KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#117


__ADS_3

Alam kembali benderang ketika sinar matahari pagi terlihat di ufuk timur. Langit begitu cerah. Angin pagi yang bertiup lembut, membelai wajah Sulastri yang sedang duduk di pos jaga. Dia masih menunggu ke empat anaknya keluar.


Fahmi dan Rayhan sudah terlihat di teras rumah. Entah apa yang masih dilakukan Rianti dan Farida di dalam kamar. Sedari tadi, tawa renyah mereka terdengar di dalam rumah. Entah apa yang mereka sedang bicarakan.


Sulastri melirik ke arah jam di tangannya. Sudah jam 8 pagi. Hari ini ia akan mengantar ketiga anaknya kembali ke pondok pesantren Qudwatusshalihin. Awalnya Farida menolak kembali hari ini karna masih ingin bersama Rianti. Tapi karna besok adalah hari pertama mereka ujian semester, mau tidak mau ia harus kembali hari ini. Sulastri menoleh ke arah Fahmi.


"Fahmi, ayo panggil kakakmu. Ibu juga mau ke Segui hari ini. Jangan sampai nanti kita kesiangan," panggil Sulastri. Fahmi terlihat masuk ke dalam kamar. Sulastri melambaikan tangannya ke arah Rayhan yang berdiri sendiri di teras rumah. Rayhan segera mendekat.


Sulastri mendesah. Fahmi yang disuruh memanggil Rianti dan Farida tak kunjung juga keluar. Sulastri bangkit dan memencet klakson mobil tiga kali. Tak berapa lama kemudian, ketiganya terlihat bergandengan tangan keluar rumah menuju mobil.


"Kalian lagi ngapain sih di dalam, kok lama sekali," kata Sulastri memasang muka setengah kesal. Ketiganya tersenyum dan langsung memasuki mobil. Pak Mustarah yang sedari tadi di dalam mobil mulai menyalakan mesin mobilnya.


Mobil perlahan melaju pelan meninggalkan rumah. Sulastri menggelengkan kepalanya saat memperhatikan tingkah Rianti dan Farida yang sedang berbisik satu sama lain dari kaca spion mobil.


"Lagi bisikin apaan sih, ibu tersinggung nih," kata Sulastri.


Merasa diperhatikan, Farida segera memasang muka serius.


"Gak ada, Bu, Biasa, antara cewek dengan cewek," sahut Farida.


Sulastri menoleh.


"Emangnya ibu gak cewek?" kata Sulastri. Farida tersenyum.


"Cewek masa kini, Bu. Masa ibu kan sudah lewat," jawab Farida. Fahmi, Rianti dan Rayhan ikut tersenyum.


"Awas kalau pacaran, belum waktunya," kata Sulastri terlihat serius. Dia memperlihatkan genggaman tangannya ke belakang.


"Bukan pacaran, Bu. Dik Farida cuma naksir seseorang," kata Rianti sembari mencolek dagu Farida.


Sulastri mendesah pendek.


"Sama saja," kata Sulastri. Ia lalu memperbesar volume musik yang di putar pak Mustarah.

__ADS_1


Keduanya tersenyum. Alunan shalawat yang mengalun merdu sejenak membuat mereka terdiam menikmatinya.


* ** * *


Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, mobil yang ditumpangi Sulastri dan rombongannya akhirnya sampai di depan gerbang pesantren. Fahmi yang turun duluan, segera mengarahkan pak Mustarah untuk memarkir mobil di samping rumah Tuan Guru Izzul Islam.


Abdul Khlaik yang tampak sudah berdiri menyambut mereka segera mempersilahkan mereka duduk. Setelah itu, ia masuk ke dalam rumah.


"Maaf, Ustadz. Ustadz di suruh Tuan Guru masuk. Teras ini mau di cat ulang," kata Abdul Khalik sekembalinya dari dalam rumah. Fahmi menganggukkan kepalanya dan segera mengajak Sulastri dan saudara-saudaranya masuk.


"Kalau kak Fahmi sih, sudah bebas keluar masuk rumah ini. Dia sudah jadi asistennya Tuan Guru," kata Farida seperti hendak memberitahukan Rianti. Fahmi hanya tersenyum.


* * *;* *


Di saat Sulastri dan yang lainnya telah duduk di ruang tamu, Rianti tiba-tiba terlihat mematung di tempatnya berdiri. Saat hendak duduk, tatapan matanya tertumbuk pada kalighrafi dengan tulisan emas yang tergantung di dinding di depannya. Degup jantungnya berdetak lebih cepat. Nafasnya tertahan. Ada kekuatan yang saat ini terasa sedang menariknya. Ia merasa tak asing dengan kalighrafi itu. Ia merasa pernah melihatnya, tapi entah, ia masih belum bisa mengingatnya.


Sulastri melirik ke arah Farida. Farida mengangkat kedua pundaknya. Ia juga terlihat bingung dengan perubahan sikap Rianti yang tiba-tiba. Rianti tiba-tiba seperti telah berubah menjadi patung. Nyaris tak bergerak. Matanya pun tak berkedip sedikitpun ke arah kaligrafi di depannya.


