KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#76


__ADS_3

Jamblang menghentikan sepeda motornya di bawah sebuah pohon yang diterangi remang lampu jalan. Selepas maghrib.


Dia tertarik dengan beberapa gambar yang beberapa kali ia lihat di sepanjang perjalanannya. Jamblang turun dari sepeda motornya dan melangkah menuju pohon. Ia mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senternya.


Jamblang mengerutkan dahinya. Ia seperti mengenal gambar seorang perempuan di dalam selebaran itu. Ia mengarahkan sinar senternya lebih ke bawah. Ia nampak khusyu' membaca tulisan di bawah gambar.


"Rahima?"


Jamblang menoleh ke sekelilingnya. Suasana nampak sepi. Ia mengorek ujung kertas dengan jari tangannya dan melepasnya dengan sangat hati-hati. Ia lalu berjalan ke tempat yang lebih terang di bawah lampu penerang jalan tak jauh dari tempatnya berdiri. Jamblang duduk dan mulai memperhatikan kembali gambar dalam selebaran.


"Ini memang Rahima. Tapi siapa gerangan orang yang mencari Rahima, sampai-sampai akan memberi imbalan sebesar itu? Gila!" tanya Jamblang menggumam sendiri. Jamblang kembali melihat ke seluruh batang-batang pohon di tepi jalan. Nun jauh di sana, ia masih bisa melihat dua pohon yang ditempeli selebaran seperti yang di pegangnya. Mungkin selebaran itu juga yang ia lihat sebelum ia berhenti di tempat itu. Sulit untuk mempercayainya. Tak mungkin ini perbuatan orang yang iseng. Ini begitu serius. Menggambarnya juga tidak main-main, ditambah lagi di tempel dalam jumlah banyak di sepanjang perjalanan.


Jamblang mendesah. Rahima memang cantik. Tapi itu dulu. Sekalipun saat ini gurat-gurat kecantikannya masih terpancar di wajahnya, tapi ia ragu jika harga Rahima yang kini sudah berkepala empat sampai menembus angka sebesar itu. Tapi ia tetap yakin, gambar yang ada dalam selebaran itu memang Rahima. Pelacur simpanan mami Zelayin.


Jamblang membuka ponselnya. Nomor HP yang ada dalam selebaran kemudian dicatatnya. Ia kemudian mulai menghubungi nomor itu.


"Assalamualaikum," kata Jamblang ketika mendengar suara seorang perempuan dari arah seberang.


"Maaf, Bu. Apa benar ibu yang menempel selebaran di pinggir jalan," kata Jamblang. Ia mengernyitkan dahinya. Ternyata memang benar. Perempuan di seberang memang serius mencari Rahima.


"Apa bisa saya tahu nama panjang dan alamat lengkap Rahima yang ibu maksud?" tanya Jamblang lagi sambil mencoba mengenali suara perempuan di seberang.


Jamblang mendesah. Perempuan itu tidak tahu alamat serta nama panjang Rahima. Ia hanya mengatakan agar membawa saja siapapun yang bernama Rahima. Jika benar Rahima yang ia bawa adalah Rahima yang dimaksud perempuan itu, maka imbalan 50 juta positif akan menjadi miliknya.


"Apa saya boleh tahu kemana saya harus membawa Rahima jika saya berhasil menemukannya," kata Jamblang lagi. Ia mengangguk setelah beberapa lama terdiam mendengar jawaban perempuan di seberang. Ia masih sulit mengenali suara perempuan yang berbicara dengannya ditelpon itu.


Jamblang menutup panggilannya. Ia mendesah dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku levisnya. Selebaran itu kemudian dilipatnya dan segera melangkah menuju sepeda motornya.


Bunyi kenalpot sepeda motor Jamblang memecah hening jalan. Tak beberapa lama kemudian, motor yang ditungganginya melesat kencang meriuhkan malam. Asap knalpotnya mengepul dan terlihat berserakan dalam cahaya lampu jalan.

__ADS_1


* * * * *


"Rahima!" Panggil mami Zelayin ketika berdiri di pintu kamar Rahima. Suara pintu terdengar berdret. Rahima yang hanya memakai sarung, memperlihatkan wajahnya dari balik pintu.


"Ada apa, Mi," tanya Rahima.


Mami Zelayin mendorong pintu itu dan masuk. Tubuh Rahima hampir-hampir saja terjatuh. Mami Zelayin menatap wajah Rahima dan bergantian melihat ke arah selebaran yang ada di tangannya. Rahima hanya bisa menatap tingkah mami Zelayin tak mengerti.


"Lihat baik-baik siapa yang ada dalam lukisan itu," kata mami Zelayin. Ia memberikan selebaran itu kepada Rahima. Rahima meraihnya pelan. Tatapannya masih tertuju ke arah mami Zelayin.


"Sudah, jangan melihatku seperti itu. Lihat saja gambar itu baik-baik. Apa kamu mengenalnya atau tidak," kata mami Zelayin dengan nada agak tinggi dan terdengar kesal.


