KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#218


__ADS_3

Suara shalawat menjelang kumandang iqomah shalat isya' terdengar menggema dari arah masjid pesantren. Suasana di luar pesantren tampak sepi. Hanya beberapa orang santri yang bertugas jaga yang terlihat mondar-mandir di depan gerbang pesantren.


Di luar. Di teras rumah kediaman Tuan Guru Izzul Islam, Abdul khalik telah beberapa menit yang lalu berdiri. Salam yang ia ucapkan beberapa kali bersama ketukan di pintu belum juga berhasil membuat penghuni rumah keluar. Ucapan salamnya tenggelam dalam ramainya suara shalawat santri dari arah masjid.


Abdul khalik kembali mengucapkan salam setelah suara shalawat berhenti. Ia menunggu beberapa waktu iqomah selesai dikumandangkan.


"Assalamualaikum." Rianti yang baru saja selesai berjamaah Isya' bersama Jamila, dan sedang menyiapkan makanan di dapur, segera keluar. Azka yang sedang bermain di dapur segera berlarian mengikuti Rianti menuju ruang tamu.


"Azka, sini dulu,Nak. Sama ibu dulu sini," kata Jamila memanggil Azka. Mobil remote yang dimainkannya membuat Azka yang sudah setengah jalan menoleh. Melihat mobil remote berputar-putar di kakinya, ia tersenyum. Jamila langsung mengarahkan mobil ke arahnya sehingga Azka berbalik mengejarnya.


"Assalamulaikum." Terdengar lagi salam dari arah luar. Rianti yang sudah berada di depan pintu menjawab salam sambil membuka pintu.


"Eh, kamu Lik. Ada apa, Lik," kata Rianti setelah melihat Abdul khalik berdiri setengah membungkuk di depan pintu. Ia memperhatikan amplop warna biru yang ada di tangan Abdul khalik.


"Maaf, Bu Nyai. Saya lupa tadi ada titipan buat Tuan Guru. Sekali lagi maaf. Suratnya sudah ada sejak tadi pagi, tapi baru saya ingat, Bu Nyai," kata Abdul khalik setelah menyerahkan amplop itu kepada Rianti.


Rianti tersenyum.


"Gak apa-apa, Lik. Tapi jika ini surat undangan, kamu berdoa saja ya, semoga undangannya besok atau lusa," kata Rianti. Abdul khalik tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, nanti aku sampaikan ke Tuan Guru. Oh ya, Lik, nanti ambil lauk ikan di dalam ya?" kata Rianti sebelum menutup pintu rumah. Abdul khalik mengangguk. Setelah Rianti benar-benar masuk ke dalam rumah, Abdul khalik berbalik dan kembali ke kamarnya.


"Tamunya dari mana, Rianti," tanya Jamila ketika Rianti kembali ke dapur. Sebelum ke dapur, ia terlebih dahulu masuk ke dalam kamar dan meletakkan amplop di atas meja tempat biasa Tuan Guru Izzul Islam muthala'ah kitabnya.


"Bukan siapa-siapa. Abdul khalik. Ada surat untuk kak Tuan. Dia lupa memberikannya padahal dia menerimanya tadi pagi," kata Rianti sambil tersenyum. Jamila ikut tersenyum sambil tangannya sibuk membolak-balikkan kerupuk yang sedang digorengnya.


"Azka, makan ya, Nak?" kata Rianti sambil memperlihatkan potongan ikan kepada Azka. Azka menggeleng. Rianti mengerutkan dahinya.


"Tumben dia nolak ikan, biasanya langsung disambar," kata Rianti sambil melirik ke arah Jamila. Jamila tersenyum.


"Tuh, Lihat," kata Jamila memberi isyarat dengan matanya ke arah piring di bawah kakinya. Rianti melihat tulang-tulang ikan dan nasi berserakan di lantai.


"Owh, ternyata sudah borong duluan, pantes,"kata Rianti. Ia meletakkan kembali potongan ikan ke dalam piring.


"Bagaimana, Jamila. Sudah siap dibawa ke meja makan?" kata Rianti sambil tersenyum mengangkat beberapa piring berisi makanan.


"Boleh, nanti aku bantu setelah selesai menggoreng kerupuk ini," jawab Jamila. Rianti pun langsung membawa makanan ke meja makan.


* * * * *


Sementara itu, di kediaman pak Nurasmin. Masih di depan meja makan, usai makan malam.


