesah panjang. Salah satu tangannya dengan cepat mencolek kuat pinggang Farida tanpa disadari oleh Farida. Sontak Farida berteriak kaget. Ia segera berlari ketika Fahmi berbalik seperti hendak mengejarnya. Melihat Farida berlari, Fahmi segera mengejarnya. Bi Aisyah hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2