Rahima memperhatikan gambar itu. Ia mengernyitkan dahinya dan kembali menatap mami Zelayin.


"Kenapa wajah saya di lukis, Mi. Memangnya saya mau dijual," kata Rahima. Jawaban polos Rahima membuat mami Zelayin sedikit tersenyum.


"Jadi, kamu mengenal orang yang ada dalam gambar ini?" tanya mami Zelayin.


"Ya iyalah, Mi. Ini jelas saya kok pakai ditanyakan segala. Justru saya yang harus nanya. Kenapa wajah saya dilukis di sini. Untuk apa?" jawab Rahima polos. Mami Zelayin merampas kembali selebaran di tangan Rahima. Ia menggelengkan kepalanya.


"Kamu tahu? apa kata tulisan di bawah gambarmu?" tanya mami Zelayin. Rahima menggeleng.


"Saya kan belum membacanya, Mi,"


"Sekarang, dengarkan baik-baik. Orang yang menemukanmu akan dikasih imbalan 50 juta rupiah."


Rahima terkejut, tapi kemudian tersenyum seperti mencemooh. Tapi ia kembali terkejut ketika mami Zelayin memperlihatkan tulisan di bawahnya. Rahima menggaruk-garuk kepalanya bingung.


"Kalau ceritanya seperti ini, saya jadi ragu. Itu mungkin bukan saya, Mi. Itu mungkin orang yang mirip dengan saya," kata Rahima.

__ADS_1


Mami Zelayin kembali menggeleng.


"Terlalu langka jika dari segi wajah dan nama sama. Tapi apapun itu, aku harus tetap membawamu. Aku tidak mengenal Rahima lain selain kamu. Jadi aku harus mencobanya," kata mami Zelayin.


" Sekarang, berpakaianlah. Kita akan pergi," sambung mami Zelayin.


"Kita mau kemana, Mi. Ini kan sudah malam. Katanya Mami takut sama si Jamblang," protes Rahima sambil menoleh ke arah jam dinding di kamarnya.


"Agh! kalau masalah uang, yang lebih menakutkan dari Jamblang pun akan aku lawan. Sudah, gak usah banyak bicara. Cepat, ganti pakaianmu."


Mami Zelayin kemudian keluar dan menutup pintu. Ia menunggu Rahima berpakaian di depan pintu. Beberapa kali ia menggedor pintu menyuruh agar Rahima lebih cepat. Tak beberapa lama kemudian, Rahima keluar. Mami Zelayin segera menarik tangan Rahima dan mengajaknya menuju mobil.


"Kalian semua, jaga rumah baik-baik. Jangan lupa mengunci pintu. Aku akan keluar sebentar bersama Rahima," kata mami Zelayin kepada tiga orang perempuan yang ikut keluar ketika melihat mami Zelayin dan Rahima tampak tergesa-gesa menuju mobil.


Mobil pick up itupun kemudian perlahan mulai meninggalkan rumah itu. Sesekali terdengar batu-batu kecil terhempas saat ban mobil dipaksa melaju dengan kecepatan cepat di jalanan berkrikil.


* * * * *


Suara motor Jamblang terdengar bising membelah hening malam ketika memasuki jalan berkerikil menuju sebuah rumah yang tersembunyi di ujung jalan. Suara berisik knalpot motornya membuat terjaga tiga perempuan di dalam rumah. Mereka segera keluar dari kamar masing-masing dan berkumpul di ruang tamu.


Jamblang turun dari motornya dan melangkah mendekati pintu. Suasana malam kembali hening. Hanya suara lolongan anjing dan sesekali terdengar teriakan burung hantu memekakkan telinga.


Jamblang mengetuk pintu dengan keras. Ketiga perempuan di ruang tamu semakin ketakutan.


"Mami Zelayin. Cepat, buka pintunya. Aku datang dengan baik-baik.Aku hanya ingin bertemu Rahima. Aku janji tidak akan berbuat yang tidak-tidak.Aku hanya butuh bertemu Rahima," kata Jamblang berteriak.


Tidak ada jawaban.Suasana kembali hening. Jamblang kembali mengetuk pintu. Kali ini ia menggunakan batu, sehingga bunyinya semakin nyaring. Jamblang kembali memanggil, tapi tetap tak ada jawaban. Ia mulai marah. Ia mundur beberapa langkah dan mengambil batu besar di tanah dan langsung melemparnya ke arah pintu. Suara batu yang mengenai keras ke arah pintu menimbulkan suara yang besar. Membuat jangkrik dan melata malam terdiam.


"Jangan sampai kesabaranku hilang, Mami Zelayin.Buka pintunya atau aku akan bakar rumah ini. Aku tidak main-main,dan aku tidak akan mengulangi permintaanku kedua kalinya."

__ADS_1


Terdengar suara stop contact dinyalakan. Cahaya terang terlihat di dalam ruangan dalam rumah. Jamblang melepas batu besar yang ia pungut lagi untuk dilempar kedua kalinya. Ia masih menunggu seseorang di dalam rumah membuka pintu.


__ADS_2