
Saat pagi menyapa, pertama kali yang teringat adalah wajah kekasih hati. Mengucapkan selamat pagi padanya tentu akan menjadi sesuatu yang indah. Tapi, itu tak berlaku buat Freya. Suasana hatinya mendadak buruk setelah bangun. Karena muka menyeramkan sang suami yang melintas di pikirannya.
Semangat.... Teriak Freya dalam hati. Ia harus lebih kuat hari ini untuk menghadapi sang suami.
"Ya Tuhan, koq dingin banget sih?" keluhnya saat menyentuh air di dari gayung. "Gak sanggup mandi aku!" Ujarnya sendiri, ia pun memutuskan untuk berwudhu saja. Padahal sudah kebiasaan Freya bangun langsung mandi.
Freya sudah selesai sholat subuh. Tak lupa ia mendoakan agar suaminya tidak benci lagi padanya. Setelah selesai sholat di kamarnya. Freya memutuskan untuk memasak sarapan untuknya dan sang suami. Ia sudah mengetahui semua makanan favoritnya Mahesa. Juga segala pantang yang gak bisa dimakan pria itu.
Hhuufft..
"Sudah pukul tujuh, kenapa dia belum bangun?" ujar Freya sendiri, mengambil handuk di gantungan yang ada di kamarnya. Ia akan mandi, karena hawa dingin sudah tak terlalu menusuk ke tulang. Ia juga sudah selesai masak. Dan bersih bersih rumah. Hanya butuh waktu 5 menit, rumah sederhana tipe 36 itu sudah kinclong.
Freya masuk ke dalam kamar mandi. Ia sudah siapkan sabunnya tersendiri. Peralatan mandi tak boleh ada di dalam kamar mandi. Hanya milik nya Mahesa yang boleh ada di dalam kamar mandi itu.
Syurr..
Guyuran air yang membasahi tubuhnya Freya masih terasa dingin. Tapi, ia tahankan. Ia sudah gerah, karena baru selesai masak dan beberes rumah. Freya sudah selesai mandi. Ia keramas pagi ini. Saatnya melepas salin kain menutup tubuhnya yang digantikan handuk.
Dor
Dor
Dor
"Buka.. Buka....!" teriak Mahesa dari luar pintu kamar mandi dengan tak sabarannya. Ia bahkan menggedor kuat pintu kamar mandi itu.
"I, iya.. Sebentar!" sahut freya tergagap dari dalam. Ian gugup saat ini. Karena ia sedang berganti pakaian.
"Buka... Aku gak tahan lagi, sudah diujung.... Buka..." Mahesa masih terus menggedor pintu itu dengan kuat.
"I, iya ..!" Jawab Freya panik. Saking paniknya ia malah memakai BRA dengan terbalik.
"Sial... Dasar pembawa sial.. Asal kamu tahu, seorang raja sekalipun tak bisa membantah raja yang ingin keluar ini... Keluar kamu.... Kalau gak ku dobrak ini..!"
Braakk..
__ADS_1
Sekali tendang pintu kamar mandi itupun terbuka lebar. Jelas bisa sekali tendang. Pintu kamar mandi itu terbuat dari plastik.
"Aauuuww... Tidak..!" Freya dengan hebohnya, meraih handuknya. Untuk menutupi tubuhnya yang masih memakai dalaman, bahkan ia belum sukses mengaitkan kancing BRA nya.
Mahesa tercengang sejenak memperhatikan tubuh sang istri yang terlihat sangat menggoda pagi ini. Walau ia kebelet be Rak. Hasratnya masih menyala melihat Freya yang kini hanya memakai handuk. Tetesan buliran air dari rambutnya, semakin membuat bahu wanita itu semakin indah.
"Keluar.....!" Teriak Mahesa, disaat anusnya kontraksi.
"I, iya!" Freya ngacir dari dalam kamar mandi, dengan membawa baju ganti yang belum sempat ia pakai. Bahkan baju kotornya masih tergantung fi dalam kamar mandi.
Brakkk.. Pak... Pak... Pak..
Suara kotorannya Mahesa terdengar sudah seperti letusan gunung berapi di dalam kamar mandi. Sepertinya suaminya itu sakit perut.
"Auuuwwe... Iihhh.." Bahkan suara ngedennya Mahesa terdengar keluar.
Hihihi..
Mampus... Itu hukuman jahat sama istri sendiri. Rasain, masuk angin! eehh.. Koq aku jahat si? gumam Freya dalam hati. Ia tekuk kedua bibirnya, menyesal karena mengumpat sang suami.