"Bu, tunggu nasi di dalam perut diproses dulu baru beres-beres. Minum saja kita dianjurkan lima belas menit setelah makan, biar nanti gak kena asam lambung. Duduk dulu. Lagi pula ada yang ingin kita bicarakan dengan Layla," kata pak Nurasmin. Bu Sofia dan Layla yang mulai mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja menghentikan aktifitasnya dan duduk kembali. Dada Layla berdebar. Mungkin pak Nurasmin mau membahas terkait kelulusan dan rencana kuliah selanjutnya. Dia harus memikirkan jawaban jika nanti pak Nurasmin menanyakan terkait kuliahnya.


"Nak, Bapak sudah menabung cukup lama untuk persiapan kuliahmu. Sejak Bapak diangkat PNS dua puluh tahun yang lalu." Pak Nurasmin mengambil tisu dan mengusapkannya ke mulutnya.


"Wah, kayaknya banyak sekali tabungan itu," sahut bu Sofia sambil melirik ke arah Layla. Lengan Layla disentuhnya dengan sikunya. Layla tersenyum setengah dipaksakan. Ia tidak begitu konsentrasi mendengar pembicaraan pak Nurasmin karna sibuk memikirkan jawaban jika pak Nurasmin menanyakan ini dan itu kepadanya. Keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya.


"Alhamdulillah,lumayan. Sampai Layla S2 pun uangnya masih cukup. Yang penting Laylanya rajin dan semangat mengejar cita-citanya. Biar perlu Bapak akan menjualkannya tanah yang dulu Bapak beli di desa," kata pak Nurasmin melanjutkan pembicaraannya. Pak Nurasmin menoleh ke arah Layla. Setelah menatap Layla beberapa lama, ia memegang pundak Layla.


"Bagaimana, Nak. Kami memang sudah punya pilihan perguruan tinggi untuk kamu. Perguruan tinggi yang tentunya berada di dalam pesantren. Tapi Ibu dan Bapak tentu harus menanyakan dulu kepada kamu, apa rencana kamu ke depannya,"kata pak Nurasmin. Layla mendesah panjang, namun diusahakannya tak terlihat pak Nurasmin dan bu Sofia. Dia masih bingung. Sampai pak Nurasmin akhirnya menanyakannya, ia belum juga menemukan jawaban.


Layla mendehem beberapa kali, berusaha mengusir dahak yang mengganggu tenggorokannya.


"Memangnya Bapak maunya Layla kuliah dimana?" tanya Layla dengan suara masih serak. Dahak di tenggorokannya tak sepenuhnya hilang. Ia kembali mendehem. Pak Nurasmin tersenyum.

__ADS_1


"Bukannya Bapak meremehkan perguruan tinggi yang ada di sini. Tapi di sini sedikit sekali perguruan tinggi yang langsung berada di lingkungan pondok pesantren. Sekali lagi, kami mau kamu mondok sambil kuliah. Biar kamu punya bekal dunia dan akhirat," kata pak Nurasmin. Ia bangkit dan mengambil ponsel di dalam saku bajunya yang ia letakkan di atas sofa.


"Ini, Bapak punya brosur untuk tiga perguruan tinggi di jawa. Kamu bisa pilih mana yang kamu suka," kata pak Nurasmin sambil memperlihatkan brosur di dalam ponselnya kepada Layla. Layla mengambil ponsel itu dan pura-pura serius membacanya. Untuk saat ini ia belum mau membantah pak Nurasmin. Ia masih menunggu jawaban dan respon dari Tuan Guru Izzul Islam terkait surat kelulusan yang ia kirim untuknya. Jika nanti Tuan Guru Izzul Islam mengiyakan, tentu pak Nurasmin tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dia tahu, ia bisa mengalahkan bapaknya seperti pada saat dulu ia ngotot ingin berhenti sekolah karna ingin menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam. Ia yakin, hal itu pasti bisa ia lakukan lagi.


"Terserah Bapak saja. Layla jadi bingung memilihnya. Soalnya bagus semua," jawab Layla. Ia kembali menebarkan senyum seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Sebenarnya, ada perasaan tak tega juga ketika mengetahui pak Nurasmin sudah menabung untuk kuliahnya, bahkan hingga sampai S2. Tapi mau bagaimana lagi, tekatnya sudah bulat. Toh, kalaupun uang tabungan itu tidak digunakan untuk kuliah, Bapak dan ibunya bisa menggunakannya untuk hari tuanya nanti setelah pak Nurasmin pensiun.