Melihat Rianti tak juga beranjak dari tempat berdirinya, Sulastri bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Rianti. Ia memegang pelan pundak Rianti.


"Kamu kenapa, Nak," kata Sulastri.


"Gak apa-apa, Bu," kata Rianti. Ia mengusap keringat yang mengalir di wajahnya. Ia lalu duduk di samping Farida. Rianti kembali melirik ke arah kalighrafi. Dia mendesah. Ia masih belum juga bisa mengingat dimana ia pernah melihat kalighrafi itu.


Abdul Khalik datang membawa beberapa gelas minuman. Di belakangnya, Tuan Guru Izzul Islam muncul dengan senyum ramahnya. Wangi minyak wangi segera menyebar memenuhi ruangan.


"Assalamualaikum," ucapnya. Fahmi, Farida dan Rayhan segera bangkit dan bersalaman. Sulastri dan Rianti hanya berdiri membungkukkan kepala.


"Silahkan duduk," kata Tuan Guru Izzul Islam.


Jantung Rianti semakin berdegup kencang. Pandangannya lekat ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Merasa ada yang memperhatikannya, Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke wajah Rianti. Rianti seperti tak terpengaruh. Dia terus menatap Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam segera memalingkan pandangannya. Ia mendesah dan memejamkan matanya sejenak.


Sulastri menoleh ke arah Rianti. Begitu juga dengan Fahmi dan Farida. Mereka benar-benar tak mengerti dengan sikap Rianti. Kini, Tuan Guru Izzul Islam yang tak berani mereka pandang, justru Rianti melakukannya. Tak berkedip sedikitpun. Keringatnya terlihat mengalir dari ujung jilbabnya. Melihat Tuan Guru Izzul Islam menjadi serba salah dengan tatapan Rianti, Sulastri memegang tangan Rianti.

__ADS_1


Rianti kembali tergagap. Ia segera menundukkan kepalanya. Berkali-kali ia mendesah mengucap istighfar.


"Kok nginepnya cuma satu malam, Rayhan," sapa Tuan Guru Izzul Islam kepada Rayhan. Suasana yang sejenak tadi sempat menegang perlahan kembali cair. Senyum terlihat mengembang dari bibir mereka.


"Rayhan dan Farida besok mau ujian, Tuan Guru," jawab Fahmi. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Maaf, Bu Sulastri. Kayaknya Dik Fahmi setelah wisuda nanti, ngabdinya di sini saja. Nanti saya carikan santri yang paling cantik disini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi tersenyum menundukkan kepala.


"Atau..., saya ijinkan pulang dengan syarat, dia harus bisa membangun pondok pesantren," sambungnya.


"Amin, semoga doa Tuan Guru dikabulkan" ucap Sulastri.


"Maaf, Tuan Guru. Saya lupa memperkenalkan anak pertama saya. Namanya Rianti Wibowo. Tadi malam dia berpesan agar dimintakan amalan agar hati tetap tenang," sambung Sulastri sambil melirik ke arah Rianti. Rianti tersenyum menundukkan wajahnya.


Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah Rianti. Ia lalu menganggukkan kepalanya.


"Insya Allah, nanti saya kirimkan lewat whatsup. Intinya, apapun amalannya, istiqomahlah penentunya. Dan jangan lupa, banyak-banyak bershalawat kepada Kanjeng Nabi. Kebutuhan jiwa dan raga insya Allah akan terpenuhi," kata Tuan Guru Izzul Islam. Keempatnya mendengarkan dengan seksama.


"Assalamualaikum."


Nyai Mustiani muncul dari balik pintu. Fahmi dan Tuan Guru Izzul Islam serempak bangun dan segera mendekati Nyai Mustiani. Keduanya lalu memapah tubuh Nyai Mustiani ke tempat duduk.


"Sehari gak lihat kamu, ibu kok merasa ada yang beda, Fahmi," kata Nyai Mustiani. Fahmi tersenyum.


"Loh, yang cantik ini siapa. Kok baru lihat," kata Nyai Mustiani. Ia menunjuk ke arah Rianti. Rianti tersenyum.


"Ini anak pertama saya, Bu Nyai," jawab Sulastri.


"Owh, yang anaknya pak Yulian Wibowo itu ya,"


Sulastri menganggukkan kepalanya.


"Saya memang tidak pernah bertemu langsung dengan Almarhum, tapi nama besarnya telah tersebar dimana-mana. Ia terkenal sangat dermawan," kata Nyai Mustiani.

__ADS_1


Sudah satu jam lebih lamanya mereka bertamu di rumah Tuan Guru Izzul Islam. Sikap ramah Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam membuat mereka betah berlama-lama di sana. Tapi karna hari ini Sulastri juga akan berkunjung ke kawasan Segui, ia akhirnya pamit pulang.


__ADS_2