Freya sudah rapi, wangi dan cantik. Rambutnya yang masih basah, ia gerai. Ia sengaja berlama lama d kamar, merapikan kardus kardus alas tidurnya semalam. Setelah kamar bersih, Ia pun keluar dari kamarnya. Saat itu juga, ia melihat kepalanya Mahesa keluar setengah dari dalam kamar mandi.
"Ambilkan aku handuk!" titah Mahesa kesal pada Freya.
"Handuk?" tanya Freya bingung dan memastikan. Barang barangnya Mahesa kan gak boleh ia pegang.
"Oouuww... Gak jadi, aku gak mau kau masuk ke kamarku!"
"Oouuhh... Baiklah!" Sahut Freya, menyeret kakinya ke dapur. Ia akan siapkan sarapan di meja. Di tambah, ia akan mencuci pakaian kotor di mesin cuci.
Saat sedang serius menata makanan di atas meja kecil yang hanya bisa untuk dua orang. Matanya tanpa sengaja, melihat Mahesa keluar dari kamar mandi dengan tubuh polos, terbirit birit lari ke kamarnya.
"Astaga... Pagi, pagi aku sudah sial. Lihat lato lato yang sedang mondar mandir." Ujar Freya pelan yabg hanya bisa ia dengar sendiri. Jadi, telornya Mahesa, ia anggap lato lato.
"Nak, nanti ibu akan ajari kamu adab yang baik sebagai seorang muslim. Pentingnya kita punya rasa malu. Eehh... Aku juga kan gak punya malu. Aku saja bekas PS k." Ujar Freya sendiri. Sepertinya ia akan selalu bicara sendiri di rumah itu.
__ADS_1
Sarapan sudah terhidang, bahkan ia menyiapkan susu untuk suaminya itu. Ya, Mahesa setiap pagi minum susu untuk tulang. Freya menyeret kakinya dengan ragu ke depan kamarnya Mahesa, sang suami.
Perasaan nya disergap ras takut. Takut salah sikap dan Mahesa kembali marah serta berkata kasar padanya. Tapi, setelah ia pikir-pikirkan lagi, akhirnya ia beranikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya Mahesa
"Tu, tuan Mahesa sa, sa.. Sa... Sarapan sudah siap untuk disantap!" ujarnyab tergagap, rasanya mengatakan itu seperti berpidato di depan orang orang penting saja, sangat menegangkan. Ditambah ia bingung mau menyapa Mahesa dengan apa. Kalau ia panggil dengan sebutan suami. Pasti si Mahesa marah. Karena ia tak dianggap istri oleh pria itu. Jadilah ia panggil tuan saja.
"Sa, sa sa.... " Mahesa membuka pintu kamar dengan muka masanya. "Sasa?"
"Gak, bukan gitu tuan. Akan hanya mau katakan, sarapan sudah siap."
"Gak usah repot repot masak. Aku gak mau kamu guna gunai. Makan saja masakan kampung mu itu!" Ketus Mahesa, melewati Freya yang terbengong di hadapan nya. "Aku mau minum saja. Ada air panas? buatkan susu untukku!" Ujar Mahesa, sembari melangkah menuju dapur.
"Sudah tuan, Tapi tuan mau meminumnya kan?"
"Iihh.. Kamu bodoh, atau apa? kalau sudah ku suruh, pasti lah ku minum" Sahut Mahesa dengan muka masamnya.
"I, iya Tuan. Sudah ku siapkan!"
Sesampainya di dapur tepatnya di meja makan, Mahesa dibuat sedikit heran dan takjub melihat sarapan yang terhidang di atas meja makan. Yang terhidang itu adalah makanan kesukaannya yaitu nasi goreng dengan telur mata sapi ditaburi bawang goreng dan kacang tanah ditambah cabe acar.
"Itu susu untuk siapa?" tanya Mahesa menunjuk gelas berisi susu di sudut meja makan.
"Untukku tuan, susu ibu hamil!" Sahut Freya lemah.
Mahesa terdiam, ia yang sudah duduk di kursi melirik lirik nasi goreng di hadapannya, nasi goreng yang menggugah selera.
"Kulihat kamu masak banyak nasi goreng nya. Baiklah dari pada mubazir, aku makan saja." Ujarnya menunduk dengan muka tak tahu malunya. Tadi ditolak, dan sekarang minta sendiri.
Prett
Freya tertawa dalam hati. Ia bukan orang bodoh, yang tak bisa membaca bahasa tubuh sang suami, yang sudah syor lihat nasi goreng itu.
***
Tnggalkan jejak like komentar positifnya serta hadiah untuk novel ini ya guys.
__ADS_1
Terima kasih