Pak Nurasmin tersenyum lega. Tapi lain halnya dengan bu Sofia. Sebagai seorang ibu, ia merasa ada yang berbeda dari senyum dan tingkah Layla. Ia mulai menerka-nerka. Saat ini Layla sedang menyembunyikan sesuatu.


"Nak, kalau memang kamu tidak setuju, bilang saja. Walaupun kami menekankan kamu kuliah di perguruan tinggi yang ada pesantrennya, asalkan kamu bisa jaga diri, kuliah di sini juga gak apa-apa kok," kata bu Sofia sambil mengusap lembut punggung Layla. Layla tersenyum.


"Layla serahkan sama Bapak saja, Bu. Nanti kalau Layla berubah pikiran dan ingin kuliah di sini, Layla akan kasih tahu ibu dan Bapak. Waktunya kan masih panjang," jawab Layla. Pak Nurasmin mendesah panjang. Ia menganggukkan kepalanya.


"Ya, Sudah. Nanti kita bahas lagi. Sekarang, istirahatlah," kata pak Nurasmin. Layla mengangguk. Ia segera bangkit. Piring-piring kotor yang tadi ia kumpulkan di atas meja kemudian diambilnya dan di bawa ke dapur. Bu Layla ikut bangkit dan mengambil sisa piring dan membawanya ke dapur.


* * * * *


Sudah jam 9 malam. Kurang lebih lima belas jam sejak ia mengantar surat itu jam tujuh pagi tadi. Belum ada petunjuk apapun. Semuanya memang terasa penuh ketidakpastian. Ia kembali menyalahkan dirinya kenapa tidak menyertakan sedikit catatan ataupun nomor ponselnya agar Tuan Guru Izzul Islam bisa menelponnya.


Aaagh!


Layla menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia lalu menggulingkan tubuhnya kesana kemari. Rasa tidak tenang di dalam hatinya membuatnya tak nyaman melakukan apapun. Ia pun masih malu jika harus menelpon Tuan Guru Izzul Islam terlebih dahulu. Saat ini, tentu Tuan Guru Izzul Islam sedang dikelilingi kedua istrinya. Dia tidak ingin mereka tahu karna masalah itu adalah antara dirinya dan Tuan Guru Izzul Islam saja.


Atau mungkinkah kedua istrinya sudah tahu? Atau jangan-jangan Tuan Guru Izzul Islam telah memberitahu mereka dan kemungkinannya mereka tidak setuju Tuan Guru Izzul Islam menikah dengannya.


Iiih...! Layla merenggut rambutnya sendiri sambil membolak-balikkan badannya kesana kemari. Keringatnya terlihat mulai membasahi pakaian tidur yang dikenakannya. Suasana di dalam kamar benar-benar terasa panas dan tak nyaman. Jika harus keluarpun, keadaannya pun tak akan jauh berbeda jika suasana hatinya seperti itu.


* * * * *


Tangis Azka terdengar dari dalam kamar Rianti. Tuan Guru Izzul Islam yang malam ini merupakan jadwal gilirnya di kamar Rianti terdengar ikut menenangkan Azka.


Karna tangis Azka tak kunjung reda, Jamila yang saat itu sedang membaca Al-qur'an di dalam kamarnya segera menyudahi bacaannya. Dia bergegas keluar menuju kamar Rianti.


"Eh, dengar, dipanggil bu Jamila itu." Terdengar suara Rianti dari dalam kamar. Tak beberapa lama kemudian, pintu dibuka. Jamila yang masih mengenakan mukenanya segera mengambil Azka dari gendongan Rianti.


"Sudah, biar Azka tidur di kamar saja. Kalian istirahatlah," kata Jamila sambil terus berusaha menenangkan Azka. Perlahan tangis Azka mulai mereda. Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala saat melihat tangis Azka mulai reda.


"Ingat, Azka tidak boleh nakal sama ibu ya. Harus hafal surat Al-ikhlas. Kalau enggak, ibu gak akan ajak Azka ke Epicentrum besok," kata Rianti.


"Ayo bilang sama ibu, Azka pasti bisa menghafal Al-qur'an. Ya Kan Azka?" kata Jamila sambil mencium pipi Azka. Azka mengangguk sembari tersenyum.


"Ayo, ditutup pintunya. Aku akan mengajak Azka ke kamar," lanjut Jamila kepada Rianti yang masih berdiri di depan pintu. Rianti tersenyum. Ia melambaikan tangannya ke arah Azka sebelum menutup pintu kamar.


