KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#201


__ADS_3

Jamila menundukkan wajahnya. Wajahnya yang tadi sedikit ceria tiba-tiba saja berubah pucat. Rianti menatapnya penuh telisik. Ia heran, tiba-tiba saja Jamila menundukkan wajahnya . Rianti melirik sambil memutar kepalanya pelan tubuhnya ke belakang. Ia begitu kaget ketika Tuan Guru Izzul Islam berdiri di depan pintu. Rupanya kedatangan Tuan Guru Izzul Islam lah yang membuat sikap Jamila tiba-tiba berubah.


"Kak Tuan?" kata Rianti. Ia lalu bangkit dan segera melangkah mendekati Tuan Guru Izzul Islam.


"Kak Tuan kok gak salam dulu. Bikin kaget saja. Lihat tuh, Jamila jadi malu," bisik Rianti. Ia lalu memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam dan menciumnya.


Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan dahinya. Ia terlihat heran. Jamila yang menghilang sejak tadi malam ternyata ada di lapas. Ia menoleh ke arah Rianti.


"Jamila kok ada di sini? Bagaimana ceritanya," tanya Tuan Guru Izzul Islam sedikit berbisik. Rianti tersenyum. Di kursi, Jamila terlihat mengusap keringat yang mulai berkumpul di dahinya. Udara di dalam ruangan itu tiba-tiba saja terasa menggerahkan, walaupun kipas angin berputar kencang di atas kepalanya. Terlebih lagi ketika tahu Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam kini sedang membicarakannya.


"Ceritanya gak perlu, Kak Tuan. Yang jelas, Jamila datang kesini untuk Kak Tuan," bisik Rianti bersemangat.


"Sssst...." Tuan Guru Izzul Islam meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.


"Gak usah dipaksa, Dik. Biarkan dia tinggal bersama kita tanpa harus menikahinya. Dia tetap bisa membantu kita kok," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Dia sudah setuju, Kak Tuan,"


"Sudah, ayo kita duduk. Gak enak sama Jamila kita ngomongnya berdua di sini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti kemudian memegang tangannya dan merangkulnya ke tempat Jamila duduk.


"Kok Kak Tuan lupa. Lihat, anaknya nendang-nendang karna gak dibelai dulu sama ayahnya," kata Rianti sebelum duduk. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia lalu menundukkan kepalanya dan mencium perut Rianti. Ia kemudian duduk di samping Rianti.


"Bagaimana kabarnya, Jamila. Kami sudah mencarimu kemana-mana," sapa Tuan Guru Izzul Islam mencoba mencairkan ketegangan Jamila. Jamila tersenyum, namun tetap belum mengangkat wajahnya.


"Jamila," Rianti bangkit dan duduk di samping Jamila. Jamila mengangkat wajahnya. Ia membalikkan badannya dan menghadap Rianti. Rianti tersenyum dan mengusap punggungnya.


"Aku ijin memberitahukan apa yang tadi kita bicarakan kepada Kak Tuan ya?"

__ADS_1


Jamila kembali menundukkan wajahnya. Setelah lama terdiam, ia menganggukkan kepalanya. Rianti tersenyum.


Rianti mendesah panjang. Tatapannya kini mengarah kepada Tuan Guru Izzul Islam.


"Kak Tuan, sebelum kak Tuan datang, kami sudah berbicara banyak. Jamila sudah setuju Kak Tuan menikahinya."


Terdengar isak tangis dari mulut Jamila. Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti sama-sama menoleh ke arahnya. Rianti merangkul tubuh Jamila. Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan dan menundukkan kepalanya.


"Kak Tuan, Jamila, mungkin keinginanku ini terkesan memaksa, tapi aku mohon ini jangan dipermasalahkan lagi. Kalian berdua adalah orang penting dalam hidupku. Aku bersyukur telah diberikan kesempatan memiliki kalian berdua untuk mengisi hari-hariku dengan kebaikan. Ilmu dan kebaikan yang aku dapatkan dari kalian berdua adalah kebahagian paling besar dalam hidupku. Hidupku jadi lebih berarti." Rianti terdiam sejenak sambil bergantian memandang keduanya. Ia menyeka air mata yang hendak mengalir di pipinya. Rianti mendesah pelan. Setelah itu, ia meraih tangan Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila secara bersamaan. Kedua tangannya memegang erat tangan keduanya.


"Nanti malam adalah malam jumat. Rajanya para malam. Malam yang penuh kemuliaan. Aku ingin barokah malam ini akan menaungi pernikahan kalian. Jangan ditunda-tunda, Kak Tuan, Jamila. Aku akan sangat bahagia mendengar kabar tentang akad nikah kalian. Demi Allah, tak ada sama sekali kepura-puraan dalam hatiku," kata Rianti. Air matanya berlinang. Tuan Guru Izzul Islam menelan ludahnya dalam-dalam. Ia mendesah panjang seraya memejamkan matanya. Rianti semakin erat menggenggam tangannya.


"Rianti, aku tidak ingin pernikahan ini dilakukan karna terpaksa. Aku ingin mendengarkan langsung dari Jamila," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menganggukkan kepalanya.