"Kak Tuan belum baca surat itu?" tanya Rianti sambil melepas baju yang dikenakannya dan hanya menyisakan kaos oblong transparan. Tuan Guru Izzul Islam yang sudah berbaring terlebih dahulu di atas ranjang ,menoleh ke arah amplop di atas meja. Ia menggelengkan kepala. Rianti kemudian mengambil amplop itu dan memberikannya kepada Tuan Guru Izzul Islam. Perlahan ia merebahkan tubuhnya di dekat Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan dahinya ketika memperhatikan amplop warna biru di tangannya. Hanya tertera namanya di amplop itu.


"Tumben aku terima amplop warna biru seperti ini. Tanpa nama pengirim lagi," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum.


"Apa Kak Tuan gak mimpi tadi malam?" tanya Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Rianti sembari tangannya mulai membuka amplop.


"Mimpi apa,"


"Mungkin saja Kak Tuan bermimpi melihat amplop warna biru tanpa motif batik," jawab Rianti tersenyum sambil menutup wajahnya dengan selimut. Tuan Guru Izzul Islam ikut tersenyum. Tangannya meraba masuk ke dalam selimut. Kuping Rianti dijewernya.


"Aw," teriak Rianti manja. Ia membuka selimut yang menutupi wajahnya dan menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang sedang membaca surat di dalam amplop.

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Rianti. Rona wajahnya terlihat berubah. Ia mendesah panjang dan menyandarkan tubuhnya. Rianti memandangnya heran. Ia ikut bangun dan lebih dekat dengan Tuan Guru Izzul Islam. Ia penasaran dengan surat yang dilapisi dua amplop itu. Dia lalu mengambil surat itu dari tangan Tuan Guru Izzul Islam.


"Dik Layla?" Rianti menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Rianti tersenyum.


"Tapi kenapa surat pengumuman dik Layla nyasar kesini?" kata Rianti. Ia masih tersenyum dengan memincingkan kedua matanya melihat surat di tangannya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia bangkit dan melangkah mengambil minuman di atas meja. Setelah meminumnya beberapa teguk, ia kembali duduk di samping Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menatap Rianti dalam. Rianti hanya tersenyum sambil mencoba menelisik raut wajah Tuan Guru Izzul Islam.


"Surat itu tidak nyasar. Surat itu memang sengaja dikirim kesini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mengerutkan keningnya. Ia semakin penasaran.


"Maksudnya?"


Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah panjang.


"Ceritanya panjang." Tuan Guru Izzul Islam kembali menatap Rianti. Rambut Rianti dibelainya lembut.


"Malam ini adalah malam gilir Kak Tuan di kamar ini. Jika memang cerita itu sepanjang malam ini, aku punya waktu untuk mendengarkannya," kata Rianti. Dia tersenyum manis.


Tuan Guru Izzul Islam terdiam sejenak memejamkan matanya.


"Tapi ini mungkin akan merusak suasana kebersamaan kita malam ini," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Gak apa-apa. Tak ada yang perlu kita sembunyikan. Kak Tuan ini adalah tokoh agama muda yang punya kesibukan banyak. Pikiran kak Tuan juga bercabang-cabang. Inilah tugasku sebagai seorang istri untuk membantumu. Ada Jamila juga. Walaupun itu hanya sekedar bisa memberikan pendapat," kata Rianti. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Guru Izzul Islam. Salah satu tangannya mengusap lembut pipi Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Rianti dan menciumnya.


"Setahun yang lalu, Layla pernah berulah. Sebagai gadis yang beranjak dewasa dan tentunya masih labil, aku anggap itu hal yang wajar dan sifatnya sementara. Aku juga kaget ketika tahu surat ini dari Layla. Aku kira, dalam waktu setahun itu Layla akan melupakannya, tapi dugaanku salah," kata Tuan Guru Izzul Islam memulai ceritanya. Rianti mengangkat kepalanya dan memperbaiki posisinya. Dia masih belum bisa menebak arah pembicaraan Tuan Guru Izzul Islam. Tapi dia tidak mau menanyakannya. Dia masih menunggu Tuan Guru Izzul Islam melanjutkan ceritanya.


"Dulu, Almarhumah ibu sempat menjodohkannya dengan Layla ketika beliau tahu tentang videomu. Waktu itu beliau sempat membatalkan perjodohan kita dan pilihannya kepada Layla. Tapi pada saat itu, Layla menolak dan kabur dari rumah. Tapi beberapa bulan kemudian, hal aneh terjadi, tiba-tiba saja Bapak memperlihatkanku buku harian Layla. Di buku harian itu , Layla menuliskan sumpahnya tak akan menikah jika tidak denganku. Yah, untuk menenangkan hatinya dan agar ia tidak jadi berhenti sekolah, aku terpaksa mengiyakan untuk menikahinya dengan syarat ia harus menyelesaikan sekolahnya." Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia menoleh ke arah Rianti yang terlihat khusyu' mendengar ceritanya. Rianti tersenyum.


"Terus," kata Rianti singkat.


"Sudah, begitu saja." Tuan Guru Izzul Islam menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Surat di pangkuannya kemudian dilipatnya dan dimasukkannya kembali ke dalam amplop.


"Aku tidak menyangka kalau anak itu akan ingat sampai saat ini," sambungnya. Ia menoleh dan merangkul tubuh Rianti.


Rianti tersenyum. Dia tahu saat ini Tuan Guru Izzul Islam merasa tak enak setelah memperdengarkan cerita tentang Layla. Dia faham betul, Tuan Guru Izzul Islam tak ingin membuat hati istri-istrinya kecewa. Jika tidak karna keinginannya, Tuan Guru Izzul Islam tak akan mau menduakannya dengan Jamila. Rianti membalas memeluk erat Tuan Guru Izzul Islam.


"Janji harus ditepati, Kak Tuan. Terlepas itu diucapkan untuk sekedar menghibur atau tidak. Yang jelas, jika sampai saat ini dik Layla masih mengingatnya, itu berarti ia tahu Kak Tuan tidak akan mengingkari janjinya," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menatap Rianti lekat. Pernyataan Rianti membuatnya menggeleng-geleng. Itu berarti Rianti menyuruhnya menikahi Layla.


"Kita cari jalan keluar lain, Dik. Janji itu bisa batal jika Layla sendiri membatalkannya. Kita bisa obati dia, mungkin," kata Tuan Guru Izzul Islam mencoba mencari solusi. Rianti tersenyum.


"Kalau itu tidak manjur?" tanya Rianti. Tuan Guru Izzul Islam terdiam.


"Biasanya kalau orang sudah jatuh cinta, air yang telah didoakan sepuluh Tuan Guru pun tak akan mempan, Kak Tuan. Apalagi kalau mengingat lamanya dik Layla bersabar menunggu kelulusannya," jawab Rianti.


"Sebentar, sebentar Dik." Tuan Guru Izzul Islam membalikkan badannya. Kali ini ia duduk dengan posisi bersila. Rianti tersenyum melihat Tuan Guru Izzul Islam yang tiba-tiba kaget.


"Aku baru ingat. Kalau tidak salah, aku memberi dik Layla dua syarat selain syarat kelulusan itu. Syarat keduanya, dia harus mendapatkan ijin dari Adik. Yah, itu dia solusinya, Dik. Alhamdulillah, sudah ada jalan keluarnya," kata Tuan Guru Izzul Islam antusias.


Rianti terdiam. Tatapannya di arahkan ke bawah. Ia mendesah panjang.


"Kak Tuan telah mengalihkan beban Kak Tuan ke pundakku. Aku tak tega melihat dik Layla kecewa jika harus menolaknya." desah Layla.


"Tapi kamu bisa memberikannya syarat lagi. Entah itu apa," kata Tuan Guru Izzul Islam. Kembali Rianti terdiam beberapa lama. Tuan Guru Izzul Islam membiarkannya berpikir. Tak adil juga memberikan beban berpikir kepada Rianti. Tapi ia tidak mau Rianti menyuruhnya menikahi Layla. Ia berharap, Rianti mendapatkan jalan keluarnya.


Rianti mendesah panjang. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya ketika melihat Rianti membaringkan tubuhnya sambil tersenyum. Selimut yang menutupi tubuhnya bahkan di singkirkannya.


"Ayo, Kak Tuan berdoa dulu. Aku ingin Azka punya adik." Rianti memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam dan meletakkannya di dadanya.

__ADS_1


"Gak usah pikirkan dik Layla lagi. Serahkan sama adik. Semua beres," lanjut Rianti ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam masih terdiam menatapnya heran. Mendengar itu, Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Kamu memang istri hebat. Kalau begitu, kita wudhu' dan shalat sunnah dulu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum. Ia mengulurkan kedua tangannya minta digendong Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Tubuh Rianti kemudian dibopongnya sampai kamar mandi.


__ADS_2