"Jamila, aku tahu Rianti adalah sahabat dekatmu. Selama lima tahun lebih kamu sudah menemaninya di penjara. Aku tidak meragukan bagaimana sayangnya Rianti kepadamu. Sebelum di penjara, hampir menjelang tidurnya, ia selalu bercerita tentangmu. Persahabatan kalian benar-benar tulus. Tapi itu tidak membuatmu harus mengiayakan keinginan Rianti. Katakan tidak jika kamu menolaknya. Aku ingin menikahimu karna kamu ridha," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Terimakasih. Kalian berdua adalah orang-orang terhebatku. Jika diijinkan, aku ingin sekali menyaksikan akad nikah kalian. Akulah orang yang paling bahagia malam nanti," kata Rianti dengan mata-mata berkaca-kaca. Perlahan ia melepaskan tangan keduanya. Ia lalu memegang kepala Jamila dan kemudian mencium keningnya. Air mata Jamila menetes jatuh di pangkuannya. Setelah mencium kening Jamila, Rianti bangkit dan mendekati Tuan Guru Izzul Islam . Ia lalu duduk bersimpuh di depan Tuan Guru Izzul Islam. Tangan Tuan Guru Izzul Islam diciumnya. Setelah itu, ia menyodorkan keningnya ke arah bibir Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Di belainya lembut kepala Rianti lalu mencium keningnya lama. Sejenak ia menatap wajah Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar kagum atas hati yang dimiliki Rianti. Benar-benar wanita yang luar biasa. Wajahnya yang bersinar bening, seperti memantulkan kebersihan hatinya. Dia benar-benar beruntung. Inilah hikmah Tuhan membuatnya menunggu begitu lama menjodohkannya dengan Rianti. Allah telah menganugrahinya bidadari tak bersayap yang insya Allah akan jadi bidadarinya kelak di akhirat. Sabar dan shalat yang difirmankan-Nya untuk hamba-hamba beriman-Nya yang sedang mengalami musibah adalah dua hal untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.


Rianti mendongakkan wajahnya menatap Tuan Guru Izzul Islam. Jamila yang diam-diam mencuri pandang takjub dengan pemandangan indah di hadapannya. Sepasang suami istri yang shaleh dan shalehah.


"Aku membutuhkan ridhamu, Kak Tuan. Aku ingin terus bersamamu hingga di akhirat kelak," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengecup kening Rianti.


"Aku ikhlas dan ridha, istriku. Aku Ridha," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum dan perlahan bangkit. Tuan Guru Izzul Islam segera membantunya berdiri. Rianti kemudian kembali duduk di dekat Jamila.


"Jamila ikut pulang bersama kak Tuan ya?" kata Rianti sambil memegang tangan Jamila.


"Jamila pulang sama ibu saja, Dik. Ada Zaebon dan Abdul khalik di dalam mobil. Jangan sampai terjadi fitnah," sahut Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


"Ibu mau datang juga?"


"Ya, tadi sebelum kesini, ibu nelpon. Katanya ibu akan datang agak siang sedikit," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum.


"Assalamualaikum, Tuan Guru." terdengar salam dari arah belakang. Petugas jaga terlihat mendekat.


"Waalaikum salam. Eh, Bapak. Waktunya sudah habis, Pak?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Petugas itu tersenyum membungkukkan setengah badannya memberi hormat.


"Baik, Pak. Minta waktunya sebentar saja," kata Tuan Guru Izzul Islam. Petugas itu menganggukkan kepalanya lalu berbalik pergi.


"Baiklah, aku pulang dulu, Dik. Jamila biar nunggu dulu di sini. Nanti aku telpon ibu lagi," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil bangkit dari tempat duduknya. Jamila dan Rianti ikut bangun. Rianti langsung mendekati Tuan Guru Izzul Islam dan menyalaminya. Jamila sendiri menganggukkan kepalanya saat Tuan Guru Izzul Islam berpamitan kepadanya.


Perlahan mobil yang ditumpangi Tuan Guru Izzul Islam bergerak pelan meninggalkan halaman lapas.


Rianti melambaikan tangannya ketika Tuan Guru Izzul Islam saat Tuan Guru Izzul Islam mengangkat tangannya.


" Sekali lagi terimakasih, Jamila. Mungkin mulai hari ini, aku akan melingkar tanggal demi tanggal di dalam kalender. Jujur, aku tidak sabar ingin secepatnya keluar dari tempat ini." Rianti tersenyum. Matanya berbinar-binar bahagia seperti sedang memikirkan sesuatu indah. Jamila tersenyum.


"Kamu tunggu ibu sebentar ya. Maaf, aku tidak bisa menemanimu. Aku harus masuk," lanjut Rianti.


"Tidak apa-apa, Rianti. Masuklah. Aku akan menunggu ibu di pos jaga," kata Jamila. Setelah keduanya berpelukan, Rianti melangkah pelan menuju pintu masuk ke dalam ruang lapas.


"Rianti."


Rianti menoleh. Dilihatnya Jamila tersenyum.


"Jaga dirimu dan bayimu baik-baik," kata Jamila. Rianti tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia pun masuk ke dalam.

__ADS_1


Setelah beberapa lamanya Jamila berdiri menatap ke arah pintu, ia kemudian membalikkan badannya dan melangkah menuju pos jaga.


__ADS_2